ETHEREAL

ETHEREAL
BAB 9


__ADS_3


"Cepat, kemaskan itu semua."


"Baik, Tuan."


Satu persatu pelayan membawa barang-barang Wang Zheng dan istrinya. Yu Jie hanya duduk memandang mereka berlalu-lalang. Di belakangnya Ping memijat bahunya, telaten.


"Selama sebulan aku tidak sadarkan diri, Wang-Wang memindahkan barang-barangnya ke istana es dan tinggal di sini?"


"Benar, Nona." Menuang teh salju ke cangkir Yu Jie.


"Lalu sekarang, apa dia berniat pindah ke Istana Air lagi? Bukankah itu melelahkan," ucap Yu Jie dengan mulut penuh kue. Ia bahkan tak membiarkan seseorang memegang kue buatan suaminya itu.


Roh berbentuk gumpalan kabut biru datang dan kemudian berubah menjadi Wang Zheng. "Kita akan ke Puncak Kama. Bersiaplah."


"Wang-Wang." Antusias, Yu Jie berlari dan langsung bergelayut manja di lengan kekar pria dengan rambut kuncir kuda itu.


"Aww!" rintih wanita bergaun putih gading terbuat dari sutra berekor panjang dengan kerah cina itu. Dipegangnya bekas luka yang terasa nyeri.


Khawatir dengan keadaan istrinya, Wang Zheng langsung menggendong tubuh ramping Yu Jie. Kemudian menidurkannya di salah satu kursi panjang dalam gazebo. "Nakal. Tidak bisakah kau diam sebentar? Lukamu bahkan belum sembuh benar."


"Kau mengkhawatirkanku, ya?" Senyum Yu Jie terkembang lebar. Bahkan rasa sakitnya tak dipedulikan. Wanita yang senang dengan makanan bercita rasa asam dan pedas itu justru menarik Wang Zheng dan mengecup pipi kirinya.


"Jangan bercanda. Apakah lukamu masih sakit?"


Yu Jie menggeleng dengan tawa cengengesan.


"Baguslah kalau begitu."


"Kau menjadi sedikit perhatian saat aku terkena racun mawar biru api. Kemudian berubah semakin manis saat aku sadar dari koma." Yu Jie bangun dan kemudian menyandarkan diri ke tubuh Wang Zheng. "Apakah untuk membuatmu jatuh cinta aku harus tia---"


"Ya, kau harus setia kalau ingin aku jatuh cinta padamu," sela Wang Zheng.


"Jangan menyela. Maksudku, apakah kau baru akan mencintaiku setelah aku tiada?"


Wang Zheng yang sedang menikmati segelas teh jadi tersedak karena ucapan Yu Jie. Dengan wajah gusar mengentakkan gelasnya. "Puncak Kama menghasilkan beberapa energi, termasuk energi es. Meski tidak sebesar energi di Istana Es, tapi kau akan memperoleh ketenangan di sana. Itu akan baik untuk pemulihanmu."


Wang Zheng berdiri, kemudian memutar tubuhnya dan hilang. Yu Jie mendesah, menatap cangkir bekas suaminya itu. "Dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku."


"Aku tidak menyangka bahwa hari-hariku bersamamu akan menjadi sangat singkat. Dalam 1.000 tahun, mungkinkah kau akan kembali jatuh cinta padaku, Wang-Wang? Aku takut harus tiada, sedang kebencian di hatimu masih membara."


***


Bunga krisan warna putih berjejer rapi di sepanjang jalan. Yu Jie meloncat-loncat sesekali berputar kegirangan melihat Puncak Kama yang begitu menawan mata. Tak jauh, berdiri rumah kayu dengan pohon persik tepat di depannya. Sekeliling rumah dipenuhi krisan kuning yang anggun.

__ADS_1


"Sangat indah."


