Fatur & Rina

Fatur & Rina
pembulian


__ADS_3

"gue sadar kok posisi gue cuma anak baru yang baru masuk. Tapi bukan berarti gue tega biarin temen gue di buly!" Rina berucap tanpa rasa takut.


"Temen lo bilang? Lo aja gak kenal siapa dia! Dia itu anak pelacur!"


Rina menghela nafas, "apapun pekerjaan orang tuanya, kita gak ada hak untuk ngebuly anak nya! Boleh aja kita mengingatkan, tapi bukan berarti mengingatkan dengan cara membuly!"


"Alah mending lo minggir deh, gue gak mau berurusan sama anak pindahan dari sekolah pembuangan! SMA 18 kan?"


"Anak-anak di SMA 18 lebih sopan dari pada di sini! Di sana gak ada sistem bully kayak gini. Ini sekolah yang lo junjung tinggi? Orang-orang kayak lo gini nih yang biasanya suka rusak nama sekolah."


"Diem lo bangsat!" Bella mengayunkan tangannya tapi tangannya di tahan oleh Fathur. Mata elang Fathur tampak menyeramkan.


"Mau jadi jagoan? Bukan di sini tempatnya!" Fathur berucap dengan nada dingin.


"Lepasin tangan gue!" Fathur melepaskan tangan Bella.


"Awas lo!" Setelah mengancam Rina, Bella pergi bersama geng nya.


"Makasih, lo udah nolongin gue." ucap gadis berkacamata.


"Lo jangan mau di bully, kalo dia berulah lagi lo bisa ngelawan jangan takut! Gapapa." Rina memberikan kacamata perempuan yang baru ia tolong.


"Makasih, lo orang pertama yang nganggep gue temen. Oh iya kenalin nama gue Luna." Luna mengulurkan tangannya seraya mengambil kacamata nya dari tangan Rina.


"Gue Rina, kita temen sekarang. Lo jangan sungkan minta bantuan sama gue."


"Iya,"


Fathur masih di sana memperhatikan Rina. Dia tidak menyangka kalau Rina akan seberani itu.


"Lo kenapa masi di sini?" Rina menatap sinis Fathur.


"Ayo gue anter, lo pasti nyasar karena gak tau jalan."


"Gak usah sok peduli!"


"Terserah!" Fathur pergi meninggalkan Rina bersama Luna.


"Lun, jangan terlalu di pikirin perkataan Bella. Emm maaf walau mungkin perkataan nya bener, tapi lo gak salah kok. Lo juga gak mau kan ibu lo kerja begitu? Dan lo gak bisa apa-apa, jadi ini bukan salah lo, jangan benci sama ibu lo. Dia pasti punya alasan kenapa ngelakuin hal itu."


Luna mengehela nafas jengah, "iya Rin, sekali lagi makasih. Ayo gue anter, lo kelas berapa?"


"Gue kelas 11 IPA 1, lo sendiri?"

__ADS_1


"11 IPA 6."


"Owh haha kelas kita lumayan jauhan ya?"


"Iya, ayo gue anter." Luna mengantar Rina ke kelasnya.


 


Sepulang sekolah, Rina keluar kelas paling akhir. Seharian tak ada yang mau mengajaknya bicara di kelas. Fathur juga mengabaikan Rina, di sekolah mereka seperti orang yang tidak saling mengenal.


"Rina lo balik sama siapa?" tanya Luna menghampiri Rina.


"Sama Fat- Naik ojek! Ahaha iya naik ojek." Rina spontan mengubah kalimat nya.


"Owh gitu, gue balik duluan ya? Gapapa kan?"


"Iya gapapa, hati-hati ketemu Bella."


"Iya Rin, bay.." Luna melambai kepada Rina. Rina membalas lambaian tangan Luna.


Rina jalan sendirian di koridor sekolah, dia jalan melewati tangga, di penghujung tangga tiba-tiba Bella datang dan mendorong nya. Rina tersungkur di atas lantai, seperti nya kakinya keseleo.


Rina mengatupkan bibirnya, memutar bola matanya ke samping lalu menatap Bella. "Mau cari gara-gara sama gue?"


