FAROS REVENGE

FAROS REVENGE
ke marahan dewa


__ADS_3

Sore itu Faros menghubungi Dewa bahwa dia mau pergi ke rumah bi Inah bersama anak buahnya.


''Iya halo tumben lo telepon gue ada apa?'' tanya Dewa dari seberang ponsel.


''Emangnya gak boleh seorang kakak pengen tahu kabar adiknya,'' sahut Faros.


''Boleh,'' sahut Dewa singkat.


''Nanti malam saya mau pergi kesana ketemu kamu sama bibi,'' ujar Faros.


Dewa merasa takut jika Faros datang dan melihat perempuan itu dan dia juga khawatir kalau kakaknya itu mengenali Qiana.


''Kenapa? diam?'' tanya Faros.


''Enggak apa-apa nanti gue kasih tahu bibi kalau lo mau kesini, jam berapa lo datang?'' tanya Dewa.


''Jam 8.00 malam nanti saya datang bersama anak buah saya,'' ujar Faros.


''Oke,'' sahut Dewa sambil mematikan ponselnya.


Dewa Segera masuk ke dalam rumah dia ingin mengatakan bahwa Faros akan datang kepada bi Inah. Saat itu bi Inah berada di kamar bersama Qiana.


''Ada apa? den?'' tanya bi Inah yang sedang memeluk Qiana karena takut akan kedatangan Dewa.


''Aku mau bilang kalau kak Faros akan datang nanti malam kemari,'' ujar Dewa.


''Baiklah den nanti bibi akan siapkan makanan kesukaan den Faros,'' sahut bi Inah.


''Dan lo jangan pernah keluar kamar sebelum kakak gue pergi dari sini ingat itu!'' ujar Dewa kepada Qiana agar dia tidak keluar saat Faros berada di rumah.


''Aden kenapa? aden bicara seperti itu dia pasti akan semakin takut kalau aden ngomong begitu,'' ujar bi Inah.


Bi Inah belum mengetahui bahwa Qiana adalah anak dari Guntur yang sudah membunuh keluarganya Dewa maka dari itu bi Inah begitu menyayangi Qiana.


''Sudahlah bi dengarkan saja apa yang aku katakan ini semua demi kebaikan kita jika kak Faros tahu kalau kita menyimpan seorang wanita di rumah dia pasti akan marah besar kepada ku,'' ujar Dewa.


''Baiklah den, bibi akan mendengar apa yang aden katakan,'' sahut bi Inah sambil mengusap-usap wajah Qiana.


Bi Inah pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Faros yang akan datang sebentar lagi, Dewa kembali masuk ke dalam kamar Qiana.


'Hai! lo masih ingat apa yang gue bilang, jangan keluar sebelum kakak gue pulang lo harus diam di kamar ini kalau lo sampai keluar dari kamar ini ingat gue habisi lo,'' ujar Dewa menatap lurus ke mata Qiana.


Qiana hanya mengangguk dan takut dengan ancaman Dewa kepadanya dia memanggku tubuhnya dengan kuat.


******


Malam itu Faros dan anak buahnya datang ke rumah bi Inah mereka membawa banyak oleh-oleh untuk bi Inah, Dewa hanya berdiri di samping pintu dia begitu cemas karena kakaknya membawa banyak anak buah.

__ADS_1


''Lo kesini bawa anak buah, kayak mau ngerampok tahu gak banyak banget,'' ujar Dewa.


''Karena saya juga lagi mencari seseorang makanya saya bawa anak buah,'' sahut Faros.


''Siapa?'' tanya Dewa mengerutkan keningnya merasa khawatir.


''Ada nanti kalau sudah dapat saya kabari kamu siapa yang sedang saya cari,'' ujar Faros.


Bughh!....


Suara benda jatuh dari kamar Qiana.


''Suara apa itu bi?'' tanya Faros.


''Itu den ada...


''Kucing,'' sahut Dewa dengan cepat agar bi Inah tidak memberi tahu kalau ada orang lain di dalam kamar.


