
Fatur meletakkan kain berisi es di pipinya yang lebam. Hal itu tidak lepas dari perhatian Rina.
"Udah tau gak bisa bela diri, masi aja sok-sok an berkelahi. Eh btw makasih semalem lo nolong gue di tangga."
Fatur tidak memperdulikan ucapan Rina. Fikirannya kacau, harga dirinya serasa di injak-injak oleh anak baru. Dan dia takut kehilangan cinta pertama nya.
Rina geram Fatur tidak menggubris nya. Seandainya bisa dia juga ingin memukul Fatur yang di rasa sangat menyebalkan.
"Denger gue!" kesabaran Rina yang setipis tisu habis, dia memegang kedua bahu Fatur lalu menatap dalam pemuda itu. "Jangan berurusan kalo lo tau bakal kalah!"
"Maksud lo?"
"Ya itu, lo tau gak bisa bela diri tapi masih nekad gelud! Namanya bunuh diri!"
"Mending lo diem!"
"Di kasi tau juga. Kalo mau bonyok tiap hari ya terserah! Yang rasain sakit nya lo bukan gue!" Rina beranjak kemudian pergi, namun niatnya urung. Dia kembali lagi dan duduk di sebelah Fatur.
Fatur melirik sekilas, Rina tampak aneh di matanya.
"Kemarin pas gue sakit, lo bantuin gue. Dan sekarang gue mau bales kebaikan lo yang terpaksa itu."
Fatur menghembuskan nafas kasar. "Gue gak butuh!"
Rina tidak perduli dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulut Fatur. Dia tetap diam menemani Fatur sampai azan magrib berkumandang yang menandakan hari sudah memasuki malam.
"Makan gih, mama gue udah masakin."
"Gak laper!"
"Kalo ada masalah lo boleh cerita ke gue! Anggap aja gue mama lo." Rina menurunkan gengsinya mengucapkan kalimat itu. "Gue baik karena ngerasa berutang budi itu aja gak lebih!"
"Lo mau denger cerita gue? Jadi gue lagi suka sama satu cewek di kelas kita. Terus tadi kedatangan anak baru yang gayanya kayak berandalan. Si anak baru ini kasar ke cewek yang gue suka jadi gue tentu nya gak terima dan berakhir kita saling pukul."
"Terus lo kalah? BHAHAHAHA.." tawa Rina pecah. "gue kalo jadi cewe itu udah elfel duluan si asli!"
Fatur nampak frustasi. "Diem lo sialan!"
Rina masih tertawa, dia menepuk bahu Fatur. "Dah deh, pasti tu cewek elfel sama lo."
__ADS_1
Perkataan Rina membuat Fatur semakin overthingking. Fatur kehilangan image nya di depan teman-temannya. Mulai hari ini dia memutuskan untuk belajar bela diri.
Malam ini Fatur dan Rina makan malam bersama. Mereka tidak canggung sama sekali karena sama-sama tidak memiliki perasaan suka. Rina makan dengan lahap begitu pula dengan Fatur. Tak ada hal yang mereka obrolkan.
"Jarang-jarang kita makan malem berdua begini. Mulai sekarang pokok nya kita harus makan sama-sama!"
Fatur mengentikan aktivitas makan nya.
"Eum biar kayak di drama Korea yang gue tonton. Mereka gak saling cinta tapi makannya barengan satu meja." Rina melahap sosis goreng yang ada di piring makannya.
"Terserah." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Fatur lalu dia kembali melanjutkan makan nya.
Setelah selesai makan, Rina langsung membereskan nya dan mencuci piring. Setelah itu mereka naik ke kamar masing-masing, belajar untuk pelajaran besok. Rina sedang berusaha mengejar ketertinggalannya karena dia siswa pindahan.
Fatur tidak bisa fokus, dia terus kepikiran kejadian tadi yang membuat nya malu. Rasanya ia tak ingin masuk sekolah.
Tangan Fatur mengepal, apa yang di katakan Rina benar. Fatur tidak boleh berurusan jika tau akan kalah. Besok dia bertekad ingin mencari guru bela diri.
