ETHEREAL

ETHEREAL
BAB 10


__ADS_3

"Wang-Wang, aku akan menangkapmu."


Dengan mata tertutup kain putih, Yu Jie meraba-raba sekelilingnya. Sudah hampir sejam, bukannya menemukan sang suami. Ia malah membuat ruangan itu tampak seperti kapal pecah. Lukisan-lukisan di dinding berjatuhan, tirai yang menutup antara ruang utama dan ruang tamu habis terkoyak.


Wang Zheng yang duduk santai menikmati segelas teh, menahan tawa melihat istrinya mendengus kesal. "Yu'er, kau terus mengatakan akan menangkapku. Lihatlah, kau bahkan hanya berputar di tempatmu."


"Kalau aku berhasil, apa hadiah untukku?" Masih meraba-raba sekitarnya.


Bruk! Vas berusia 1.000 tahun pemberian Dewa Rubah pecah setelah tersenggol tangan Yu Jie. Bingung, wanita periang itu melangkah ke arah puing-puing tajam vas.


"Yu'er." Wang Zheng melesat cepat dan dalam waktu singkat membawa Yu Jie ke pelukannya.


Yu Jie membuka penutup matanya. Lantas senyumnya terkembang lebar. "Yeay! Aku mendapatkanmu."


"Nakal!" Menjitak dahi istrinya, pelan. "Kau tahu, kau telah memecahkan benda berharga pemberian Dewa Rubah. Selain itu, kau juga hampir terluka karena menginjak serpihan tajam vas itu."


Yu Jie melihat ke arah samping dan mendelik. Dengan wajah tak bersalah memanyunkan bibirnya. "Itukan hanya vas biasa."


"Tapi kau hampir terluka."


"Benarkah?" Tatap Yu Jie, nakal.


Cup! Yu Jie ******* bibir merah muda pria bertubuh tinggi itu. "Anggap ini hadiah darimu karena aku berhasil menangkapmu."


Tidak lama, wanita itu kembali mengecup pipi Wang Zheng. "Dan, anggap ini juga hadiah dariku karena telah mencemaskanku."


Wang Zheng dibuat diam seribu bahasa. Dia hanya bisa menahan malu dengan pipi yang memerah.


***


Ribuan kupu-kupu mengelilingi tempat Yu Jie dan Wang Zheng berada. Ping yang berada tak jauh dari mereka, bersiap menurunkan salju saat bunga persik jatuh ke tanah. Seketika suasana romantis terbangun dengan indahnya.


"Salju palsu," ucap Yu Jie setelah menyentuh salju itu. "Ini bukan musim dingin. Aku juga tidak sedang bersedih. Dari teksturnya ini adalah kapas yang dengan kekuatan es dibentuk sedemikian rupa layaknya salju."


Wang Zheng bersedekap dada, kesal. "Salahku menurunkan salju palsu di depan Dewi Es."


"Baiklah, baiklah, aku akan diam dan menganggap ini salju asli. Puas, Wang-Wang?"


"Tidak." Membuang muka, masih dengan wajah datar.


Cup! Bagi Yu Jie, mencium pipi sang suami adalah jurus terampuh untuk meredam kekesalan. "Wang-Wang, jangan marah."


Wang Zheng menggamit dagi Yu Jie. "Nakal."


"Ciumanku itu tidak gratis. Cepat berikan bayarannya." Mengulurkan tangan dengan wajah menahan tawa.


"Baiklah, istriku yang nakal."


Wang Zheng membawa Yu Jie lebih dekat dengan pohon persik di depan rumah mereka. Pria itu mengeluarkan sedikit kekuatan dan ajaibnya bagian kulit pohon itu terbuka. Tidak seperti pohon pada umumnya, begitu kulit pohon itu terbuka maka tampaklah sebuah lemari bergembok emas---sama seperti di rumah kaca.

__ADS_1


"Bagaimana sebuah lemari terdapat dalam pohon persik?"


Tak menjawab, Wang Zheng justru tersenyum dan kemudian membuka gemboknya. Isinya tak kalah mencengangkan, itu adalah kristal seukuran bola kasti.