Wang Zheng tersenyum simpul melihat tingkah wanitanya. Tanpa sadar kenangan kebersamaan ia dan Yu Jie kembali terulang. Hanya saja dulu penguasa es itu tak seekspresif ini. Ia datang melihat sekeliling, merenung, membuang napas panjang, dan kemudian pergi.


"Sementara, kita akan tinggal di sini." Menggandeng tangan Yu Jie, mesra.


"Ini menyenangkan. Oh, ya, dari mana kau tahu tempat semenakjubkan ini?"


Diam, Wang Zheng menyadari bahwa distorsi takdir benar-benar terjadi. Yu Jie tak bersandiwara perihal hilangnya ingatan saat menjadi dewi.


"Kau yang memberikannya."


"Aku?" Yu Jie menggeleng tak percaya.


Wang Zheng menggamit dagu Yu Jie. "Kau satu-satunya dewi yang mampu menyerap 3 energi sekaligus dalam jumlah besar. Karena itu, kau menggunakan setengah kekuatanmu membangun Puncak Kama sebagai hadiah ulang tahunku. Kau terluka cukup parah, tetapi dengan kekuatanmu, dalam sehari kau kembali pulih."


"Oh, ya?" Tersenyum canggung. Seolah tahu akan ke mana arah pembicaraan mereka.


"Tapi kenapa sekarang kau menjadi begitu lemah? Kehilangan sepertiga energi dan kau tidak sadarkan diri selama satu bulan. Bahkan lukamu belum sembuh benar. Selain itu, Yen juga mengatakan inti batinmu intoleransi terhadap energi angin dan air."


Yu Jie melepaskan genggaman tangan Wang Zheng. Kemudian dengan cepat mengalihkan pembicaraan. "Tidak kusangka gunung semegah ini aku yang membuatnya."


"Apa yang terjadi pada inti batinmu?"


Deg! Yu Jie memelankan langkah dan terdiam. "Semua baik-baik saja. Percayalah."


"Emm." Mengangguk dan kemudian memeluk Wang Zheng.


***


Wang Zheng menata kue bunga persik, kesukaan Yu Jie ke atas piring. Kemudian menyeduh teh salju yang ia bawa dari Istana Es. Tak ingin diganggu, pria itu juga menyuruh kedua pelayannya, Shen dan Ping pergi ke hutan mencari buah-buahan segar. Mereka tidak boleh pulang, sebelum ia mengirim tanda berupa hujan meteor di langit.


"Apa yang membuatmu begitu sedih, Yu'er?" Duduk tepat di samping istrinya. Lantas membiarkan kepala wanita itu bersandar di bahunya.


Yu Jie memandang luka bunga krisan yang memenuhi halaman rumah. "Bunga krisan kuning."


"Ada apa?"


"Wang-Wang, seseorang pernah mengatakan bahwa krisan kuning adalah pertanda cinta bertepuk sebelah tangan, cinta yang menyakitkan."


"Kau percaya?"


Yu Jie menundukkan kepala, ragu. "Aku takut, ini mungkin pertanda bahwa kau tidak akan pernah mencintaiku."


"Seseorang juga pernah mengatakan bahwa krisan kuning adalah lambang kekalnya sebuah cinta. Kau lihat, warna mereka yang terang, sangat ceria dan indah. Tidak mungkin itu pertanda cinta bertepuk sebelah tangan. Seseorang yang mengatakan itu pasti adalah abadi rendah yang tidak mengerti apa-apa."

__ADS_1


Wang Zheng menyuapkan kue bunga persik ke mulut Yu Jie. "Kau terlihat jelek saat sedih. Jangan dipikirkan. Kita di sini untuk bersenang-senang, bukan untuk sedih-sedihan."


"Wang-Wang." Memeluk erat suaminya. "Kau benar, kita di sini untuk bersenang-senang. Oleh karena itu, kau harusnya menyiapkan anggur, bukannya teh salju."


