ETHEREAL

ETHEREAL
1. Nama Gadis Itu.


__ADS_3


•••


Aroma rumah sakit memang mempunyai aroma yang khas. Sebagian orang sangat membenci aroma itu. Apalagi untuk mereka yang tidak suka dengan obat, baunya membuat mereka langsung menutup hidung seketika.


Seorang perempuan dengan rambut panjang dikuncir kuda, tengah berbaring di kursi depan kamar inap pasien. Kakinya terlipat dan sebelahnya terangkat menopang pada lutut kirinya, serta kedua tangan yang terlipat di atas kepalanya. Nama gadis itu Alia Swastika Putri, gadis yang Raffa temui sekaligus membantunya membawa korban luka-luka di tepi jalan tadi.


Beberapa orang yang kebetulan berlalu lalang di depan Alia, tak berani menegur ataupun membangunkan gadis itu. Mereka hanya saling berbisik membicarakan betapa urakan dan tidak sopannya Alia tidur dengan posisi seperti itu.


Raffa yang baru saja keluar dari kamar pasien, yang beberapa saat lalu dipindahkan dari ruang operasi, langsung menghampiri Alia yang sedang tertidur pulas.


Ia ingin membangunkan Alia, namun niatnya terurung saat melihat bagaimana pulasnya gadis itu tertidur.


"Dokter Raffa?" Raffa mengalihkan pandangannya dari gadis itu ke arah seorang pria seumurannya, yang menyapanya barusan.


"Eh? Dokter Gery? Masih sibuk malam-malam begini?" tanya Raffa.


"Oh nggak, kok. Gue baru aja mau balik. Lo sendiri? Bukannya tadi udah pulang, ya? Kok lo balik lagi?" tanya Gery, balik.


Raffa tersenyum masam. "Tadi di jalan gue nggak sengaja lihat orang luka-luka. Kayaknya, sih, habis kecelakaan. Jatuh dari motor mungkin. Jadi mau nggak mau gue balik lagi ke sini sekalian bawa korban ke mari."


Gery menepuk pundak Raffa memberikan semangat. "Semangat ya, Raf! Kadang memang ada yang harus kita korbankan saat menolong orang lain."


Raffa menganggukan kepalanya sambil tersenyum pada Gery. Benar apa yang Gery ucapkan. Saat Raffa sudah memutuskan menjadi seorang dokter, maka dia harus siap mengorbankan banyak hal. Jam tidurnya yang kurang, pola makannya yang tidak teratur, bahkan Raffa sampai tidak punya waktu untuk mencari jodoh. Sampai-sampai mamahnya selalu mengingatkan Raffa soal jodoh yang harus segera dia temukan.


Raffa dan Gery menoleh secara bersamaan ke arah Alia saat gadis itu menggerakkan tubuhnya sambil menguap.


"Eh! Maaf!" seru Alia saat kakinya tak sengaja menyentuh paha Raffa.


Kini, Alia mengubah posisinya menjadi duduk di kursi. Tangannya membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan, kemudian dia menoleh ke arah Raffa dan Gery yang sedang memandang ke arahnya. Alia menundukkan kepalanya merasa malu.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Raffa.


Alia mengangkat kepalanya dan memandang Raffa. "Hmm. I-iya. Saya baik-baik aja, kok."


Raffa menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"Ya, udah gue balik dulu ya, Raf. Kasian istri gue ditinggal terus," kata Gery sambil terkekeh.


"Oke. Oke. Hati-hati, Ger!"


Raffa melihat alroji di tangan kanannya. Sekarang sudah jam tiga pagi, dan dia belum istirahat sama sekali. Raffa memijit keningnya yang mulai terasa pening. Pasti karena dia kurang istirahat belakangan ini.


"Hmmm, jadi ... kamu ini dokter, ya?" Raffa menolehkan kepalanya memandang Alia yang masih duduk di kursi. Raffa baru sadar kalau di lorong ini hanya ada mereka berdua.


Raffa menganggukan kepalanya dan duduk di sebelah Alia. "Kamu nggak pulang?"


Alia menggeleng. "Saya mau tunggu pasien yang tadi sadar, Dok."


"Tapi kamu keliatan capek banget, tuh!" kata Raffa.


"Dokter juga sama keliatannya capek banget. Hmmm, ngomong-ngomong pasien yang tadi kondisinya gimana, Dok? Baik-baik saja, kan?"


"Dia baik-baik saja. Luka robek di kepala, kaki, dan lengannya sudah ditutup. Dia masih belum sadar karena obat bius. Besok juga sudah sadar, kok," kata Raffa di akhiri senyuman.


Alia terlihat menundukan kepalanya. "Syukur, deh!" katanya dengan suara berbisik.