"Kristal pengumpul ingatan," ucap Wang Zheng, seolah tahu dengan pertanyaan yang akan Yu Jie ajukan.


"Apa itu?"


"Para dewa menggunakan ini untuk mengabadikan momen-momen penting dalam hidup mereka. Kau hanya perlu menggunakan sedikit kekuatan dan ingatan yang ingin kau simpan akan tersimpan di sana."


"Bukankah ini seperti alat perekam di hp?"


Wang Zheng mengangguk.


"Menakjubkan. Karena ini diciptakan untuk para dewa, tentu ini lebih menarik."


Pria berjubah biru laut itu mengambil salah satu kristal. Lantas mengajak Yu Jie ke gazebo yang terletak di samping rumah dengan pemandangan sungai kama yang jernih.


"Ini adalah kenangan yang kau simpan 130.000 tahun lalu."


Antusias, Yu Jie mengambil posisi terbaiknya. Wang Zheng melemparkan kristal itu ke udara. Seketika itu berubah menjadi layar raksasa. Terlihat Yu Jie dan Wang Zheng menghabiskan waktu bersama sambil bermain catur.


Yu Jie mencebik. "Lihatlah, betapa jeleknya Dewi Es yang dulu. Tubuhnya kurus, tatapannya sangat dingin, dan cara dia bermain catur sangat berambisi dengan kemenangan."


Wang Zheng tergelak mendengar Yu Jie menjelekkan dirinya sendiri.


"Aku bersyukur kehilangan ingatan. Setidaknya, aku tidak harus menahan malu mengingat betapa aku sangat arogan." Yu Jie mengusap dadanya, lega.


Cepat Yu Jie menggeleng. "Tidak, tidak. Itu membosankan. Lebih baik aku bermain harpa dan kau mendengarkannya."


"Baiklah, kalau begitu mainkan itu untukku."


Yu Jie meletakkan tangannya di atas meja. Kabut putih muncul dan berubah menjadi sebuah harpa. Lembut, penyuka langit senja itu memainkan alunan musik yang sangat merdu.


Wang Zheng menutup mata. Meresapi tiap nada penuh cinta yang terasa menyentil hati. Lantas tanpa diminta, bayangan Yu Jie singgah dalam khayalannya.


"Dari sejak kita pertama bertemu. Hanya kau yang bisa mengisi kekosongan di rongga dada. Xia Yu Jie."


Wang Zheng mendekti Yu Jie. Mengembus pelan telapak tangan dan muncullah 12 bunga krisan putih. Kemudian meletakkan bunga itu di depan sang istri.


"Kau tahu apa artinya?"


"Cinta sejati?"


"Ya, satu-satunya cinta dalam hidupku."


Yu Jie berhenti memainkan harpa. Diambilnya bunga krisan itu dan menciumnya, lama. "Sangat indah."


Tiba-tiba terlintas sebuah ide di pikiran Yu Jie. Dengan kekuatannya, ia mengubah bunga itu menjadi dua cincin perak yang indah dengan permata berbentuk krisan di atasnya.

__ADS_1


"Di dunia fana, pasangan suami istri akan saling bertukar cincin. Meski kita adalah dewa, anggap saja ini penanda kau adalah milikku." Memasang salah satu cincin di jari manis Wang Zheng. Sangat pas. Lantas setelahnya meminta sang suami memasangkan cincin di jari manisnya.


"Ini bagus."


Angin bertiup kencang menerbangkan bunga persik. Salah satunya jatuh tepat di atas rambut Yu Jie. Menyadari itu, Wang Zheng mengambilnya dan meletakkan itu di atas telinga sang istri.


Tak ada percakapan. Keduanya saling melempar senyuman. Sejenak, membiarkan bicara dari hati ke hati.


***


"Bukankah mereka sangat mesra?" Shen menyandarkan diri pada salah satu pohon.


