
Orang itupun membawa Qiana pergi ke tempat yang sudah di janjikan oleh Faros kepada orang suruhannya itu.
''Mas kok kita berhenti di sini?'' tanya Qiana sambil melihat kiri dan kanan tempat itu.
''Maaf mbak kita turun dulu disini, itu rumah saya. Saya ingin memberikan ibu saya obat karena ibu saya lagi sakit,'' ucap orang itu tersenyum ke arah Qiana.
''Ya udah mas, tapi nanti tolong antarkan saya pulang ya mas,'' ucap Qiana.
Orang itu Menganggukkan kepalanya, mereka pun sampai di depan pintu. setelah sampai di dalam rumah tersebut rumah itu terlihat sangat gelap seperti tidak ada yang menyalakan lampu di dalamnya.
''Mas kok rumah mas gelap begini?'' tanya Qiana.
''Gak apa-apa kok mbak, ayo masuk dulu mbak biar saya nyalakan lampunya,'' Jawab orang itu.
setelah pintu di buka, orang itu langsung mendorong tubuh Qiana ke dalam rumah tersebut. Rumah itu benar-benar sangat gelap.
''Mas buka pintunya kenapa kamu mendorong saya ke dalam rumah ini, buka pintu ini!'' teriak Qiana.
Tetapi orang itu tidak mempedulikan teriakan Qiana di dalam rumah itu. Orang tersebut langsung pergi meninggalkan Qiana sendiri di rumah yang gelap.
__ADS_1
''Tolong! siapapun yang ada diluar sana tolong aku!'' Qiana terus berteriak dia menangis.
''hisk hisk hisk, siapa yang berbuat semua ini kepada ku?'' Qiana bicara sendiri di rumah itu.
Tiba-tiba lampu menyala. Qiana pun membalikkan badannya menoleh ke belakang dia melihat seseorang laki-laki yang sudah duduk di belakangnya dengan kaki yang diletakkan di atas kaki yang satunya dia menatap lurus ke arah Qiana, yang masih berdiri di depan pintu. laki-laki itu menggunakan topeng.
''Siapa kamu? kenapa kamu selalu mengikutiku aku tidak mengenali kamu!'' ucap Qiana.
Dengan terpaksa Faros membuka topengnya meskipun topeng itu sudah di buka. Tapi Qiana tetap tidak mengenali siapa Faros, Karena mereka tidak pernah ketemu meskipun orang tua mereka saudara angkat.
''Siapa kamu sebenarnya? kenapa kamu menginginkan ku?'' tanya Qiana sambil menyeka air matanya.
''Lepaskan! tangan ku sakit!'' ucap Qiana menarik-narik tangannya.
Faros tersenyum melihat Qiana meronta-ronta dan kesakitan seperti itu, ''Ini semua tidak lebih sakit seperti yang aku rasakan selama ini.'' Faros menarik tangan Qiana keluar dari rumah itu menuju mobilnya.
''Masuk!'' Faros mendorong tubuh Qiang ke dalam mobil.
''Kamu akan membawa ku ke mana?'' tanya Qiana.
__ADS_1
Tapi Faros tidak mempedulikan dirinya, Faros menyalakan mobilnya dan melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu.
''Jawab aku kau akan membawa ku ke mana? punya mulutkan jawab dong!'' teriak Qiana.
''Diam!'' ucap Faros.
Tidak lama mereka pun sampai di sebuah rumah mewah ternyata Faros membawa Qiana ke rumahnya dia mendorong Qiana masuk ke dalam rumah itu.
''Ini rumah siapa?'' tanya Qiana.
Tapi Faros tidak mempedulikannya, Qiana merasa takut melihat tingkah Faros. Yang terus mendekatinya di ruangan itu.
''Ini adalah rumah ku, dan kamu harus tinggal disini selamanya kau harus menjadi pelayan ku, paham!'' Faros menatap Qiana.
''Tidak! itu tidak akan terjadi aku tidak mau menjadi pelayan mu!'' ucap Qiana.
''Kau pikir saya peduli dengan ucapan kamu itu, tidak sama sekali. Dan kau akan tetap tinggal di sini!'' ucap Faros sambil melangkahkan kakinya pergi dari ruangan itu.
Qiana hanya meratapi kesedihannya di ruangan tersebut dia tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk bisa pergi dari laki-laki itu yang selalu menyakitinya.
__ADS_1
''Bagaimana pun juga aku harus bisa pergi dari sini sejauh mungkin, apa pun yang terjadi aku sudah tidak peduli!'' ucap Qiana.