
•••
Alia mengerjap-erjapkan matanya dan meringis pelan. Gadis itu kini bangun dengan mata sedikit terbuka. Sebelah tangannya memegang kepalanya yang terasa agak pusing.
“Anjir! Di mana nih gue?” gumam Alia kaget saat menyadari kalau dirinya berada di tempat yang asing baginya.
Alia menyibakan selimut yang menutupi tubuhnya, dan dengan raut wajah yang penuh kebingungan gadis itu berdiri sambil mondar-mandir tidak jelas di ruangan itu.
Ruangan dengan warna dominan berwarna putih itu amat sangat bersih di pandangan Alia. Matanya menoleh ke arah televisi LED yang besar di sampingnya, dan kemudian perempuan itu memandang pantulan dirinya yang terlihat gelap di sana. Alia memegang rambutnya yang kini terurai berantakan. Ia tidak sadar kalau ikatan rambutnya sudah hilang entah kemana. Kini, Alia memegang wajahnya sambil menatap televisi itu. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, tapi sepertinya mata Alia agak sedikit sembab.
Alia kini menatap kagum ke arah ranjang berukuran king size yang baru beberapa saat lalu di tidurinya. Dengan spontan Alia menutupi dadanya karena mengkhawatirkan sesuatu.
“Astaga! Jangan-jangan gue diculik terus diperkosa!”
“Tapi kalau gue diperkosa gue pasti telanjang sekarang .... Lagian mana ada penculik yang nyekep korbannya di kamar mewah kayak gini. Kalau benar-benar diculik harusnya mereka nyekep gue di gudang.”
Mata Alia kembali berkelana menjelajahi setiap sudut ruang itu. Tidak ada yang bisa dijadikan petunjuk. Kamar ini tidak ada bingkai foto atau semacamnya yang bisa Alia temukan.
Bola mata Alia melebar saat knop pintu kamar itu bergerak. Gadis itu panik. Ia spontan berlari ke arah balkon dan menutup pintu geser yang menghubungkan kamar dan balkon tersebut.
“Anjrit. Siapa itu, ya?” gumamnya sambil menahan pintu tersebut dengan tangannya. Alia tidak bisa melihat dengan jelas ke arah dalam. Karena pintu balkon itu ditutupi gorden tipis berwarna putih polos.
Jantung Alia berdegup sangat kencang saat melihat sebuah siluet dari dalam kamar itu mendekat ke arah balkon tempatnya berdiri.
Sepertinya sosok yang mendekat itu adalah laki-laki. Terlihat dari siluet bagian kepalanya yang terlihat tak berambut. Entahlah. Alia hanya menebak saja.
“Alia?” Suara ketukan dan suara laki-laki terdengar dari arah dalam. Benar dugaan Alia kalau sosok itu adalah laki-laki.
Alia mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar dia tidak bersuara. Perempuan itu takut ketahuan. Alia tidak tahu siapa orang itu. Baik atau jahat orang tersebut ia tidak bisa menebaknya. Bagaimana kalau orang itu jahat? Alia bisa saja dibunuh dan diperkosa saat ini juga. Ah, amit-amit.
Suara ketukan itu kembali terdengar. Mulut Alia makin cepat melantunkan do'a-do'a yang dia bisa.
“Alia, kenapa kamu di luar?” Mata Alia membelalak. Dia baru sadar kalau orang di dalam ternyata mengetahui namanya. Kalau orang itu pencuri, kenapa dia bisa tahu nama Alia. Alia kan tidak bawa tanda pengenal.
“Si–siapa?” cicit Alia namun mampu di dengar orang tersebut.
“Saya Raffa,” jawab orang itu.
“Raffa mana?” tanya Alia lagi. Kali ini terdengar lebih keras.
“Saya Dokter Raffa. Kamu lupa sama saya?” Kepala Alia menerawang ke atas. Seingatnya dia hanya mengenal satu Dokter bernama Raffa di bumi ini. Dan Alia tidak lupa dengan pria itu.
Alia secara perlahan membuka pintu selorokan itu dan mengintip ke dalam dengan setengah kepala.
