Fatur & Rina

Fatur & Rina
Bertengkar


__ADS_3

"bisa diem gak sih? Cerewet banget."


Mulut Rina terbuka, dia tak terima di bilangi cerewet padahal nyatanya ia memang cerewet. Fathur menutup telinga nya, ia lelah mendengar ocehan gadis gila yang sudah ia nikahi kemarin.


"Gila gue lama-lama! Lo berisik! Gue gak suka ribut-ribut!" Fathur bangkit dengan wajah kesal, dia membawa tas nya yang tadi sempat tertukar dan naik ke atas kamar.


"Anjing lo! HARUSNYA LO KABUR DI HARI PERNIKAHAN SIALAN!" kesal Rina tak mau di salahkan.


Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk di hp nya, ternyata itu pesan dari ibu nya. Ibunya mengirimi Rina pesan WhatsApp menyuruh Rina memasak untuk Fathur dan dirinya sendiri. Rina memutar bola matanya malas, bagaimana bisa dia memasak? Selama ini yang dia tau hanya merebus mie instan dan membuat secangkir kopi.


"Gue? Masak? Yang bener aja, selama ini gue tinggal makan sama belajar, palingan juga cuma bantu beres-beres gak pernah di suruh masak." monolog Rina. Rina menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia lagi-lagi mendengus.


Dengan masih menggunakan seragam sekolah, dia berjalan ke arah dapur. Sekeras apapun Rina, dia tetap anak yang penurut, Rina selalu mematuhi segala perintah ibunya.


Rina sudah tiba di dapur, dengan berbekal resep dari internet, dia mencoba memasak dengan bahan yang ada. Tapi pertama-tama Rina memasak nasi.


Rina menyempatkan diri mengelap keringat yang membasahi dahi nya. Ternyata memasak termasuk pekerjaan yang sulit baginya. "Kenapa gak nyewa pembantu aja sih?" omel Rina.


"Itu biar kita bisa mandiri, biar lo bisa jadi istri yang berbakti." Fathur tiba-tiba datang, dia sudah berganti pakaian menjadi pakaian rumahan.


Rina menatap sinis Fathur. "Kenapa lo ke sini? Mau ngejek gue ya?"


"Kepedean! Gue mau ambil buah, minggir lo." Fathur menyingkirkan Rina dari hadapan kulkas, dia terpaksa menggeser Rina agar tidak menghalangi pintu kulkas. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Fathur pergi menghirup udara segar.


Sementara Rina, dia melanjutkan pekerjaan memasak nya. Cukup lama Rina berada di dapur, akhirnya masakan nya siap. Dia membuat tempe goreng dengan cocolan sambal, untung nya masakan Rina tidak gosong.


Rina tersenyum puas, setelah itu dia mengambil tas nya dan naik ke atas untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Sebelum mandi, Rina bermalas-malasan terlebih dahulu, hidupnya seakan sudah berakhir. Menikah dengan Fathur serasa menghentikan waktu nya.

__ADS_1


"Pilihan nya cuma dua, jadi janda muda atau tetap jadi istri muda." monolog Rina.


Rina tidur dengan posisi miring ke kanan, dia kembali berfikir tidak ada salahnya satu rumah dengan laki-laki bermata elang seperti Fathur. Dengan begitu dia bisa lebih bebas, tidak sama seperti saat tinggal bersama orang tua nya.


"Ah, boleh kali ya gue keluar malam ini." batin Rina berfikir keras, karena selama ini mama nya melarang nya keluar malam kecuali bersama abangnya.


Rina memilih tidur sebentar, dia tidak peduli walau sebenarnya mama nya melarang nya tidur sore. Berhubung dia sudah tidak tinggal di rumah mama nya jadi dia bebas bisa melakukan apapun. Itu fikir Rina, dia belum kenal betul siapa Fathur.


 


Jam 05.35, Fathur baru kembali dari jalan-jalan sore menggunakan motor Vario kesayangan nya. Dia heran kenapa lampu rumah nya belum menyala padahal hari sudah hampir gelap.


