
''Bang Erik itu wanita yang di perintahkan oleh bos Faros untuk menculiknya,'' ujar anak buah Erik sambil menunjuk ke arah Qiana yang tengah duduk di halaman rumah.
''Benar, apa kalian sudah siap menulis surat itu?'' tanya Erik.
''Sudah bang,'' sahut anak buahnya.
Mereka sudah siap untuk menculik Qiana mereka mendekati Qiana dari belakang, mereka membius Qiana hingga pingsan agar dia tidak berteriak.
Mereka juga meninggalkan sebuah surat seolah-olah Qianalah yang telah meninggalkan rumah bi Inah. Mereka pun segera menghubungi Faros.
''Halo bos kami sudah mendapatkan wanita itu kemana kami akan membawanya?'' tanya Erik.
''Bawa wanita itu ke markas kalian, biar saya yang datang ke sana,'' ujar Faros mematikan ponselnya.
Erik dan anak buahnya memang bisa di andalkan oleh Faros karena mereka begitu cepat mengerjakan tugasnya dan begitu cepat berhasil.
''Mas Faros ayo makan malam dulu saya sudah siapkan makanannya,'' ujar Siska sang asisten.
''Nanti saya akan makan, saya harus pergi sekarang,'' sahut Faros dan pergi.
Faros melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dia sudah tidak sabar ingin menemui wanita itu, Faros juga sudah menyiapkan pakaian yang sama dengan kejadian malam itu dimana dia melecehkan Qiana.
__ADS_1
''Saya akan membuat mu mati secara berlahan-lahan,'' batin Faros tersenyum miring.
Tidak butuh lama Faros tiba di markas anak buahnya disana mereka sudah menunggu kedatangan Faros.
''Dimana wanita itu?'' tanya Faros yang telah mengganti pakaiannya.
''Ada di dalam bos,'' sahut Erik.
Faros berjalan memasuki markas anak buahnya di sana dia melihat Qiana duduk dengan tangan di ikat dan mata di tutup kain hitam, Faros duduk di depan Qiana dia memakai topengnya, dan segera perintahkan anak buahnya untuk membuka kain hitam yang menutupi mata Qiana.
Qiana membuka matanya perlahan-lahan dia melihat seseorang duduk di depannya, Qiana begitu sangat terkejut melihat orang itu dia masih mengingat pakaian yang dikenakan oleh Faros saat itu.
''Wow ingatan mu cukup kuat juga, apa tadi yang kamu bilang, melepaskan? jawaban ku tidak akan pernah melepaskan! mu,'' sahut Faros.
''Apa salah! ku, sampai kamu melakukan ini kepada ku?'' tanya Qiana dengan suara tinggi.
''Kecilkan suara mu, jangan pernah meninggikan suara mu di depan ku!'' ujar Faros menatap Qiana.
''Setelah aku keluar dari sini aku akan melaporkan kalian semua ke polisi,'' ancam Qiana.
''Silahkan saja! nama saya saja kamu tidak tahu, apa lagi mau melaporkan kami. Jika kamu mengenali kami silahkan saja laporkan, kami tidak takut! dengan ancaman kecil kamu itu!'' ujar Faros.
__ADS_1
Qiana melihat sekelilingnya semua anak buah Faros menggunakan topeng hitam begitu juga dengan Faros. Hingga Qiana tidak bisa mengenali wajah mereka.
..DI TEMPAT LAIN..
BI Inah mencari Qiana kemana-mana begitu juga dengan Dewa mereka sudah mengelilingi satu kampung itu hanya untuk mencari Qiana. Tapi mereka juga tidak menemukannya.
''Kemana? wanita itu pergi,'' batin Dewa. Saat Dewa menundukkan kepalanya tidak sengaja dia melihat selembar kertas dia mulai membaca isi surat tersebut.
''Bibi maafkan Qiana aku harus pergi dari rumah bibi dengan cara diam-diam seperti ini kalau aku memberitahu bibi pasti bibi akan melarang ku pergi, aku hanya ingin pulang ke rumah ku. Terima kasih bibi sudah merawatku selama ini.''
''Dengarkan bi, perempuan yang selama ini bibi rawat dengan baik sudah melarikan diri dari bibi,'' ujar Dewa.
Anak buah Faros benar-benar hebat mereka bisa membuat surat seperti itu, seolah-olah Qianalah yang sudah membuat surat tersebut dan pergi secara diam-diam.
.
.
.
BERSAMBUNG..
__ADS_1