
Jangan lupa Vote, Komen and follow
Langsung up dari bab 12–15
Jangan lupa Vote
Karena Vote mu semangatku eaaa😂
Arkan terbangun karena mendengar suara seseorang di kamar mandi, Arkan melihat ke sampingnya dan Ara tidak ada di sana, Arkan berlari menuju kamar mandi dan melihat Ara sedang memuntahkan isi perutnya lagi dengan wajah yang pucat membuat Arkan panik.
"Hon," panggil Arkan lalu memeluk Ara agar tidak terjatuh.
"Kita ke dokter sekarang ya," pinta Arkan hanya di jawab gelengan oleh Ara, lalu Arkan menggendong tubuh Ara dan membaringkan di kasur dan menyelimuti Ara.
"Sayang aku pengen makan bakso" kata Ara lirih entah kenapa dia sangat menginginkan bakso.
"Tapi hon ini kan masih pukul 3 pagi mana ada penjual bakso? besok pagi aja ya aku beliin," Arkan heran.
"Tapi aku pengen makan bakso sekarang bukan nanti pagi," kata Ara.
"Ya sudah kamu disini aja ya aku mau nyari penjual bakso dulu nanti kalau ada apa apa kamu langsung telvon aku," kata Arkan lalu mengambil kunci motor dan jaketnya sebelum keluar kamar Arkan mencium kening Ara dulu baru berangkat.
"Mana ada penjual bakso jam segini, gumam Arkan sambil melihat lihat pinggir jalan.
"Mending gue tanya aja ke anak anak," gumam Arkan lalu Arkan menelpon Aldi namun tidak di jawab.
"Pasti dia jam segini masih molor," gerutu Arkan lalu Arkan menelvon Bian.
"Apaan jam segini telpon?" tanya Bian sambil menguap.
"Bi gue butuh bantuan Lo," kata Arkan.
"Bantuan apaan?" tanya Bian.
"Ara Bi dia-" perkataan Arkan dipotong Bian.
"WHAT ARA!? KENAPA ARA!??" pekik Bian membuat Arkan menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Sialan Lo telinga gue sakit nih, makannya kalau gue ngomong jangan di potong dulu," omel Arkan sebal.
"Iya Ara kenapa??" Bian khawatir karena dia sudah menganggap Ara itu saudaranya.
"Ara pengen makan bakso tapi jam segini mana ada penjual bakso yang buka?" tanya Arkan.
"Gue kira Ara kenapa, Lo cari tukang bakso jam segini gak ada yang buka mending Lo beli bakso instan ntar Lo masak sendiri di rumah," saran Bian.
"Bakso instan?" tanyaArkan bingung.
"Iya bakso yang di bekuin biasanya di jual di minimarket Lo cari aja kan banyak tuh minimarket yang buka 24 jam," kata Bian.
"Oke thanks ya bi udah bantuin gue," kata Arkan namun panggilan langsung di akhiri oleh Bian membuat Arkan mendengus sebal.
Arkan menuju minimarket dan mencari bakso yang di kasih tahu Bian lalu membelinya dan membawa pulang. Sesampainya rumah Arkan langsung memasak bakso di dapur dan memberi bumbu sesuai petunjuk, setelah selesai Arkan mengetuk pintu kamar dan masuk sambil membawa bakso di nampan beserta air putih.
"Wahh bakso," kata Ara berbinar melihat Arkan membawa pesanannya Ara langsung memakan dengan lahap bakso yang ada di depannya sampai habis tak bersisa membuat Arkan tersenyum melihatnya.
"Enak banget kamu beli bakso dimana?" tanya Ara.
"Di minimarket," jawab Arkan sambi membersihkan bibir Ara yang belepotan menggunakan tissue.
"Minimarket?" tanya Ara bingung.
"Iya tapi yang di bekuin terus aku masak sendiri," kata Arkan.
"Maaf ya udah ngerepotin kamu," kata Ara merasa bersalah karena membuat Arkan mencari penjual bakso jam segini dan memasak nya.
"Nggak papa kok hon apapun buat kamu," kata Arkan lalu Ara memeluk Arkan.
"Makasih," kata Ara.
"Iya sama-sama," kata Arkan membalas pelukan Ara, saking nyamannya di pelukan Arkan Ara sampai tertidur membuat Arkan gemas lalu membaringkan Ara dengan pelan pelan agar Ara tidak terbangun.
Arkan membereskan alat makan Ara dan membawanya ke dapur setelah itu Arkan ikut berbaring dan memeluk Ara, dan mereka tidur bersama.
