
"pah, mama kepikiran sama Rina." Ratna berucap dengan raut wajah sedih.
"Salah sendiri anak masih kecil udah di nikahin." Banyu melipat koran yang tadi ia baca.
"Tapi ini demi kebaikan Rina,"
"Masih banyak cara lain kan? Bisa juga dengan cara memasukkan Rina ke pesantren? Atau meminta Revan mengawasi adek nya."
"Udahlah pah, yang udah terjadi biar terjadi."
"Mah tapi papa fikir akan lebih baik Rina pindah ke sekolah Fathur, biar mereka bisa barengan ke sekolah nya."
Ratna menatap suaminya. "Ide papa bagus juga? Tumben pinter pah,"
"Kalo papa gak pinter, mana bisa dapet istri secantik mama."
Wajah Ratna memerah, tersipu mendengar gombalan suaminya. "Ah papa ini, mau nambah anak pah?"
"Engga mah, 2 anak cukup."
Kedua nya sama-sama tertawa, meski sudah sama-sama berusia lanjut, keromantisan Ratna dan Banyu tak pudar di makan usia.
Di sisi lain Revan sedang berdiam diri di kamar Rina, dia merindukan adek nya. Setelah Rina pergi kemarin, rumah terasa sepi, seperti ada yang kurang.
"Biasanya jam segini Rina lagi belajar di sini." monolog Revan sambil menatap meja belajar Rina yang sudah kosong.
Revan menghela nafas panjang. "Alah, besok juga ketemu di sekolah." ucapnya lagi kemudian pergi meninggalkan kamar Rina.
Lampu remang-remang yang terpasang di pinggir jalan menyambut perjalanan Rina dan Fathur. Keduanya tidak saling bicara, mereka hanya diam dengan fikiran masing-masing.
Angin malam menghempaskan rambut Rina, ini kali pertama Rina pergi bersama pemuda selain Revan kakak nya.
Sesuai kesepakatan, Fathur membawa Rina ke tempat yang biasa di gunakan anak-anak muda nongkrong. Setibanya di sana Fathur menarik lengan baju Rina agar perempuan itu tidak kabur.
Mereka duduk di bangku kosong, bersebelahan dengan pasangan yang asik pacaran.
"Pesen gih," ucap Fathur dengan nada dingin.
"Lo mau makan apa?" Rina balik bertanya kepada Fathur.
"Samain aja sama pesanan lo!"
"Oke," Rina bangkit dan berjalan pelan menuju warung yang memang tersedia di sana, warung tersebut membuat beraneka jenis makanan, dan di lengkapi dengan lampu LED sehingga menambah kesan estetika.
__ADS_1
Sementara Fathur dia memilih bermain ponsel dan acuh dengan kebisingan di sekitar nya. Lagu mengenai percintaan mendampingi para pasangan yang asik mengobrol, tempat itu memang di iringi dengan musik.
Sebelum kembali ke meja Fathur, Rina berdiam diri memikirkan cara kabur. Tapi Rina berfikir lagi, ini malam hari akan banyak pemuda-pemuda liar yang bisa dengan mudah mengganggu nya. Dengan berada di sisi Fathur mungkin dia akan aman.
"Loh Rina? Astaga demi apa? Si anak ambis bisa nongkrong juga?" sapa Selin teman sekolah Rina.
"Eh Selin, lo sendirian?" ~Rina
"Iya nih, lo sendiri ke sini sama siapa?" ~Selin
Rina memutar otak, tidak mungkin dia bilang kepada Selin bahwa dia datang bersama Fathur. "Em biasalah sama abang gue. Em gue duluan ya?"
"Oh iya."
Rina ngibrit kabur, jika tidak segera pergi, Selin pasti akan minta bergabung bersama nya. Setibanya kembali di meja Fathur, dia duduk dengan tenang dan anteng, ada banyak cowok di sana jadi Rina harus tebar pesona dan bersikap kalem.
Fathur melirik Rina menyadari ada perubahan sikap dari istri nya, kemudian mata elangnya ia edarkan untuk melihat sekeliling dan ternyata benar banyak cowok-cowok yang tengah memandangi Rina.