"Ups sorry gue gak sengaja." Bella jalan tanpa rasa bersalah lalu menginjak tangan Rina.


"Anak baru ngapain lo di sini?" tanya Margin melihat Rina duduk di atas lantai. "Minta sumbangan?"


"Sembarangan! Gue jatuh bego."


"Oh sini gue bantu," Margin mengulurkan tangannya.


"Tapi kaki gue ke seleo."


Fathur lewat di sebelah mereka. "Eh Fathur mau kemana? Bantuin dulu si anak baru!" ucap Margin menarik lengan seragam sekolah Fatur.


"Kenapa lagi sih ni anak?" kesal Fathur.


"Lo gak liat dia lagi minta sumbangan? Eh abis jatoh? bantuin kakinya sakit tuh."


Sebenarnya Fathur enggan membantu Rina, tapi berhubung ini permintaan Margin, terpaksa dia mau membantu dengan menggendong Rina ala-ala bridal style.


Fathur membawa Rina ke motor di ikuti oleh Margin. "Biar gue anter balik ni anak." ucap Fathur dingin.

__ADS_1


"Oke hati-hati, pelan-pelan bawa nya, anak orang ini."


"Iya,"


Fathur mengendarai motornya dengan kecepatan 60. Sepanjang jalan Rina memandangi kaki nya yang semakin membengkak karena terkilir.


Setiba nya di rumah, Fathur lagi-lagi mengangkat Rina dengan gaya yang sama. Dia mendudukkan Rina di sofa ruang tamu. Fathur pergi ke dapur dan memecahkan es batu, dia meletakkan pecahan es batu ke dalam kain lalu membawanya kembali kepada Rina.


"Mana kaki lo,"


Rina mengangkat kakinya dengan perlahan karena rasanya sakit ketika di gerakkan. Fathur meletakkan kain berisi es batu ke kaki Rina yang membengkak.


"Emang menpan? Setau gue kalo keseleo itu biasanya di urut."


Fathur mendengus, "yaudah ayo ke tukang urut!" Lagi-lagi terpaksa Fathur menggendong Rina. Fathur membawa Rina ke tempat urut langganan ibu nya walau jaraknya cukup jauh dari rumah mereka.


 


"Malem ini kita nginep di rumah mama gue!" ucap Fathur saat mereka hendak pulang dari tukang urut.


"Kenapa? Gue gak mau nginep di sana!"


"Nurut aja! Gue gak mau repot ngurusin lo! Besok lo istirahat aja di rumah sampe kaki lo benar-benar sembuh."


"Tapi_


"Udah ayo nginep di rumah mama gue." Fathur menyalakan motornya lalu mengendarainya hingga tiba di gerbang rumah nya yang tertutup rapat.


"Please jangan nginep di sini." Rina memasang wajah memelas. "Gue janji deh gak bakal ngerepotin elo."


Fathur melihat wajah memelas Rina dari kaca spion motornya, dia tau pasti Rina canggung karena belum akrab dengan mamanya. Dengan terpaksa Fathur kembali menyalakan motornya dan menjalankan motor tersebut hingga tiba di rumah.


Saat tiba hari sudah gelap, adzan Maghrib pun sudah berkumandang. Rina sudah bisa jalan sendiri walaupun terpincang-pincang. Pergelangan kakinya masih bengkak dan terasa nyeri.


~kruk.. suara perut Rina kelaparan satu hari belum di isi.


Fathur geram, kenapa hari ini Rina menjadi bebannya. "Duduk diem gue beliin makan!" kesal Fathur lalu kembali pergi.


Rina yang lapar dan juga mengantuk menahan diri untuk tidak tidur karena hari sudah larut.


 


Setelah membeli nasi goreng dan nasi campur di warung makan depan komplek, Fathur kembali ke rumah. Fathur melakukan semua itu dengan tidak ikhlas dan terkesan terpaksa.

__ADS_1


"Nih makan!" Fathur sudah menyajikan nasi goreng di atas piring.


"Makasih." ini pertama kalinya Rina berterima kasih kepada suaminya. Rina pun melahap nasi gorengnya, dan Fathur melahap nasi campur milik nya.


__ADS_2