ETHEREAL

ETHEREAL
BAB 11


__ADS_3

"Suku mana saja yang telah dikuasai Raja Iblis?" Wang Zheng membuka peta letak 12 suku di Kerajaan Langit, lantas mulai menandai daerah yang sudah diduduki lawan.


"Suku Api, Angin, Bunga, Bintang, dan Rubah. Semua tentara mereka telah di bawah mantra pengendali pikiran Raja Iblis. Sementara yang tersisa masing-masing Dewa telah menyegel daerahnya dan memindahkan rakyat mereka ke wilayah Suku Es. Saat ini, para Dewa Tinggi telah berkumpul di aula Kerajaan Langit dan menunggu Tuan."


Selesai menandai dan membuat perhitungan matang. Wang Zheng mengemasi strategi perang yang baru disusunnya. "Shen, ikut aku menemui para dewa."


"Baik, Tuan."


***


Abadi yang menjadi korban perseteruan berkumpul di aula timur. Di mana-mana hanya bau darah dan obat-obatan yang tercium. Yu Jie yang semula hanya memperhatikan dari jauh, perlahan mendekat.


"Yen."


"Ya, Permaisuri Rui?" jawab Yen, dengan mata tak sekalipun mengalihkan pandang dari berbagai macam ramuan yang ia persiapkan.


"Kenapa bisa jadi kacau seperti ini?"


"Raja Iblis memang terkenal dengan kelicikannya. Sadar bahwa sangat tidak mungkin untuk mencuri permata biru atau permata es yang dilindungi Jeruji Langit. Dia mengubah rencana dengan mengincar permata neraka, milik Dewa Api." Yen menghela napas mengingat betapa banyak kaum bawah menyusahkan Kerajaan Langit. "Apalagi, saat itu Dewa Api sedang melakukan perjalanan ke benua fantasi untuk bertapa dengan tetua."


"Lantas, kenapa aku dan Wang-Wang sangat dibutuhkan?" Yu Jie membantu membalut luka salah satu abadi.


"Dewi Perang telah mencoba menaklukkan Raja Iblis. Hanya saja, kekuatannya sejalan dengan api neraka. Semakin besar kekuatan yang dikeluarkan, justru itu akan semakin menguntungkan Raja Iblis."


Mulai paham, Yu Jie memainkan rambutnya. "Jadi, aku dan Wang-Wang memiliki energi yang bertentangan dengan permata neraka. Tentu saja untuk melawan Raja Iblis, hanya kami yang sanggup menghadapinya."


"Tapi Nona tidak boleh terlibat di dalam peperangan ini." Tiba-tiba Zhu datang bersama Ping.


Yu Jie membalikkan badan. Melihat kedua orang itu dengan tatapan tak mengerti. "Kenapa memangnya?"


"Nona." Ping mendekat dan dengan cepat menarik Yu Jie menjauhi keramaian. "Peperangan ini bukanlah masalah biasa. Nona hampir tiada saat melawan Penjaring Jiwa. Kali ini, musuh yang dihadapi memiliki kekuatan berkali-kali lipat lebih kuat."


Yu Jie bersedekap dada, tanpa mengucapkan sepatah kata. Peperangan melawan Raja Iblis sudah di depan mata. Tidak terlibat di dalamnya bisa saja dilakukan. Namun, sanggupkah ia melepaskan Wang Zheng sendiri dalam pertempuran? Dapatkah ia berdamai dengan diri sendiri jika sesuatu menimpa kekasihnya itu? Bahkan tanpa diucapkan, semesta tahu jawabnya.


Zhu memberanikan diri membuka suara. "Nona, saya tahu, tak seharusnya saya ikut campur dalam hal ini. Namun Nona baru saja sembuh dari serangan Penjaring Jiwa. Sangat tidak mungkin bagi Nona untuk ikut bergabung dalam peperangan."


