
Happy reading
Rina melihat kepergian Fathur, setelah Fathur melintasi gerbang sekolah, kini Rina berjalan menuju gerbang. Kaki Rina melangkah dengan berat, sebenarnya dia masih tidak iklas pindah sekolah.
Rina tersenyum menyapa satpam penjaga sekolah, beberapa siswa menatapnya karena paras nya yang cantik juga seragamnya yang berbeda.
"Anak baru?" tanya pak satpam.
"Iya pak." Rina tetap berjalan melewati orang-orang yang menatapnya.
"Ini gue mau kemana?" monolog Rina tak tau di mana letak ruang kepala sekolah. "Kampret banget si Fathur ninggalin gue." Rina kini menjadi pusat perhatian.
Rina mendengar cibiran-cibiran siswi-siswi membicarakan nya, mungkin mereka iri dengan kecantikan Rina.
"Anak baru?" tanya cewek berpostur tinggi, lebih tinggi dari Rina.
"Iya." jawab Rina seadanya sambil menatap siswi tersebut.
"Kelas berapa?"
"11."
"Wah seangkatan, kenalin gue Bella." siswi bernama Bella itu mengulurkan tangan kanannya dan Rina pun menjabat tangan Bella.
"Gue Rina. Em boleh anter gue ke ruangan kepala sekolah?"
"Boleh, sini ikut gue." Bella jalan duluan bersama dua temannya. Rina mengekor di belakang Bella.
Suasana yang ramai menjadi tenang saat Rina melintas, semuanya terpukau dengan kecantikan Rina. Rina salfok kepada perempuan berkacamata yang menatapnya dari kejauhan. Karena tak enak, Rina akhirnya memberikan senyum nya sebagai sapaan.
"Ini." tunjuk Bella saat mereka sudah tiba di ruang kepala sekolah.
"Makasih, gue masuk dulu."
"Iya."
Rina masuk ke dalam ruang kepala sekolah. "Permisi Bu," sapa Rina.
Terlihat seorang wanita berbadan gemuk menggunakan kacamata kotak menatapnya dari dalam ruangan. "Silahkan masuk!"
Rina masuk dengan gugup, dia duduk di kursi yang terdapat di depan meja kelapa sekolah.
"Kamu Rina anaknya Bu Ratna sama pak Banyu?" tanya ibu kepala sekolah.
"Iya Bu, saya Rina."
"Oke, kamu masuk di kelas 11 IPA 1, berhubung di sekolah lama kamu juga IPA 1."
"Iya Bu,"
"Di dalam kelas itu ada ketua OSIS, kalo ada yang mau di tanyain tentang peraturan sekolah, bisa tanya langsung ke dia."
"Iya Bu."
__ADS_1
"Ya sudah sana, ets tapi kamu harus kenal nama saya. Saya Ester Gudono Wiranda kepala sekolah SMA 17."
"Iya Bu."
"Ya sudah sana."
"Terimakasih Bu," Rina bangkit dan berjalan keluar dari ruangan kepala sekolah. Ternyata Bella sudah pergi meninggalkan nya.
"Gue satu kelas sama ketua OSIS? Yes Alhamdulillah." monolog Rina berharap bisa memikat hati sang ketua OSIS. Rina belum tau siapa ketua OSIS SMA 17. "Ini kelas nya yang mana?" Rina bingung karena ada banyak lorong di sana.
Rina kesulitan menemukan kelas nya, sekolah itu besar dan luas juga bertingkat. Tak sengaja Rina berpapasan lagi dengan anak berkacamata, tak ada yang terjadi di antara mereka.
"Mau kemana?" tanya Fathur yang tiba-tiba muncul di belakang Rina.
"Kelas." jawab Rina cuek.
"IPA IPS?"
"IPA 1."
Fathur menghembuskan nafas panjang, sangat menyebalkan karena dia harus sekelas dengan Rina. "Sini ikut gue." Fathur membawa Rina ke kelas nya, hanya ada satu bangku kosong. Fathur menyuruh Rina duduk di sana.
Para penghuni kelas berdecak kagum dengan kecantikan Rina. Para anak perempuan membenci Rina karena Rina lebih cantik dari pada mereka.
Rina celingukan mencari anak yang ber-aura ketua OSIS. Dia melihat satu persatu anak laki-laki di dalam kelas itu.
