ETHEREAL

ETHEREAL
BAB 12


__ADS_3

Perang berakhir dengan kemenangan Kerajaan Langit. Perjanjian perdamaian yang baru telah diresmikan. Sejak saat itu, kaum bawah bersedia barada di bawah pimpinan Raja Langit. Segala macam pusaka suci yang dapat disalahgunakan untuk melakukan pemberontakan, disegel di bawah Sungai Kelupaan.


Namun, perang tetaplah perang. Jejak kesedihan selalu tertinggal, tak peduli bagaimananpun semaraknya kemenangan. Ratusan ribu pasukan yang berakhir dalam kematian, meninggalkan sejuta tangis kehilangan.


"Bagaimana?" Mata Yu Jie berkaca-kaca menatap sang suami yang terbaring tak berdaya. "Apa yang terjadi, Yen?"


Yen menggeleng, lemah. "Inti batin tuan Rui terluka parah karena pedang iblis."


Tangis Yu Jie pecah seketika. Sesaat membelai lembut pipi Wang Zheng, sebelum akhirnya memeluk pria itu erat. "Lakukan apapun untuk menyelamatkannya. Aku mohon, Yen."


"Aku akan membuat beberapa ramuan untuk memperbaiki inti batin tuan Rui. Meski lukanya sangat parah, ini masih bisa disembuhkan."


Yu Jie mengangguk, lega. Saat dia akan memegang tangan Wang Zheng, tiba-tiba jantungnya terasa sangat sakit. Berdetak begitu kencang, perlahan memelan, seperti ada sebuah belati yang menikam.


"Permaisuri Rui." Yen menghampiri Dewi Es yang tampak akan kehilangan kesadaran. Diambilnya tangan Yu Jie dan memeriksa denyut nadi. "Ini buruk."


Yen memapah wanita bertubuh sedingin es itu berbaring di kursi yang berada tidak jauh dari mereka. Dengan cepat mengeluarkan pil jamur lingzi dari tas medisnya. Setelah Yu Jie meminum pil tersebut, ia menggunakan kekuatannya mempercepat reaksi dari obat.


"Ini sudah lebih dari tujuh hari. Permaisuri Rui, saat ini energimu perlahan-lahan berubah menjadi racun yang berbalik menyerang inti batin."


Tak terkejut, Yu Jie berusaha menahan diri agar tak menangis dan terlihat rapuh. "Aku sudah tahu itu, Yen. Kematianku sudah di depan mata. Sebelum hari itu tiba, aku harus menyembuhkan Wang-Wang lebih dulu."


Yen menghela napas, berat. "Baiklah. Aku akan berusaha sekuat tenaga menemukan ramuan untuk menyembuhkan Tuan Rui."


"Bagus. Aku percaya padamu." Memegang tangan Yen, erat.


"Ini." Menyerahkan sekotak penuh pil jamur lingzi. Tanpa sadar, Yen meneteskan air matanya. Melihat ketulusan dan dalamnya cinta Yu Jie, membuat ia mengerti arti pengorbanan. "Pil jamur lingzi memang tidak bisa menyembuhkanmu. Namun, ini bisa menekan rasa sakit ketika racun itu menyerang. Minumlah satu pil setiap hari."


***


"Permata biru menghasilkan energi air yang besar. Begitu kuatnya, hingga dapat menyembubkan inti batin yang terluka parah. Namun ...." Yen berhenti membaca dan menggulung buku medis kuno berusia sejuta ribu tahun itu. Lantas meletakkannya kembali di rak sebelah kanannya. Ada satu kalimat yang hilang, tetapi tampaknya itu tak begitu penting. Sebab yang penting adalah permata biru dapat digunakan untuk menyembuhkan Wang Zheng.


Yen tersenyum lega. Ia bisa menepati janji pada Yu Jie untuk menyelamatkan penguasa air itu. "Tuan Rui adalah Dewa Air. Tentu saja permata ini akan bisa menyelamatkannya."


Meski bahagia telah menemukan cara menyembuhkan Wang Zheng. Namun di sisi lain, masih ada perasaan mengganjal di dalam hati Yen. "Jika tuan Rui tetap hidup dan permaisuri Rui tiada, mungkinkah ia akan bahagia? Atau, ini akan berakhir menjadi kegilaan yang menyedihkan? Heh, takdir benar-benar senang menempatkanku di dalam rumitnya cinta para abadi."


***


Tiga hari tidak sadarkan diri setelah perang besar melawan Raja Iblis. Akhirnya Wang Zheng terjaga dengan Yu Jie yang terus setia di sisinya. Wanita itu tampak kelelahan dan terlelap dalam posisi tangan menopang dagu. Manis.


