FAROS REVENGE

FAROS REVENGE
Dusta


__ADS_3

''Apa? yang terjadi Kenapa? kamu merusakan ponsel saya?'' tanya Dewa dia melihat Qiana begitu ketakutan menatap ke arah ponselnya,


Dewa mendekati Qiana.


''Jangan mendekat manjauhlah dariku buang ponsel itu dariku!'' teriak Qiana.


''Ada apa? dengan ponsel ini siapa yang sudah bicara dengannya, kenapa dia begitu ketakutan,'' batin Dewa.


Qiana memeluk tubuhnya sendiri dia duduk ketakutan di sudut ruangan.


''Kenapa? kamu begitu takut ini hanyalah sebuah ponsel?'' tanya Dewa.


''Suara itu, aku mengenali suara itu dia yang sudah menghancurkan ku,'' ujar Qiana.


Dewa hanya tersenyum miring melihat Qiana begitu ketakutan setelah mendengar suara orang tersebut, karena Dewa begitu membencinya apapun akan di lakukannya agar Qiana semakin menderita.


Tapi Dewa juga berpikir suara siapa yang membuat Qiana begitu ketakutan dan dia juga sangat mengenali suara tersebut.


''Apa kamu mengenali orang yang sudah bicara dengan mu tadi?'' tanya Dewa mendekati Qiana.


''Tidak aku tidak mengenalinya waktu itu dia menggunakan topeng saat melecehkan ku,'' sahut Qiana.


Dewa melebarkan matanya. ''Pantas saja waktu itu Qiana sangat takut melihatku menggunakan topeng.''

__ADS_1


''Apa? tidak sedikit pun kamu melihat wajahnya atau dia memiliki tanda-tanda lain?'' tanya Dewa dia begitu sangat penasaran siapa pelaku pelecehan itu.


''Tidak ada, tapi waktu itu aku sempat melukai tangannya mungkin luka itu tidak akan hilang sampai kapanpun,'' sahut Qiana.


Dewa berdiri melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


''Apa kamu akan membantu ku untuk menemukan orang itu,'' ujar Qiana menghentikan langkah Dewa.


''Untuk apa aku harus membantu mu, sedangkan aku sangat membenci mu dan keluarga mu,'' sahut Dewa melangkah masuk ke dalam kamarnya.


''Aku masih belum percaya kalau Papa terlibat atas pembunuhan itu, mungkin saja Dewa salah paham kepada keluarga ku,'' batin Qiana.


Qiana tidak tahu apa-apa soal pembunuhan itu maka dari itu dia tidak bisa percaya omongan Dewa kepadanya Qiana hanya tahu kalau keluarganya sangat baik, Karena dia tidak tahu sisi gelap dan kejahatan orang tuanya.


Alvaro Guntur adalah anak laki-laki dari Guntur sudah tiba di rumahnya dia tidak kalah keren dan tampan dari Faros dan Dewa. Dia juga sangat menyayangi adiknya yaitu Qiana putri Guntur.


''Bagaimana Pa, apa? sudah ada kabar dari anak buah Papa, tentang Qiana?'' tanya Alvaro.


Guntur hanya menggelengkan kepalanya memijit kepala yang tidak terasa sakit.


''Apa? Papa sudah lapor polisi tentang semua ini?'' tanya Alvaro.


''Papa kamu tidak mengizinkan kita lapor ke polisi,'' sahut Zera Mama Alvaro.

__ADS_1


''Kenapa? Pa, kenapa Papa tidak mengizinkan untuk lapor polisi?'' tanya Alvaro lagi dia terus bertanya kepada Guntur.


''Tidak Papa tidak mau melaporkan semua ini kepada polisi, biarkan anak buah Papa yang mencarinya,'' ujar Guntur.


Guntur tidak mau anak-anaknya tahu tentang masa lalunya yang telah membunuh kakak angkatnya sendiri.


''Kalau Papa tidak mau melaporkan ke polisi, aku akan minta bantuan kepada Faros dia pasti akan membantu kita, dia memiliki banyak anak buah,'' ujar Alvaro.


''Tidak jangan, Papa tidak setuju kamu meminta bantuan kepada keluarga itu,'' ujar Guntur.


''Kenapa?'' tanya Alvaro.


''Aku akan mencari akal agar Alvaro tidak pergi ke rumah itu,'' batin Guntur.


''Karena Om kamu sudah mengusir Papa dia tidak mau membantu Papa saat Papa dalam ke susahan waktu itu, dia tidak mau lagi menganggap Papa sebagai adiknya lagi,'' ujar Guntur memutar balikan fakta atas apa yang sudah dia lakukan kepada keluarga Yusuf Adijaya.


.


.


.


.

__ADS_1


. BERSAMBUNG...


__ADS_2