
"Disaat Rais dalam bahaya, tiba-tiba saja ia tubuh nya bercahaya warna biru. Pada saat itu juga Rais mengalahkan Jack" ucap Aman membuat mata Don membulat melihat Rais. Rais pun merasa bersalah karena sudah menghilangkan benda tersebut. "Sudah tidak apa-apa. Karena benda tersebut sudah memilihmu" ucap Don. "Maksudnya" sahut Rais yang merasa bingung.
***
"Apa maksud nya dengan 'Benda itu telah memilihmu', Don?" Ucap Rais. Rais yang masih belum paham arti kalimat yang di tuturkan oleh Don dan masih merasa bingung. Hanya saja Aman mengerti maksud dari ucapan Don. "Apakah itu benar, Don?" ucap Aman untuk meyakinkan dirinya.
"Huft! Sebaiknya kita tidak menceritakan nya di sini. Lebih baik kita pulang dan bahas di rumah nya dia saja. Akan aku jelaskan semua nya" ucap Don dan juga mengajak Rais dan Aman. Mereka pun mulai berjalan bersama. Waktu itu, langit sudah hampir menandakan waktu pagi dan matahari juga belum terbit.
Sesampai di rumah, hal yang pertama mereka liat adalah pintu depan rumah Rais. "ASTAGA, Kalau kedua orang tua ku datang melihat rumah nya seperti ini pasti akan kacau" ucap Rais. "Kenapa tidak kau gunakan saja kekuatan mu itu, Rais" ucap Aman.
"Kau kira aku bisa memutar balikkan waktu dengan kekuatan ini" ucap Rais yang menunjukkan kekuatan cahaya nya yang masih menyelimuti tubuh nya.
Don yang melihat Rais tampak bingung. "Nampak nya dia belum bisa mengendalikan kekuatan chip kehidupan" gumam Don. "Sebaiknya kita masuk dulu ke dalam rumah. Aku tidak mau orang lain yang melihat kita seperti ini" ucap Don.
__ADS_1
Ketika mereka sudah masuk ke rumah, Don memberikan saran kepada Rais. "Hei, apa kau belum bisa menggunakan kekuatan ini?" ucap Don. "Aku saja tidak tau dari mana aku mendapatkan kekuatan ini dan bingung juga bagaimana cara menghilangkan nya" sahut Rais. Don pun memberikan penjelasan singkat kepada Rais dan juga Aman.
"Gini kekuatan yang kamu miliki itu, berasal dari chip kehidupan yang berkemungkinan itu adalah chip milikku" ucap Don. Rais merasa tidak percaya apa yang di katakan Don. "Tapi seperti nya chip itu memilih mu sebagai pengguna yang baru" ucap Don lagi. Don pun tersenyum senang.
"Jika memang benar Aku orang yang terpilih dimana letak chip itu saja aku tidak tau" ucap Rais. "Iya benar. Seharusnya letak chip itu terlihat dan mudah di cabut dari tempatnya" di sahut Aman. Aman pun menggeledah tubuh Rais untuk mencari dimana chip tersebut.
"Kau mau ngapain, Aman? Kenapa harus mengeledahku" ucap Rais. "Hmm.. Bisa jadi chip tersebut ada di dalam tubuh mu, Rais" sahut Aman. Aman pun mulai sedikit berpikir, sebab ia mendapatkan chip kehidupan Jack setelah menggeledah tubuh nya. "Kau pikir aku ini maling kah pakai menggeledah tubuh segala" sahut Rais.
"Tapi ada kemungkinan chip itu berada di dalam tubuh mu dan ada kemungkinan juga ada di luar tubuh mu" di sahut oleh Don. "Benar juga. Bukankah Don meletakkan chip kehidupan di pedang nya?" ucap Rais. Aman pun melihat aksesoris yang di pakai oleh Rais dan memperhatikan nya. "Apa mungkin di jam tangan mu, Rais?" ucap Aman yanlangsung tertuju pada jam tangan milik nya.