***
Pukul 08.00 pagi Ara bangun dan melihat Arkan yang masih tertidur pulas di sampingnya menjadikan Ara guling, Ara menyingkirkan tangan Arkan yang ada di atas pinggangnya pelan pelan agar tidak menggangu Arkan tidur lalu Ara mandi dan membantu bibi masak. Setelah itu Ara kekamar untuk membangunkan Arkan namun ternyata Arkan sudah mandi dan siap ke kampus karena pukul 10 nanti Arkan ada kelas.
"Morning hon," kata Arkan sambil berjalan mendekati Ara lalu mencium bibir Ara sekilas.
"Morning," kata Ara.
"Hon kamu gak lupa kan ini hari apa?" tanya Arkan antusias dengan senyuman.
"Hari Rabu emang kenapa?" tanya Ara berpura pura bingung.
"Kamu lupa hon?" tanya Arkan dengan raut sedihm
"Lupa ap- astaga untung kamu ingetin yang," kata Ara berpura pura panik.
"Akhirnya kamu inget," kata Arkan dengan senyum yang mengembang.
"Ya iya lah hari ini kan ada jadwal kunjungan ke kafe makasih ya kamu udah ingetin," kata Ara membuat senyum Arkan luntur.
"Ayo kita sarapan abis itu aku mau ke kafe kamu juga mau ke kampus kan?" tanya Ara hanya di jawab deheman oleh Arkan.
Ara dan Arkan makan di meja makan setelah makan Arkan dan Ara bersiap siap.
"Arkan aku mau ke kafe dulu ya," kata Ara lalu mencium pipi Arkan hanya di balas deheman oleh Arkan karena Arkan masih marah dengan Ara.
Ara sebenarnya memang ada jadwal untuk mengunjungi kafenya namun Ara menyerahkan ketangan kanan Ara Fian, Ara menelepon Bian, Devan dan Aldi menyiapkan kejutan pesta ulang tahun untuk Arkan. Mereka memilih mengadakan di gedung. Semua persiapan sudah 98% sisanya tergantung Arkan.
"Gimana ide gue bagus kan?" ujar Aldi sambil makan camilan.
"Ide apaan cuma bantu ngabisin makanan aja bangga," sinis Devan.
__ADS_1
"Lo berdua kalau masih mau bertengkar sini gue karungin gue buang ke luat biar jadi santapan harimau," kata Ara.
"Harimau sekarang tinggalnya pindah ke laut ya?" tanya Devan polos.
"Iya gue juga baru tahu," kata Aldi seperti Devan
"Dasar bego!" ujar Bian.
"Undangannya mana?" tanya Ara pada Bian.
"Di tas," jawab Bian sambil menunjuk tas yang ada di atas meja.
"Oke thanks gue mau kekampus dulu mau ngasih nih undangan ke Arkan," Ara pamit lalu menuju kampus Arkan dengan Bian.
Ara dan Bian memasuki kampus dan menuju kampus banyak bisikan dari para mahasiswa dan mahasiswi yang membicarakan mereka namun di Ara dan Bian acuh.
Ara memakai rok Levis hitam di atas lutut karena Ara tidak mau kalau pakai celana takut babynya kejepit pikir Ara, kaos over size merah, sepatu snakers hitam, slin bag merah dengan rambut yang di kuncir kuda membuat penampilannya terlihat urakan namun cantik. Ara menelepon Arkan.
"Hallo," Ara.
"Ada apa hon? kamu masih mual mual lagi? kamu mau aku beliin makanan? kamu sakit? kamu baik baik aja kan hon?" tanya Arkan panik membuat Ara memutar bola matanya malas.
"Kamu ke kantin kampus kamu sekarang," kata Ara.
"Hah?! kantin kampus aku gak salah denger kan hon? kamu mau ngapain? Kamu udah inget ya ini hari apa?" tanya Arkan antusias.
"Buruan," kata Ara langsung memutus panggilan.
Ara memesan milkshake strawberry sedangkan Bian memesan ice coffe latte.
Mereka berbincang bincang sampai akhirnya ada yang menepuk pundak Ara dari belakang ternyata Arkan dengan nafas yang tidak teratur karena habis lari.
Mereka menjadi pusat pandangan karena para Most Wanted boy di kampus mereka sedang bersama dengan seorang cewek yang berpenampilan urakan? entahlah.
"Honey," kata Arkan sambil memeluk Ara membuat seisi kampus histeris karena Arkan terkenal dingin dan tidak tersentuh oleh wanita kini sedang memeluk seorang wanita yang berpenampilan em.. tidak ada kesan feminimnya bahkan Ara memiliki tato kalajengking di lehernya seperti milik Arkan.