Raffa melirik ke arah Alia. Tatapan mata gadis itu terlihat cemas. Raffa rasa, mungkin perempuan di hadapannya ini sangat mencemaskan pasien yang Raffa tolong tadi. Raffa sangat ingat dengan jelas bagaimana khawatirnya perempuan itu ketika membawa pasien tersebut bersama Raffa.

__ADS_1


Raffa sendiri masih belum tahu. Apa hubungan Alia dengan dengan pasien tadi. Raffa juga belum tahu dengan jelas bagaimana pasien tersebut bisa dalam keadaan seperti tadi. Raffa belum melakukan visum karena belum adanya persetujuan dari pasien. Lagi pula lukanya tidak begitu serius.


"Hmmm, saya permisi dulu. Mau ke toilet," ucap Alia tiba-tiba.


"Oh, silahkan!" balas Raffa seraya bangkit dari kursinya diikuti dengan gadis itu.


"Tunggu sebentar! Nama kamu siapa?" tanya Raffa.


"Alia," jawab Alia singkat.


"Istirahat Alia! Kamu bisa ikut sakit kalau memaksakan diri seperti ini."


"Dokter juga istirahat! Dokter juga manusia kayak saya. Bisa sakit kapan aja," balas Alia sambil tersenyum pada Raffa.


Untuk sesaat, Raffa merasa terpesona melihat senyum tulus dari bibir Alia. Alia memang terlihat urakan dari luar. Tapi dia tetap wanita, punya sisi lembut yang tidak bisa dia tutupi sekali pun dia terlihat berpenampilan seperti itu.


•••


"Permisi!" Alia menghentikan langkah kakinya saat seorang perawat menghampirinya.


"Ada apa ya, Dok?" tanya Alia. Sebelah tangannya sedang menenteng beberapa snack yang baru saja dia beli di mini market dekat rumah sakit ini.


"Mbak ini yang datang bersama dokter Raffa semalam, kan?"


Kepala Alia mengangguk. "Iya, betul!"


"Saya hanya mau memberitahu, kalau Mbak harus segera mengisi administrasi."


Alia diam. Bingung harus bagaimana.


"Hmm. Gimana ya, Dok .... Saya bukan keluarga korban. Saya nggak kenal dengan korban yang semalam saya bawa sama dokter itu," kata Alia.


Lagi-lagi Alia diam. Dia bingung harus menjawab apa. Semua barang yang disebutkan perawat barusan sudah dicuri dan dibawa kabur oleh Jefri. Teman akrab Alia.


"Sa-saya nggak nemu apa-apa, Dok," jawab Alia, gugup. Dan tentu saja dia berbohong.


"Begitu, ya? Kalau begitu kami harus segera menghubungi pihak polisi."


"Eh, jangan, Dok!" sergah Alia dengan cepat.


Bisa mati Audy kalau sampai pihak rumah sakit sudah main sama polisi. Audy bisa ketahuan kalau sebenarnya dia adalah penyebab pria itu sampai berakhir di rumah sakit seperti ini.


"Dokter yang semalam itu. Do-Dokter Raffa? Ya! Dokter Raffa bilang kalau hari ini pasien itu pasti udah sadar, kok. Pasiennya juga nggak sampai koma juga, kan. Jadi kayaknya nggak perlu bawa-bawa polisi, deh, Dok!" Alia tersenyum untuk meyakinkan perawat itu agar mau mendengarkan ucapannya.


"Baiklah! Tapi kalau 2x24 jam pasien ternyata tidak sadar. Maka kami akan segera menghubungi polisi secepatnya."


Alia menganggukan kepalanya ragu. Dan setelah itu perawat tersebut pergi meninggalkan Alia.


"Gue harus telpon Jefri." Alia segera mengambil ponselnya dari saku celananya dan langsung menghubungi temannya, Jefri.


"Angkat dong, Jef!" gumam Alia saat panggilannya tidak kunjung diterima oleh Jefri.


"Ish! Nggak diangkat lagi." Alia memandang kesal ke arah ponselnya.


"Dio! Ya! Gue coba telpon Dio aja, deh." Kini giliran Dio yang yang dihubungi oleh Alia. Alia yakin kalau Dio pasti mengangkat panggilan Alia. Tidak seperti Jefri yang selalu sok sibuk.


"Hallo, Yo? Ada Jefri disitu nggak? Gue mau bicara sama dia," cecar Alia saat panggilannya diangkat oleh Dio.


"Hoi calm, Al! Kenapa, sih? Lo kok panik gitu?" tanya Dio dari sebrang sana.

__ADS_1


"Aduh! Udah buruan kasih Jefri telponnya!" perintah Alia.


Sedangkan di tempat lain. Dio, Jefri, dan Opan, sedang nongkrong di sebuah lahan kosong di samping warung kopi dekat panti asuhan.


Dio menolehkan kepalanya ke arah Jefri yang sedang asik menghisap seputung rokok di tangannya. "Jef! Alia ,nih, mau ngomong sama lo," kata Dio seraya menyerahkan ponsel miliknya ke arah Jefri.