"Benar, Nona, apalagi di Kerajaan Langit masih banyak Dewa Tinggi lain. Mengapa harus Nona?" Ping menimpali.


"Sudah selesai bicaranya?" Yu Jie menatap kedua pelayannya itu, tajam. "Kalau sudah, kalian bisa pergi. Aku harus menghadiri pertemuan para dewa di aula Istana Langit."


"Nona, kenapa kau sangat keras kepala?"


Tak peduli dengan perkataan mereka, Yu Jie memilih pergi. Saat itu Zhu dengan cepat mencekal tangan Dewa Es itu. "Nona, jangan lakukan ini."


"Lancang!" Wang Zheng datang dan menarik istrinya. Dari tatapan mata saja sudah jelas tersirat aroma cemburu di sana.


Sadar telah melakukan kesalahan, Ping dan Zhu segera berlutut. "Maafkan kami, Tuan Rui."


Wang Zheng menggenggam tangan Yu Jie dan membawanya pergi. Sepanjang jalan ia tak bicara apapun. Dalam pikirannya dipenuhi ingatan saat Zhu memegang tangan wanitanya atau beberapa waktu lalu saat mereka berdua duduk berdua di kolam purnama. Diam-diam itu semua telah menyulut cemburu dan amarahnya.


"Wang-Wang," panggil Yu Jie, meski begitu pria itu tetap berjalan lurus ke depan.


"Kau cemburu, ya?"


Diam. Tiba-tiba Wang Zheng menarik Yu Jie ke dalam pelukannya. Begitu dekat, hingga bisa merasakan tiap tarikan dan embusan napas satu sama lain.


"Yu'er kau milikku. Aku tidak akan membiarkan pria lain menyentuhmu dengan sembarangan." Bisikin Wang Zheng terdengar begitu lembut. Membuat pipi Yu Jie memerah seketika. Seakan menyatakan dengan jelas kecemburuannya.


"Ekhem!"


Malu, Yu Jie menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lantas tersenyum simpul dan memberi satu kecupan di pipi Wang Zheng. "Baiklah, aku milikmu. Bahkan seekor semut jantan harus meminta izin sebelum menyentuhku."


"Bagus." Mengusap pipi Yu Jie, mesra.


***


Semenjak serangan besar-besaran yang dilakukan Raja Iblis. Istana Langit semakin memperketat keamanannya. Bahkan Dewi Perang---Ratu Langit--menyegel istana dengan kekuatan yang hampir menyeimbangi jeruji langit. Tentu saja, hal ini untuk mencegah kaum bawah berani menyentuh daerah tertinggi dalam Kerajaan Langit.


Saat beberapa langkah lagi memasuki aula tempat pera dewa berkumpul membahas perang. Wang Zheng tiba-tiba menghentikan Yu Jie.


"Yu'er."


"Ada apa, Wang-Wang?"

__ADS_1


"Sepertinya kata-kata Zhu dan Ping benar. Kau tidak boleh terlibat dalam perang besar ini."


Yu Jie memanyunkan bibir, kesal. "Wang-Wang, kenapa kau ikut berpikir picik seperti mereka?"


"Setelah melawan Penjaring Jiwa, kau bahkan tidak sadarkan diri selama sebulan. Aku hanya takut, perang ini akan membuatku tidak bisa melihatmu selamanya." Dari nada bicaranya, tergambar jelas rasa cemas. Bagaimanapun, keselamatan Yu Jie adalah yang utama.


Yu Jie tergelak dan kemudian memukul pelan bahu Wang Zheng. "Waktu itu hanya kita berdua yang menghadapi Penjaring Jiwa. Sekarang semua Dewa Tinggi di Kerajaan Langit akan ikut serta. Kenapa harus takut?"


"Meski semua Dewa Tinggi ikut serta. Namun Raja Iblis juga didukung oleh permata neraka dan tentara dari lima suku yang ditaklukkannya. Ini jauh lebih berbahaya."