Matahari mulai terbit menyinari jagat raya. Udara terasa segar, terlihat seorang pemuda yang tak lain adalah Zaki baru saja lewat di depan rumah Rina dengan berjalan kaki bersama adik nya Zaka.
Zaki sudah terbiasa menunggu bus sekolah dan dia merasa nyaman. Bisa saja dia menggunakan kendaraan pribadi ke sekolah, tapi dia enggan dan memilih menaiki angkutan umum.
"Tur bangun!" Rina menggedor-gedor pintu kamar Fatur. Dia sudah siap dengan seragam sekolah nya, sementara Fatur belum bangun.
"Woi kebo bangun!" Dor.. dor...dor.. Rina tidak berhenti memukul-mukul pintu kamar Fatur.
Ceklek.. Fatur keluar dengan penampilan berantakan, rambutnya acak-acakan.
"Buruan mandi!"
Fatur melihat Rina sudah menggunakan seragam sekolah. Rasa ngantuk nya seketika hilang. Dia segera berlari mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.
Selagi menunggu Fatur bersiap, Rina ke bawah membuat sarapan untuk dirinya dan juga Fatur. Hanya masakan sederhana yaitu telur ceplok mata sapi.
Rina sudah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Fatur di atas meja. "Sarapan dulu!" Perintah Rina saat melihat Fatur berjalan tergesa-gesa menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Mana sempat udah telat."
"Enggak, udah nurut sama gue!"
Fatur menurut, dan duduk di meja makan. Dia melihat makanan yang Rina masak. Tanpa berpikir panjang, Fatur langsung melahap makanan yang telah Rina siapkan. Meski terkesan sederhana, tapi rasanya enak.
"Ayo berangkat." Mereka berangkat bersama setelah sarapan.
Seperti hari pertama datang sekolah, Fatur menurunkan Rina di tempat yang sama. Dan hal yang pernah terjadi terulang, Rina menunggu Fatur masuk gerbang duluan lalu dia menyusul dengan berjalan kaki.
"Pagi pak," sapa Rina kepada satpam sekolah.
"Pagi."
Setelah itu Rina berjalan memasuki area sekolah. Rina tidak menemukan hambatan di jalan, dia tiba di kelas kebetulan bersamaan dengan Fatur.
"Woah, anak baru udah dateng." sambut Martin kepada Rina.
Rina tersenyum hangat lalu duduk kembali di tempat nya. Anak perempuan yang duduk di depannya, masi sama tidak menyapa Rina.
"Eum, lo bisa pindah tempat duduk gak?" Margin yang baru datang mencoba berbicara kepada Rina.
"Tapi kenapa?"
"Itu tuh di sebelah Fatur kosong, anak nya baru aja pindah hari ini. Lo duduk di situ aja, di sini udah ada yang nempatin."
"Gak bisa gitu! Kan gue duluan yang duduk di sini."
"Udah nurut aja, Zaki si anak baru gak akur sama Fatur! Bisa bahaya kalo mereka duduk nya deketan." Margin berbisik tepat di telinga Rina.
Rina melirik Fatur sebentar, dia teringat cerita Fatur yang kemarin. "Yaudah iya." Dengan terpaksa Rina bangkit dan pindah tempat duduk di sebelah Fatur.
Fatur melirik Rina. "Kenapa lo duduk di sini?"
"Di suruh, katanya yang punya udah pindah." Posisi meja di kelas 11 IPA 1 tidak saling berpasangan, namun terpisah-pisah tapi tetap bersampingan. Jadi Rina dan Fatur hanya duduk bersebelahan dan berjarak, bukan duduk yang berpasangan.
Tiba-tiba Rina teringat akan Luna teman nya. Dia harus bertemu dengan Luna di jam istirahat.
Mendadak kelas yang tadinya ramai menjadi hening setelah kedatangan satu cowok bertampang bad boy yang tak lain adalah Zaki.
__ADS_1
Rina dan Zaki saling bertatapan untuk beberapa detik. Melihat Rina seperti nya mengingatkan Zaki kepada seseorang.