FAROS REVENGE

FAROS REVENGE
Qiana


__ADS_3

......KELUARGA GUNTUR......


''Pa, bagaimana ini Qiana putri, kita belum juga di temukan Mama sangat khawatir Pa,'' ucap istri Guntur yang bernama Zera Guntur.


''Tenanglah. Ma, saat ini Papa sedang mencari keberadaan putri kita,'' sahut Guntur yang duduk di sebuah sofa di ruang tamunya.


Tring. Tring panggilan telepon dari anak buah Guntur. Dia segera mengangkat ponselnya.


''Iya bangaimana apa kalian sudah menemukan keberadaan anak saya?'' tanya Guntur kepada anak buahnya.


''Maaf bos saat ini kami belum menemukan putri Anda bos,'' sahut anak buah.


''Terus untuk apa? kalian menghubungi saya kalau kalian belum menemukan putri saya!'' ujar Guntur dengan marah. Dan langsung mematikan ponselnya.


''Anak buah Papa itu, tidak berguna Pa mencari seorang gadis saja mereka tidak bisa menemukannya!'' ucap Zera.


Guntur tidak bisa menjawab perkataan dari istrinya karena dia merasa kalau anak buahnya memegang tidak berguna.


''Kita lapor polisi saja Pa,'' ujar Zera.


''Jangan Ma, kita harus menunggu untuk berapa hari lagi mungkin saja nanti anak buah Papa akan menemukan Qiana,'' sahut Guntur.


Tentu saja Guntur tidak mau melaporkan ke pihak kepolisian karena polisi masih mencari keberadaan dirinya.


...KEDIAMAN KELUARGA YUSUF ADIJAYA...


Malam itu Faros bermimpi bertemu dengan ke dua orang tuanya.


''Faros kenapa? kamu tidak membalaskan kematian ke dua orang tua kamu ini, kepada Guntur. Papa sama Mama belum bisa tenang atas perbuatan Guntur kepada keluarga kita kamu harus membalasnya,'' ujar Yusuf.


''Papa...'' Faros terbangun dari mimpinya dia segera mengambil air di atas nakas dan langsung meminumnya dengan tandas, keringat mulai membasahi wajahnya.


''Faros janji Pa, Ma Faros akan membalas semuanya Faros akan membuat keluarga itu tidak akan bisa hidup dengan tenang,'' ujar Faros.


Ternyata malam itu Faros bermimpi bertemu ke dua orang tuanya.


Pagi harinya Faros ingin berangkat kerja dangan sebuah tas di tangannya, Faros keluar dari kamarnya menuju meja makan. Di meja sudah tersedia makanan lezat.


''Den silahkan makan den,'' ujar pembantu baru yang bekerja sebagai tukang masak.


Faros menganggukkan kepalanya dia pun segera duduk di kursinya. Saat Faros sedang menyendokkan makanannya tiba-tiba ponselnya berdering panggilan dari anak buahnya.


''Iya,'' sahut Faros setelah mengangkat ponselnya.


''Bos kami punya kabar baru,'' ujar anak buah.


''Kabar apa?'' tanya Faros menghentikan sarapannya.


''Itu bos, anak buah Guntur sedang mencari informasi tentang keberadaan putrinya mereka juga membagikan poster-poster wajah putrinya itu bos,'' ujar anak buah Faros.


''Baik, kalian teruslah mengawasi mereka jika ada informasi tentang keluarga Guntur kabari saya secepatnya,'' ujar Faros sambil mematikan ponselnya.

__ADS_1


''Apa? kata sih bos?''


''Kita harus mengawasi anak buahnya Guntur jika ada informasi lagi tentang keluarga Guntur, kita secepatnya melaporkan kepada bos Faros,'' ucap anak buah Faros kepada anak buah lainnya.


''Bang Erik bagaimana mana kalau kita periksa tempat perempuan itu kita buang mana tahu perempuan itu masih ada di sana,'' ucap anak buah lainnya.


''Oke ayo,'' sahut Erik.


Mereka pun segera melajukan mobil mereka ka arah dimana mereka membuang tubuh Qiana, satu jam perjalanan menuju tempat itu.


''Ayo kita turun,'' ucap Erik.


Semua anak buah pun menganggukkan kepala mereka, mereka segera memeriksa setiap tempat dimana mereka membuang Qiana waktu itu.


