Fatur & Rina

Fatur & Rina
Fatur & Rina


__ADS_3

Happy reading


"Sahabat lo gak dateng buat nolongin lo?" Bella mencekal kuat dagu Luna. Sementara geng Bella berdiri mengelilingi Luna.


Luna teringat kata-kata Rina yang mengatakan dia harus melawan ketika di bully, tapi Luna tidak seberani Rina untuk melawan Bella.


"Anak baru aja udah songong, baru sehari masuk udah sok jadi jagoan." Bella melepaskan cekalannya dengan kasar lalu pergi meninggalkan Luna bersama geng nya, dia melakukan ini hanya untuk memastikan Rina benar-benar tidak masuk sekolah akibat ulahnya yang telah mendorong Rina di tangga sekolah.


Luna berdiri lalu merapikan seragamnya, dia mengambil kacamata nya yang sudah retak akibat ulah Bella. Sungguh gadis yang malang.


Di sisi lain di kelas 11 IPA 1


Keadaan kelas ramai seperti biasa, mereka berkumpul di kelompok masing-masing sambil melakukan kegiatan yang berbeda-beda. Ada satu kelompok yang sedang asyik ngerumpi membicarakan hal-hal random, membuat orang-orang tertawa geli.


"Iya dan parahnya kolor nya warna pelangi."


"BHAHAHAHA, Goblok banget tuh orang."


Begitulah candaan aneh mereka, tapi kelompok itu terkesan selalu akur, damai, dan tentram.


Di satu sisi kelompok yang lainnya sedang membicarakan masalah tugas-tugas, ada juga yang sedang saling bertukar kisah yang sudah di alami.


Namun Fathur tidak bergabung di salah satu kelompok yang terbentuk di kelas nya, dia memilih duduk sendiri sambil membuka buku pelajaran.


Martin yang melihat Fathur sedang fokus belajar, datang menghampiri Fathur dengan tujuan ingin menjahili temannya tapi usahanya sia-sia karena Fathur cuek dan acuh terhadap gangguan nya.


"Tumben, semalem gak sempet belajar di rumah?" Martin menatap wajah serius Fathur.


"Belajar bentar, abis itu mati lampu."


"Oh. Entar sore gue boleh kan main PS di rumah lo?"


Seketika kegiatan Fathur terhenti mendengar penuturan Martin, "ga boleh! Gue udah pindah."


"Lo di usir?"


"Gak lah, gue_" Fathur berfikir untuk kata selanjutnya. "Oh iya, gue lagi belajar mandiri makanya gak tinggal sama orang tua. Udah jangan ganggu gue sibuk!"

__ADS_1


"Belajar aja terus sampe gangguan jiwa!" Martin bangkit pergi meninggalkan Fathur dan kembali ke geng nya.


"Kenapa?" tanya Marvel salah satu cowok ganteng di kelas 11 IPA 1.


Martin duduk di sebelah Marvel."Gapapa, seperti biasa si anak ambis ga mau di ganggu."


"Udah biarin aja." Marvel menepuk pundak Martin.


Dari mereka belum ada yang sadar kalo Rina si anak baru hari ini tidak masuk sekolah.


Tiba-tiba Marvel kebelet dan ingin ke toilet, pemuda itu beranjak dari bangku nya dan berjalan ke luar kelas. Dari kejauhan dia masih dapat mendengar suara teman-teman nya yang ramai.


Setelah dari toilet, dia kembali ke kelasnya. Suasana masih sama seperti ketika dia meninggalkan kelas.


"Gak ngocok kan men?" tanya Martin iseng.


Marvel menoyor kepala Martin. "Sialan, gue gak kayak lo ya yang tukang ngocok tiap hari."


"Anjir."


Setelah itu, tawa mereka mereda kemudian terhenti. Kelas yang tadinya ramai mendadak menjadi tenang setelah kedatangan murid baru lagi berjenis kelamin laki-laki.


Pemuda dengan penampilan berantakan seperti berandalan memasuki ruang kelas. Pandangan para penghuni kelas tak lepas dari nya. Dia datang bersama Bu Susan selaku wali kelas mereka.


