
Alvaro keluar dari hotel tersebut dengan wajah marah, wanita itu juga mengikutinya keluar dari hotel itu, saat Alvaro sampai diluar hotel dia menunggu sebuah taksi, tiba-tiba wanita itu memegang tangan Alvaro agar dia tidak pergi meninggalkannya.
''Lepasin! gue,'' ujar Alvaro menarik tangannya.
''Kamu tidak bisa ninggalin aku begitu saja kamu harus bertanggung jawab atas semua ini,'' ucap wanita itu.
''Apa? lo bilang tangung jawab, atas dasar apa gue harus tanggung jawab sama lo ha?'' tanya Alvaro menatap tajam ke arah wanita itu.
''Pokonya kamu gak boleh ninggalin aku,'' ucap wanita itu.
''Dengar yah, wanita penggoda gue tidak akan bertanggung! jawab atas semua ini, karena gue gak salah!'' ujar Alvaro.
Sebuah taksi pun mendekati mereka.
''Taksi pak,'' ujar Alvaro yang segera masuk kedalam taksi tersebut dia meninggalkan wanita itu sendiri di depan hotel itu.
Alvaro sampai ke rumahnya dia langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menyapa kedua orang tuanya.
BLAM.. hempasan pintu yang begitu kuat membuat Guntur dan Zera kebingungan kenapa Alvaro sampai segitu marahnya.
Tidak lama sebuah pesan masuk kedalam ponsel Guntur dia langsung melihat ponselnya.
''Pesan dari siapa Pa?'' tanya Zera.
''Gak tahu Ma,'' sahut Guntur.
Saat dia membuka pesan tersebut mata Guntur langsung melebar seakan jatuh dari tempatnya dia melihat foto-foto Alvaro yang sedang tidur dengan seorang wanita.
__ADS_1
''Apa-apaan ini!'' ucap Guntur matanya mulai memerah seakan ingin membanting ponselnya saat itu juga.
''Ada apa Pa?'' tanya Zera yang masih belum tahu apa isi pesan itu.
Guntur mendorong ponselnya ke arah istrinya Zira pun tidak kalah terkejutnya melihat pesan tersebut.
''Apa ini Pa, ini sangat menjijikan sekali!'' ujar Zera.
''Tanya sama anak mu sekarang juga, siapa wanita itu kenapa dia tidur dengan wanita seperti itu!'' ucap Guntur.
.....KEDIAMAN KELUARGA YUSUF ADIJAYA.....
Faros begitu bahagia setelah mengirimkan foto-foto itu kepada Guntur.
''Guntur-Guntur kau akan hancur dengan sendirinya, saya hanya sedikit berperan dalam cerita ini, anak mu lah yang akan menghancurkan mu!'' ujar Faros sambil tersenyum miring dia begitu puas malan itu.
Tring.. panggilan telepon dari anak buah Faros.
''Bos kami sudah berada di rumah bibi Anda bos, tapi kami belum bisa melihat siapa yang berada di dalam rumah itu,'' ujar Erik.
''Bagus sebaiknya kalian terus memantaunya, Apa kalian melihat Dewa di rumah itu?'' tanya Faros.
''Ada bos dia baru saja pulang dari tempat kerjanya,'' sahut Erik.
''Tempat kerja, kerja apa dia?'' tanya Faros lagi sambil berdiri dari duduknya.
''Sebagi pengantar bunga bos, tadi saya juga melihatnya,'' ujar Erik.
__ADS_1
''Baik, kalian kerjakan saja apa yang saya perintahkan cari tahu siapa orang yang berada di rumah itu, kalau perlu kalian ambil fotonya dan kirim kepada saya,'' ujar Faros mematikan ponselnya.
...DI RUANG BI INAH..
Qiana semakin. Depresi dia selalu mengingat tentang kejadian itu dia melempar semua barang-barang di dalam kamar itu.
''Den tolong den mba Qiana teriak-teriak,'' ujar Bi Inah.
Dewa membuka pintu kamar dengan paksa dia menendang pintu itu hingga terbuka lebar. Dewa melihat kamar itu sudah sangat berantakan karena ulah Qiana.
''Apa-apaan ini haa. Berani sekali lo berantakin kamar bibi gue!'' ujar Dewa sambil memegang tangan Qiana dengan erat.
''Lepaskan! aku,'' teriak Qiana menarik tangannya dari genggaman tangan Dewa. Tapi Dewa tidak melepaskan genggamannya dia terus memegang tangan Qiana dengan erat hingga Qiana merasa sakit di pergelangan tangannya.
''Lepaskan! aku tanganku sangat sakti,'' ujar Qiana.
Dewa hanya menatap lurus ke arah Qiana tanpa melepaskan genggamannya.
''Kenapa? kamu begitu jahat kepada ku?'' tanya Qiana.
''Diam, jangan berteriak di rumah orang, jika saya mendengar kamu berteriak lagi disini saya akan cabut lidah mu agar kamu tidak bisa berteriak lagi!'' ujar Dewa dengan mata memerah.
.
.
.
__ADS_1
.
. BERSAMBUNG...