
Fatur menyembunyikan wajah nya melihat kedatangan Zaki. Kejadian kemarin masih membuatnya malu dan hal itu tak lepas dari pandangan teman-teman nya terutama Martin yang duduk di samping kanan nya (Rina samping kiri)
"Udah tur gapapa, temen-temen juga tau kok kalo keahlian lo bukan di bidang bela diri." Bisik Martin.
"Iya tur, santai aja." Marvel menimpali. Oh iya, Marvel duduk di belakang Fatur.
Tangan Fatur mengepal tapi dia tidak berniat bahkan tidak ingin berkelahi lagi sampai dirinya jago bela diri.
Jam istirahat.
Rina bergegas mencari Luna, dia takut Luna di ganggu lagi oleh Bella. Dan benar saja, kini Luna berada di tempat biasa Bella membuly nya.
"Gak capek-capek ya tiap hari gangguin anak orang!" Rina memecah lingkaran dan menyuruh Luna berdiri.
"Woah, si pahlawan kesiangan dateng lagi. Udah sembuh?"
"Seperti yang lo liat! Ayo lun." Rina menarik tangan Luna.
"Lo pikir bisa pergi semudah itu?"
"Mau adu tonjok ayo?" Rina menantang Bella, dia tidak takut berkelahi dengan Bella.
"Rin jangan." Luna memegangi lengan Rina.
"Tenang aja lun, kalo gak ngelawan kita bakal di tindas terus." Rina menatap sangar Bella. "Kalo gue mau, gue bisa ambil posisi lo!"
Bella tercengang mendengar penuturan Rina. "Gampang banget buat rebut posisi lo! Mau nyoba?"
Bella yang merasa terancam segera pergi, padahal Rina tidak serius dengan ucapan nya. Rina juga sama sekali tidak bisa berkelahi.
Rina tersenyum hangat kepada Luna. "Gapapa, gue akan selalu ada di pihak lo Luna."
"Lo beneran bisa bela diri?"
Rina melihat geng Bella sudah tidak ada lagi. Lalu dia berbisik ke telinga Luna. "Gak bisa hehe. Gue cuman ngancem aja sih eh dia percaya."
"Ya ampun." Luna tak percaya dengan jawaban Rina.
"Haha, kantin yuk Lun."
"Ayok."
Mereka berjalan bersama, Luna merasa aman berada di dekat Rina. Luna bersyukur Rina datang ke-kehidupan nya.
Di sisi lain, Fatur bersama Martin dan Marvel tengah berada di kantin.
Martin tau Fatur ingin bisa bela diri agar kejadian kemarin tidak terulang.
__ADS_1
"Cariin gue guru bela diri!"
"Bisa aja sih, bokap gue jago bela diri. Mau belajar sama bokap gue?"
"Boleh juga." jawab Fatur penuh antusias.
"Oke. Asal lo harus kuat mental, soalnya didikan nya keras."
"Iya."
... ...
...****************...
Setiap hari Fatur rajin pergi bersama Martin. Martin membawa Fatur ke guru bela diri yang memang handal. Dan guru itu adalah ayah Martin sendiri. Ayah Martin jago bela diri karena dahulu dia merupakan preman pasar.
Hari ini hari ke 10 Fatur di latih bela diri oleh Robert ayah Martin. Dan karena ulah Fatur, sampai-sampai Martin juga harus belajar bela diri bersama Fatur.
Fatur tengah di latih bersama Martin. Fatur latihan dengan serius walau awal-awal dia sering di omeli karena salah gerakan dan terkesan lamban.
Tak segan-segan Robert memukul Fatur jika pemuda itu melakukan kesalahan. Sampai hari ini Fatur masih payah dalam bela diri.
"Tangan nya di lurusin!" Robert berucap dengan tegas.
Fatur mengikuti arahan yang di katakan oleh Robert. Sebenarnya badan nya sakit-sakit karena sering kali di kasari oleh Robert.
Fatur dan Martin di izinkan beristirahat sebentar. Mereka duduk berdua di bawah pohon karena kelelahan.