Ping mengarahkan tangannya ke langit. Membuat lebih banyak salju buatan. "Sangat mesra. Beruntung tuan Rui dapat dengan segera menyadari tulusnya cinta nona. Jika tidak, ia akan menyesali itu seumur hidupnya."


"Kenapa tuan akan menyesal seumur hidupnya?"


"Pohon yang baru menyadari indahnya bunga persik setelah ia jatuh dan menyatu bersama tanah, tidakkah akan menyesal seumur hidupnya?"


"Mungkinkah sesuatu telah terjadi pada permaisuri Rui?" Shen menatap curiga. Namun memilih diam. Sebab wanita di depannya itu tidak akan pernah mau membuka suara, sekalipun ia memaksa.


"Ayo pulang. Tuan akan marah jika tahu kita menonton mereka," ajak Ping yang langsung disetujui Shen.


***


Yu Jie menelan ludah melihat piringnya yang penuh dengan berbagai macam lauk-pauk. "Wang-Wang, tidakkah menurutmu aku sudah terlalu gendut?"


Wang Zheng menggeleng. Lantas mengambil sepotong ikan dan meletakkan itu di piring Yu Jie. "Memangnya kenapa kalau gendut? Kau terlihat menggemaskan."


"Aku tidak masalah menjadi gemuk. Hanya saja, ini sangat banyak, Wang-Wang. Makanan sebanyak ini bisa untuk dua har---"


Perkataan Yu Jie terpotong, setelah Wang Zheng menyuapinya sesendok nasi dengan sayur. Setiap kali ia selesai menelan, maka sang suami akan menyuapinya lagi. Terang saja hal itu membuat sang Dewi Es tak punya kesempatan untuk bicara.


"Tuan, utusan Raja Langit datang dan ingin bertemu denganmu," ucap Shen dari luar.


Tak mau diganggu, Wang Zheng berniat menyuruh mereka kembali. Namun Yu Jie menghentikannya dan mempersilakan utusan Raja Langit masuk.


"Salam, Dewa Air, Dewi Es." Dua orang pria berbaju serba putih itu membungkuk hormat. Dari tanda kerajaan di pengikat kepala mereka dengan jelas menyatakan bahwa mereka benar-benar utusan penguasa langit.


"Jangan basa-basi. Katakan, hal apa yang membuat Raja Langit mengutus kalian."


Salah satu dari kedua utusan itu menyerahkan surat yang ditulis oleh Raja Langit. "Tuan Rui, setelah penyerangan yang dilakukan penjaring jiwa gagal, Raja Iblis kembali menyusun rencana. Siapa menyangka, mereka menyerang Istana Api dan berhasil merebut permata neraka milik Dewa Qing Tang. Hal itu membuat Raja Iblis semakin kuat dan berhasil menduduki lima suku di Kerajaan Langit."


Kesal, Wang Zheng memukul meja dengan keras. Selain karena telah membuat keributan, makhluk alam bawah juga yang menyebabkan istrinya beberapa waktu tidak sadarkan diri. Dendamnya saja belum terbalaskan, tetapi mereka dengan berani kembali membuat kekacauan.


"Saat ini, semua Dewa dan Dewi dari 6 istana memilih mengungsikan rakyatnya ke Istana Es. Kami harap, Tuan Rui dan Nona Yu Jie bersedia untuk memencahkan masalah ini. Sebab hanya kekuatan es dan air saja yang saat ini dapat menghancurkan kekuatan Raja Iblis."


Mengerti dengan situasi yang saat ini tengah genting. Yu Jie akhirnya angkat bicara. "Bagaimana mungkin kami tidak bersedia? Nasib Kerajaan Langit dalam bahaya. Sebagai dewa dan dewi yang bertanggung jawab atas keseimbangan alam, maka kami akan segera kembali dan memecahkan masalah ini."


"Terima kasih, Permaisuri Rui."

__ADS_1


"Sampaikan pada Raja Langit, bahwa kami akan segera kembali," ucap Wang Zheng, setelah itu menyuruh Ping dan Shen segera berkemas.


"Baik, Tuan Rui."


__ADS_2