“Hai,” sapa Raffa dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
Alia menghembuskan nafasnya lega dan tubuhnya luruh ke lantai balkon yang dingin.
Ternyata benar. Sosok itu adalah Raffa Ardiantara. Seorang dokter tampan yang baru saja dia kenal sehari lalu.
“Duh, saya kira siapa. Dokter nakutin banget, deh,” gerutu Alia sambil mengelus dadanya yang berdebar.
Raffa membuka pintu balkon itu sampai terbuka lebar dengan sebelah tangannya. Alia yang terduduk di lantai balkon menengadahkan kepalanya memandang Raffa yang berdiri dengan membawa nampan berisikan semangkuk bubur, air putih, apel, dan obat.
Raffa sangat terlihat berbeda. Pria yang bisanya menggunakan snelli di tubuhnya itu, kini hanya menggunakan kaus polos biasa berwaran abu-abu, dan celana pendek sebetis yang membuatnya terlihat sangat berbeda. Rambutnya pun tidak klimis seperti biasanya. Cowok itu membiarkan rambutya berantakan tanpa disisir, sehingga memberi kesan sexy padanya.
“Kamu ngapain disitu? Sini masuk!” Perintah Raffa barusan membuat Alia sadar dari pandangannya pada pria itu.
“Hmm ... ini di mana ya, Dok? Saya kok bisa di sini?” tanya Alia masih pada posisi yang sama.
__ADS_1
“Kamu nggak ingat, ya?” tanya Raffa. “Siang tadi kan kamu pingsan.”
“Oh, iya,” gumam Alia pelan.
Raffa meletakkan nampan yang dia bawa ke atas rak dekat televisi. Kemudian pria itu mengikuti Alia duduk di lantai tanpa alas. Tapi Raffa tidak duduk di samping Alia. Pria itu duduk di dalam kamar, sedangkan Alia masih di balkon, namun keduanya saling berhadapan.
“Saya nggak tahu tempat panti asuhan kamu tinggal. Makanya saya bawa kamu ke sini. Ke rumah saya.”
“Oh, begitu, ya. Makasih ya Dokter Raffa. Lagi-lagi saya ditolong sama Dokter,” ucap Alia.
Raffa tersenyum. “Kalau kamu nggak nakal, kamu pasti nggak perlu saya tolong. Saya kan sudah berkali-kali suruh kamu untuk istirahat, tapi kamunya bandel. Akhirnya tubuh kamu ambruk juga kan. Untung aja cuma pingsan,” omel Raffa.
Alia mengusap-usap tengkuknya yang tidak gatal. Perempuan itu jadi tidak enak karena sering kali merepotkan Raffa. Alia pikir-pikir, untuk apa Raffa terlalu peduli padanya. Padahal Raffa bisa saja tidak mengejar Alia saat perempuan itu tengah mencari kalungnya. Ketika Alia pingsan pun, kenapa Raffa tidak membawa Alia ke rumah sakit dan menyuruh dokter lain untuk merawatnya. Kenapa harus repot-repot sampai membawa Alia ke rumahnya. Raffa pula yang menjaga dan merawat gadis itu.
Tapi nggak pa-pa, sih. Lumayan juga gue ngadem di rumah gedongan kayak gini, batin Alia sambil cekikikan.
“Saya pingsan kayaknya lama banget ya, Dok. Sampai gelap begini.”
“Ya, kamu pingsan sampai jam dua malam.”
Alia memekik kaget. Dengan cepat, dia merangkak masuk ke dalam dan duduk di samping Raffa. Raffa memperhatikan Alia yang kini terlihat celingak-celinguk ketakutan. Dan tangannya memeluk kedua lututnya.
Raffa diam-diam tersenyum melihat wajah Audy yang ketakutan. “Ternyata cewek berandalan kayak kamu takut juga ya sama setan,” ledek Raffa sambil terkekeh.
Alia meletakkan jari telunjuknya di atas bibir. “Sttt! Jangan disebut, Dok! Nanti kalau mereka muncul gimana?!” bisik Alia ketakutan.