"Anak-anak, kalian kedatangan temen baru lagi." Ucap Bu Susan, dia berdiri di depan bersebelahan dengan murid baru. Berhubung murid baru itu bertubuh tinggi, membuat Bu Susan terlihat pendek di sebelah nya. "Silahkan perkenalkan diri kamu."


"Perkenalkan nama saya Zaki Bagaskara. Biasanya teman-teman dekat saya memanggil saya dengan sebutan Kara, tapi saya mau kalian panggil saya dengan nama Zaki bukan kara." Zaki memperkenalkan diri nya, sebisa mungkin dia tidak menggunakan kata lo gue.


"Em berhubung bangku kosong cuman satu dan udah di isi anak baru yang kemarin. Eh tapi anak baru gak dateng ya? Ibu denger dia sakit, jadi untuk hari ini kamu boleh duduk di tempat nya."


Zaki menurut, dia duduk di bangku kosong yang bersebelahan dengan cewek berpenampilan berantakan sama seperti nya.


"Kayak nya kita sefrekuensi, kenalin gue Margin." Margin menjulurkan tangannya ingin bersalaman dengan teman baru nya.


"Zaki," balas Zaki tanpa menjabat tangan Margin.


Margin menarik kembali tangan nya, "semoga betah, di kelas ini ada si ambis taat peraturan namanya Fathur, dia ketua OSIS, hati-hati aja sama dia entar di laporin ke guru BK."

__ADS_1


Ternyata sedari tadi Fathur memperhatikan interaksi Margin dengan Zaki si anak baru. Fathur sepertinya jealous terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Gaes, jodohin aja si anak baru ini sama anak baru yang kamaren, cocok kayaknya mereka, ganteng sama cantik." celetuk salah satu murid yang memecahkan gelak tawa.


"Di luar nalar banget pemikiran lo."


 


Rina duduk di meja makan menunggu ibunya selesai memasak bubur untuk nya. Sebenarnya dia masih marah kepada Ratna karena masalah kepindahan nya yang mendadak. Dan Rina tidak di terima baik di sekolah barunya sampai-sampai ada yang menakalinya.


"Rin gimana? udah punya banyak temen di sekolah baru?" tanya Ratna yang berada di dapur dia sedang mengaduk bubur untuk Rina.


"Temen apanya, yang ada Rina di celakai sampe keseleo begini." Rina melihat kaki nya.


Ratna menghentikan aktivitas nya lalu menatap putri nya, "bilang sama mama siapa pelakunya?"


"Gak deng mah, ini urusan Rina mama gak usah ikut campur!" Rina tak ingin memperbesar masalah dia melihat raut wajah mamanya yang tadinya tenang menjadi marah.


"Jadi karena itu Abang mu sampe dateng ke sini? Terus semalem kalian tidur bertiga di depan tv?"


"Em bukan, bang Revan sama Fathur ga tau, bang Revan ke sini karena Rina yang minta. Semalem ujan terus mati lampu."


"Kan ada Fathur nak, dia bisa nemenin kamu."


Rina memutar bola matanya malas, "apaan sih, Fathur_" Rina menghentikan kalimat nya, dia baru teringat kalau dia harus berpura-pura dekat dengan Fathur di depan mama nya. "Ya engga, seru aja kali kalo main bartiga, lagian bang Revan gak papa, dia mau dateng dengan suka rela."


Ratna melanjutkan aktivitas memasak nya. Setelah melihat buburnya sudah matang, Ratna menyajikan nya di atas mangkuk lalu membawanya kepada putri nya. "Di makan sampe abis."


"Iya," jawab Rina dengan nada kesal, sebenarnya Rina juga ingin melihat Zaki crush nya.


"Masi panas, pelan-pelan!"


"Iyaa maa iyaaa." Rina meniup buburnya, setelah memastikan bubur nya hangat, Rina lalu memakan nya.


Ratna tersenyum melihat anak nya makan dengan lahap, dia bersyukur memiliki anak penurut seperti Rina dan Revan. Jika tidak, hubungan nya dengan anak-anak nya pasti tidak sebaik sekarang.


 

__ADS_1


__ADS_2