
Perempuan dengan kaus polos berwarna hitam serta celana jeans warna serupa, kini tengah berdiri sambil menelungkupkan wajahnya di pagar besi di pinggir danau Panti Asuhan Melati.
Hari sudah hampir sore. Tapi perempuan itu masih betah angin-anginan di tempat itu.
“Sendirian aja?”
Alia menoleh dan seketika terkejut mendapati Raffa yang sedang berjalan mendekat ke arahnya dengan kedua tangan yang di masukkan ke saku celananya.
“Bagus, ya, tempatnya. Pantes aja kamu betah di sini,” ucap Raffa saat lelaki itu sudah berdiri di samping Alia. Rama kini memandang ke arah danau dengan tatapan berbinar.
“Tempat ini sudah seperti tempat lahir saya. Ibu Melati bilang, kalau saya ditemukan di tepi danau ini sendirian saat balita,” ucap Alia.
Raffa menoleh ke arah Alia dan memandang raut wajah gadis itu. Ada guratan kesedihan di wajah cantiknya.
“Saya nggak tahu kapan, di mana, hari apa, tanggal berapa saya di lahirkan. Saya nggak tahu itu semua. Tapi Ibu Melati dan semua penghuni panti selalu merayakan hari ulang tahun saya saat tanggal Bu Melati menemukan saya di sini.” Bibir Alia tertarik membentuk sebuah senyuman yang pilu.
“Rasanya ... saya seperti tidak mengenal diri saya sendiri. Nama Alia bahkan Bu Melati yang memberikannya.”
“Disaat semua orang tua di dunia ini memberikan nama anaknya dengan nama dan arti yang bagus. Orang tua saya justru membuang saya,” ucap Alia. “Miris.” Bibir Alia tersenyum kecut.
Alia mengembuskan napasnya panjang. Kepalanya sedikit menengadah. Menahan air mata yang hampir saja meluncur. Andai tidak ada Raffa di sampingnya. Alia pasti sudah menangis sesengukan di tempat ini.
“Dokter Raffa?” panggil Alia. “Jangan menyukai saya! Saya tidak pantas dengan orang sebaik Dokter.”
Apa yang diucapkan Alia tadi membuat hati Raffa terasa tercekit.
“Saya dan Dokter itu seperti Malam dan Siang. Kita tidak akan pernah bisa berada di tempat dan waktu yang sama. Kehidupan kita bertolak belakang. Saya hidup di kemalamam. Sunyi. Dan cahaya hidup saya sudah redup sejak saya lahir. Sedangkan Dokter hidup dikelilingi keramaian dan terangnya masa depan Dokter yang indah. Sama seperti Siang hari yang selalu terang,” tutur Alia. “Mustahil rasanya kita ber—”
“Kamu salah, Alia!” sela Raffa, membuat Alia menolehkan kepalanya menatap Raffa yang berdiri di sampingnya.
Pandangan Raffa tertuju ke langit yang seolah seperti akan tenggelam ke dasar danau. Warna di air danau itu berubah menjadi jingga karena cahaya langit senja menelusuk ke dasar danau yang dalam.
“Kamu melupakan senja yang hadir antara Siang dan Malam,” ucap Raffa kemudian merubah pandangannya ke arah Alia. “Di mana senja datang membawa dan memperkenalkan cinta pada Siang dan Malam.”
__ADS_1
Angin dikala Sore hari itu tampak bermain-main dengan rambut milik Raffa. Rambutnya sedikit kemerahan karena cahaya matahari senja. Ditambah tatapan mata yang dalam dari manik mata Raffa seolah menghipnotis Alia untuk menatap pria itu untuk lebih lama lagi.
Raffa benar. Senja benar-benar memperlihatkan padanya sebuah cinta. Alia bisa melihat pancaran ketulusan cinta itu dari bola mata Raffa.
“Senja ada karena Pencipta. Siang dan Malam pun ada karena ada yang menciptakan. Kamu dan saya juga ada karena diciptakan. Tuhan bisa menciptakan apapun yang dia mau. Apapun .... Termasuk perasaan saya ini ke kamu.”
Alia ingin berteriak rasanya. Pernyataan cinta tidak langsung dari Raffa terasa seperti ribuan bunga yang terjun turun ke hatinya. Menggelikan, namun berhasil membuat Alia tidak mampu menahan senyumnya.
“Dokter jangan bercanda!” sungut Alia.
“Saya kan sudah pernah bilang, saya ini bukan anak kecil yang suka bercanda. Apalagi soal perasaan,” ujar Raffa.