"Ih apaan sih lebay," kata Ara.
"Kangen pengen peyuk," kata Arkan manja.
"Tadi pagi aja sok sok an ngambek," cibir Ara membuat Arkan mengerucutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya seperti anak balita yang tidak dibelikan es krim membuat Ara gemas dan mencubit pipi Arkan.
"Sakit," rengek Arkan.
"Ih lebay baru di cubit pelan aja sakit apa lagi aku tonjok," kata Ara.
"Jangan dong hon kamu tega lihat suami mu tercinta ini kesakitan," kata Arkan melas.
"Tega lah kenapa nggak," kata Ara.
"Ehem jadi obat nyamuk deh ujung ujungnya," sindir Bian.
"Hehehe Bibi jangan ngambek dong," bujuk Ara.
"Eh kata Devan Lo lagi Deket sama cewek fakultas Lo," kata Ara membuat Bian melotot.
"Hah eh enggak lah Devan Lo percaya," kata Bian gugup.
Devan sialan! awas aja kalau ketemu!batin Bian.
"Jujur aja kenapa sih? tampang Lo gak bakat jadi tukang kibul," kata Arkan.
"Apaan sih Lo," sanggah Bian.
"Udah Lo berdua malah brisik, Bi kalau deketin cewek tuh langsung aja pepet daripada di ambil orang iya nggak yang," kata Ara.
"Iya hon, biarin di ambil orang baru nyaho Lo," kata Arkan.
"Dasar suami istri sama aja nyebelinnya," cibir Bian.
"Biarin," kata Ara dan Arkan kompak membuat Bian berdecak sebal.
"Ck tau gini gue ogah disuruh nganterin," gerutu Bian.
"Oh iya lupa Yang nih dapet undangan nanti malem di partynya temen aku," kata Ara sambil menyodorkan undangan.
"Kok mendadak sih hon?" tanya Arkan.
"Iya soalnya udah lama gak ketemu dan tadi pagi baru aja ketemu langsung dikasih undangan," kata Ara.
"Oh kamu udah ada dress nya? atau mau beli lagi?" tanya Arkan.
"Mau beli lagi, tapi maunya sama kamu ya," kata Ara.
"Apa sih yang enggak buat kamu," kata Arkan sambil mencium gemas pipi Ara.
"Kamu masih ada kelas?" tanya Ara.
"Ada tapi kayaknya udah dimulai, ayo kita ke mall," ajak Arkan
"Ayo, bibi mau ikut nggak?" tanya Ara.
"Gue mah ogah ntar jadi obat nyamuk lagi," kata Bian sebal.
"Ya udah yuk hon kita berangkat biarin aja Bian di culik tante-tante girang," kata Arkan membuat Bian bergidik ngeri.
"Bi mobil gue bawa aja dulu gue sama Arkan,"
Ara dan Arkan menuju parkiran untuk mengambil mobil Arkan, mereka pergi ke mall membeli dress dan jas couple. Setelah belanja mereka menuju restoran karena Ara sedari tadi mengeluh perutnya lapar.
"Permisi, silahkan dipesan, mau pesan apa?" tanya pelayan sopan.
"Arkan aku mau es krim ya," pinta Ara.
"Iya tapi harus makan sayur sama nasi okey," kata Arkan.
__ADS_1
"Tapi es krimnya 5," pinta Ara.
"No honey, 1 aja nanti kalau sakit perut," kata Arkan membuat Ara cemberut.
"4," pinta Ara.
"1," kata Arkan.
"3," pinta Ara.
"1 hon," kata Arkan.
"Em maaf mas mbak setahu saya kalau hitungan mundur itu 5,4,3,2,1 bukan 5,4,1,3,1," kata pelayan polos sambil menggaruk kepalanya membuat Ara dan Arkan sebal.
"Diam!" kata Ara dan Arkan membuat pelayan itu langsung menutup mulutnya.
"Pokoknya aku maunya 3," kata Ara ngotot.
"2 atau nggak sama sekali," final Arkan membuat Ara mengerucutkan bibir.
"Terserah," kata Ara ketus.
"Mbak pesan ice cream vanillanya 2, ice coffe latte 1, chiken vegetarian 2, sama salad buah 1," pesan Arkan.
"Baik saya ulangi lagi Ice cream vanilla 1, ice coffe latte 1, chiken vegetarian 2, salad buah 1, masih ada lagi?" tanya pelayan.
"Tidak," kata Arkan.
"Baik permisi," kata pelayan sopan.