Wang Zheng tersenyum siput, membalas pelukan Yu Jie. "Baiklah, aku akan membawakanmu anggur terbaik."


***


"Menurutmu, kapan Tuan akan mengirim tanda untuk kita?" Ping mengembuskan napas lelah. Seharian ini dia dan Shen sudah mengelilingi Puncak Kama hampir tiga kali dan tidak ada tanda-tanda bahwa mereka boleh kembali.


Shen mengubah keranjang besar penuh buah-buahan menjadi sekecil semut. Lantas memasukkannya ke dalam saku. "Kenapa? Kau lelah?"


"Sedikit."


Pria yang mengabdi pada Dewa Air dari semenjak ia masih berumur 20.000 itu tersenyum lebar. "Baiklah, untuk sementara waktu kita akan beristirahat di sini."


Shen dan Ping duduk bersebelahan. Keduanya sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Ketika tuan tahu permaisuri Rui memanfaatkannya. Tuan sering ke sini, menghabiskan sehari penuh menatap lukisan permaisuri." Shen mengenang kembali masa-masa sulit Wang Zheng. Saat pria yang terlihat dingin itu tenggelam dalam kesedihan karena cinta. Bahkan ia berani bertaruh, kesedihan kalah dalam perang tak sebanding kesedihan saat cinta sang tuan dibalas pengkhianatan.


"130.000 tahun lalu, nonamu berhasil membunuh cinta dan kepercayaan tuanku. Semenjak itu, ia seperti mayat hidup. Hanya raganya saja yang ada, tetapi tidak dengan jiwanya.


Ping tersenyum, sinis. "Kenapa kembali mengungkitnya?"


"Kali ini, aku harap permaisuri Rui tidak akan membuat tuan Rui kecewa untuk kedua kalinya." Dari nada bicaranya, terdengar peringatan keras di sana.


"Nonaku mungkin pernah membunuh cinta dan kepercayaan tuan Rui. Namun dia sudah membayar semua kesakitan tuanmu dengan harga yang mahal." Ping mengepalkan tangan, kuat. Jujur saja, ia ingin berteriak sekencang-kencangnya bahwa untuk Wang Zheng, Yu Jie telah melakukan banyak hal yang mempertaruhkan hidupnya. Bukankah itu lebih dari kata pantas untuk menebus semua dosa dan salah di masa lalunya?


***


"Tuan, kau melakukan ini semua, apa hanya karena iba?" Ping tiba-tiba datang dan mengagetkan Wang Zheng yang tengah memetik bunga persik.


"Iba?"


"Iba dan juga menutupi rasa bersalah, karena nona terluka setelah menyelamatkan Tuan." Tak mau berbasa-basi, Ping langsung menguatarakan pikirannya. Sikap baik Wang Zheng yang mendadak, membuatnya bertanya-tanya. Ia takut sang nona terluka jika pria itu tak benar-benar tulus padanya.


"Kenapa? Apa kau pikir ini tampak seperti perasaan iba?"


Berbanding terbalik dengan Ping yang tampak serius. Wang Zheng justru bersikap sedikit tak peduli. Ia benar-benar mencintai Yu Jie. Iba? Itu hanyalah pikiran liar pelayan istrinya karena terlalu cemas.


"Tuan, jawablah."


Wang Zheng menghela napas, panjang. "Kau sudah tahu pasti jawabannya. Pergilah."


Jawaban Wang Zheng sama sekali tak membuat lega. Ping justru semakin berasumsi yang tidak-tidak. Tak ingin tersulut amarah, pelayan setia Yu Jie itu pergi meninggalkan suami nonanya.

__ADS_1


Tak sadar, sejak tadi Yu Jie diam-diam menguping pembicaraan keduanya. Senyum getir terlukis di wajah wanita bertahi lalat itu. "Iba atau cinta, setidaknya kita bisa bersama tanpa saling melukai satu sama lainnya. Bagiku itu lebih dari cukup."


__ADS_2