
''Bibi lihatkan kelakuan wanita itu pergi tanpa memberitahu kita, percuma aku selamatkan dia yang tidak tahu terima kasih!'' ujar Dewa melempar surat itu ke tanah.
Bi Inah duduk sebuah kursi diluar rumahnya.
''Saya tahu Qiana tidak bersalah dengan semua ini yang bersalah adalah orang tuanya, tapi kenapa? dia pergi dengan cara diam-diam seperti ini,'' batin bi Inah.
''Sudahlah bi, gak perlu bibi ingat-ingat lagi wanita itu dia sudah pergi,'' ujar Dewa sambil memberikan segelas air putih kepada bi Inah.
''Tapi kok perasaan bibi gak enak ya den, apa benar mba Qiana pulang ke rumahnya atau dia di cuklik sama orang yang waktu itu yang datang kemari?'' tanya bi Inah.
''Kalau dia di cuklik ya bagus lah bi, ngapain kita harus memikirkan dia lagi biarin saja dia di cuklik,'' sahut Dewa.
''Aden tidak boleh bicara seperti itu, yang salah itu orang tuanya mba Qiana itu gak tahu apa-apa untuk apa kita harus membencinya,'' ujar bi Inah.
''Sekarang dia sudah pergi bi, tapi bibi masih saja membelanya,'' sahut Dewa bangkit dari tempat duduknya dan pergi.
Siang harinya, Dewa memasukkan pakaiannya ke dalam tas ranselnya dia ingin pulang ke rumahnya di kota.
''Bibi,'' panggil Dewa.
Saat itu bi inah sedang menyiram tanaman bunganya.
''Aden mau kemana? kok bawa tas juga?'' tanya bi Inah.
__ADS_1
''Maaf bi aku harus pulang sekarang, kak Faros menyuruh aku pulang ke rumah,'' ujar Dewa.
Mata bi Inah mulai berkaca-kaca.
''Apa aden masih marah sama bibi maka dari itu aden pergi?'' tanya bi Inah dengan air mata yang sudah mengalir.
''Ngak bi aku gak marah sama bibi, tapi aku memang harus pulang karena kak Faros sudah membelikan aku sebuah rumah di kota sayang jika tidak tepati,'' ujar Dewa.
''Baiklah den, jika itu yang aden inginkan,'' sahut bi Inah.
''Tapi bibi harus ikut dengan ku, karena rumah itu juga di beli kakak untuk kita berdua,'' ujar Dewa.
''Tapi den..'' Bi Inah menghentikan perkataannya.
''Baiklah den, bibi akan mengemas barang-barang bibi,'' sahut bi Inah.
Dewa menunggu bi Inah di luar rumah, tidak lama bi Inah kembali keluar rumah dengan membawa barang-barangnya.
..DI KEDIAMAN KELUARGA GUNTUR..
Keluarga itu sedang sarapan bersama tapi Zera tidak selera memakan sarapannya karena dia begitu khawatir dengan keadaan Qiana putrinya itu.
''Ma kenapa Mama gak makan?'' tanya Alvaro.
__ADS_1
''Bagaimana Mama bisa makan sedangkan adik kamu saja sampai sekarang belum ada kabarnya entah apa yang akan terjadi sama dia di luar sana,'' ujar Zera.
''Mama tenang saja aku akan mencari Qiana sampai ketemu,'' sahut Alvaro.
''Ke mana kamu akan mencari Qiana, sedangkan anak buah Papa kamu saja tidak bisa menemukannya,'' ujar Zera.
''Kemana saja Ma, bahkan kepelosok desa sekalipun aku akan mencari Qiana,'' sahut Alvaro.
...MARKAS ANAK BUAH FAROS...
''Cepat makan!'' bentak Erik.
''Saya tidak akan makan sebelum kalian melepaskan! saya,'' sahut Qiana.
''Hahaha... Kamu tidak akan pernah lepas dari sini tidak akan pernah,'' sahut Erik.
''Saya pasti akan keluar dari tempat ini, dan kalian semua akan saya laporkan ke polisi,'' ujar Qiana.
.
.
BERSAMBUNG..
__ADS_1