Ara memainkan ponselnya dengan dan mengacuhkan Arkan karena dia sedang sebal. Mereka makan dalam perang dingin bahkan samapai selesai makanpun mereka masih perang dingin, Arkan sangat tidak menyukai situasi seperti ini,mereka menuju parkiran dan masuk ke mobil.
"Honey," panggil Arkan lembut namun diacuhkan oleh Ara.
"Hon jangan marah kan ini juga demi kebaikan kamu, tadi pagi kan kamu mual mual aku gak mau nanti kalau kamu makan ice cream banyak2 perut kamu tambah sakit," kata Arkan sambil memegang tangan Ara.
Ara memeluk Arkan secara tiba tiba membuat terkejut.
"Hiks hiks maafin aku. hiks Aku masi kekanak-kanakan. hiks Maafin aku belum bisa menjadi istri ya- mphh " kata Ara terpotong karena Arkan mencium bibir Ara dan memeluk Ara.
"Aku gak suka kamu bicara gitu, kamu udah jadi istri yang baik kok buat aku, aku udah maafin kamu tapi kamu jangan keras kepala lagi ya," kata Arkan menasehati Ara dan Ara hanya menganggukkan kepalanya.
"Sekarang udah jangan nangis lagi dong senyum biar tambah cantik," kata Arkan sambil menghapus air mata Ara, Ara mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arkan.
Beberapa menit kemudian Arkan mendengar nafas teratur istrinya dan ternyata Ara sudah tertidur, Arkan memakaikan sabuk pengaman Ara dan memposisikan Ara senyaman mungkin agar Ara nyaman setelah itu Arkan mengendarai mobilnya menuju rumah mereka, sesampainya dirumah Ara masih tertidur dan akhirnya di gendong Arkan menuju kamar.
***
Pukul 06.00 malam Ara terbangun dari tidurnya dan mengingat acara pesta ulang tahun Arkan pukul 08.00 dimulai Ara bangun dan melihat di sekitarnya tidak ada Arkan.
"Arkan!! kamu dimana??" pekik Ara namun tidak ada jawaban lalu Ara keluar dari kamar Ara melihat Arkan sedang berkutat dengan laptopnya di ruang kerja menggunakan kacamata anti radiasinya.
"Arkan kok gak bangunin aku sih!?" tanya Ara.
"Aku gak tega mau bangunin kamu," kata Arkan
"Kamu udah mandi?" tanya Ara lagi.
"Udah tinggal ganti baju," balas Arkan.
"Ya udah aku mau mandi dulu, kamu juga cepet ganti baju sana," kata Ara.
Ara mandi dan bersiap-siap begitu pula dengan Arkan dia memakai jas yang tadi siang mereka beli. Setelah itu mereka berangkat ke gedung itu.
"Arkan kamu tahu nggak yang party itu sebenarnya mantan aku, dia itu ganteng, baik banget orangnya, perhatian juga," kata Ara memanas manasi Arkan.
"Ck tau gini gak usah dateng, ya udah ayo pulang aja," Arkan berdecak sebal.
"Kok gitu, kan ini udah sampai tinggal masuk," kata Ara karena mereka sudah sampai di parkiran.
"Gak papa mending kita pulang daripada disini," kata Arkan.
"Ya udah kalau mau pulang, pulang aja sana, aku mau masuk," kata Ara Lalu Arkan mengikuti Ara sambil menggerutu tidak jelas namun ketika masuk gedung Arkan terkejut karena lampu gedung tiba tiba mati.
Dor..
Bunyi tembakan membuat semua orang berteriak.
"Argh," Ara meringis karena perutnya tertembak Arkan panik Arkan berteriak meminta tolong namun semua lngsung hening tidak ada yang bersuara sedikitpun membuat Arkan bingung bahkan tidak ada cahaya sedikit pun semua gelap gulita.
"Hon kamu harus bertahan ya," kata Arkan sambil memeluk Ara.
"Sa.. yang.. ma.. a..fin.. a... ku.. i.. love.. you..," kata Ara sambil memegang pipi Arkan dengan tangannya yang berlumur darah lalu Ara kehilangan kesadarannya.
"HONEY!! Jangan tinggalin aku, aku gak bisa hidup tanpa mu," kata Arkan pipinya terasa basah karena darah dan air matanya bercampur menjadi satu, Arkan memeluk erat tubuh Ara.
Hayooo menurut kalian Ara bisa diselamatkan atau tidak?
Penasarankannnn....
Author juga penasaran nih xixixi😆
Jangan lupa vote
Makasih sudah membaca
2000++ kata lhooo banyak kannn
...Gimana Ceritanya??...
...Penasaran kelanjutan ceritanya??...
...Jangan lupa Vote...
...Maaf banyak typo...
__ADS_1