Fatur & Rina

Fatur & Rina
Bermusuhan


__ADS_3

"Udah terlanjur bonyok, rugi kalo gak jago."


Perkataan Rina membuat semangat Fatur membara. Dia semakin bertekad ingin jago bela diri. Tapi karena hal itu, keorganisasian Fatur di sekolah menurun.


Mereka kembali ke kamar masing-masing. Rina sibuk menyalin pelajaran dari buku Fatur. Sebenarnya dia lelah, andai tidak pindah sekolah, dia tidak perlu repot-repot melakukan hal tersebut.


Drtt.. drtt.. ponsel nya berdering, ternyata itu panggilan dari Yolanda. Rina menaikkan tombol hijau yang artinya mengangkat panggilan tersebut.


"Halo Rina."


"Ya Yol kenapa?"


"Engga, kangen aja.. Gimana kabar lo?"


"Gue baik."


"Rin gak mau cerita gitu?"


"Cerita apa Yol? Gue tadi lagi belajar eh lo ganggu."


"Hehe maap, masi aja jadi anak ambis."


"Eh Yol lo pasti kaget. Maaf baru bisa cerita hari ini. Ternyata rumah baru gue deketan dengan rumah nya kak Zaki. Terus dia punya adik yang ngeselin tapi gemesin juga nama nya Zaka."


"Seriusan? Omgttt, dunia ini sempit banget ya Rin."


"Iya, gue aja gak nyangka. Gue gak sengaja ketemu di jalan pas gue abis kasi nangis si Zaka adik dia."


"Parah Rina, kalo gak di restuin sama adik nya gimana?"


"Ya gak gimana-gimana. Haha si bocil kematian."


"Siapa Rin?"


"Zaka, adik nya kak Zaki."


"Usil ya adik nya?"


Rina berfikir sambil senyum-senyum. "Eum engga juga, gemesin malahan."


Tok..tok..tok.. Ketukan itu mengalihkan fokus Rina. "Yol udah dulu ya, da.." Tut.. Rina mematikan telpon nya.


Dia berjalan membuka pintu. "Kenapa?" tanya nya jutek.


"Laper,"


"Astaga." Rina memukul jidat nya. "gue lupa masak."

__ADS_1


"Makan di luar aja kalo gitu."


"Oke ayo," tanpa ganti baju, Rina mengambil ponselnya dan membuntut di belakang Fatur.


Mereka berjalan berurutan dengan Fatur yang memimpin melewati ruang tamu lalu tiba di teras. Fatur menyalakan motor nya. "Buruan naik."


"Iya bawel!" Rina naik ke motor Fatur. "Eh bentar," Rina turun lagi karena lupa mengunci pintu. Dia segera berlari dan mengunci pintu rumah lalu kembali naik ke motor Fatur.


Brum... Motor Fatur melenggang keluar dari area pekarangan rumah. Angin malam menerpa rambut Rina. Kala itu langit di penuhi bintang-bintang. Jalanan juga ramai dan terang karena banyak lampu.


Fatur membawa Rina ke warung makan yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka. Rina turun duluan di susul oleh Fatur.


"Pesen apa?" tanya Fatur dengan nada jutek dan cuek.


"Mie ayam."


Fatur pergi memesan makanan. Tak lama dia kembali. Mereka sama-sama asik bermain ponsel. Warung yang mereka kunjungi cukup ramai karena makanan nya enak-enak. Itu sudah menjadi warung makan langganan Fatur dan Rina.


"Kakak jelek?" suara yang tak asing menghampiri Rina.


Rina dan Fatur menoleh bersama mendapati Zaka sudah berdiri di samping meja mereka.


"Bocil kematian? Ngapain di sini?"


"Pesen makan, di sini makanannya enak-enak."


"Tu.." Zaka menunjuk pemuda bertubuh tinggi dengan kulit putih yang tak lain adalah Zaki.


"Orang kaya juga suka makan di sini?" tanya Rina polos.


"Kakak juga kaya, kok nanya nya gitu?"


"Oh iya," Rina baru sadar kalo dirinya dan Fatur juga tak kalah kaya. "Abis nya makanan nya enak sesuai selera gue."


