Fatur & Rina

Fatur & Rina
Terpaksa pindah sekolah


__ADS_3

Happy reading


"gak bisa mah, Rina gak mau pindah sekolah! Lagian Rina nyaman di sekolah Rina, Rina gak mau posisi Rina di duduki orang lain!" Rina menolak di pindahkan sekolah.


"Tapi sayang Mama udah tanda tangani surat pindah dan kamu udah di terima di sekolah Fatur." Ratna mencoba menjelaskan kepada putri nya.


"Mah? Kenapa? Kenapa mama selalu ambil keputusan tanpa minta persetujuan dari Rina? Ini hidup Rina! Mama gak bisa langsung nentuin gitu aja!" Rina tersulut emosi, bagaimana bisa dia pindah sekolah dan meninggalkan jabatan yang susah payah ia dapatkan.


"Mama rasa keputusan ini yang terbaik!"


"Mama egois! Maksain kehendak sendiri ke orang lain! Rina gak mau pisah sekolah dari kak Revan!"


"Kakak kamu bentar lagi lulus! Kalo dia lulus siapa lagi yang bisa jaga kamu di sekolah?"


"Rina bukan anak kecil yang perlu di awasi 24 jam!"


Banyu dan Fathur hanya diam menyaksikan perdebatan ibu dan anak. Fathur tentunya tidak berani melerai, sementara Banyu masih ingin membiarkan putri nya mengeluarkan uneg-uneg yang selama Rina tahan.


"Terserah! Tapi mulai besok kamu pindah ke sekolah Fathur!" Mama Rina bangkit dari duduknya. "Ayo pah kita pulang." ajaknya kepada Banyu suaminya.


"Maafin mama sama papa Rina." Banyu ikut berdiri, mereka berdua keluar dari rumah Rina.


Rina menekuk wajahnya, meraup habis wajah ayu nya lalu menunduk sambil terisak. "Gue gak mau pindah sekolah. Kemaren di paksa nikah, sekarang di paksa pindah sekolah."


Fathur lagi-lagi hanya diam membiarkan Rina merasakan sakitnya sendirian. Rina mencengkram kuat lengannya sampai menimbulkan bercak merah. Ia sangat marah kepada ibunya.


Fathur bangkit dari duduknya, dia berjalan ke arah dapur dan mengambil segelas air untuk Rina. Setelah itu Fathur kembali dan meletakkan air tersebut di hadapan istri nya.


"Nih minum dulu, nangis gak akan nyelesaiin masalah."


Rina melirik Fathur dengan wajah merah dan mata berkaca-kaca. Rina mengusap air matanya. "Semenjak lo hadir, hidup gue jadi kacau!" Rina bangkit beranjak dari duduknya lalu pergi ke kamarnya.


Sementara Fathur sangat acuh dan terkesan tak perduli kepada Rina dan semua perkataan nya. Segala yang di ucapkan Rina bagai angin lalu untuk Fathur.


Di sisi lain Ratna sedang telponan dengan Sarah besannya. Ratna menceritakan kalau Fathur dan Rina sudah akrab. Tentunya Sarah merasa senang, karena sebelumnya dia berfikir putra nya gay makanya dia mau menjodohkan Fathur dengan Rina anak Ratna. Sarah sudah salah paham terhadap putra tunggal nya. Sarah mengira Fathur gay karena dari kecil tidak pernah sekalipun Fathur jatuh cinta kepada anak perempuan.


"Alhamdulillah, semoga Rina bisa bawa Fathur ke jalan yang lurus."


"Iya amin."


 


Malam hari, Rina duduk termenung di meja belajar nya. Dia memandangi hp nya yang sedang membuka aplikasi WhatsApp. Rina berniat mengabari ke teman-teman nya kalau mulai besok dia sudah tidak lagi sekolah di SMA 18.


"Guru-guru kok gak nyoba nahan ya? Kan gue ketua OSIS, masa guru-guru gak nyoba nahan pas mama minta surat pindah." Monolog Rina.


Rina melihat grup OSIS nya yang ramai membahas tentang kegiatan yang akan mereka adakan esok lusa.


Rina ketua OSIS


Gaes, sebelum nya gue


mau minta maaf yang


sebesar-besarnya.


Sebagai ketua OSIS dan ke-


tua panitia, seharusnya


gue bertanggung jawab


sampai acara dan masa


jabatan gue selesai.


Tapi karena nyokap gue

__ADS_1


yang tiba-tiba paksa gue


untuk pindah sekolah,


gue gak punya pilihan


lain selain nurut. Jadi


gue minta kalian cari


ketua panitia yang baru


yang lebih baik dari gue.