''Kucing kok tidak ada suaranya,'' ujar Faros melangkahkan kakinya menuju kamar Qiana.


''Kakak ayo kita makan tadi bibi sudah masak buat kakak, bi Inah sayang banget ya sama kakak sampai di masakin makanan,'' ujar Dewa sambil menarik tangan Faros agar dia tidak mendekati kamar itu.


Membuat Faros curiga dengan kamar itu dan juga dengan sikap Dewa yang tidak pernah seperti itu.


Faros mengirimkan sebuah pesan singkat kepada anak buahnya untuk memeriksa kamar itu ada apa di dalam kamar tersebut.


Erik segera pergi dari kamar tersebut menunju halaman rumah dia melihat ke arah Faros sambil menganggukkan kepalanya bawah dia melihat seseorang.


''Bibi sepertinya aku harus pergi sekarang ada pekerjaan mendadak,'' ujar Faros.


''Baiklah den hati-hati dijalan,'' sahut bi Inah.


Dewa dan Faros berpelukan tidak lama Faros pun pergi dengan mobilnya.


Dengan cepat Dewa pergi ke dalam rumah dia menarik tangan Qiana menyeretnya ke ruangan.


Qiana hanya bisa menangis melihat perlakuan Dewa terhadapnya yang begitu kasar.


''Gue sudah bilang jangan lakukan apapun di kamar itu yang membuat kakak gue curiga!'' ujar Dewa dengan marah.


Bi Inah pun segera datang untuk membela Qiana dia langsung memeluknya.


''Ada apa ini den? kenapa? aden begitu kasar sama wanita,'' ujar bi Inah.


''Aku membencinya bi, aku sangat membencinya!'' teriak Dewa dia benar-benar sangat membenci Qiana.


''Apa? salah ku sampai kamu membenci ku seperti ini?'' tanya Qiana dengan isak tangisnya.

__ADS_1


''Kau mau tahu kenapa? saya sangat membenci kamu,'' ujar Dewa sambil menarik rambut Qiana ke belakang.


''Sudah den lepaskan! mbak Qiana den lepaskan!'' ujar bi Inah.


''Bibi tidak tahu siapa dia bi, dia ini anak pembunuh keluarga ku bi!'' ujar Dewa.


Membuat bi Inah melebarkan matanya dan melepaskan pelukannya dari Qiana.


''Tidak orang tua ku bukan pembunuh orang tua ku orang baik bukan pembunuh seperti yang kamau katakan,'' sahut Qiana.


''Kamu tahu apa tentang keluarga kamu itu, orang tua kamu itu sudah membunuh keluarga ku Papaku Mamaku adikku. Sudah di habisi oleh Guntur,'' ujar Dewa benar-benar sangat marah.


''Bibi tidak percaya ini, aden tahu dari mana?'' tanya bi Inah masih tetap tidak percaya.


Dewa menyerahkan sebuah foto dan sebuah poster yang dia temukan di jalanan.


''Lihat bi, bibi lihat baik-baik dia adalah anak pembunuh itu,'' ujar Dewa.


....DI TEMPAT LAIN....


Faros masih di dalam mobilnya bersama anak buahnya.


''Apa yang kamu lihat di kamar itu?'' tanya Faros.


''Saya hanya melihat seorang wanita bos tapi saya tidak tahu siapa dia, karena saat itu dia sedang tidur bos,'' sahut Erik.


''Baiklah kalian harus mencari tahu siapa wanita itu,'' perintah Faros.


''Baik bos kami akan mencari tahunya,'' sahut Erik.


''Apakah Dewa menyelamatkan wanita itu apa Dewa mencoba berkhianat kepada kakaknya sendiri, tidak itu tidak mungkin,'' batin Faros.


Faros kembali ke rumahnya dia membuat rencana baru untuk menghancurkan keluarga Guntur dengan cepat.


Malam itu Faros menghubungi polisi untuk segera menangkap Guntur dan anak buahnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2