Fatur & Rina

Fatur & Rina
Hujan


__ADS_3

Happy reading


Rina berdiam diri di kamarnya mendengarkan suara rintikan air hujan yang jatuh dari langit. Dia teringat dahulu saat hujan dia selalu di temani abangnya karena Rina memiliki serangan panik dan takut akan petir.


Adek Rina


Bang ujan ga ada yang


nemenin..


^^^Bang Revan^^^


^^^Kan ada Fathur, minta^^^


^^^temenin sama dia.^^^


Adek Rina


Dia mana mau nemenin


gue bang..


^^^Bang Revan^^^


^^^Hmm.. tungguin, 20 menit^^^


^^^lagi gue sampe^^^


Adek Rina


Lo ke sini bang? Tapi hujan


^^^Bang Revan^^^


^^^Fungsi mobil apa? Kan ada^^^


^^^mantel juga^^^


Adek Rina


💞💞


Rina tersenyum lega mengetahui abangnya mau datang dan menemani nya. Revan rela kehujanan demi menjumpai sang Adek. Tapi tenang, pemuda itu tidak sampai kehujanan, dia mahir menyetir mobil.


Rina sengaja turun ke bawah menunggu Revan, sialnya saat baru tiba di pertengahan tangga tiba-tiba mati lampu. Semuanya menjadi gelap, tidak ada yang bisa Rina lihat.


Rina langsung menunduk takut, kedua tangannya ia gunakan menutup kedua telinganya dengan pandangan menunduk ke bawah. Ia tidak membawa apapun yang bisa menjadi penerang sebab Rina lupa membawa ponsel nya.


"Bang.. gue takut."


Di sisi lain Fathur yang tadi sedang sibuk belajar mengambil ponsel dan menyalakan flash hp. Fathur berbeda dengan Rina dia sama sekali tidak takut akan kegelapan.

__ADS_1


Fathur diam, ia tidak bisa melanjutkan kegiatan belajar nya. Fathur teringat pada Rina, dia merasa punya tanggung jawab memastikan perempuan itu selalu aman.


Fathur berdiri dan berjalan keluar kamar, kamarnya bersebelahan dengan kamar Rina. Melihat pintu kamar tidak terkunci dan sedikit terbuka, Fathur langsung masuk tapi dia tidak menemukan keberadaan Rina. Dia hanya melihat ponsel Rina menyala karena ada panggilan masuk.


"Rin.." panggil Fathur, tak ada sahutan dari Rina.


"RINA LO DI MANA?" Fathur menaikkan nada bicara nya.


Fathur keluar dari kamar Rina, "RIN GAK USAH MAIN-MAIN! MUNCUL LO SEKARANG!"


Di sisi lain Rina yang sudah keringatan dengan sekujur tubuh kaku dan bergetar mendengar panggilan Fathur.


"Gue di sini!" ~Rina


Tak lama dari itu Rina dapat melihat ada cahaya datang dari arah belakang. Rina merasa lega.


"Lo ngapain di sini?" Fathur ikut jongkok di sebelah Rina. Fathur bisa melihat kalau Rina terkena serangan panik. "Sekarang tutup mata buruan!" Rina menurut dan menutup matanya.


"Tarik nafas," Fathur ikut memperagakan. "Hembuskan.." mereka mengulangi hal tersebut selama beberapa kali.


Fathur menuntun Rina, awalnya dia ingin membawa Rina ke kamar, tapi Rina menolak dan minta di antar ke ruang tamu. Perlahan mereka melangkah dengan hanya berbekal senter hp.


Rina dan Fathur tiba di ruang tamu, bertepatan mereka mendengar suara ketukan pintu.


Tok.. tok.. "Rin gue Revan buruan bukain pintu!"


"Abang lo?" tanya Fathur yang di balas anggukan oleh Rina.


"Lama amat," kesal Revan yang sudah datang dari tadi. Revan segera menghampiri Rina yang belum sepenuhnya terbebas dari serangan panik.


