
Rina dan Fatur sedang makan malam bersama dengan lauk seadanya. Walau mereka kaya tapi orang tuanya sengaja tidak menyewa ART agar anak-anak nya bisa hidup mandiri. Rina membuat nasih goreng dengan lauk tempe goreng dan telur dadar.
"Enak." puji Fatur untuk pertama kalinya. Masakan Rina sesuai dengan selera lidah nya.
"Alah boong."
Fatur menaikan bahunya acuh lalu kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Eh Tur sebenernya udah lama gue mau bahas ini tapi sering lupa." Rina menghentikan makan nya.
"Apa?"
"Soal Luna, dia kasian tau di kucilin, di bully. Kok gak ada ya yang mau temenan sama dia?"
"Gue gak tau, dia jarang muncul."
Rina menyuapkan sesuap nasih ke mulut nya pandangan nya mengarah ke Fatur. "Eum, kasian."
"Udah biarin aja, kalo mau temenan sama dia ya silahkan."
"Lo gak kasian?"
"Orang gue gak kenal."
"Huu jahat."
Fatur meletakkan sendok nya, piring nya sudah bersih tak ada sisa makanan yang tersisa.
"Tur jangan lupa giliran lo cuci piring!!!!!!!"
"Gue?" Fatur menunjuk diri nya. "Cuci piring? Itu tugas perempuan!"
"Ihh siapa bilang?? Gue udah masak! Jadi lo yang harus cuci piring!!!"
Fatur geregetan sendiri, seumur-umur dia belum pernah cuci piring.
"Kalo gak mau, gue sumpahin NT terus!"
"Iya-iya gue cuci! Puas lo?" Fatur memunguti piring kotor dengan tidak iklas.
Rina terkekeh geli melihat Fatur, ancaman kecil mampu menakutinya. "Tur besok Sabtu."
"Terus kalo Sabtu kenapa?" Fatur seperti nya bad mood karena di suruh cuci piring.
"Boring kalo di rumah terus."
"Gue sibuk, besok harus ke sekolah buat persiapan event."
__ADS_1
"Oh." Rina menyibik sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Dia memandangi langit-langit rumah nya. "Gue gak pernah denger lo ngabari sesuatu ke nyokap lo. Masi marah gara-gara perjodohan?"
Fatur enggan menjawab, dia berpura-pura fokus cuci piring. Rina mengerti, mungkin itu hal sensitif bagi Fatur.
Merasa tak ada lagi yang perlu di bahas, Rina beranjak dan berjalan menuju ke kamar nya. Setibanya di sana dia mengambil ponselnya. Rina heran mendapati sebuah pesan dari nomor tak di kenal.
Rupanya si pengirim pesan adalah Zaki. Awalnya Rina senang mengira yang mengiriminya pesan Zaki crush nya, rupanya dia salah.
Rina meletakkan lagi ponsel nya, dan menatap keluar jendela. Seperti nya dia juga harus berjuang bersama Fatur, memperjuangkan orang yang dia sukai.
"Bakal NT gak ya? Takut banget loch." monolog Rina.
Ke-esokan paginya. Subuh-subuh Rina sudah siap, rencananya dia ingin lari pagi sekalian caper kepada Zaki. Rina keluar kamar dengan menggunakan sepatu dan juga kaos rumahan, tak lupa membawa handuk kecil untuk mengelap keringat.
Rina sudah sampai di teras, hari masih gelap, dia yakin Zaki belum bangun. Perempuan itu mulai berjalan-jalan kecil lalu berlari melewati rumah Zaki. Berapa kali dia pulang balek hanya untuk caper.
Rina kelelahan, hingga matahari muncul dia belum melihat tanda-tanda keberadaan Zaki.
"Neng percuma caper ke mas Zaki. Orang nya lagi gak di rumah." ucap satpam penjaga rumah Zaki yang sudah lelah melihat Rina mondar-mandir di depan rumah majikannya.
Rina yang ngos-ngosan segera menoleh ke sumber suara dengan wajah merah menahan malu. "Ih pak siapa juga yang mau caper??? Bapak ini asal nuduh!!"
"Alah neng gak usah boong. Bapak liat kok pas Eneng balek-balek ke rumah mas Zaki."
