ETHEREAL

ETHEREAL
BAB 16


__ADS_3

"Ping, cepat panggil Yen ke mari!"


Wang Zheng berlari tergesa-gesa, sambil membopong Yu Jie yang penuh darah. Beberapa kali terdengar ia menyebutkan nama wanitanya dengan isak tangis. Namun nihil, yang dipanggil tetap menutup mata dengan bibir pucat kesi.


Tak lama setelah membaringkan Yu Jie. Yen datang bersama beberapa tabib muda binaannya. Mereka dengan cekatan memeriksa dan menyiapkan ramuan. Jamur lingzi, daun kehidupan, dan akar bunga lotus es. Dalam sekejap semua itu diolah menjadi butir-butir pil kecil.


"Tuan Rui, aku butuh bantuanmu untuk sementara memperlambat racun yang menyerang inti batin Permaisuri Rui."


"Baik." Duduk bersila di sebelah Yu Jie dan kemudian menggunakan mantra air untuk memblokir sebagian energi yang telah berubah menjadi racun. Baru beberapa menit berlalu, tiba-tiba Wang Zheng memuntahkan banyak darah.


"Tuai Rui!" Shen datang dan kemudian memegang tubuh Wang Zheng yang mulai lunglai. "Tuan, inti batinmu juga terluka. Menggunakan mantra air hanya akan memperparahnya. Biarkan aku yang membantu Permaisuri Rui."


"Tidak!" tolak Wang Zheng, yang kemudian memusatkan kembali perhatiannya pada Yu Jie. "Yu'er, percayalah aku tidak akan membiarkanmu tiada."


***


"Minumlah." Menyerahkan teh salju dengan tambahan daun kehidupan dan sedikit bunga krisan. Yen kemudian mengecek denyut nadi Wang Zheng. "Ini sudah lewat dari satu bulan. Luka akibat pedang setan sudah semakin parah."


Tatapan mata Wang Zheng kosong. Raga boleh saja di sana, tetapi jiwanya mengembara. Mencari jawaban atas tidak berpihaknya takdir pada ia dan Yu Jie. Sehingga selalu ada saja yang memaksa luka untuk berlabuh dan menyiksa.


"Namun tenang saja, sebelum mencapai bulan ketiga rasa sakitnya tidak akan terlalu terasa. Itu hanya membuat tubuh melemah. Jadi, jangan gunakan kekuatan yang berlebihan."


"Bagaimana dengan Yu Jie?"


Yen terdiam. Sejenak mengambil napas dalam. Berbicara kebenaran tak semudah bayangan. "Tuan Rui, kasus inti batin permaisuri Rui bukanlah hal biasa. Dua pil mematikan, satu memicu berhentinya penyerapan energi dan yang lain mengubah energi yang ada menjadi racun yang menyerang balik tuannya. Reaksi ini sangat wajar terjadi. Kelak mungkin terjadi yang lebih parah lagi."


"Lebih parah?" Senyum Wang Zheng terlihat getir. "Kami bahkan baru beberapa hari di dunia fana, tapi kenapa reaksinya begitu parah?"


"Kecepatan reaksi embun kematian tidak dapat diperkirakan. Bisa saja racun itu mematikan inti batin dalam waktu satu hari."


Wang Zheng melempar cangkir teh di depannya. Rahangnya mengeras, dengan tangan mengepal menghancurkan apa saja yang dilihat. Berkali-kali mencoba menerima, tetapi berkali-kali juga hatinya menolak rela pada takdir yang tak pengertian.


Kemarin malam semua baik-baik saja. Mereka menikmati waktu bersama selayaknya pasangan yang berbulan madu. Namun siapa menyangka, pagi ini ia terbangun dan menemukan Yu Jie tak sadarkan diri di kamar mandi. Dari mulut dan hidung keluar darah dalam jumlah banyak.


***


Lukisan siluet seorang gadis berambut panjang dengan bayangan bunga krisan di dalamnya tampak penuh estetika. Yu Jie tak henti memandang, diiringi decak kagum. Betapa luar biasanya hasil goresan tangan sang suami.


"Aku tidak tahu kenapa saat ujian langit kau menjadi pilot. Padahal kau lebih cocok menjadi pelukis."