Seperti yang Wang Zheng katakan, Yu Jie sadar betul betapa berbahayanya peperangan kali ini. Karena itu ia sudah memantapkan hati untuk ikut tergabung di dalamnya. Lagipula, cepat atau lambat ia akan tiada. Setidaknya, jika tiada di medan perang, tidak ada yang akan tahu tentang pil pembeku salju.


"Aku yakin kita akan menang. Tidak peduli sekuat apapun Raja Iblis itu."


"Tap---"


"Tapi apa, Wang-Wang? Kau ingin aku hanya melihat tanpa melakukan apa-apa?" Mata Yu Jie memerah menatap sang suami. "Jika sesuatu yang buruk terjadi. Aku akan menghancurkan rohku sendiri."


"Yu'er!" Tangan Wang Zheng gemetar memegang bahu Yu Jie. Ia benci tiap kali wanitanya membahas tentang kematian. Seolah ia benar-benar akan pergi meninggalkannya.


"Biarkan aku terlibat dalam perang ini. Setidaknya, jika tiada, kita akan mati bersama."


Tak tahu harus bagaimana menyanggah. Wang Zheng hanya mampu memegang tangan Yu Jie, lama, dan menciumnya. "Baiklah, jika salah satu tiada, maka yang lain juga akan tiada. Kita akan menghadapi perang ini bersama-sama."


***


12 dewa berkumpul dan membahas perang dengan serius. Mereka sudah harus membuat persiapan matang, sebelum Raja Iblis lebih dulu membuat pergerakan.


"Saat ini, Raja Iblis pasti sudah menanam permata neraka di inti batinnya. Akan sulit memusnahkannya, meski memakai Pedang Pemusnah Jiwa sekalipun." Dewi Perang tampak sangat hati-hati. Terlalu gegabah hanya akan membuat mereka terjerumus dalam kekalahan.


"Pedang surga, hanya itu yang dapat membunuhnya," sahut Raja Langit.


"Pedang surga?" Serempak 12 dewa mengucapkannya. Mereka saling pandang, mengisyaratkan sesuatu.


Yu Jie tak mengerti dengan pedang surga yang baru saja Raja Langit sebutkan. Namun dari mimik wajah mereka, dapat terbaca bahwa itu adalah benda berharga yang tidak mudah untuk dimiliki.


"Dewi Es, kau adalah pemilik pedang surga. Kami harap kau bisa memberikannya." Semua menatap Yu Jie dengan penuh harapan.


Meski tak mengerti, Yu Jie mengangguk saja. "Baiklah, aku akan memberikanya."


"Kenapa? Bukankah itu milikku?"


Wang Zheng menggeleng. Ingin sekali ia mengatakan bahwa memakai pedang surga sama dengan menggadaikan nyawa. Namun sebelum sempat bicara, Raja Langit mendekat. "Tenanglah, dia mampu melakukannya."


"Yang Mulia, Yu'er tidak akan bisa."


Melihat ketegangan antara Raja Langit dan sang suami. Yu Jie dengan cepat menyela. "Wang-Wang, aku bisa."


"Yu'er!" bentak Wang Zheng. Terang saja membuat semua orang menatap ketiganya. Tak ingin semakin tersulut amarah, Dewa Air memutuskan meninggalkan ruangan.


***


"Wang-Wang." Baru saja tiba, Yu Jie langsung berlari mendapati sang suami. Seperti biasa, ia akan bergelayut manja dengan senyum polos yang mengembang indah.


Berbeda dengan Yu Jie yang begitu ceria. Wang Zheng terus saja menekuk wajah. Bahkan tak peduli dengan kehadiran sang istri, ia melepaskan pegangan dan kembali berlatih pedang.


"Wang-Wang," rengek Yu Jie, masih dibalas kebungkaman.