“Iya. Iya, deh.” Alia mengalah sambil terkekeh ringan.
“Jangan iya-iya aja, Alia! Kamu harus jelas menjawab pernyataan saya tadi!”
Alia mengerutkan dahinya. “Jawab pernyataan yang mana?”
“Iya, iya. Saya inget kok! Tapi saya kan malu untuk jawabnya. Lagian Dokter Raffa buru-buru banget, sih. Nggak baik tahu buru-buru!” sela Alia.
“Saya nggak buru-buru,” sangkal Raffa. “Saya khawatir kamu keburu diambil sama yang lain.”
“Dih.” Alia tertawa meledek Raffa. Menurutnya tidak mungkin ada yang menyukai dirinya selain Raffa. Pede banget lo, Al.
“Ya, udah kalau kamu belom bisa jawab, saya pergi aja dari sini.” Raffa membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Alia dengan langkah santai.
Alia memandang pundak lebar Raffa yang berjalan perlahan meninggalkannya. Alia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Perempuan itu menahan untuk tidak berteriak memanggil Raffa. Ada perasaan tidak rela ketika Raffa mengatakan ‘pergi’.
Tangan Alia terulur seolah ingin menggapai tubuh Raffa. “Dokter,” cicitnya dengan suara pelan.
Isi kepala Alia sudah berteriak memerintah perempuan itu untuk mengejar Raffa. Tapi tubuh Alia tidak mau sinkron dengan otaknya. Tubuhnya mendadak menjadi manekin dan suaranya terasa tercekik di kerongkongan.
“Do-Dokter Raffa!” Akhirnya suara yang ditahan oleh Alia keluar juga.
__ADS_1
Alia menghentakan tubuhnya dan berjalan cepat mendekati Raffa, dan melawan rasa gengsinya untuk mengejar Raffa.
“Kenapa?”
Bug.
“A–Alia?” Raffa melongo saat tubuh Alia tiba-tiba saja menubruk tubuhnya.
Gadis itu memeluknya. Mendekap tubuh Raffa dengan sangat erat.
“J–Jangan tinggalin saya! Saya jawab sekarang tapi Dokter jangan tinggalin saya!” cicit Alia. Suara gadis itu terdengar pelan karena wajahnya ia tutupi di dada bidang Raffa.
“K–Kamu kenapa?” tanya Raffa heran. Tangan pria itu kini memegang pundak Alia.
Tangan Alia mengepal di belakang pinggang Raffa, dan mata gadis itu terkatup rapat-rapat. Alia takut sekali untuk berucap. Hatinya masih bimbang. Dia ingin menerima Raffa. Tapi, dia belum mempunyai perasaan yang sama seperti Raffa. Dan jika Alia menolak, ia akan kehilangan peluangnya untuk bertemu orang tuanya. Memang bukan jaminan Alia bisa bertemu dengan orang tuanya jika menikah dengan Raffa. Tapi Alia punya firasat baik tentang pernikahan ini.
“S–Saya menerima lamaran Dokter Raffa.” Sepenggal kalimat yang terlontar dari bibir Alia. Berhasil membuat Raffa mendorong bahu gadis itu dan menatapnya tak percaya.
“Kamu serius nerima saya? Apa ini nggak buru-buru?” tanya Raffa antusias.
“Bukannya Dokter ya yang buru-buru?!”
“Jadi kamu serius?” tanya Raffa lagi.
Alia mengangguk dengan rytme yang lamban.
Tidak. Alia menerima Raffa bukan karena dia mempunyai perasaan yang sama pada Raffa. Ia menerima Raffa hanya karena sifat egois nya yang ingin sekali bertemu dengan orang tuanya. Walau itu masih terlihat abu-abu dibayangan Alia.
‘Semoga aja gue nggak nyesel.’ batin Alia berdo'a.
Tanpa sepengetahuan keduanya. Ada sepasang mata hitam yang menatap sendu ke arah Raffa dan Alia. Kedua mata itu terkulai. Hati pemilik mata itu menjerit memintanya untuk segera pergi dari tempat ini. Namun, tubuhnya terasa kaku menyaksikan bagaimana Alia memeluk Raffa dengan sangat eratnya. Seolah-olah, gadis itu tidak ingin orang didekapannya itu pergi meninggalkannya.
“Ternyata gue lemah ngeliat lo sama cowok lain, Al.” Gumaman pelan itu, meluncur dari bibir Dio yang tengah berdiri di samping pohon dekat Alia yang sedang memeluk Raffa dengan eratnya.
__ADS_1