Jefri meletakkan putung rokoknya ke atas batang kayu di dekatnya. Setelah itu, dia menempelkan ponsel Dio ke telinganya.


"Hoi Alia, lo dimana sekarang, hah?" seru Jefri dengan semangat.


Diantara teman Alia yang lain, memang Jefri yang terlihat paling periang dan humble. Berbeda dengan Dio yang lebih pendiam dan tenang. Sedangkan Opan, cowok itu cuma suka ikut-ikutan teman-temannya saja. Opan juga paling malas untuk melakukan apa pun. Buktinya saja dia sedang enak-enakan tidur di bangku panjang yang ada di bawah pohon rindang tempat mereka nongkrong.


"Temuin gue di samping rumah sakit Cempaka. Sekarang!" perintah Alia dengan suara tegas.


"Lo masih di rumah sakit? Mau gue jemput?"


"No! Gue suruh lo ke sini bukan untuk jemput gue. Tapi gue minta lo balikin semua barang cowok yang semalam kita rampok," jelas Alia dengan suara berbisik. Takut ada orang lain yang mendengar.


Mendengar ucapan Alia barusan. Jefri spontan menegakkan badannya dan kedua bola matanya melebar. "WHAT! Gue nggak salah denger ini? Lo kenapa, sih?! Kok tiba-tiba minta buat balikin hasil rampokan kita."


Dio memberi isyarat pada Jefri untuk me-loadspeker telpon dari Alia.


"Tolong, Jef! Gue lagi disituasi genting, nih. Gue nggak bakal minta tolong kayak gini kalau nggak kepepet." Suara Audy terdengar sangat sendu. Dan itu membuat Jefri dan Dio khawatir.


"Lo tunggu kita ya, Al! Kita bawa semua barang milik cowok itu," kata Dio dengan suaranya yang tenang. Jefri sempat menoleh dan menatap tajam ke arah Dio ketika cowok itu menyetujui perintah Alia.


"Thanks ya, Yo! Lo emang paling pengertian dari yang lain," ucap Alia. Kini, perasaannya sedikit tenang, karena Dio mau membantunya.


Dio diam mendengar ucapan Alia. Perasaannya sedikit tercekit mengingat bagaimana sikap Alia yang tidak pernah peka dengan perasaan Dio. Dio selalu memperhatikan Alia. Dio selalu mengkhawatirkan Alia. Pikiran lelaki itu pun tidak pernah absen untuk tidak memikirkan Alia. Tapi Alia terlalu kaku dan naif untuk menyadari perasaan temannya itu.


"Jadi selama ini gue nggak perhatian sama lo, gitu?!" protes Jefri, bercanda.


"Lima menit. Gue tunggu lo di samping rumah sakit sekarang. Ce-pe-tan!" Alia segera mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Perempuan itu menghembuskan napasnya pelan. Masalahnya belum benar-benar selesai. Tapi setidaknya perasaannya lebih sedikit tenang untuk saat ini.


"Alia?"


Alia menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Raffa yang sedang berjalan menghampirinya.


"Eh, Dokter Raffa. Pagi, " sapa Alia dengan senyuman manis.


Raffa terkekeh ringan seraya berkata, "ini sudah siang, Alia. Kamu nggak lihat sekarang sudah jam sebelas?" ujar Raffa.


Alia hanya tersenyum renyah. Perempuan itu merasa malu karena ucapan Raffa barusan.


"Itu. Kamu bawa apa?" tanya Raffa sambil menunjuk plastik yang ditenteng Alia.


"Oh, ini saya baru beli tadi di mini market sebelah. Buat ganjel perut, hehe."


"Kamu belum sarapan?"


Alia mengangkat kantung plastik belanjaannya. "Ini baru mau sarapan. Dokter mau?"


Raffa menggelengkan kepalanya. "Bukan itu maksud saya. Maksud saya ... kamu kenapa makan snack untuk sarapan? Nggak baik, loh! Mending kamu simpan dulu makanan kamu itu! Sekarang ... kamu ikut saya ke kantin. Kita makan bersama di sana."


Alia kaget mendengar ajakan Raffa untuk makan bersama dengannya. Menurut Alia, Raffa ini terlalu baik. Orang terdekat Alia saja masa bodo dengan makanan yang Alia makan. Atau mungkin, karena Raffa ini seorang dokter, maka dari itu dia paham sekali dan sangat peduli dengan kesehatan.


"Nggak usah, Dok! Makasih. Nanti saya ngerepotin Dokter lagi." Sebenarnya Alia ingin sekali menerima ajakan Raffa. Tapi dia tetap wanita yang punya gengsi yang tinggi.


"Jangan menolak saya, Alia! Kamu harus ikut saya! Ayo!"

__ADS_1


•••


__ADS_2