Hening. Wang Zheng seperti patung memandangi wanita bersurai perak itu. Senyum, mata, bibir, hidung, dan setiap lekuk wajah Yu Jie. Ia ingin mengabadikan itu semua. Kalau-kalau takdir datang dan merenggut semua yang ada dalam sekejap mata.


"Wang-Wang, aku belum puas di dunia fana. Bagaimana kalau kita kembali ke sana?"


"Tidak," jawab Wang Zheng, datar.


"Sangat membosankan di Kerajaan Langit. Ayolah kita ke dunia fana." Kali ini rengekan Yu Jie terdengar lebih manja.


"Kau akan lebih aman di Kerajaan Langit, di bawah pengawasan Yen." Memalingkan muka sambil bersedekap dada. Sikap Wang Zheng mengingatkan Yu Jie pada pertemuan pertama mereka setelah ujian langit. Angkuh, dingin, dan sangat tidak bersahabat.


"Wang-Wang, kau kenapa? Sejak tadi hanya manyun dan terus bersikap dingin denganku. Katakan jika aku melakukan kesalahan."


Amarah Yu Jie tak lagi dapat ditahan. Ia sudah mencoba berbagai cara mencairkan suasana. Namun pria itu bahkan bersikap sedingin kutub utara. Membuat wanitanya kehabisan akal dan angkat bicara.


"Wang-Wang, katakanlah sesuatu."


Cup! Bibir itu ******* lembut kekasihnya. Melunturkan sedikit demi sedikit amarah dengan aroma cinta. "Kau tahu betapa takutnya aku melihatmu seperti kemarin?"


Yu Jie mendongak, menatap Wang Zheng. "Maaf."


"Aku sakit saat melihat kau terluka. Aku sangat takut kehilanganmu, Yu'er." Memeluk Yu Jie lebih erat lagi. Aroma lavendel berbaur dengan ramuan herbal menguar dari tubuh wanitanya.

__ADS_1


"Reaksi seperti itu wajar terjadi. Mungkin akan terus terjadi berulang-ulang kali."


"Tapi aku tidak siap melihat kau menderita."


Yu Jie tersenyum simpul, mengambil kotak obat yang diberi Yen. Lantas meminum beberapa pil itu di hadapan Wang Zheng. "Yen bilang pil ini akan menekan rasa sakit dan mencegah kejadian seperti kemarin. Kau tidak akan melihat aku yang menahan kesakitan dan menderita karena pil embun kematian."


Wang Zheng mendekatkan hidungnya ke hidung Yu Jie hingga saling bersentuhan. "Melihatmu menderita, jauh lebih mengerikan dari kematian."


"Gombal!" Mencubit kedua pipi Wang Zheng, gemas. Keduanya tertawa bersama.


***


Ping dan Zhu saling tatap. Sementara di ujung sana, Wang Zheng menanti jawaban mereka. Meski itu tidak memengaruhi keputusan, setidaknya dua orang itu harus memberi pandangan.


"Jika ditanya apakah kami ingin melihat nona selamat dan sehat seperti sediakala. Tentu saja jawabannya iya." Ping melangkah mendekati Dewa Air. Ia harusnya bahagia dengan apa yang akan sang tuan lakukan untuk nonanya. Hanya saja, apakah itu akan lebih baik? Atau justru akan menjadi bumerang yang menghancurkan.


"Namun kita juga tahu, bagi nona kematian lebih menyenangkan daripada harus hidup tanpa Tuan," sambung Zhu yang sebelumnya sangat berhasrat menekan Wang Zheng agar merelakan permata biru untuk Yu Jie. Namun melihat kegigihan wanita itu dengan memilih sehidup semati bersama sang kekasih. Membuat ia mengerti dan mundur perlahan-lahan.


"Ini berat, tapi aku tidak bisa melihatnya menderita. Apalagi, alasan penderitaannya adalah aku." Bibir merah muda itu melengkung getir. "Aku akan menyuruh Yen menanam permata biru di inti batin Yu Jie."


"Nona pasti akan menolaknya."


"Aku sudah memikirkan cara mengatasinya. Kalian hanya perlu memikirkan hal yang harus dilakukan setelah aku tiada."


