
•••
Alia berlari seperti orang kesetanan. Perempuan itu tidak memperdulikan tatapan aneh orang-orang yang dilaluinya. Yang terpenting baginya sekarang adalah benda berharganya itu dapat ia temukan. Tidak peduli kakinya mulai terasa ngilu karena perempuan itu berlari dari rumah sakit menuju tempat dia membegal Fajar semalam.
“Alia!” Dari arah belakang terdengar seseorang meneriaki nama Alia sambil berlari mengejar perempuan itu.
“Alia, stop!”
Alia tidak memperdulikan teriakan Raffa. Perempuan dengan rambut yang sudah amat terlihat berantakan itu, tetap berlari dengan kencang. Menerobos para pejalan kaki yang terkadang tak sengaja Alia senggol bahu mereka.
“Hei, Alia.” Raffa berhasil mensejajarkan tubuhnya dengan Alia. Dengan cepat Raffa menarik tangan Alia agar perempuan itu berhenti. Namun ada yang perlu Raffa ingat. Alia bukan gadis seperti biasanya. Dia punya kekuatan yang kuat. Maka dari itu, dia mampu menepis tangan Raffa dengan tebasan yang bisa dibilang kasar.
Raffa tidak menyerah. Lelaki itu tetap mengejar Alia dengan napas yang tersengal-sengal.
“Alia tolong berhenti!” Raffa kini berdiri tepat di depan Alia. Cowok itu dengan cepat menahan pundak Alia, agar perempuan itu berhenti. Alia meronta-rontakan tubuhnya agar tangan Raffa lepas dari pundaknya. Tapi dia tidak mampu. Tubuhnya sudah mulai lemas karena berlari sambil menangis.
“Hei, Alia, tenanglah! Kamu bisa sakit kalau memaksakan diri seperti ini. Istirahat dulu, ya! Kamu belum benar-benar istirahat kan dari semalam. Nanti saya bantu cari kalung kamu, oke?”
Kepala Alia menggeleng dengan keras. “Nggak! Saya nggak ada waktu untuk leha-leha. Dokter ..." Alia memegang kedua pergelangan tangan Raffa dan mencengkramnya dengan keras. Sedetik kemudian, Alia mengangkat tangan Raffa dan menghempaskannya dengan kasar, “minggir!”
Tubuh Raffa oleng ke samping. Alia berhasil lepas darinya. Dan perempuan itu kembali berlari menuju tempat yang dia yakini kalau kalungnya berada di sana.
Untuk beberapa saat Raffa hanya diam di tempat, dengan posisi tubuh membungkuk dan nafasnya yang sudah mulai hilang. Sejujurnya dia sudah tidak kuat lagi mengejar Alia. Jarak dari rumah sakit menuju tempat itu sangatlah jauh. Betis Raffa sudah sakit. Jantungnya sudah berdetak tidak normal. Keringatnya pun sudah membanjiri pelipis, kening, serta lehernya.
Raffa menegakkan badannya dan menengadahkan kepalanya ke atas. Sinar matahari menyengat wajah pria itu, seakan memihak kepada Alia agar dia berhenti mengejar gadis itu.
Kepala Raffa kini menatap lurus ke depan. Bayangan Alia sudah tidak ada di pandangannya. Sepertinya gadis itu sudah berbalik ke sebelah gang di sudut jalan. Raffa tidak menyangka Alia bisa sampai seperti itu hanya karena sebuah kalung.
“Lo payah banget, Raf. Masa ngejar cewek aja ngos-ngosan,” dumelnya pada dirinya sendiri, dan kemudian Raffa tertawa meringis.
Pria itu tidak mau menyerah. Raffa akhirnya kembali melangkahkan kakinya untuk menyusul Alia. Kali ini dia tidak sanggup berlari. Raffa hanya mampu berjalan sambil memegang sebelah perutnya yang mulai terasa keram. Raffa tidak peduli kalau ini akan memakan waktu yang panjang untuk menyusul Alia. Yang terpenting, dia bisa sampai di sana. Walau dengan berjalan terseok-seok.
Raffa harap langit berpihak padanya. Sinar matahari yang menyengat, membuatnya makin merasa kelelahan. Andai Raffa bisa mengendalikan cuaca. Raffa pasti akan memilih berlari di kucuran air hujan, dari pada terpaan sinar matahari.Tapi ini demi Alia. Raffa harus tahan-tahan dengan matahari itu.
Sampai akhirnya, Raffa berhasil sampai di ujung jalan dan mulai bersebelahan dengan gang yang cukup besar, tempat semalam dia membelokan mobilnya untuk mencari secangkir kopi.
Raffa terus berjalan. Raffa harap, Alia baik-baik saja.