“Kan ada saya. Saya yang bakal jagain kamu.” Ucapan Raffa itu membuat Alia jadi ingat dengan Dio. Dio selalu menjaga Alia. Lelaki itu selalu menemani Alia jika gadis itu mulai merasa ketakutan. Ah, gue jadi kangen sama geng gue.
Raffa bangkit dari lantai dan mengambil nampan yang dia bawa tadi. Kemudian, nampan itu dia letakkan di sampingnya. Raffa mengambil mangkuk berisikan bubur dan memberikannya pada Alia. “Nih, kamu makan sampai habis!”
Alia menerimanya dan langsung menyuapkan satu suapan ke mulutnya. “Makasih, Dok.”
“Habis ini minum obat!”
“Emang kamu sakit.” Benar juga kata Raffa. Alia tidak mungkin sehat kalau dia pingsan.
Bicara soal sakit. Alia jadi ingat dengan pasien yang bernama Fajar itu. Dia jadi kepikiran bagaimana caranya bisa bertanggung jawab membayar biaya pengobatannya. Andai Alia orang kaya seperti Raffa, Alia pasti tidak pusing seperti ini.
“Kamu mikirin apa? Itu jangan dipegangin doang Alia! Dimakan buburnya! Apa perlu saya suapin, hm?”
“Eh? Nggak usah Dokter! Saya bisa sendiri.” Alia langsung menyuapkan satu sendok lagi ke mulutnya.
“Dokter.”
“Hm?”
“Saya beneran nggak bisa jual ginjal saya, ya?”
Raffa menoleh ke arah Alia dan menatapnya serius. “Tidak boleh! Semua itu ada hukum Undang-Undangnya. Pemerintah melarang adanya jual beli transaksi organ tubuh, termasuk ginjal. Pidananya sepuluh tahun penjara dan denda satu miliar, apalagi kamu punya motivasi seperti itu. Kalau kamu mau mendonorkan organ tubuh kamu yang masih sehat, itu harus sukarela. Persyaratannya pun tidak mudah. Kalaupun kamu bisa itu tergantung keluarga yang kamu donorkan. Apa mereka bisa membayarmu atau tidak. Jual organ itu bukan bisnis, Alia.”
“Kalo gitu saya jual ke makelar aja.”
Raffa terkekeh mendengar Alia yang masih keras kepala. “Kamu tuh emang nakal ya.”
“Habisan kan saya butuh uang Dokter.” Raffa menghembuskan nafasnya pelan. Raffa paham sekali kondisi Alia sekarang. Orang-orang seperti Alia, yang punya niatan terpaksa seperti itu, pasti semua karena desakan ekonomi.
“Coba saya punya banyak uang kayak Dokter. Saya pasti nggak bakal kepikiran hal kayak gitu. Mencuri pun pasti nggak bakal saya lakuin,” ucap Alia sambil memandang langit malam yang sepi tanpa bintang.
Raffa tak melepaskan pandangannya dari Alia. Perempuan itu nampak bersinar, walaupun hidupnya penuh dengan kegelapan. Raffa bahkan sudah terpesona oleh perempuan itu sejak awal bertemu. Alia memang tidak anggun atau cantik seperti wanita lain. Tapi Alia punya aura berbeda dari wanita lain. Perempuan itu hanya memikirkan dua hal dalam hidupnya. Orang tua dan kalungnya. Sementara hanya itu yang Raffa tahu.
Raffa tidak mau munafik. Dia sudah suka dengan Alia meskipun Alia seorang berandalan. Raffa percaya kalau Alia pada dasarnya adalah orang yang baik.
__ADS_1
“Alia,” panggil Raffa dengan pandangan terus memandang Alia.
“Hm?” jawab Alia. Perempuan itu masih memandang ke arah langit malam.
Raffa menghirup nafas panjang-panjang. Hatinya sangat berdebar untuk mengatakan suatu hal yang tidak pernah dia ucapkan semasa hidupnya.
“Alia.”
Alia menoleh dengan raut wajah sedikit kesal karena Raffa hanya terus memanggilnya tanpa mengatakan apa pun. “Iya, Dokter mau bilang a—”
“Menikahlah dengan saya!”
