
Ara dkk mengabaikan perkataan mereka dan duduk di kursi pojok favorit mereka.
*
*
*
"Dev Lo pesen gih kayak biasanya," pinta Ara ke Devan
"Siap Beb," jawab Devan sambil berpose hormat membuat Ara terkekeh.
"Gue juga samain," kata Bian.
"Oke mana uangnya?" tanya Devan.
"Nih," Bian memberikan uang ke Devan, lalu Devan memesankan makanan.
Ara mendengarkan lagu memakai earphone nya sambil bersenandung ria, sedangkan Bian asik bermain gamenya.
Beberapa menit kemudian.
"Makanan datang!!" seru Devan membawa pesanan mereka.
"Lama," cibir Ara.
"Kan antri dulu Maemunah," jelas Devan.
Mereka makan sambil bercanda saat ditengah tengah makan baksonya Ara mendengar keributan dan ternyata itu Arkan yang sedang dibully oleh Satria dkk cowok bad boy emang suka bully. Ara langsung berdiri dan menghampirinya.
"Eh Bebeb Ara kok kesini mau ngapain?" tanya Satria.
"Lo apain dia?" tanya Ara balik dengan nada dingin membuat mereka merinding.
"Em anu dia gue suruh buat persen makanan gak mau, Nerd, songong, anak baru lagi," jawab Satria gugup.
"Lo jangan ganggu dia lagi! DAN KALIAN SEMUA DENGER JANGAN ADA YANG GANGGU DIA LAGI, KALAU SAMPAI ADA YANG GANGGU DIA BAKAL BERURUSAN SAMA GUE, KARENA DIA PACAR GUE!!" bentak Ara membuat semua yang ada di kantin diam dalam bingungnya.
Ara menarik Arkan keluar dari kantin, semua siswa heboh ketika Ara keluar dari kantin.
Bebeb Ara gue udah punya pacar,
Kok bisa sih Ara mau jadi pacarnya Nerd,
Pupus harapan gue,
Hari patah hati satu sekolahan,
Awas aja Nerd udah rebut Ara,
Apa istimewanya Nerd itu,
Itulah kata kata orang yang ada di kantin Devan dan Bian juga bingung dan menyusul Ara.
"Lo bego banget sih dibully kok diem aja!" Ara mengomel dari tadi membuat telinga Arkan panas.
Kalau gue gak nyamar gue juga lawan, batin Arkan.
"Lo dengerin gue gak sih gue nyerocos dari sampe mulut gue hampir berbusa gini Lo malah diem serasa omongan sama tembok tau gak!?" gerutu Ara.
"Mau jawab gimana orang kamu nyerocos terus dari tadi," jawab Arkan datar.
"Terus Lo mau pake baju apa kan baju Lo basah gara gara disiram BangSat untung pakek air putih gak pakek jus!" Ara sebal.
"Gak tau," kata Arkan datar.
"Ih untung gue baik sama lo, dan mulai sekarang Lo harus jadi pacar gue!" kata Ara membuat Arkan heran.
__ADS_1
"Gak mau enak aja," tolak Arkan.
"Gue gak menerima penolakan!" kata Ara santai.
"Dan gue gak mau dipaksa," ujar Arkan tak mau kalah.
"Oke terserah kemauan Lo, ya udah kalau Lo mau dibully setiap hari!" ujar Ara.
Lumayan juga gue bisa mamfaatin dia sementara biar gue gak di bully pas lagi nyamar, batin Arkan.
"Em gue mau," kata Arkan.
"Nah gitu dong," Ara berujar sambil menepuk bahu Arkan.
"Tapi kenapa Lo nyuruh gue jadi pacar Lo?" tanya Arkan heran.
"Ya buat manfaatin Lo lah, biar gak ada yang deketin gue lagi," jawab Ara jujur.
Dasar cewek blak blakan gak ada sensornya sama sekali, batin Arkan.
"Emang kenapa kalau Lo dideketin banyak cowok? Bukannya Lo malah seneng?" tanya Arkan heran.
"Tanya Mulu kek Dora Lo! Seneng apanya, pusing yang ada " jawab Ara malas.
"Oh terus nasib baju gue gimana?" tanya Arkan menatap bajunya yang basah.
"Baju Lo kok yang ribet gue sih!" gerutu Ara.
"Lo kan pacar gue," jawab Arkan santai.
"Terus apa hubungannya Bambang!?" tanya Ara sebal.
"Ya Lo harus peduli sama gue," jawab Arkan.
"Iya elah bawel amat, bentar gue tanya Bian sama Devan ada yang bawa seragam ganti atau jaket," kata Ara lalu menelepon Bian dan ternyata Bian punya seragam ganti diloker dan dipinjamkan ke Arkan.
"Ra kafe Lo makin rame aja tiap hari," kata Devan melihat banyak pengunjung yang datang di kafe Ara.