"Rin, kambuh lagi?" Revan duduk di sebelah Rina. Keadaan masih gelap gulita, hanya ada hp sebagai penerang.


Revan memeluk Rina, "gapapa, Abang ada di sini." bertepatan dengan kalimat itu kilitan pertir menyambar serta suara Guntur bergemuruh.


Fathur duduk di sofa lain wajahnya datar tanpa ekspresi dengan mata elang menatap Rina kemudian beralih melihat kaki Rina yang masih merah. Fathur menyenteri kaki Rina yang tadi keseleo.


"Kenapa Tur?" tanya Revan.


"Enggak, gue cuman mastiin masi bengkak atau engga." ~Fathur


"Bengkak?" ~Revan


"Iya, Adek lo petakilan sampe jatuh keseleo." ~Fathur


"Yang bener Rin?" ~Revan, Rina mengangguk mengiyakan.


"Tenang tadi udah gue bawa ke tukang urut." Fathur berucap lagi.


"Owh iya."


Hening.. hanya ada suara hujan di sertai guntur. Hujannya deras, beruntung 6 menit setelah itu lampu kembali menyala dengan terang.

__ADS_1


"Alhamdu-" lampu mati lagi. "Lillah.." Revan tetap melanjut kalimat nya walau lampu kembali mati.


 


Matahari mulai bersinar. Rina, Revan, dan Fathur ketiduran di ruang televisi. Semalam mereka pindah ke sana karena tidak nyaman berada di ruang tamu.


Fathur bangun duluan, dia lagi-lagi memastikan kaki Rina. Ternyata kaki nya masih radak bengkak walau sudah tidak sebengkak kemarin.


Merasakan ada pergerakan, Revan ikut terbangun. "Udah bangun Tur, jam berapa ini?" tanya Revan dengan suara serak.


Fathur melihat jam yang terpasang di dinding. "Lihat sendiri." jawabnya cuek seraya menunjuk jam dinding.


Revan melihat ke arah yang di tunjuk oleh Fathur, dia tidak tau kalau ada jam dinding terpasang di sana.


"Rin bangun." ~Revan


"Gak usah di bangunin bang, kakinya masi bengkak." ~Fathur "biar hari ini dia gak usah sekolah dulu."


"Hm oke, lo bertanggung jawab izinin dia ke guru. Kalo gak, bisa ngamuk si Rina."


"Iya."


Revan berdiri, dia melakukan peregangan, pinggang nya sakit karena semalaman tidak tidur di kasur. "Gue balik dulu." pamit Revan lalu berjalan pergi.


Fathur naik ke atas mengambil selimut lalu turun lagi dan menyelimuti tubuh Rina. Setelah itu dia pergi menyiapkan diri berangkat sekolah.


Tidur Rina nyenyak walau hanya beralaskan karpet tipis. Semalaman lampu padam, mereka menunggu lampu menyala sambil bercakap-cakap, tapi lampu tak kunjung menyala. Sampe satu persatu mulai merasa mengantuk dan lantas ketiduran.


 


"Rina bangun nak," Ratna mencoba membangunkan putri nya. Saat tau Rina sakit dari Revan, Ratna segera pergi ke rumah Rina.


Rina membuka matanya dengan perlahan lalu tersenyum lega. "Ternyata cuma mimpi."


"Mimpi apa kamu?"


"Mimpi nikah mah, baru suami Rina kek kulkas."


"Kan emang udah nikah, coba mama periksa kakinya." ucap Ratna menyadarkan Rina kalau pernikahan nya bukan mimpi atau khayalan belaka.


Rina mendudukkan diri. "Fathur mana?"


"Udah berangkat sekolah,"


"Lah Rina gimana mah? Sekolah nya naik apa?"


"Fathur bilang kamu masi sakit jadi gak usah ke sekolah dulu untuk hari ini."


Rina hanya mengangguk-angguk, dia membiarkan kakinya di periksa oleh mamanya. Rina melihat selimut yang tadi menutupi badannya, apa mungkin Fathur yang menyelimuti nya?


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2