Tiang lampu dekat jalan tempat Fajar terjatuh sudah terlihat. Raffa hanya perlu menyebrang untuk bisa sampai ke tempat itu. Tapi apa yang sedang Alia lakukan di seberang sana membuat Raffa diam terpaku.
Perempuan itu menjadi pusat perhatian orang-orang, layaknya orang tidak waras. Alia bolak-balik sambil mencari kalungnya yang hilang.
“Maaf, Mas. Bisa berdiri sebentar!” Lelaki yang sedang duduk disebuah kursi di tempat pejalan kaki itu bangkit dari kursi, dengan memandang Alia bingung.
__ADS_1
“Makasih,” ucap Alia.
Alia dengan harapan yang tinggi dapat menemukan kalungnya itu di atas, atau di bawah, atau mungkin di selipan kursi tersebut.
Nihil.
Perempuan itu tidak menemukan apa pun.
Alia mencengkram kepalanya, frustasi. Pandangannya mulai berkeliling keseluruh penjuru tempat. Semua orang memandangnya aneh. Bahkan sampai enggan mendekat ke arah Alia.
Pandangan perempuan itu kini terpaku pada sebuah benda berwarna hijau yang berdiri di depan sebuah toko makanan. Alia mendekati benda itu. Benda yang disebut tong sampah itu, kini diacak-acak olehnya.
“Eh, Mbak! Jangan diberantakin gitu!”
“Woi! Jangan ngotorin jalan. ****!”
“Duh, gila, ya?!”
“Lapor polisi! Lapor polisi!”
Telinga Alia seakan-akan tuli. Dia tidak memperdulikan omelan dari orang-orang di belakangnya. Sampai akhirnya, Raffa menarik tubuh gadis itu dan memaksanya untuk membalikan tubuhnya.
“Alia tolong tenanglah!” mohon Raffa dengan suara lembutnya.
Alia memandang Raffa dengan air mata yang memenuhi matanya. Bibir bawah Alia bergetar menahan tangis. Kuncir di rambut perempuan itu sudah turun dan ikatannya sudah kendur.
Raffa menahan tubuh Alia yang merosot ke bawah. Keduanya kini terduduk di trotoar. Puluhan pasang mata itu masih bergeming sambil menyaksikan Raffa dan Alia. Kebiasaan makhluk hidup yang tidak baik. Kepo dengan masalah orang lain.
“Gimana cara saya bayar biaya rumah sakit cowok itu. Saya udah terlanjur janji sama dia,” ucap Alia lalu memandang tepat ke mata Raffa. “Dokter. Apa saya bisa jual organ tubuh saya? Saya nggak butuh ginjal saya yang satunya. Saya juga nggak butuh punya dua mata. Dokter bisa ambil itu semua asal saya dibayar. Bisa kan, Dokter?”
Raffa memandang Alia iba. Lelaki itu tidak menyangka Alia sampai berniat untuk melakukan hal itu.
“Maaf ... saya tidak bisa melakukan itu padamu,” balas Raffa membuat Alia merasa sedikit kecewa.
Tangisan Alia pecah. Baginya, sudah tidak ada harapan lagi untuk dia hidup. Sebagian jiwanya yang ada pada kalung itu sudah hilang.
Menemukan kalungnya saja dia tidak bisa. Apalagi menemukan orang tua kandungnya. Itu lebih mustahil.
“Saya mau mati aja, Dok! Hidup saya sudah nggak ada tujuan lagi. Orang tua saya pun tidak menginginkan saya,” ucap Alia, terisak.
“Kenapa mereka membuang saya? Kenapa saya dilahirkan kalau nasib saya seperti ini. Saya selalu bermimpi, suatu saat saya pasti bisa bertemu orang tua saya. Kalau saya bertemu mereka, saya takut mereka nggak ngenalin saya. Kalung itu satu-satu identitas saya yang mungkin mereka kenal. Tapi ... sekarang kalung itu hilang. Saya mau mati aja! Saya mau mati!” raung Alia dengan raut wajah yang semakin kacau.
Raffa bingung harus melakukan apa. Yang bisa dia lakukan saat ini, hanya menghapus air mata Alia yang mengalir di pipinya.
“Hidupmu masih panjang, Alia! Tuhan masih memberimu kesempatan hidup untuk bertemu orang tuamu.” Isakan Alia sedikit mereda mendengar ucapan Raffa.
__ADS_1
Orang-orang di sekitar tempat itu diam termenung. Mereka yang sempat merekam kejadian itu, kini menurunkan ponselnya dan menatap Alia iba.
“Tapi bagaimana Dokter? Saya harus apa agar bisa menemukan orang tua saya?”