Zaka mendekat ke kuping Rina. "Kak kok gak takut sih makan berdua sama kakak itu." Zaka menunjuk Fatur. "Serem kayak singa."


Rina menahan tawa sambil melirik Fatur. "Gatau juga, udah nasib."


Setelah itu pelayan mengantarkan pesanan Rina dan Fatur. Zaka takut kepada Fatur, dia segera berlari kembali kepada Zaki. Untung nya Zaki tidak melihat keberadaan Rina. Zaki berfikir zaka menemui teman TK nya.


Rina menyantap makanan nya begitu pula dengan Fatur. Tak ada obrolan di antara mereka sampai makanan nya habis. Rina mencari-cari keberadaan Zaki, tapi pemuda itu seperti nya sudah pulang.


...******...


Keesokan harinya di sekolah.


Rina pusing karena tidak paham penjelasan guru matematika wajib nya. Dia pusing soal yang di jelaskan nampak rumit. Padahal di sekolah lama nya itu terasa gampang tapi sekarang sangat sulit.

__ADS_1


Jika Rina tak paham dan pusing, berbeda dengan Fatur, dia sudah sangat menguasai materi trigonometri yang di jelaskan.


"Ada yang mau mengerjakan soal di atas? Saya kasih 10 poin." ucap Bu Beti selaku guru matematika.


Fatur gercep angkat tangan, dia maju dengan gagah lalu mengerjakan soal di papan seperti tak ada kendala. Sementara teman-teman nya puyeng melihat angka-angka yang tertulis di papan tulis.


Setelah selesai, Fatur turun kembali duduk di bangku nya. Bu Beti memeriksa pekerjaan Fatur dan semuanya benar. "Sekarang giliran Martin. Ayo maju, kalo bisa saya kasih 10 poin."


Martin sudah keringat dingin. Semua penjelasan Bu Beti tidak ada yang masuk di otak nya. "Bu suruh yang lain aja."


"Saya mau nya kamu! Ayo maju." Bu Beti sudah menyiapkan penggaris panjang nya. "Ayo cepat maju!"


Martin dengan debar jantung tak karuan maju ke depan. Dia menggaruk kepalanya tak tau akan menjawab apa soal yang ada di papan.


Martin mengambil sepidol, dia hanya diam memandangi papan tulis. Mata Martin tertuju kepada Fatur, dia mengkode memohon agar Fatur membantu nya.


"Bu." Zaki si anak baru mengangkat tangan nya.


"Iya?"


"Biar saya aja yang ngerjain soal nya." Dia berdiri dari tempatnya lalu berjalan santai ke depan papan tulis.


Martin nyengir kuda lalu memberikan spidol nya kepada Zaki. Dia ngibrit kembali duduk di tempat nya. Semua Yang ada di sana tercengang, tak menyangka Zaki bisa menjawab soal serumit itu.


Setelah selesai mengerjakan soal, Zaki kembali duduk di tempat nya. Bu Beti memeriksa pekerjaan Zaki dan semuanya benar. Karena itu dia mendapatkan aplos dari teman-teman nya.


"Gila keren, ternyata pinter."


Hal itu membuat Fatur tak senang, Fatur tak ingin kalah saing dari Zaki.


Sementara Zaki mencuri-curi pandang kepada Rina. Seperti nya dia ada ketertarikan kepada Rina. Wajar saja jika dia jatuh hati kepada Rina, karena Rina memiliki paras yang cantik.


Margin di sebelah Zaki juga sering mencuri-curi pandang kepada Zaki. Margin suka cowok bertampang bad boy tapi tetap pintar. Dan Zaki termasuk tipe nya.


---


"Rin." Panggil Zaki saat Rina hendak berjalan keluar kelas. Rina yang di panggil tentu menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Zaki.


"Kenapa?"


"Mau ke kantin? Bareng aja."


"Eum boleh, tapi gue bawa temen lagi namanya Luna."


"Iya gapapa."


"Yaudah ayo." mereka berjalan bersama ke kantin, di sana Luna sudah menunggu kedatangan Rina. Tentu nya Luna kaget saat Rina datang dengan cowok asing di matanya.

__ADS_1


__ADS_2