Pupil mata Alia melebar saat mendengar penuturan Raffa yang terlewat dari ekspetasinya. Alia bingung harus bereaksi seperti apa. Memandang wajah Raffa yang terlihat tiba-tiba berubah menjadi bersinar, membuat hati Alia tiba-tiba berdebar tidak karuan. Jantungnya seperti dipompa terlalu kuat.
“Ha?” Hanya itu yang meluncur dari bibir Alia. Otaknya masih belum bisa mencerna semuanya.
“Saya ingin merubah nasib buruk kamu. Jadi ... menikah, dan beribadahlah bersama saya, Alia.”
“Dokter Raffa,” gumam Alia. “Dokter kayaknya kecapean deh. Ngomongnya ngelantur begitu.” Alia terkekeh, kaku.
Raffa menggeleng dengan wajah yang seruis. “Saya serius. Saya tahu kita baru sehari saling kenal. Tapi saya yakin dengan kamu yang menjadi istri saya. Kamu nggak perlu pikirin soal pengobatan Fajar. Itu saya saja yang urus. Asalkan ... kamu terima lamaran saya ini.”
Alia menyipitkan matanya menatap lantai. Perempuan itu tengah berpikir. Tidak ada salahnya menerima lamaran Raffa jika Alia untung di sini. Alia tidak perlu mencuri lagi. Alia tidak perlu stress memikirkan biaya rumah sakit Fajar.
Atau lebih baik lagi. Alia bisa saja bertemu dengan orang tuanya jika menikahi Raffa yang kaya.
Entah. Sepertinya, Alia tiba-tiba jadi matre.
“Saya suka sama kamu.”
“HA?” Kedua bola mata Alia membelakak sempurna. Matanya seperti ingin copot dari tempatnya. Pernyataan Raffa barusan, lagi-lagi jauh dari bayangan Alia.
Apa yang disuka Raffa dari Alia? Kenapa dia bisa tiba-tiba suka padanya? Hei, Alia seorang berandalan. Kenapa orang seperti Raffa buta dan malah suka padanya? Semua rentetan pertanyaan itu memenuhi kepala Alia.
Apa Raffa hanya mempermainkannya.
Alia meletakkan mangkuk di tangannya ke atas lantai. Kemudian, dia menoleh ke arah Raffa dan mendekatkan kepalanya ke arah Raffa dengan mata yang memicing. Jarak mereka kini hanya terpaut satu jengkal saja. Dan itu membuat Raffa menahan napasnya.
“Dokter jangan main-main sama saya! Dokter lupa kalau saya bukan cewek baik-baik?” Suara Alia terdengar datar namun terasa serius.
“Saya bukan anak kecil yang suka main-main,” jawab Raffa.
Raut wajah Alia mengeras. Tangan gadis itu terkepal dan dengan siap meninju wajah Raffa. Raffa yang sudah tahu pergerakan tangan Alia dengan tangkas menahan kepalan tangan gadis itu yang sudah hampir sampai ke pipinya.
Alia menatap kepalan tangannya dan wajah Raffa secara bergantian. Alia sudah ingin menurunkan tangannya, namun Raffa menahannya. Kini Alia yang ketakutan melihat raut wajah Raffa yang berubah tajam.
“Kamu meragukan saya?” tanya Raffa, tajam.
Alia diam. Tak bicara. Dirinya seolah terkunci oleh tajamnya pandangan Raffa.
“Baik. Mungkin dengan ini kamu bisa sedikit percaya dengan saya.”
Alia masih di alam bawah sadarnya. Dia bahkan tidak menyadari ketika Raffa menarik tangannya, dan membuat jarak mereka berada di nol meter.
Raffa menciumnya. Tepat di bibir Alia.
Tubuh Alia tidak mampu bereaksi apapun. Perempuan itu hanya diam dengan mata membelalak. Tangan gadis itu kini digenggam erat oleh Raffa. Sedangkan tangan sebelah kiri Raffa menekan tengkuk Alia agar gadis itu tidak melepaskan tautan mereka.
Alia tidak tahu ini benar atau salah. Alia bahkan tidak menampik dan justru mulai menikmatinya.
Oh, shit! Jadi gini rasanya.
__ADS_1
•••