"Ketua OSIS yang mana?" tanya Rina pada anak perempuan berbadan besar dan berkulit hitam yang duduk di depan nya.
Rina melongo syok mengetahui ternyata suaminya adalah ketua OSIS di sana. Runtuh sudah keinginannya untuk berpacaran dengan ketua OSIS.
"Jadi cowok tengil jelek itu ketua OSIS?"
"Jelek lo bilang? Ganteng begitu di bilang jelek." Lawan bicara Rina tak setuju Rina mengatai Fathur jelek.
"Eh nama lo siapa?"
"Gue Felisia."
"Kenalin ya gue Rina nama panjang Sabrina ayu." ucap Rina memperkenalkan diri kepada Felisia yang duduk di depannya.
"Iya."
"Ibu denger ada murid baru ya?" tanya guru mapel bahasa Indonesia.
"Iya Bu." jawab murid-murid dengan serempak.
"Boleh maju ke depan." Guru tersebut meminta Rina maju untuk memperkenalkan diri.
Rina tak gugup, dia sudah biasa berada di depan banyak orang. "Perkenalkan nama saya Sabrina ayu biasa di panggil Rina, saya pindahan dari SMA 18."
Mendengar itu kelas menjadi riuh membicarakan Rina, pasal nya anak SMA 17 tidak akur dengan anak SMA 18.
__ADS_1
"Alasan pindah ke sini?" ~guru
"Di suruh mama Bu, katanya biar lebih deket."
"Oh iya, perkenalkan saya Susan wali kelas 11 IPA 1. Kamu boleh duduk, saya harap kamu tidak membawa pengaruh buruk di sini."
"Iya Bu terimakasih." Rina kembali duduk di bangku nya.
Rina bisa merasakan tatapan tak suka dari anak perempuan 11 IPA 1, hal itu membuat Rina semakin tak ikhlas pindah sekolah.
"Oh, pindahan dari SMA 18 to. Sekolah lo sejelek itu ya sampe pindah ke sini?" ejek Margin yang duduk di sebelah Rina.
Tangan Rina mengepal, dia tak suka sekolah nya di rendahkan. "Diem lo! Jangan sotoy deh."
"Anak baru tapi berani ngelawan?"
"Ngapain gue takut sama lo? Penampilan berandalan lo gak akan buat gue takut!"
"Anak-anak fokus ke sini." Bu Susan bersuara. "Ibu akan mulai menjelaskan, jadi kalian ibu harap fokus mendengarkan penjelasan ibu."
"Iyaa Buu.." jawab murid-murid dengan serempak.
Di sisi lain..
Di SMA 18, berita kepindahan Rina sudah tersebar, mereka semua kaget karena Rina tiba-tiba pindah sekolah. Padahal sebelumnya tak ada tanda-tanda Rina akan pindah sekolah. Mengapa ibu ketua OSIS mendadak pindah sekolah.
Berhubung posisi Rina kosong, sekarang Panji wakil Rina yang naik sebagai ketua OSIS.
"Rina kok gak bilang kalo mau pindah?" omel Yolanda merasa di khianati karena teman dekat nya pergi tanpa pamit.
Rifky yang duduk di sebelah Yolanda hanya mengangkat bahu mengadakan ketidaktahuan. "Mungkin malu karena kemarin abis nyungsep di depan kak Zaki."
"Gak mungkin Rina pindah karena masalah se-sepele itu." ~Yolanda
"Lo tanya aja sendiri ke dia sayang, kalo tanya ke gue mana gue tau? Yang deket sama dia kan elo."
"Iya iya."
Jam istirahat.
Margin keluar kelas bersama Fathur menyisakan Rina sendirian. Rina belum memiliki teman akrab di sana, sejujurnya dia ingin kembali ke sekolah lamanya.
Rina memutuskan keluar kelas berjalan-jalan, di penghujung jalan dia melihat perempuan berkacamata sedang di bully habis-habisan. Rina segera berlari menghampiri anak itu.
"Kalian keterlaluan! Sesama teman sekolah seharusnya gak boleh saling membuly!" ucap Rina marah seraya mengambilkan kacamata perempuan berkacamata yang belum Rina kenal.
"Ayo bangun," Rina membantunya berdiri.
"Anak baru gak usah sok jadi pahlawan!" Bella bersuara, ternyata sang pembuly itu adalah Bella.
__ADS_1