"Jadi apa yang aku dan Rais lihat adalah efek nya?" ucap Aman kaget setelah mendengar penjelasan Don. "Apa maksud mu, Aman? Bukan kah Jack tiba-tiba menghilang setelah terkena serangan itu" ucap Rais. Don hanya mendengar penjelasan mereka karena ia masih bingung tentang kejadian tadi malam.
"Aku mengambil chip kehidupan yang ada pada Jack" ucap Aman. Don dan Rais kaget mendengar ungkapan Aman. Ia pun menunjukkan chip kehidupan yang telah di ambil nya. "Kapan kau mengambil nya?" tanya Don yang masih penasaran.
__ADS_1
"Aku mengambil nya pada saat Jack telah dikalahkan dan ia pingsan dalam keadaan berdiri. Aku pun menghampiri nya hendak memeriksa saja. Tiba-tiba aku teringat tentang chip kehidupan, dan langsung saja aku menggeledah nya. Setelah kudapatkan dan ku cabut dari perisai nya". Aman menjelaskan kejadian saat Jack sudah kalah.
"Huft.. Jadi memang benar hal itu terjadi ya! Aku tidak mengira bakal mendengar nya dari kalian" sahut Don. Rais lamgsung merasa tidak tenang. "Jika kau memaksa mencabut chip kehidupan itu tanpa meminta izin kepada Aura yang di dalam nya, makan kau akan menjadi abu seperti yang di alami oleh Jack" di sambung oleh Don lagi.
Karena mereka tidak mengetahui letak chip kehidupan tersebut sementara tubuh Rais masih di selimut oleh Aura Biru yang masih bercahaya membuat Rais mengurungkan niat nya untuk membuka jam jangan dan ikat pinggang nya. "Tapi bagaimana cara mengetahui letak chip itu berada?" ucap Rais.
"Apa kau pernah berada di ruangan berwarna putih di saat chip kehidupan ini memilih mu?" Don membalikkan pertanyaan kepada Rais. Ia pun menggangguk. "Baiklah. Kini kau harus memejamkan mata mu dan coba untuk konsentrasi. Biarkan Aura yang di tubuh semakin menyelimuti mu" ucap Don.
"Aura?" sahut Rais dan Aman bingung. "Maksud ku cahaya yang menyelimuti mu", don pun menjelaskan nya. "Jadi itu adalah Aura, ya!" gumam Aman. Rais pun mencoba berkonsentrasi pada Aura nya. Semakin ia berkonsentrasi semakin terang pula Aura yang menyelimuti nya. Hingga Rais pun masuk ke alam lain dimana ia kembali ke ruangan tersebut.
Rais melihat sekeliling dan mencari dimana cahaya yang pernah ia lihat sebelumnya. "Dimana bola cahaya itu?" gumam nya. Ketika ia menemukan sebuah cahaya meskipun itu jauh, ia langsung berlari menghampiri cahaya itu.
Singkat cerita. Ketika Rais telah sampai, ia hanya menemukan bola nya saja tapi tidak bercahaya. "HEY, aku tau kau masih di sini. Aku butuh bantuan mu" teriak Rais di dalam ruangan tersebut. Seketika Bola yang di hadapan nya bercahaya dan mengeluarkan Aura. "Ada apa kau memanggilku nak?" Rais mendengar suara itu dari bola Aura tersebut.
__ADS_1
"Aku ingin tau dimana kau meletakkan chip kehidupan mu?" tanya Rais. "Hah! Hahaha...." dia pun tertawa. "Kenapa kau tertawa? Aku saat ini sedang takut. Apa yang terjadi pada Jack, akan terjadi pada ku juga" ucap Rais. "Nak. Kau mau tau aku meletakkan nya dimana" dia bertanya dan Rais pun menggangguk.
"Aku meletakkan nya di......."