AKA's Kafe adalah kafe yang didirikan Ara sejak kelas 2 SMP dia membangun kafe itu dengan uang sisa uang jajan dan menang balapan.
"Ya iya lah kan Minggu kemarin abis gue renovasi jadi banyak yang datang kesini," jawab Ara sambil mengecek laporan keuangan kafe yang ada di laptopnya.
"Kenapa Om Anderson sama Tante Lani gak Lo kasih tahu sih kalau Lo itu punya kafe?" Devan heran karena dari dulu Ara tidak memberitahu Mama dan Papa Ara kalau dia punya kafe.
"Belum saatnya," jawab Ara
"Terus saatnya kapan? Nunggu Lo nikah Ama gue?" kata Devan bercanda.
"Ngarep!" ketus Bian.
"Ya kan siapa tau jodoh," balas Devan.
"Ngarep Mulu Ara kan udah punya cowok," kata Bian.
"Ra emang cowok Nerd itu beneran pacar Lo?" tanya Devan.
"Hm," jawab Ara.
"Gak nyangka gue selera Lo yang Nerd gitu," cibir Devan.
"Mending cowok Nerd dari pada buaya," ujar Ara.
"Lo nyindir gue?" tanya Devan memincingkan matanya.
"Buayanya ngerasa hahaha!" ejek Ara dan Bian tertawa.
"Nistain aja terus!" cibir Devan sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Muka tolong dikondisikan udah jelek tambah jelek," ejek Bian melihat wajah Devan yang cemberut
"Hahaha bener tuh kata bibi," kata Ara, Bibi panggilan kesayangan Ara untuk Bian.
"Bodo!" ketus Devan.
"Bentar gue angkat telvon dulu dari mama," ujar Ara, lalu mengangkat telefon.
"Halo," Ara
"Halo Ara kamu kemana aja udah sore belum pulang?" tanya Mama.
"Ara lagi nongkrong sama Bibi sama Devan," jawab Ara.
"Pulang mama kasih waktu 20 menit kalau belum sampai rumah mama jual koleksi kamu," ancam Mama.
"Ih jangan dong ma emangnya mama mau beliin Ara koleksi lagi?" kata Ara memelas.
"Pulang sekarang!" seru Mama.
"Iya, Ara tau mama kangen kan sama Ara makanya Ara disuruh pulang," kata Ara narsis.
"Terserah pulang atau mama jual beneran koleksi kamu!" ujar Mama.
Tut.. Tut..
"Ish mama malah dimatiin, tadi katanya mau di jual terus malah dibakar kan sayang koleksi gue mahal harganya," gerutu Ara.
"Kenapa Ra?" tanya Bian.
"Ara mau pulang dulu keburu koleksi Ara dijual mama," jawab Ara berlari keluar kafe tapi, ditengah perjalanan Ara menabrak laki laki yang seumuran dengannya sehingga membuat baju mereka ketumpahan kopi cowok tersebut.
"****!" umpat Ara.
"Jalan pake mata," kata cowok tersebut.
"Jalan pake kaki bego!" balas Ara.
"Terserah yang jelas gue mau Lo tanggung jawab!" ujar Cowok tersebut.
"Tanggung jawab emang gue buntingin Lo?" tanya Ara asal.
"Lo udah buat kopi gue tumpah kena baju gue," jawab Cowok tersebut.
"Ya udah nih kartu nama gue Lo tinggal datang aja besok dikafe ini gue lagi ada urusan," kata Ara meninggalkan cowok tersebut karena Ara gak mau koleksi nya dibakar mama.
"MAMA PRINCESS ARA UDAH PULANG, JANGAN BAKAR KOLEKSI ARA!!" teriak Ara berlari memasuki rumahnya.
"YA AMPUN SAYANG JANGAN TERIAK TERIAK INI BUKAN DI HUTAN!!" teriak Mama.
"Mama juga teriak," balas Ara.
"Kan mama teriak gara gara kamu," ujar Mama tak mau kalah.
"Sama aja yang penting mama teriak," kata Ara keras kepala.
"Terserah, sana mandi Mama gak tahan bau kamu," kata mama sambil menutup hidungnya.
"Gak mandi Ara juga masih wangi," kata Ara menaiki tangga menuju kamarnya.
"Iya kamu wangi kok, wangi bunga," Mama berkata sambil tersenyum manis.
"Nah tuh mama tahu kalau Ara itu wangi bunga," ujar Ara tersenyum lebar.
"Iya bau bunga tapi bunga bangkai," kata Mama Ara membuat senyum Ara luntur.
Astaga inikah yang dinamakan kurma? Eh karma, gara-gara nistain Devan sekarang gue di nistain balik, mana yang nistain Mamah gue sendiri lagi huwaa!! Batin Ara menangis.
__ADS_1
Ara mengerucutkan bibirnya sebal dan berjalan dengan menghentak hentakan kakinya sedangkan Mama tertawa puas melihat anak satu satunya.