
Setelah mengantarkan kepergian Ratna, Rina tidak langsung masuk ke rumah. Dia berdiam diri di bawah pohon jambu yang berada di taman rumah nya. Daun berguguran dari pohon itu membuat banyak sampah dedaunan berserakan.
Matahari masih terik, sinarnya mengenai kulit putih Rina tapi Rina tidak mempermasalahkan hal itu. Rina menghitung sudah berapa hari dia berada di sana, dan ternyata sudah 5 hari dia tinggal bersama Fathur.
"Kangen kak Zaki."
Rina melihat jalanan yang sepi, anak-anak remaja masih pada bersekolah. "Kok gak ada anak TK lewat sih! Padahal enak nih kalo nangisin anak orang."
Rina mengambil daun, lalu meremat-remat daun tersebut hingga hancur. Dia melakukan nya hanya karena iseng.
Rina mulai bersenandung, dia gabut sendirian di rumah sebesar dan seluas itu. "Tuhan aku sedang jatuh cinta, ku bingung harus bagaimana. Ingin hati nyatakan cinta, ku takut dia ada yang punya." Rina bernyanyi sambil membayangkan Zaki.
Rina mengeluarkan hp nya dari dalam kantong. Dia lupa membalas pesan dari Yolanda. Kemarin Yolanda mengirimi nya pesan dan terkesan marah-marah kepada Rina. "Astaga lupa bales." Rina segera mengetik balasan untuk Yolanda.
Belum sempat Rina keluar dari obrolan nya bersama Yolanda, teman nya itu sudah menelfon nya.
"Halo Rina parah banget pindah gak pamit!" Nada bicara Yolanda terdengar kesal.
"Ya abis nya gimana, gue aja ga ada niat pindah. Mama tuh si egois!"
"Pengen marah tapi ya gimana, masa gue misuh-misuh sama nyokap lo!"
"Hahaha, gak enak banget sumpah. Eh Zaki gimana?"
"Dia tadi menang turnamen basket."
"Wah keren, gue kangen sama dia."
"Hm kasian deh gak bisa lagi ketemu kak Zaki. Tapi lo masi punya Abang, kenapa gak minta tolong sama Abang lo biar bisa deket sama kak Zaki."
"Gak bisa, karena ada suatu hal yang gak bisa gue ceritain."
"Oh mulai main rahasia-rahasiaan nih ceritanya! Lo berantem sama Abang lo?"
"Enggak, ngapain gue berantem sama dia?"
"Ya kali aja. Eh Abang lo kok gak pernah deketin cewek? Normal kan?"
"Sialan! Normal lah, ya mungkin dia mau fokus belajar." Rina menaikkan bahunya.
__ADS_1
"Sayang banget, ganteng-ganteng jomblo."
"Ahaha, biarin aja. Oh iya udah dulu ya gue sibuk bay!" Tut... Rina mematikan telfon nya.
Wajah Zaki tergambar di kepala Rina. Rina melihat ada anak TK lewat di depan rumah nya. Senyum jahil terukir di sudut bibirnya.
"Woi dek!" Rina berlari menghampiri anak kecil laki-laki.
"Kenapa kak?"
"Namanya siapa?"
"Zaka."
"Oh Zakat, lucu deh namanya."
"Zaka kak,"
"Suka-suka gue lah mau panggil apa. Tas nya lucu ih, warna pink kayak cewek. Bencong ya?"
Mata zaka berkaca-kaca di katai bencong oleh Rina.
"Masi kecil udah bencong lo dek.. dek.." Rina menahan tawa melihat mata anak kecil itu berkaca-kaca. Tangisannya sudah di ujung pelupuk mata.
"Mati gue." Rina memukul jidatnya.
"Kakak itu," Zaka menunjuk Rina "Zaka di panggil Zakat, terus di katai bencong."
Rina berbalik dengan sebuah cengiran. Alangkah terkejutnya ia melihat siapa yang ada di belakang nya. "Kak Zaki?"
"Loh Rina? Lo kok di sini? Mana pake baju biasa, tadi gak masuk sekolah?"
"Eum, gue pindah rumah. Dan tadi emang gak masuk sakit."
