
Bel sekolah berbunyi menandakan kalau pelajaran akan segera dimulai kembali. Setelah pelajaran dimulai Aman dan Deni mengingat pembicaraan mereka dengan Rais di kantin. Disaat masih dalam pembelajaran, Aman dan Deni melihat ke arah pintu gerbang sekolah dan mereka pun kaget dengan apa yang di katakan oleh Rais seakan tidak percaya. Orang berjubah itu masih berdiri di sebelah pintu gerbang.
Deni pun merasa takut apalagi saat ia melihat pedang yang berada di sabuk yang tersetak di pinggang nya. Disaat yang bersamaan, Deni sontak kaget ketika dipanggil dengan guru. “Aku sepertinya akan merasa takut lagi jika pulang sendirian. Lebih baik nanti aku menginap dirumah nya Aman aja lah” gumam nya.
Aman pun melihat ke arah gerbang juga. Apa yang di lihat oleh Rais dan Deni, sama halnya dengan yang di lihat oleh Aman. Di satu sisi Aman merasa takut dan di sisi yang lain ia merasa penasaran dengan orang tersebut. “Siapa di tunggu orang itu? Dan kenapa aku merasa orang itu aneh?. Berarti apa yang di lhat oleh Rais tadi pagi adalah nyata” gumam Aman yang berpikir keras.
Orang berjubah itu pun, berjalan ke arah gedung sekolah. Sepertinya ia hendak menghampiri secara langsung. Saat mereka betiga melihat orang berjubah itu berjalan sontak membuat Deni semakin takut. Sedangkan Aman dan Rais memperhatikan orang tersebut. Orang berjubah itu tiba-tiba menghilang bersamaan dengan hembusan angin yang datang. Deni pun semakin takut dan meminta izin untuk pergi ke toilet. Rais dan Aman masih penasaran dengan orang tersebut dan apa yang diinginkannya.
Sampai bel istirahat berbunyi Rais dan Aman mengadakan rapat dadakan di kantin bersama dengan Nora. Tapi mereka baru mengingat jika Deni tidak menemui mereka. Mereka bertiga pun menghampiri kelas nya Deni dan disana mereka tidak menemukannya.
__ADS_1
Rais dan Aman menjadi panik pasalnya Deni adalah orang penakut yang jika ia sudah di takuti dari awal maka ia akan semakin was-was terhadap sekeliling nya.
Rais dan Aman berpikir untuk mencarinya di ruangan kesehatan. Benar saja, Rais dan Aman melihat Deni berada di sudut ruangan. Nora pun membantu Deni berdiri dan duduk di kursi. Rias dan Aman merasa iba tehadap Deni yang sudah sangat ketakutan. “Pulang nanti kita bareng ya teman-teman” ucap Deni kepada teman-temannya. Nora, Rais, dan Aman pun saling pengertian kepada Deni yang akhirnya di jam pulang sekolah, mereka sepakat untuk mengantarkan Deni pulang terlebih dahulu.
Setelah mengantarkan Deni, mereka bertiga pun pulang berbarengan kea rah yang sama. Tapi mereka tidak tau jika orang berjubah itu masih mengikuti nya dari belakang dan jauh, sehingga mereka tidak merasakan atau melihat dirinya.
Aman pun mulai mengangkat pembicaraan terkait hal yang terjadi di sekolah mereka tadi pagi samai siang. “Ketika kita sudah mengantarkan Deni, aku rasa kita hanya menduga kalau yang dia incar itu kita. Tapi setelah aku melihat sekitar, aku tidak menemukan orang berjubah itu lagi.” tutur Aman kepada kedua sahabatnya. “Aku sangat lega hari ini. Setidaknya ini bisa mengurangi rasa takut yang aku alami tadi pagi sampai siang”, dilanjutkan ucapan dari Rais. “Tapi aku masih penasaran kepada orang itu. Apakah iya mengincar seseorang di sekolah kita atau kita yang masih menjadi target nya?”, ucap Aman yang masih penasaran terhadap orang yang berjubah itu. “Sudah setidaknya kamu hanya salah paham. Kenapa pula kita yang harus jadi target dia. Kita kan nggak pernah mengganggu atau melakukan sesuatu yang jahat terhadapnya”, ucap dari Nora yang meyakinkan sahabatnya bahwa bukan kita yang menjadi targetnya.
“Akhirnya aku pulang sendirian. Sebaiknya aku harus cepat sampai di rumah agar tidak terjadi apa-apa” gumam Rais yang masih merasa cemas meskipun ia berpikir bukan dialah yang menjadi target, tapi yang di incar orang berjubah itu adalah Rais.
__ADS_1
Rais pun tidak menyadari hal itu, sehingga ia pun terlhat berjalan santai saja tanpa terjadi apa-apa. Rais pun pulang melewati gang kecil yang biasa ia lalui sebagai jalan pintas ke rumah nya, tapi ketika di pertengahan gang tersebut orang berjubah itu muncul. Rais yang menduga kalau bukan diantara mereka yang menjadi target ternyata salah. Sehingga Rais merasa takut untuk saat ini.
Rais mencoba untuk mundur, karena ia masih melihat orang tersebut masih membawa pedang yang terletak di pinggangnya. Merasa dalam bahaya Rais mencoba lari ke jalan raya, tapi ia di halangi lagi dengan orang berjubah itu. “Kok dia bisa ada di depan? Bukannya dia tadi ada dibelakang?” ucap Rais yang merasa sangat takut.
Ia pun berjalan mundur lagi dan berbalik lari lagi. “Aku masih ingat jalan-jalan di gang kecil ini yang udah seperti labirin dan aku masih ingat jalan keluarnya” gumam Rais yang berlari secepat mungkin dan menjauh dari orang itu. Tapi kali ini ia gagal dan pun bertemu kembali dengannya. Rais tidak menyerah dan masih ada jalan yang lainnya. Hal itu terus berulang sampai Rais tidak kuat untuk berlari dan merasa lelah.
Ia pun mengambil ponsel yang ada di saku nya dan hendak menelepon Aman. Ketika Rais hendak mau menekan tombol panggilan, orang berjubah itu muncul tepat dihadapan Rais. “Bolehkah aku minta sesuatu?” orang berjubah bertanya kepada Rais. “Apa itu?”, jawab Rais dalam keadaan merinding dan berpikir ia akan mengeluarkan pedang dan membunuhnya. “Kembalikan barang yang telah kau ambil saat di jalan tadi pagi. Aku tidak ingin melukai kamu”, ucap orang berjubah itu dalam keadaan senyum.
Rais pun mengeluarkan benda yang ia dapatkan tadi pagi dan menyerahkan. Rais yang saat itu dalam keadaan ketakutan langsung mundur secara perlahan agar orang berjubah tersebut tidak mengetahui keberadaan Rais. “Aku harus segera pulang. Ini adalah kesempatan ku untuk kabur” gumam Rais ketika melihat orang itu memegang benda yang di berikan oleh Rais. Orang berjubah itu pun mencoba memasukkan benda itu ke dalam pedangnya. Saat iya mengeluarkan pedang nya Rais merasa kaget dan mencoba untuk mundur secepatnya.
__ADS_1
Mohon maaf apabila ada kata atau kalimat yang kurang sesuai, dan jika ada kritik dan saran tulis di kolom komentar agar kedepannya cerita ini bisa lebih menarik dan seru. dan saya mengucapkan Terima Kasih yang sebesar-besarnya.
Muhrialis