Zhu tersenyum tawar. Hari ini, ia sadar bahwa di antara Wang Zheng dan Yu Jie ada cinta tanpa syarat yang membuat mereka selalu rekat. Cinta yang tidak pernah bertanya apa, tetapi sanggup memberikan seluruh dunia untuk belahan jiwa. Perasaan langka yang tidak dimiliki semua manusia bahkan para dewa.


***


Yu Jie bersandar di pintu sambil melempar bola-bola es ke telaga purnama. Membosankan. Sudah dua hari ini ia tak bertemu Wang Zheng. Entah apa masalahnya, pria itu selalu menghindar tiap bertemu. Tentu saja itu bukan sifat sang suami, dari gelagatnya saja sangat mencurigakan. Ia takut ada sesuatu yang prianya rencanakan di belakang.


"Yu'er." Saking menikmati lamunan, sampai tak sadar yang dipikirkan sedang depan mata. Wang Zheng mendekat dan kemudian memeluk Yu Jie dari belakang.


Diam. Cukup lama waktu berlalu dalam kesunyian.


Yu Jie membalikkan badan dengan wajah kesal. "Kau sudah mengabaikanku selama dua hari." Mengangkat jari telunjuk dan tengahnya dengan bibir manyun.


"Maaf," ucap sang suami untuk kedua kali.


"Dan kau sudah meminta maaf dua kali. Apa itu berguna?" Berdecak sebal dan langsung meninggalkan Wang Zheng.


Wang Zheng berlari kecil, mengejar Yu Jie. Lantas menarik tangan wanitanya hingga tubuh itu terjatuh dalam dekap Dewa Air. "Maaf sudah mengabaikanmu dua hari ini."


"Kau tahu, aku merindukanmu." Menatap pria yang ahli memainkan pedang itu berkaca-kaca. "Kita tidak punya banyak waktu. Tapi kau bahkan membuang dua hari yang sangat berharga entah untuk hal apa."


"Maaf."


"Ck! Kau sudah meminta maaf lebih dari tiga kali."


Bahkan itu tidak akan cukup untuk menebus kesalahan. Maaf, karena aku mengingkari janji, batin Wang Zheng.


Yu Jie memegang dadanya. Sakit itu kembali datang, padahal ia sudah meminum pil pemberian Yen sesuai dosis dan tepat waktu. Ia pun terbatuk-batuk kecil. Sungguh, wanita itu benci harus terlihat lemah di depan prianya.


Wang Zheng memapah Yu Jie ke bangku di dekat mereka. Disentuhnya kening sang istri, khawatir. "Kau tidak apa-apa?"


"Tidak." Mengeleng dengan senyum lebar.


"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan air untukmu."


"Baiklah."


****

__ADS_1


Sendu, Wang Zheng menatap Yu Jie yang tidak sadarkan diri setelah minum teh---yang sudah dicampur dengan bubuk penghilang kesadaran. Ia tahu, wanita itu akan menolak menanam permata biru untuk menyembuhkan inti batinnya yang rusak. Ia paham, hidup tanpa orang yang dicinta adalah penderitaan paling menyakitkan. Namun, ia juga sadar, hatinya tidak akan bisa membiarkan Yu Jie tiada dalam kesakitan karenanya.


Di luar kamar, Zhu, Shen, dan Ping sudah menunggu. Pintu berdecit pelan, menampilkan Wang Zheng yang menggendong Yu Jie. Mereka berjalan menuju rumah kaca, tempat di mana pertama biru berada.


"Jika memang kita tertakdir selalu bersama. Ia pasti akan kembali menyatukan kita. Yang bahkan kematian pun tak dapat memisahkan."


"Tuan Rui," panggil Shen.


"Tekadku sudah bulat. Jangan mencoba menggoyahkannya."


Shen mengangguk, lesu. Sementara dua orang di sampingnya---Ping dan Zhu---tak banyak bereaksi.


Gembok emas terbuka. Segera Ping masuk dan dengan satu jentikan memindahkan ranjang batu giok dari Istana Es ke rumah kaca. Lembut, Wang Zheng membaringkan Yu Jie.


"Kalian keluarlah dan tunggu sampai Yen datang."


"Baik, Tuan."


