
"Dari ketiga alam, dunia fana adalah tempat paling menakjubkan." Tak sedikitpun mata Yu Jie berpaling menatap cermin besar dengan gambaran keadaan bumi. Bukan hanya itu saja, cermin itu juga diperlengkapi pembagian waktu dimulai dari awal pembentukan dunia fana hingga ke masa modern yang sekarang. Ini seperti teknologi canggih, tetapi di luar nalar. Hanya perlu sedikit sentuhan dan Dewa Waktu mampu pergi ke belahan dunia fana mana saja, pada masa yang diinginkannya.
"Jadi, kau ingin ke masa yang mana, Yu'er?" Wang Zheng melihat-lihat berbagai dinasti yang ada. Semua tampak membosankan, tidak seperti Kerajaan Langit yang dipenuhi keajaiban.
Setelah melalui berbagai macam perdebatan. Yu Jie dan Wang Zheng memutuskan akan menghabiskan hari-hari terakhir mereka di dunia fana. Selain karena alasan satu hari di Kerajaan Langit sama dengan satu tahun di dunia. Hal lain yang turut melatarbelakanginya adalah karena penguasa es itu ingin sang suami mengetahui kehidupan macam apa yang mereka lalui saat menjalani ujian langit.
"Baiklah, aku ingin dunia fana modern. Tepatnya, dunia fana saat aku dan Wang-Wang menjalani ujian langit."
Dewa Waktu yang sedang mengatur perputaran waktu, menyerahkahkan tugas itu pada pelayannya. Kemudian mendekat dan menggeser cermin kaca sampai pada tampilan dunia fana modern. "Selain melakukan ujian langit, para dewa diperbolehkan ke dunia fana dengan syarat tidak boleh menyalahgunakan kekuatan secara sembarangan dan menyakiti manusia. Jika tidak, ini akan menjadi buah karma saat kalian kembali ke Kerajaan Langit. Aku harap Dewi Es dan Dewa Air mengerti dengan baik hal ini."
Dengan satu jentikan, tubuh Wang Zheng dan Yu Jie tersedot ke dalam cermin kaca. Itu seperti pusaran tornado besar yang menelan apa saja yang ditemuinya. Tiba-tiba keduanya sudah berada di antara kerumunan pejalan kaki yang sibuk hilir mudik.
"Di mana ini?"
Yu Jie melihat sekelilingnya. "Beijing, ya ini Beijing." Melompat histeris, tak percaya.
"Beijing?" Wajah Wang Zheng berubah bingung. Namun dengan kekuatan dewanya, dengan cepat ia bisa mencari informasi tempat apa yang saat ini dipijaki.
"Ayo, kita mulai berbulan madu." Dengan sangat antusias menarik sang suami membelah kerumunan. Sesekali berhenti jika melihat jajanan pinggir jalan yang terlihat lezat.
***
Yu Jie menatap sekeliling. Merasa aman dan tak ada orang. Ia pun menjentikkan jari dan keluarlah ratusan lembar uang ratusan. Di sampingnya, Wang Zheng hanya mengamati. "Mau kubantu?"
Wanita dengan pakaian khas kerajaan itu mengangguk, cepat. "Di dunia fana kita membutuhkan uang. Selain itu, kita juga harus mengubah tampilan. Wang-Wang, kau ubahlah penampilan seperti manusia biasa."
Mengubah penampilan bukanlah hal yang sulit bagi seorang Dewa Tinggi seperti Wang Zheng. Sekali putar dan ia sudah seperti seorang artis besar. Menggunakan kemeja putih garis-garis vertikal, celana biru tua, dan mantel dengan warna serupa.
Melihat Yu Jie yang tampak asik dengan uangnya. Wang Zheng mengarahkan telunjuk pada wanita itu. Seketika gaun panjang terbuat dari sutra itu berubah menjadi mini dress simple berkerah sabrina warna biru benlur, tak lupa sebuah liontin berbentuk krisan yang menambah manis penampilan. "Kau suka?"
Yu Jie melihat dirinya dari pantulan air. "Sangat suka. Sempurna."
"Ayo jalan-jalan."
"Ayo."
__ADS_1
***
"Apa ini?" Menatap semangkuk mi instan dengan telur dan beberapa sayur sebagai pelengkap.
"Ini makanan terenak di tiga alam."
"Benarkah?"
Yu Jie mengangguk, kemudian menyeruput mi instan miliknya. "Mi instan."
Wang Zheng tergelak dan mengikuti cara makan Yu Jie. "Aku hanya sesekali ke dunia fana, itupun jika terdapat masalah air yang parah. Tidak menyangka, ini tempat yang sangat menyenangkan."
Keduanya melahap habis mi instan seperti orang yang belum pernah makan. Kemudian saling tertawa melihat betapa lucunya mereka. Apalagi ekspresi Yu Jie yang benar-benar seperti anak kecil, lengkap dengan bibir penuh sayur dan bekas kuah. Seperti biasa, ada Wang Zheng yang siap menyeka dan mengembalikan kecantikan sang kekasih seperti semula.