Tak ingin menganggu, Wang Zheng dengan penuh kelembutan memindahkan Yu Jie ke atas kasur dan berbaring bersamanya. Lama, ditatapnya wajah wanita yang berhasil membuat ia jatuh dalam sebuah rasa bernama cinta. Lantas mengelus pipi itu, pelan. "Aku senang perang ini telah berakhir. Dan, kau masih di sini bersamaku."


Yu Jie menggeliat kecil dan kemudian membuka mata. Betapa terkejutnya ia mendapati Wang Zheng yang tersenyum lebar menatapnya. "Wang-Wang, kau sudah sadar?"

__ADS_1


Hanya senyuman sebagai sebuah jawaban. Yu Jie langsung mendekap prianya, erat. "Syukurlah. Aku sangat takut kehilanganmu."


"Aku baik-baik saja."


"Baik dari mananya? Kau tahu, kau sudah tidur selama tiga hari. Inti batinmu terluka karena pedang iblis. Kau bisa tiada, jika dalam waktu bulan Yen tidak menanam permata biru di inti batinmu." Yu Jie langsung menyembur Wang Zheng dengan seribu omelan. Bahkan pria itu tak sempat menyela, karena wanitanya terus saja menceramahi.


"Tapi kau bahkan menyegel rumah kaca tempat permata biru berada. Syukur kau bangun dan sekarang kau bisa membuka segelnya untuk menyembuhkan inti batinmu."


Wang Zheng menaikkan alis kanannya, bingung. "Segel di rumah kaca memang sangat kuat. Hanya energi air dalam jumlah besar dan Dewa Air yang dapat membukanya. Namun, bukankah energi airmu sangat dahsyat? Bukankah inti batinmu sudah pulih dan dapat menyerap tiga energi?"


Yu Jie menggigit bawah bibirnya, takut. Tentu saja ia tak bisa mengatakan bahwa semua energi yang berhasil ia serap akan menjadi racun setelah tujuh hari. Bahkan sekarang ia merasakan aroma kematian semakin mendekat. "Aku ... em, aku ..."


"Yu'er, apa sesuatu terjadi padamu?"


Cepat Yu Jie menggeleng. "Aku lupa akan hal itu. Aku sudah lama hanya menyerap energi es. Jadi, aku lupa bahwa di dalam rohku juga terdapat energi air yang dapat membuka segel rumah kaca."


Sejujurnya Wang Zheng sedikit curiga. Namun melihat Yu Jie yang tampaknya tak mau membahas hal tersebut. Membuat ia hanya bisa menyerah dan mengganti topik pembicaraan mereka.


***


"Nona."


"Em?" Yu Jie fokus mencatat semua kenangan saat ia bersama sang suami. Setidaknya setelah tiada, buku itu akan menjadi kenangan bahwa Wang Zheng pernah menjalin sebuah kisah cinta dengannya.


Ping mendekat. Tiba-tiba saja bersimpuh di depan Yu Jie. "Nona, apa kau baik-baik saja?"


Ping menggeleng. "Nona, kau memang terlihat sangat sehat. Hanya saja aku masih memikirkan tentang penawar pil pembeku salju. Benarkah itu ada?"


"Tentu saja. Kalau bukan pil penawar salju, memangnya aku memakai pil apa agar inti batinku pulih?"


"Pil embun kematian."


Deg! Yu Jie tak sengaja menjatuhkan kertas yang dipegang. Saking gugupnya, ia juga menjatuhkan tinta dan kuas di meja. Terang saja hal itu memancing kecurigaan wanita yang suka memakai pakaian serba pink itu.


"Ping, panggil pelayan untuk mengemaskan ini." Setelah memberi perintah, Yu Jie langsung pergi begitu saja.


"Nona," teriak Ping, saat Yu Jie berada di ambang pintu. "Jangan katakan dugaanku benar."


Tak berani menatap, Yu Jie menahan luka yang siap mendarat kapan saja. "Benar atau tidak dugaanmu, tidak akan mengubah apapun, Ping. Ini hanya perkara waktu. Kematian akan tetap datang, bahkan seorang dewa pun tidak mampu lari darinya."


Ping tersenyum getir dengan tangis yang menganak sungai di pipi tirusnya. Lantas menangkupkan wajah dengan kedua tangan. Saat Yu Jie tak lagi kelihatan, diambilnya sebutir pil berwarna kemerahan dan berbau tajam yang diam-diam ia curi saat sang nona terlelap. Pil jamur lingzi.


"Jika benar kau meminum penawar pil pembeku salju. Lantas kenapa kau meminum pil jamur lingzi yang merupakan obat penekan rasa sakit akibat pil embun kematian?"

__ADS_1


***


Yu Jie mengelus dada setelah berhasil lari dari Ping. Setelah pil pembeku salju, ia tak yakin wanita itu akan tetap diam setelah tahu nonanya memakan pil embun kematian demi seorang pria. Untuk sementara, ini akan menjadi rahasia antara ia dan Yen.