Yu Jie mendesah, kesal. Sudah hampir satu hari berlalu, tetapi kemarahan Wang Zheng masih belum reda juga. Bermodalkan kenekatan, ia mengambil pedang milik Shen. Lantas mengajak sang suami bertarung dengannya.


"Aku tidak mau." Wang Zheng langsung pergi sesaat setelah Yu Jie mengarahkan pedang padanya.


"Kenapa kau begitu keras kepala, Wang-Wang?" Mengejar Wang Zheng, cepat. Saat jarak keduanya semakin dekat, Yu Jie langsung memeluk dari belakang.


Wang Zheng memejamkan mata dengan tangan mengepal. Lantas dengan sinis berkata, "Kau yang keras kepala, Yu'er."


"Dengarkan penjelasanku dulu, Wang-Wang."


"Penjelasan apa?" Berbalik dan langsung mencengkram bahu Yu Jie. "Kau tahu apa tentang pedang surga?"


Yu Jie mengarahkan tangannya ke langit. Di saat yang sama, salju-salju entah datang dari mana berkumpul menjadi satu membentuk pedang. Seketika mata Wang Zheng membelalak, tak percaya.


"Pedang surga? Yu'er, apa kau tidak apa-apa?" Meraba tangan dan kepala Yu Jie, cemas.

__ADS_1


Yu Jie menggeleng. "Aku baik-baik saja."


"Tapi inti batinmu?"


"Aku sudah mendapat penawarnya." Senyum Yu Jie terkembang lebar saat mengucapkannya. "Kekuatan menyerap energiku sudah kembali. Jangan cemas. Mengambil pedang surga adalah hal mudah untukku."


"Benarkah?" Tatapan mata Dewa Air masih mengisyaratkan keraguan.


"Tentu saja. Setelah ini, kau harus membawaku ke rumah kaca untuk menyerap energi air."


Wang Zheng membawa Yu Jie ke dalam pelukan. "Baiklah, kau boleh menyerap semua energi air dari permata biru. Bahkan aku akan memberikan itu padamu."


Yu Jie meremas kuat ujung bajunya. Lantas senyum manisnya berubah getir seketika. Terpancar kebohongan besar dari dua netra zamrud itu.


"Wang-Wang, maaf, aku tidak punya pilihan lain." Yu Jie memejamkan mata, mengingat kembali perjumpaan ia dan Yen, dan awal mula terciptanya kebohongan besar.


***


Setelah pertemuan para dewa, Yu Jie baru mengetahui harga yang harus ia bayar untuk pedang surga. Pedang yang diciptakan oleh mendiang Dewi Agung Es sebelum ia tiada dengan menggunakan separuh rohnya.


Beratus ribu tahun lalu, semua tetua Suku Es sepakat menyimpan di bagian terdingin kutub utara. Setelahnya, istri dari Dewa Air itu menciptakan sarung pedang berdarah sebagai wadah. Dan, sarung itu hanya akan dapat terbuka setelah menyerap setengah energi inti batin penciptanya. Dewi Es Yu Jie.


"Permaisuri Rui, hal apa yang membawamu kemari?"


"Kau sudah tahu tentang pedang surga untuk mengalahkan Raja Iblis?"


Yen mengangguk.


"Kau juga tahu, bahwa hanya aku yang dapat mengambilnya?"


Yen mengangguk untuk kedua kalinya. "Namun untuk itu Permaisuri Rui harus menggunakan setengah dari kekuatan inti batin. Dan itu sama artinya dengan bunuh diri dengan keadaanmu yang meminum pil pembeku salju."


Terkejut, Yu Jie menatap tajam Yen. "Bagaimana kau tahu tentang pil pembeku salju?"


"Aku seorang tabib, tentu aku tahu hal seperti itu."


"Jadi sejak awal kau sudah mengetahuinya?"