Fathur memutar matanya malas. Masa bodoh dengan hal tersebut, Fathur kembali fokus kepada hp nya.
"Ini mbak pesanan nya," seseorang datang mengantarkan pesanan Rina.
"Oiya makasih."
Fathur meletakkan hp nya melihat makanan apa yang Rina pesan. Ternyata selera Rina sama dengan selera nya.
Mereka menikmati makanan masing-masing tanpa mengobrol. Banyak mata tertuju pada pasangan ini. Mereka terpukau melihat ketampanan Fathur dan kecantikan Rina.
Sekitar jam 9 malam, Fathur mengajak Rina pulang. Sebelum pulang tak lupa Fathur membayar makanan yang tadi mereka makan.
Lagi-lagi Fathur menarik lengan baju Rina tanpa menyentuh tangan Rina. Rina mengekor dengan memasang wajah mengejek.
"Gue aja yang bawa motor."
"Emang bisa?"
"Engga,"
"Tolol!"
Setelah melalui malam kedua di rumah serasa neraka itu, Rina Fathur bangun pagi lebih pagi dari kemarin. Mereka pasang alarm di kamar masing-masing agar tidak bangun kesiangan
Mereka tidak sarapan dan langsung berangkat begitu saja ke sekolah tanpa saling berpamitan.
__ADS_1
Rina telah tiba di area sekolah nya. Saat tiba dia langsung di sambut oleh Revan yang sedang menunggu nya di gerbang sekolah.
"Pagi manis," sapa Revan.
"Alah, lo nunggu gue bang?"
"Iya, kangen gue sama Adek kesayangan gue."
"Afah iya?" Rina jalan duluan melewati Revan dan Revan segera menyusul Rina.
"Gimana Rin rasanya jadi bini?" bisik Revan tepat di kuping Rina.
"Sttt, diem lu bang."
Revan tertawa jahil, dia masih setia jalan di samping adenya.
"Pagi kak Rina," sapa para adek kelas Rina.
"Pagi," balas Rina dengan senyuman.
Gadis-gadis yang tadi menyapa Rina melirik Revan penuh rasa takjub akan ketampanan kakak Rina.
"Ada untungnya jadi ganteng." ~Revan seraya memberi senyumnya kepada para adek kelas.
Rina menyikut kakak nya agar berhenti tebar pesona kepada para adek kelas.
Oh iya, pagi ini Rina berpapasan dengan Zaki, kebetulan Zaki satu kelas dengan Revan. Tak ada yang sepesial, Rina dan Zaki hanya saling melempar senyum manis.
Sementara di sisi lain, Fathur sedang mengejar-ngejar Margin, karena Margin menggunakan make up terlalu tebal dan juga baju sekolah yang ketat. Margin kabur dari kejaran Fathur.
"WOI MARGIN! KENAPA LO SUKA BANGET BIKIN ONAR?! KE RUANG BK SEKARANG!" Gertak Fathur.
Margin hanya melirik sekilas tidak takut kepada gertakan Fathur. "Suka-suka gue lah mau dandan kayak gimana. Wlee.." Margin menjulurkan lidahnya, karena tak fokus, Margin akhirnya jatuh tersandung batu.
Fathur reflek ketawa melihat Margin sudah menjadi satu dengan tanah. "Jangan cuman ngetawain, bantuin dong." Pinta Margin dengan wajah memelas.
Fathur yang merasa kasihan lantas menjulurkan satu tangannya, "nih, pegang tangan gue."
Sebelum memegang tangan Fathur, Margin menatap wajah Fathur terlebih dahulu lalu setelah itu dia meraih tangan Fathur. Saat berdiri dia sudah di ketawai oleh teman-temannya.
"Diem lu pada!" Margin melipat wajah nya merasa malu dengan apa yang telah terjadi dan di saksikan banyak orang.
"Tur bantuin gue, jangan bawa gue ke guru BK pliss!!" Margin menyatukan kedua tangannya memohon kepada Fathur.
"Gak! Lo harus di hukum!" Jawab Fathur lantas menarik tangan Margin membawanya ke ruang BK. Fathur sudah lelah menghadapi Margin, kini biar guru BK yang memberinya hukuman.
__ADS_1
Banyak typo