Dari kejauhan, Yu Jie melihat Wang Zheng berjalan terburu-buru ke arahnya. "Wang-Wang, kenapa kau ke sini? Kau harusnya istirahat."


Tak menjawab, pria itu justru membawa tubuh gadisnya ke dalam dekapan. Sikap tak biasa Wang Zheng membuat Yu Jie kebingungan. Entah mengapa, hari ini semua orang menjadi begitu aneh, pikirnya.


"Wang-Wang, kau kenapa?" Melepaskan pelukan dan melihat sang suami dari atas ke bawah. Namun tak ada yang salah, semua terlihat baik-baik saja.


"Aku yang harusnya bertanya. Kau kenapa, Yu'er?"


"Aku?" Menunjuk dirinya sendiri.


"Kebohongan apa lagi yang akan kau katakan padaku?"


"Kebohongan apa, Wang-Wang?"


Wang Zheng tersenyum kecut. Lantas mengeluarkan kotak kosong yang merupakan bekas pil pembeku salju. Diberikannya itu pada Yu Jie dengan wajah kecewa. "Kau yang paling tahu jawabannya, Yu'er."


"Ini, ini ... Wang-Wang percayalah padaku. Ini hanya pil pembeku salju. Tidak akan membawa masalah besar."


"Hanya?" Mata Wang Zheng memerah, lantas membanting kotak itu, keras. "Apa kau tidak memikirkan aku sebelum meminumnya?"


Kecewa, marah, menyesal, semua perasaan itu campur aduk memenuhi hati. Wang Zheng memukul barang-barang di dekatnya. Vas, cangkir, dan beberapa hiasan lain habis berhamburan. Membuat Yu Jie tergeming, ketakutan.


"Semua karena aku, bukan?" Kali ini pria dengan surai putih sepinggang itu terduduk dengan napas terengah-engah, menahan marah. "Pil pembeku salju, mawar biru api, melawan Penjaring Jiwa, menghadapi perang melawan Raja Iblis, pengorbanan apa lagi yang kau lakukan untukku, Yu'er?"


"Wang-Wang, tenanglah." Berusaha mendekat, tetapi sang suami justru memalingkan wajah dan enggan disentuh olehnya.


"Katakan, kau tidak meminum pil penawar pembeku salju, 'kan?" Berbalik menatap Yu Jie, tajam. Kemudian menarik sang istri mendekat dan memeriksa saku di balik jubahnya. Benar saja, Dewi Es itu menyembunyikan pil jamur lingzi di sana. "Tapi kau meminum pil embun kematian."


"Wang-Wang." Yu Jie menggeleng lemah, memegang lembut bahu Wang Zheng.


Wang Zheng tergelak getir. "Berapa lama lagi kau akan membohongiku, Yu'er? Kau mengorbankan hidupmu, tetapi bahkan aku baru tahu itu semua dari orang lain."


Tak bisa menyanggah, Yu Jie duduk di samping Wang Zheng dan kemudian terisak di bahu sang suami. "Ya, aku melakukan semua yang kau katakan. Aku tidak pernah meminum penawar pil pembeku salju. Sebaliknya, aku meminum pil embun kematian. Aku hanya ingin kau percaya, aku mencintaimu. Sungguh. Aku tak ingin ada satupun keraguan di hatimu."


"Kau gila!"


"Ya, untukmu, aku rela menjadi orang gila. Aku pernah sekali kehilanganmu di dunia fana. Apa kau pikir aku punya hati yang besar untuk kehilanganmu yang kedua kalinya?"


Diam. Hanya isak tangis yang terdengar. Dua sejoli itu larut dalam kesedihan. Merasakan bagaimana sebilah belati memotong-motong kebahagian. Merusakkkan indahnya cinta yang baru tersemai setelah melewati berbagai cobaan.

__ADS_1


Dari kejauhan terlihat Zhu yang mengamati sejak tadi. Setali tiga uang dengan sang tuan, ia juga tak bisa membendung duka untuk tetap pada tempatnya.


"Nona, maafkan saya memberitahu ini pada tuan Rui. Kau tidak bisa terus menderita. Maafkan saya, nona," gumam Zhu, mengingat bagaimana ia mendatangi Wang Zheng dan mengatakan semua kebenaran. Bahkan pria itu dengan terus terang mengatakan kecurigaan ia dan Ping tentang pil embun kematian yang mungkin Yu Jie minum, demi menyelamatkan sang suami di medan perang. Namun siapa menyangka, dugaan mereka tak meleset sedikitpun. Wanita itu dengan kegilaannya, tak memikirkan konsekuensi apa yang akan ia dapatkan.


__ADS_2