"Pak nama saya Rina bukan Eneng."
"Kalo boleh tau kak Zaki nya ke mana ya pak?"
"Saya juga kurang tau neng."
"Yaudah deh pak makasih." Rina segera berlari pergi menjauhi rumah Zaki. Dia benar-benar malu, ke-gep oleh satpam penjaga rumah crush nya.
Rina membuka pintu rumah dari luar bersamaan dengan Fatur yang juga ingin membuka pintu rumah dari dalam, alhasil Rina tersungkur ke depan. Untung nya Fatur gercep menahan tubuh Rina.
"Gue cariin tau nya di sini."
Rina memperbaiki posisi tubuh nya. "Kenapa lo cari gue?"
"Enggak, gabut aja."
"Cowok gak jelas!!! Minggir!" Rina menggeser Fatur, lalu menerobos masuk dan duduk di sofa dengan raut wajah kesal. Fatur ikut duduk di sofa yang berbeda dengan Rina.
Keringat membanjiri tubuh Rina, tapi gadis itu sama sekali tidak memperdulikan nya. Dia malah mencari posisi nyaman di sofa dengan niat ingin menyambung tidurnya.
Fatur menggeleng melihat tingkah Rina. Untuk apa dia berolahraga, aneh sekali pasalnya selama tinggal bersama, Rina tidak pernah mau berolahraga.
Fatur juga masih mengantuk, dia memutuskan ikut berbaring di sofa. Tak lupa mencari tempat senyaman mungkin agar bisa segera terlelap.
__ADS_1
Dan beginilah akhir nya kedua pasangan freak tersebut sama-sama menyambung tidur di sofa.
"MASYA ALLAH!!" pekik Ratna dan Sarah bersamaan melihat Rina dan Fatur tidur di sofa ruang tamu.
"Liat Sar kelakuan nya anak mu."
"Anak mu juga sama aja Rat."
Para ibu-ibu itu menghampiri anak nya masing-masing. Pelan-pelan mereka membangunkan Rina dan Fatur. Tidak membutuhkan waktu lama membuat Rina bangun begitu pula dengan Fatur.
"Kelakuan nya sama aja!! Kamar banyak kenapa musti tidur di sini? Mana pintu nya gak di kunci!!" omel Ratna.
"Bawel ih orang ngantuk."
"Mama ngapain pagi-pagi udah ada di sini?" tanya Fatur masih setengah sadar.
"Sengaja, mama mau hari ini kalian foto prewedding. Kan waktu itu belum foto prewedding."
Seketika rasa ngantuk Rina dan Fatur menghilang. Kedua remaja itu saling tatap, tak setuju dengan perintah konyol ibu nya.
"TIDAKKKKK!!" pekik Rina dan Fatur bersamaan.
"Kenapa enggak? Kalian butuh buat kenang-kenangan!"
"Fatur sibuk mah!"
"Rina juga."
"Alah alasan!" Ratna menimpali.
"Beneran, hari ini Fatur ada kegiatan OSIS. Persiapan acara hari Senin."
"Iya, lagian kami gak butuh foto itu! Gak berguna juga." Rina merapikan rambutnya yang berantakan.
Ratna dan Sarah memutar otak agar anak-anak mereka mau menurut dan melakukan foto. Tapi kepala mereka buntu, seakan-akan tak ada ide yang tersirat.
Fatur dan Rina saling sikut-sikutan, tadi Fatur pindah tempat duduk ke sebelah Rina, sementara Ratna dan Sarah duduk berdampingan.
"Tunda dulu kegiatan nya Tur." Sarah kembali berucap.
"Gak bisa mah! Nama nya gak profesional kalo gitu."
"Yaudah deh Rat ga usah di paksa. Biar aja mereka gak makan, gak usah lagi di kirimin duit, biar cari sendiri! Lagian susah di atur."
Keempat pasang mata membola, lagi-lagi Rina dan Fatur saling tatap. Rina mencubit pinggang Fatur, membuat lelaki di samping nya itu meringis kesakitan.
__ADS_1
"YAUDAH KITA MAU FOTO PREWEDDING!" pekik Rina bersamaan dengan Fatur. Mereka terpaksa melakukan itu karena tidak ingin menjadi miskin.