"Kak Zaki kenal sama kakak-kakak itu? Marahin aja kak, kakak nya nakal." Zaka berucap sambil mengelap ingus di hidung nya.
"Ih ingusan. Ya maap." Rina menggaruk kepalanya.
Zaki yang masih menggunakan seragam sekolah tertawa kecil sambil menatap wajah Rina yang memelas. "Suka banget usilin anak kecil."
__ADS_1
"Lo tinggal di sini juga?"
"Iya, tuh rumah gue di sana." Zaki menunjuk rumah berpagar tinggi berwarna putih tulang. Rina lagi-lagi di buat tercengang, dia tidak menyangka kalau sekarang dia tetanggaan dengan Zaki. "Kalo gitu gue balik dulu. Ayo Zaka."
"Babai bocil cengeng." Rina melambai sambil menunjukkan raut wajah mengejek. Sementara Zaka yang bergelandot di kaki Zaki, memberikan jari tengahnya kepada Rina. "Waduh negeri-negeri."
Rina menatap kepergian kakak beradik itu. Dia ada niat untuk mengganggu Zaka di ke-esokan harinya.
"Wah bahaya kalo kak Zaki tau gue tinggal bareng Fatur berdua doang." Monolog Rina seraya berjalan ke rumah nya.
Ternyata hari sudah sore, tapi Fatur belum pulang ke rumah. Rina tak perduli, dia kembali duduk di bawah pohon jambu sambil bermain-main, memainkan apa saja yang ia lihat.
Senyum merekah di wajah Rina, dia tidak menyangka akan satu komplek dengan Zaki.
Di sisi lain, Zaka adik Zaki sedang mengomeli Zaki karena Zaki tidak memarahi Rina. Zaki justru membela Rina. Zaka yang merasa terbuli tak terima dan ingin Zaki memarahi Rina. Zaka bertekad dia sendiri yang akan membalas ejekan Rina.
"Mah kami pulang." Zaki masuk ke dalam rumah. Rumah nya besar dan luas. "Sana gih ganti baju, kalo nangis lagi ingusnya di kondisiin ya mas." ledek Zaki kepada Zaka adik nya.
Pulang dan pergi sekolah, Zaki menaiki bus sekolah. Namun bus sekolah hanya sampai di depan dan tidak masuk ke area perumahan nya, jadi dia berjalan kaki bersama Zaka adik nya yang bersekolah di TK dekat tempatnya menunggu bus.
Zaka masuk ke kamar, dia berbaring di atas kasur. Ia lelah karena tadi bermain basket. Di dalam kamarnya banyak tergantung mendali dan piala, juga foto-foto nya memenangkan perlombaan di bidang olahraga.
Zaki sendiri mempunyai masalah keluarga yang selalu dia pendam. Zaki tidak pernah mau menunjukkan sisi lemahnya di depan orang lain.
Beberapa menit setelah bermalas-malasan, Zaki bangkit dan langsung mandi. Dia menyalakan shower lalu berdiri di bawah shower.
Brum.. Fatur tiba di rumah. Rina melihat suaminya datang dengan perasaan biasa saja. Fatur membuka helem lalu meletakkan nya di tempat biasanya dia menyimpan helem.
Fatur melirik Rina sekilas, lalu berjalan masuk ke rumah dengan sempoyongan. Wajah nya babak belur seperti habis di pukuli. Rina yang heran melihatnya, berdiri lalu mengekor di belakang Fatur.
Fatur duduk di sofa, Rina ikut duduk di sana.
"Abis berantem?" tanya Rina takut-takut melihat mata elang Fatur.
Fatur mengabaikan pertanyaan Rina, tangan nya mengepal. Tadi dia memang terlibat perkelahian dengan Zaki si anak baru. Seumur-umur, baru kali ini Fatur berkelahi.
Rina berdiri mengambil es batu di dapur lalu memecahkan nya dan memasukkan nya ke dalam kain khusus. Dia kembali kepada Fatur.
__ADS_1
"Ini, di drama yang gue tonton kalo luka lebam di kasi es. Gak tau ngaruh atau engga." Rina menyerahkan benda yang ia bawa kepada Fatur.
Fatur menatap Rina tak niat, lalu mengambil dengan kasar kain berisi es batu itu dari tangan Rina.