Kabut setinggi tiga meter---di mana di bagian puncaknya terdapat permata biru---mulai menghilang. Wang Zheng mengulurkan tangan dan dengan sendirinya permata berbentuk bangun ruang segitiga itu menuju sang tuan. Digenggamnya pusaka Suku Air itu, gemetar, sambil menutup mata dan tanpa sadar rintik luka berlabuh di wajah.


"Maukah kau memaafkan aku setelah ini, Yu'er?"


***


"Apa sesuatu telah terjadi pada permaisuri Rui?" Yen datang dengan cemas setelah pelayan Dewa Air menjemputnya dengan terburu-buru.


Zhu, Ping, dan Shen saling tatap. Namun tak satupun yang mau bicara.


"Apa efek embun kematian lebih parah dari kemarin?" tebak Yen yang lagi-lagi dijawab dengan kebungkaman.


"Yen, masuklah." Suara bas Wang Zheng terdengar dari dalam rumah kaca. Yen menatap kesal pada tiga orang di depannya. Lantas dengan segera mengikuti perintah memasuki rumah kaca.


Wang Zheng memangku kepala Dewi Es, sambil terus membelai puncak kepala, lembut. Sementara Yen yang baru masuk dibuat kebingungan karena tak menjumpai permata biru yang biasanya melayang di atas kabut air. Bahkan bunga krisan yang tumbuh di sekitarnya pun layu. Suasana di sana benar-benar menyeramkan, gelap, lembap, dan dingin. Padahal sebelumnya merupakan tempat yang sangat indah dengan berbagai macam bunga dan sedikit sinar matahari dari ventilasi.


"Yen, aku sudah memutuskan."


"Memutuskan apa, Tuan Rui?"


"Permata biru," ucap Wang Zheng, berat. "Aku ingin kau menanam permata biru di inti batin Yu Jie. Selamatkan dia, Yen."


Sesaat, mata Yen mendelik mendengar perkataan dewa yang telah lama ia layani dengan setia. "Tapi Tuan---"


Yen membekap mulutnya, teringat sesuatu yang sangat penting dan tidak dapat dikatakan pada pria di depannya. Ia menarik napas dalam. Berusaha tenang dan menanyakan lebih jelas. "Tapi Tuan, bukankah kau sudah berjanji sehidup semati dengan permaisuri Rui?"


"Aku mengingkari janji itu."


"Tuan Rui." Suara Yen meninggi. "Apa kau pikir janjimu dengan permaisuri Rui hanyalah mainan yang dapat seenaknya ditinggalkan? Tuan, kumohon jangan gegabah."


"Ini memang bukan permainan. Ini kenyataan."


"Tuan Rui."


Wang Zheng menatap Yen sekilas. Lantas mengalihkan pandang pada Yu Jie. "Begitulah cinta. Demi orang yang dicinta, ia bahkan bisa mengingkari janjinya."


Diulurkannya permata biru yang merupakan satu dari sekian pusaka paling berharga di Kerajaan Langit. "Lakukan ini untukku."


"Tuan Rui, kau yakin?"


Pria yang terkenal dengan wajah dingin dan tak berperasaan itu tersenyum hangat. Dulu, seorang wanita berhasil membuat ia tak percaya pada cinta dan membuat hatinya sebeku salju. Hari ini, karena wanita yang sama, ia kembali percaya pada cinta dan bersedia dengan ikhlas hati mengorbankan apa saja, bahkan jiwa dan raga.


"Ini." Menyerahkan sebutir pil kecil berwarna kemerahan, sekilas lebih mirip sebuah permata. "Raja Langit yang memberikannya. Itu akan membuka jalur ingatan Yu Jie dan mengembalikan ingatannya yang lalu. Sekaligus menghapus kenangan saat ujian langit dan distorsi takdir terjadi. Semua akan kembali pada keadaan semula."

__ADS_1


"Itu artinya permaisuri Rui akan melupakan cintanya dan bahwa ia adalah istri Tuan Rui."


"Bukankah itu lebih baik? Ia hanya akan mengingat aku sebagai orang yang ia benci dan mati-matian berusaha dilenyapkan. Dengan begitu, kematianku bukanlah hal yang akan ia permasalahkan."


__ADS_2