''Bang sepertinya perempuan itu masih selamat,'' ucap anak buah.


''Apa?...


''Iya bang betul mungkin saja saat itu ada yang lewat jalan ini dan mereka menyelamatkan perempuan itu,'' ucap anak buah lainnya.


''Ini benar-benar gawat, apa yang harus kita katakan kepada bos Faros kalau perempuan itu masih hidup'' sahut Erik.


Semua anak buah pun terdiam mereka sangat takut kalau sampai Faros mengetahuinya pastinya dia akan murka.


''Apa yang harus kita lakukan bang?'' tanya anak buah Erik.


''Ya sudah sebaiknya kita pergi dari sini,'' ujar Erik.


...RUMAH BIK INAH...


Qiana mengalami depresi karena dia selalu mengingat kejadian malam itu, bik Inah terus membantu Qiana agar dia tidak akan melakukan yang aneh-aneh kepada dirinya.


Saat itu Qiana memegang sebuah pisau di tangannya dia ingin melukai dirinya sendiri, untungnya Dewa melihat Qiana yang memegang pisau, hari itu Dewa tidak pergi pekerja.


''Qiana apa? yang ingin lo lakuin?'' tanya Dewa mengambil pisau itu dari tangan Qiana.


''Lepaskan! aku,'' ujar Qiana.


Dewa melemparkan pisau itu ke tanah.


''Gue gak akan biarkan lo mati dengan mudah lo harus tersiksa disini dan itu tidak akan lama lagi,'' batin Dewa.


Dewa menggendong Qiana masuk ke dalam rumah karena pingsan.


''Ada apa? dengan mba Qiana den?'' tanya bik Inah yang begitu khawatir dengan kondisi Qiana.


''Dia hampir saja mau bunuh diri bik,'' sahut Dewa sambil membaringkan tubuh Qiana ke atas tempat tidur.


''Ya Allah,'' ucap bik Inah segera mendekati Qiana.


''Bagaimana den apa? aden sudah mengetahui keluarga gadis ini?'' tanya bik Inah.

__ADS_1


''Belum bik,'' sahut Dewa.


''Sebaiknya kita lapor polisi saja den,'' ujar bik Inah.


''Itu lagi itu lagi! yang bibik katakan aku sudah pusing bik melihat ke gilaannya di rumah ini, apa? lagi kalau kita lapor polisi bisa gila aku bik!,'' ujar Dewa pergi meninggalkan kamar bik Inah.


Dewa masuk ke kamarnya dan membanting pintu kamar, Dewa langsung mengambil selembar foto Audrey dia menatap foto adiknya itu dengan mata berkaca-kaca.


''Sedikt lagi kakak akan membalasnya,'' ujar Dewa kepada foto Audrey dan meletakkannya di dada.


Sebuah panggilan telepon dari Devan, Dewa segera mengangkat ponselnya.


''Dewa lo gak mampir ke warung gue, dari tadi gue udah nungguin lo gak datang-datang?'' tanya Devan.


''Hari ini gue gak kerja, jadi malam ini gue gak datang ke warung lu,'' sahut Dewa.


''Ya udah gue kerja dulu,'' ujar Devan sambil mematikan ponselnya.


Dewa meletakkan ponselnya dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


...KEDIAMAN KELUARGA YUSUF ADIJAYA...


Malam itu semua anak buah Faros datang ke rumah Faros mereka ingin menyampaikan bahwa Qiana masih hidup.


Ting.... tong...., sebuah bell berbunyi para asisten pun segera mendatangi pintu utama.


''Mau bertemu siapa mas?'' tanya para asisten.


''Kita anak buahnya pak Faros dan kita ingin bertemu dengan dia,'' ujar Erik.


''Baik silahkan masuk,'' ucap Asisten.


Seorang asisten menghampiri Faros di ruang kerjanya.


''Maaf den ada anak buah aden di luar katanya mereka ingin ketemu sama aden,'' ujar seorang asisten.


''Baik saya akan segera kesana,'' sahut Faros.


Di ruang tamu yang seperti aula mereka semua berkumpul di ruangan itu.


''Kenapa? kalian datang ke sini apa kalian tidak bisa menemui saya di kantor saja?'' tanya Faros.


.


.


.


.


. BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2