Setelah menyalakan seluruh lampu rumah, Fathur jalan ke lantai dua melewati anak tangga. Fathur heran, padahal baru satu hari ia menikah tapi rasanya sudah sangat lama, apa waktu berjalan lambat karena dia tidak menikmati hari nya?


Setibanya di ujung tangga, Fathur melirik kamar istri nya, pintu kamar berwarna putih itu sedikit terbuka. Rumah mereka memang bercat putih, bernuansa klasik modern. Ayahnya lah yang telah menyiapkan rumah untuk mereka.


Masa bodoh dengan urusan perempuan yang ia anggap menyebalkan, Fathur jalan menuju kamar nya yang berada di sebelah kamar istri nya.


"Dari sekian banyak perempuan, kenapa harus dia? Udah pembangkang, suka ngomong kasar, jelek lagi." monolog Fathur masih ingin menikmati masa muda.


Fathur duduk di meja belajar nya, dia belum terbiasa tinggal di rumah itu. Fathur memeriksa tugas-tugas nya, karena banyaknya kegiatan OSIS, dia sampai sering ketinggalan pelajaran.


Karena merasa gerah, Fathur memutuskan untuk mandi. Ia ingin tubuh nya kembali segar agar bisa belajar dengan maximal.


Setelah mengambil handuk, anak remaja laki-laki itu berjalan menuju kamar mandi, dia melirik kamar Rina yang masih gelap dan dia tidak perduli.


Setelah selesai mandi, Fathur keluar dari kamar mandi dan kembali berjalan menuju kamar nya.


"Anjing," pekik Rina kaget melihat Fathur bertelanjang dada. Roti sobek di perut Fathur terekspos dan Rina telah melihat nya.

__ADS_1


"Biasa aja kali," balas Fathur cuek kemudian melenggang pergi melewati gadis yang masih terpatung syok.


Rina menunduk sampai Fathur masuk ke kamar nya. "Sialan, badan jelek aja di pamerin." ejek Rina kemudian dia turun ke bawah karena merasa lapar.


Rina melihat masakan nya masih utuh tak tersentuh, lagi-lagi dia kesal merasa Fathur tidak menghargai usaha nya. Rina meletakkan kedua tangannya di pinggang, dia melirik ke lantai dua.


"KALO GAK MAU MAKAN INI YA UDAH, BELI AJA DI WARUNG." ~Rina


Di lantai dua, Fathur dapat mendengar teriakan Rina. Dia hanya melengos sebentar lalu tak peduli lagi. "Perempuan aneh."


 


"Woi gue mau keluar." Rina sudah bersiap dengan baju crewnek warna hitam dan celana hijau mint selutut.


Fathur yang sedang sibuk belajar menghentikan aktivitas nya lalu menatap Rina lama. "Jangan kira karena lo gak tinggal sama orang tua lo, lo bisa jadi liar? Gak! Tetep di kamar lo! Belajar sama!"


Rina memutar bola matanya malas, "lo gak ada hak ngelarang gue!"


Mendengar itu Fathur segera bangkit dari duduknya, dia menyeret Rina untuk kembali masuk ke dalam kamar. Jebret.. Fathur menutup pintu kamar Rina lalu menguncinya dari luar.


Dor.. dor.. dor.. Rina menggedor-gedor pintu, "bukain woi!"


"Sebagai suami gue berhak ngelarang lo! Kalo mau keluar malam harus sama gue!"


"ANJING LO, FATHUR SIALAN!"


Rina duduk di kursi belajar nya, lampu belajar nya tidak menyala kala itu. Sementara Fathur masih berjaga di depan kamar Rina.


"KALO GUE GAK BOLEH PERGI SENDIRI, LO HARUS MAU NEMENIN GUE KELUAR MALAM INI!" Rina berucap dengan amarah yang memuncak.

__ADS_1


"Oke kalo itu mau lo, sekarang juga kita pergi!"


__ADS_2