Maaf karena gue berhenti


di tengah jalan, bahkan seb-


elum acara di mulai dan seb-


elum masa jabatan gue bera-


khir.


^^^Syafira bendahara^^^


^^^Lo serius bakalan^^^


^^^ninggalin sekolah kita?^^^


^^^Fitri sekretaris^^^


^^^Demi apa lo mau pindah^^^


^^^sekolah? Gak bisa di tahan?^^^


Rina ketua OSIS


taulah mama gue gak


bisa di bantah.


^^^Syafira bendahara^^^


^^^Yahhh:(( Bai Rina^^^


^^^Gue seneng selama^^^


^^^masa jabatan lo sebagai^^^


^^^pemimpin. Program kerja^^^


^^^yang lo buat dan lo laksanain^^^


^^^buat sekolah kita makin unggul.^^^


Rina ketua OSIS


Makasih, kalian temen-


temen yang baik, mau


bantu gue dalam melaks-


anakan program kerja.


Seneng bisa kenal sama

__ADS_1


kalian. Maaf kalau gue


ada salah, dan mulai


besok gue udah gak se-


kolah di sana lagi.


Rina menunduk lalu kemudian menangis, dia tidak mau berpisah dengan teman-teman nya, terutama Zaki crush nya. Andai dia bisa minta tolong kepada kakaknya, tapi Revan tau Rina sudah menjadi istri Fathur, dan tentunya Revan tidak akan mau membantu Rina.


Tring.. sebuah notifikasi mengalihkan fokus Rina.


^^^Bang Revan^^^


^^^Rin gue udah denger^^^


^^^kalo mama pindahin^^^


^^^lo ke SMA 17 ya? :((^^^


^^^kita jadi tambah jarang^^^


^^^ketemu deh Rin:((^^^


Adek Rina


Iya bang:( mama egois


gak pernah minta per-


setujuan dari Rina.


^^^Bang Revan^^^


^^^Semangat anak manis!^^^


Rina sedikit tersenyum, lalu kembali bersandar pada sandaran kursi. Perutnya terasa lapar tapi dia mengabaikan rasa laparnya.


"Hidup banyak plot twist nya." monolog Rina. Dia belum melepas lambang sekolah lamanya di baju seragam nya.


Rina membuka galerinya melihat foto-foto nya bersama teman-teman nya dalam berbagai kegiatan, mulai dari rapat, sosialisasi, bahkan kegiatan yang OSIS adakan seperti hari batik dan lain sebagainya.


Rina memikirkan sebuah ide. Rina berfikir jika dia tidak lagi menduduki jabatan ketua OSIS, di sekolah barunya dia harus bisa memikat hati sang ketua OSIS. Rina ingin berpacaran dengan ketua OSIS.


"Ya Allah semoga ketua OSIS SMA 17 ganteng amin." doa yang Rina panjatkan.


Sementara di sisi lain Fathur sedang kepikiran soal Margin. Sejak Margin menyentuh tangannya, jantung nya selalu berdegup kencang jika memikirkan gadis itu.


 


Keesokan paginya.


Matahari mulai bersinar menyinari jagat raya. Fathur bangun lebih dulu dari Rina, dia telah siap dengan seragam sekolah nya. Sementara Rina baru bangun tidur.


"Lo jangan ninggalin gue please! Gue gak mau berangkat sendirian."  ucap Rina saat berpapasan dengan Fathur yang sudah siap menggunakan seragam batik SMA 17.


"Hm."


Rina mandi dan bersiap, dia masih menggunakan seragam putih abu-abu karena belum memiliki seragam batik SMA 17. Tidak mungkin dia menggunakan seragam batik SMA 18, dia pasti akan menjadi sorotan di sana.


Setelah siap, Rina turun ke bawah. Terlihat lah Fathur sudah menunggu nya di sofa ruang tamu.


"Ayo gue udah siap." ucap Rina.


"Jangan sampe ada yang tau tentang pernikahan kita!"


"Gak akan."

__ADS_1


Mereka jalan bersama, sebelum pergi tak lupa Rina mengunci pintu rumah. Rina naik ke motor Fathur, mereka bersama-sama berangkat ke sekolah. Tapi sebelum masuk di gerbang sekolah, Fathur meminta Rina turun agar tidak ada yang melihat nya datang bersama Rina si murid baru.


"Setiap pagi lo akan gue turunin di sini! Gue ga mau temen-temen gue liat gue dateng bareng lo!"


__ADS_2