"Lagian ngapain juga sih lo nekat belajar ginian!" Martin berucap dengan ngos-ngosan. "Udah paling pas tuh lu jadi anak ambis. Terpintar di kelas, gak usah belajar bela diri segala. Entar lo terlalu sempurna men, takutnya cewek-cewek pada insecure ngerasa gak pantes buat lo."
Fatur tak peduli, dia mengabaikan ucapan Martin dan kembali meneguk akua gelas nya.
"Gue lakuin ini juga demi dapetin cewek yang gue suka."
"Mana ada sih cewek yang gak mau sama lo? Ganteng iya, kece iya, pinter iya, kaya juga iya."
"Lo gak perlu tau!" Fatur kembali berdiri, dia sudah siap kembali berlatih.
Rina sedang menyiram tanaman, dia sudah lebih rajin dari sebelumnya. Ini hari ke 17 dia tinggal di rumah nya bersama Fatur.
Rina menyirami tanaman nya dengan penuh kegembiraan, sambil sesekali bersenandung menyanyikan lagu kesukaan nya.
"Woi kakak jelek!"
Rina terdiam sebentar, sebelum akhir nya membalikkan badan dan mendapati Zaka datang membawa ketapel. "Eh ada bocil kematian."
__ADS_1
"10 hari yang lalu kakak udah usilin aku! Sekarang ku bales nih." Zaka berniat menggunakan ketapel itu untuk memukul Rina menggunakan kerikil. Tapi dia tidak tau cara menggunakan ketapel.
"Alah, gak bisa main ketapel aja sok-sokan mau ganggu gue. Sini gue ajarin." Rina berjalan mematikan keran air terlebih dahulu lalu datang menghampiri Zaka.
"Siniin ketapel nya, gue praktekin cara pake nya." Rina mengambil ketapel dari tangan Zaka.
"Jadi ini fungsinya buat narok kerikil. Kerikilnya di masukin di sini." Rina menjelaskan kepada Zaka. "Kalo udah di tarik, terus lepasin." Kerikil yang ada di dalam ketapel terpental jauh.
"Wahh kerenn."
"Mau coba enggak?"
"Mauu.." Zaka mencoba sendiri tapi masih di pegangi oleh Rina. "Biar aku sendiri kak!"
"Iya deh." Rina melepaskan tangannya.
Zaka mulai menarik karet ketapelnya, lalu dia melepaskan pegangannya membuat batu yang ada di ketapel terpental walau tidak jauh.
"Pinter juga lu cil-cil."
"Zaka gitu loh."
"Iyain deh zakat."
"Zaka!"
Rina terkekeh geli, dia heran kenapa ingatan Zaka sangat tajam sehingga mengingat balas dendam nya meski sudah 10 hari berlalu.
Brum.. Fatur tiba-tiba pulang, membuat Zaka keheranan.
Rina melihat wajah Fatur terutama di bagian tulang pipi memar lagi. "Pulang sana cil, dia galak entar di makan mau?"
Zaka menggeleng kemudian berlari ngibrit pulang ke rumah nya. Rina lagi-lagi terkekeh geli melihat tingkah adik Zaki yang cukup menggemaskan.
Setelah itu Rina berjalan menghampiri Fatur. "Belum bosen? Tiap pulang mukanya bonyok terus." Rina berdiri di depan Fatur yang sedang buka kos kaki.
"Cerewet! Siapin salep yang kemarin."
"Ada di meja, entar gue olesin." Rina masuk lebih dulu di susul oleh Fatur.
Setelah mandi Fatur turun menggunakan pakaian rumahan. Di bawah Rina telah menunggunya.
"Sini gue salepin."
Fatur duduk di sofa. Seperti biasa Rina selalu mengoles kan salep ke wajah Fatur yang memar. Mereka sudah terbiasa saling membantu seperti itu. Bagaimana tidak, tinggal di satu atap yang sama mengharuskan mereka saling membantu dan sering berinteraksi. Lagi pula mereka juga satu sekolah.
"Udah terlanjur bonyok, rugi kalo gak jago." ucap Rina setelah selesai mengolesi salep ke wajah Fatur.
__ADS_1