"Wang-Wang, menurutmu apa itu yang disebut kekal?"
Sebelah alis Wang Zheng naik saat mendengar pertanyaan itu. Namun tidak mengeluarkan sepatah katapun sebagai jawaban.
"Lihatlah manusia ini, mereka disebut fana, kehidupan mereka sangat singkat. Namun mereka menikmati tiap detik yang terlewat. Mereka tahu akan tiada, tetapi tidak pasrah dan terus berjuang tanpa lelah."
Mata Yu Jie memerah. Bukan karena angin atau suhu udara yang terlalu dingin. Hanya hatinya terasa sedikit nyeri. "Dan kita para dewa yang disebut abadi. Nyatanya, tidak ubahnya manusia ini. Kita pun tetap menghadapi yang namanya kematian. Hanya masa hidup kita lebih panjang."
"Kita ke sini untuk bersenang-senang. Kenapa harus membahas hal yang menyedihkan?" Mengusap lembut puncak kepala Yu Jie. "Cepat habiskan mimu, atau aku akan memakannya."
"Enak saja." Yu Jie langsung menyembunyikan mangkuk miliknya. "Wang-Wang, makan saja punyamu."
Tawa Wang Zheng menggema di seluruh ruangan yang hanya diisi oleh mereka dan beberapa pelayan sesuai permintaan. "Baiklah, Yu'erku sayang."
"Besok aku ingin ke pantai."
"Pantai?"
"Em, itu pasti sangat indah. Dulu saat menjalani ujian langit, kita sering ke sana. Menghabiskan waktu berdua. Melihat senja bersama orang yang kita cinta adalah momen terindah. Sayang, saat menjadi dewa kau melupakannya."
Wang Zheng berdiri dan kemudian memeluk Yu Jie dari belakang. "Tidak masalah aku melupakannya. Ada kau yang akan mengingatkanku."
__ADS_1
***
Sepanjang jalan menuju pantai, ratusan balon tergantung di pohon-pohon. Yu Jie berdecak sebal, meski pemandangannya menakjubkan, tetapi ia sangat lelah dan ingin memakai mantra penghilang agar langsung ke tempat tujuan. Namun Wang Zheng justru menyuruhnya berjalan dan tidak boleh memakai kekuatan.
"Wang-Wang, kau di mana? Sudah cukup main-mainnya," rengek Yu Jie dengan bibir mencebik. Dilihatnya keadaan sekitar, ini adalah pantai yang dulu ia dan Wang Zheng datangi saat masih menjadi manusia. Namun sayang, pantai seindah ini tak banyak diketahui.
Di sana, sekitar 10 meter dari Yu Jie berdiri. Wang Zheng menanti di bawah bias matahari senja. Pria dengan baju pantai bergambar pohon palem warna hijau lumut dipadukan dengan celana pendek warna putih itu tampak sangat gagah. Ia memegang banyak balon berbentuk hati. Seketika senyumnya terkembang lebar melihat sang kekasih datang.
"Wang-Wang, ini sangat melelahkan." Langsung memeluk Wang Zheng dan membenamkan wajahnya di dada bidang sang pria.
"Katanya kau ingin ke pantai."
"Benar, tapi aku sudah biasa memakai mantra penghilang. Ketika harus berjalan, ini sangat melelahkan."
Wang Zheng balas memeluk Yu Jie. Lantas mengusap puncak kepalanya, lembut. "Inti batin kita rusak parah. Jadi, kita tidak boleh terlalu sering membuang-buang kekuatan untuk hal-hal kecil."
"Baiklah, Sayang."
"Sayang?" Wang Zheng menaikkan sebelah alisnya, bingung. "Kenapa itu terdengar sangat menggelikan?"
Yu Jie tertawa kencang. Melihat wajah geli sang suami membuatnya gemas ingin mencubit kedua pipi itu. "Haha ... kau menggemaskan."
Wang Zheng memalingkan wajah, malu. Pipinya berubah merah. Melihat Yu Jie membuat jantungnya berdetak kencang tak karuan, seperti terjadi sebuah ledakan.
"Ngomong-ngomong, balon itu untuk apa?"
Wang Zheng menyerahkan setengah dari jumlah balon di tangannya pada Yu Jie. "Ayo membuat harapan."
"Harapan?"
"Ya, harapan agar kita selalu bersama selamanya."
"Baiklah, ayo kita membuat harapan." Bersiap melepaskan genggaman. Namun tiba-tiba dicekal oleh Wang Zheng. "Kenapa?"
Wang Zheng mendekat dan ******* manis bibir ranum itu. Tanpa perlawanan, Yu Jie menutup mata dengan tenang. Perlahan, menikmati setiap kelembutan dari sentuhan. Saat itu barulah ia melepaskan satu persatu balon yang dipegang.
__ADS_1
"Baik dewa atau manusia, kita akan selalu bersama. Baik ingat atau lupa, kita akan selalu jatuh cinta. Ingatlah, Wang Zheng adalah milik Yu Jie dan Yu Jie adalah milik Wang Zheng. Itu adalah takdir Tuhan, dan tak seorangpun dapat menentang."