“Sabar, Alia! Tuhan tahu waktu yang tepat untukmu bertemu dengan orang tuamu. Orang tuamu pasti langsung mengenalmu tanpa harus kamu memiliki kalung itu. Karena kamu anak mereka.”
“Tapi mereka nggak sayang sama saya. Kenapa mereka jahat meninggalkan saya di panti asuhan? Pasti mereka menganggap saya beban,” desis Alia.
“Kalau memang begitu, kamu tetap sayang, kan, pada mereka? Buktinya saja kamu sampai sebegininya mencari kalung itu.”
Alia tidak bisa menyangkal ucapan Raffa. Pria itu benar. Walaupun Alia tidak tahu bagaimana rupa dan watak orang tuanya. Alia tetap sayang pada mereka.
Kepala Alia berpaling ke samping kepala Raffa. Matanya menatap ke arah jalan besar yang hanya dilalui banyaknya sepeda motor. Saat melihat jalan itu. Alia sempat berpikir untuk bunuh diri. Tapi tidak ada mobil yang melintas. Kalau ditabrak motor palingan Alia cuma lecet-lecet saja. Alia harap, truck melintas di jalan itu dan menabrak dirinya.
Asstagfirullah sadar Alia! batin Alia berteriak menyadarkan otaknya yang mulai berpikiran negatif.
Alia memejamkan matanya dan sedetik kemudian matanya membuka kembali dan menatap keseliling. Orang-orang masih belum pergi. Alia baru sadar kalau dirinya menjadi tontonan gratis orang-orang. Malu. Alia malu sekali.
“Eh.”
Kedua mata Alia sedikit memicing memperhatikan deretan traffic cone, atau segitiga jalan, yang berdiri tegak di samping tiang lampu jalan.
Ada yang menggandul di traffic cone itu. Dan benda itu membuat Alia penasaran.
Alia menyingkir dari hadapan Raffa dan berjalan mendekati traffic cone itu.
Kedua bola mata Alia berbinar. Ada kilatan bahagia yang terpancar di bola mata berwarna amber itu.
Benda berharganya itu ternyata tersangkut di sana. Di traffic cone itu. Alia senang tiada tara. Dengan perasaan menggebu-gebu, Alia mengambil kalungnya yang melingkar di traffic cone tersebut.
Air mata Alia kembali mengalir. Bukan karena sedih. Tapi perempuan itu sangat bahagia. Niatnya untuk bunuh diri tidak akan dia lakukan. Jiwanya kembali bergejolak untuk hidup lebih lama lagi. Raffa benar. Alia hanya perlu bersabar dan menunggu waktu berpihak padanya.
Ah, Alia ampai lupa dengan Raffa. Rasa bahagianya melupakan segalanya.
Alia membalikkan tubuhnya dan mengangkat kalungnya tinggi-tinggi di udara. “Dokter! Separuh jiwa saya sudah ketemu!” seru Alia dengan senyum yang tidak pernah pudar di wajahnya.
Raffa memandang kalung itu dengan perasaan lega. Syukurlah, batin Raffa ikut tersenyum pada Alia.
Raffa mendekati Alia yang sedang memasangkan kalungnya itu pada leher jenjangnya. Raffa salut pada Alia. Cintanya pada kalung itu dan orang tuanya, ternyata benar-benar besar. Perempuan itu sampai rela berlari berpuluh-puluh Kilo Meter, dan mengobrak-abrik tong sampah hanya untuk mencari kalungnya. Ternyata karena kegigihan dan kuatnya cinta Alia, perempuan itu berhasil menemukan benda istimewanya itu.
“Kalung itu masih milikmu, Alia. Dia akan kembali pada pemiliknya jika Tuhan masih mengingkan kamu menjaganya. Tinggal kamu menunggu bagaimana Tuhan mengembalikan orang tuamu yang telah meninggalkanmu itu. Apa Tuhan masih menginginkan orang tuamu menjagamu sebagai anaknya atau tidak. Kita hanya perlu bersabar dan mengikuti waktu menuntun kita.”
“Dan Tuhan tahu mana yang baik dan buruk untuk umatnya. Iya kan, Dokter Raffa?”
Raffa tersenyum sambil mengusap rambut Alia yang berantakan. Alia terpaku di tempatnya menyaksikan bagaimana manisnya senyum Raffa. Darahnya serasa hanya mengalir ke jantungnya saja. Jantung Alia berpacu tidak normal. Itu membuat Alia takut.
__ADS_1
Sampai akhirnya pandangan Alia memudar. Kelopak matanya menutup secara perlahan. Dan sedetik kemudian. Tubuhnya luruh ke dalam dekapan Raffa, dan pria itu sekarang mulai panik karena Alia tiba-tiba saja pingsan