"Benar." Yen menuangkan teh yang baru ia seduh. Lantas memberikannya ke Yu Jie. "Menurut catatan kuno, penawar pil pembeku salju adalah pil takdir yang terbuat dari cahaya roh Dewa Naga kuno. Namun itu hanya ada satu di jagat raya, setelah Dewa Naga Kuno tiada 500 ribu tahun lalu."


"Kau benar, dan aku sudah melenyapkan penawar itu."


Brak! Yen menjatuhkan cangkir yang dipegangnya. Lantas menggeleng lemah, "Jangan bercanda, Permaisuri Rui."


Yu Jie membalas perkataan Yen dengan senyum penuh luka. "Lupakan itu. Aku ke sini untuk meminta bantuanmu mengatasi hal ini. Mau tidak mau, aku harus mengambil pedang surga. Melawan Raja Iblis tanpa pedang itu sama saja dengan sia-sia."


"Apa yang bisa aku lakukan?"


"Apakah ada ramuan yang bisa kugunakan untuk mengambil pedang surga, tanpa terluka?"


Yen kembali menuang teh ke gelas. Lantas meminumnya, gugup. "Permaisuri Rui, menghabiskan setengah energi inti batin, mungkin tidak akan semudah itu merenggut nyawamu. Kau hanya akan terluka parah dan tidak sadar selama ratusan tahun. Dan mungkin saja, saat kau sadar, kau masih memiliki waktu beberapa ratus tahun sebelum tiada."


"Aku tahu itu. Namun aku tidak bisa membiarkan Wang-Wang bertarung sendirian melawan Raja Iblis. Aku harus memastikan dia baik-baik saja."


"Permaisuri Rui, sekalipun aku memiliki ramuan seperti yang kau minta. Ini akan sangat berbahaya."


"Bahaya apa yang tidak akan kuambil, jika itu untuk Wang-Wang?" ucap Yu Jie, menyakinkan.


Buku kuno dan pil embun kematian. Yen meletakkan itu di atas meja. Sebelum bicara, ia menarik napas dalam. "Pil ini dapat mengatasi efek dari pil pembeku salju."


"Apakah ini juga termasuk penawar pil pembeku salju?"


Yen menggeleng. "Bukan penawar, lebih tepatnya racun yang mematikan."


"Apa maksudmu?"


"Pil embun kematian dapat menekan efek dari pil pembeku salju selama 7 hari. Selama itu, kemampuanmu menyerap energi akan kembali seperti semula. Namun setelah 7 hari, energi yang terserap akan berubah menjadi racun yang perlahan mematikan inti batin."


Yu Jie mengambil pil embun kematian. Saat ia akan menelannya, Yen menghentikan. "Jika pil pembeku salju membuatmu hanya memiliki waktu 1.000 tahun. Maka pil embun kematian akan membuatmu tiada, tidak lebih dari 100 hari."


Deg! Dada Yu Jie terasa sangat sesak. Sesaat dunianya seakan berhenti. 100 hari? Takdir seolah-olah benar-benar mengharapkan ia pergi dari dunia ini.


Terdengar helaan napas berat Yu Jie. Dengan tangan gemetar, menelan pil embun kematian. "Demi Wang-Wang dan demi kedamaian semua alam. Kematian ini tak pernah menjadi sia-sia."

__ADS_1


Yen menutup mata, jika tidak air matanya akan tumpah. Lantas tabib wanita itu tertawa getir melihat betapa gilanya seorang wanita demi sebuah cinta. "Setelah 300.000 tahun, akhirnya aku kembali menemukan seseorang yang rela menderita demi cinta. Terakhir kali, Dewi Perang melakukan hal yang sama untuk Raja Langit. Dan, kini kau mengulang kisah yang sama."


"Cinta yang sebenarnya tidak akan takut dengan kematian." Yu Jie menggigit bawah bibirnya, ketika pil embun kematian mulai bereaksi. "Sebab, tidak pernah ada kata mati dalam cinta. Ia abadi di dalam jiwa penikmatnya."


__ADS_2