Fight Robot

Fight Robot
BAB 3 – Panik dan Ketakutan (2)


__ADS_3

Orang berjubah itu mendapatkan benda yang telah di pungut oleh Rais. Kini ia pun mesara bisa bertarung kembali dengan musuh nya yang telah membuat nya terlempar ke dimensi ini. “Aku harus membalaskan dendam ku pada dia. Aku tidak akan memaafkan nya”, ucap orang berjubah itu dengan penuh amarah dan dendam.


Ia pun memasukkan benda itu ke dalam pedang nya agar dapat mengeluarkan pedang dari sarung nya. Setelah dimasukkan dan mencoba nya. “Kenapa pedang nya tidak bisa keluar? Apa ada yang salah?” ucap orang berjubah itu yang merasa heran. Ia pun kembali memastikan dengan mengangkat pedang bersamaan dengan sarung nya dan memastikan bahwa benda yang diberikan oleh Rais. Ia pun tidak menyadari kalau Rais sudah tidak ada ddi dekatnya.


Rais yang sedang berlari itupun mencari jalan keluar dari gang. “Aku harus keluar dari gang ini secepat mungkin agar ia tidak dapat menemukanku” gumam Rais yang sedang berlari. Akhirnya Rais keluar dari gang yang berbentuk seperti labirin itu. Meskipun tempat itu adalah perumahan padat penduduk, tapi bentuk gang nya saja sudah seperti labirin. “Akhirnya keluar juga. Tapi untuk sekarang belum saat nya bahagia, aku harus pulang segera mungkin” gumam Rais yang masih terengah-engah.


Sebelum Rais keluar dari gang, orang berjubah itu memeriksa benda itu yang ternyata telah rusak alias tidak menyala. Ketika orang berjubah itu melihat ke belakang dimana Rais yang saat itu masih berada dibelakangnya, kini sudah tidak ada.”Kemana anak itu pergi? Aku harus mencarinya” ucap orang berjubah itu yang menaruh perasaan curiga kepada Rais.


Saat Rais telah keluar dari gang, orang berjubah itu melihat Rais yang berlari-lari ke arah jembatan. Meskipun orang berujubah itu bisa langsung menghampirinya, tapi ia tidak ingin ada orang lain yang melihatnya dan akhirnya ia melewati arah jalan yang berbeda. Rais yang saat ini masih berlari di sore hari seperti orang yang sedang jogging dan terengah-engah, merasa letih dan kecapek-an. “Aku harus terus berlari. Meskipun ia sudah tidak mengikutiku dari belakang tapi setidaknya aku harus sampai di rumah terlebih dulu” gumam Rais.


Akhirnya dia sampai di rumah dan segera masuk ke kamar dan menguncinya. Rais pun di kagetkan dengan nada dering dari HP-nya dan mengangkatnya


“Halo Aman”, ucap Rais


“Halo Rais. Apakah semua baik-baik saja? Kau seperti habis berlari”, tanya Aman.


“Aku tidak baik-baik saja, Aman. Seperti yang kuduga tenyata orang berjubah itu mengejarku dan sekarang aku sudah sampai di rumah”, ucap Rais yang merasa panik.


“Oke, aku akan ke sana. Apa orang tua tidak ada di rumah?”, tanya Aman lagi.


“Orang tua ku tidak pulang hari ini. Dan aku merasa takut jika orang berjubah itu datang lagi menemuiku”, ucap Rais yang semakin panik


“Baiklah untuk saat ini jangan sampai kau keluar dari kamar. Aku akan segera kesana dan menjemputmu. Aku akan meneleponmu kembali jika aku sudah sampai”, ucap Aman yang segera siap-siap.

__ADS_1


“Baiklah aku tunggu”, ucap Rais


Di saat Rais menutup teleponnya, orang berjubah itu telah sampai di depan rumahnya dan segera melangkahkan kaki nya untuk masuk ke dalam. Ketika mendengar suara pintu, Rais hanya berdiam dan merebahkan dirinya  ke dalam selimut.


Orang berjubah itu mencari dimana Rais berada. Karena ia tidak bisa mengeluarkan pedangnya, maka terpaksa ia harus mencarinya sendiri. Ia pun melangkah dan memeriksa setiap ruangan. Setelah hampir memiksa semua ruangan dan ia tidak menemukan Rais. “Kemana anak itu? Tadi aku melihatnya masuk ke rumah ini”, gumam orang berjubah itu.


Ketika hendak membuka ruangan yang terakhir, ia merasakan feeling yang kuat jika Rais berada di ruangan itu.


“Akhirnya aku menemukanmu”, gumam orang berjubah itu.


Rais yang mendenga ganggang pintu kamarnya berbunyi, langsung bergerak untuk kabur dari kamar nya melalui jendela. Dengan cepat ia buka jendela dan langsung menggulung-gulung selimutnya dan mengikatnya segera.


Saat hendak mengikat selimutnya pintu pun terbuka dan terlihat lah orang berjubah itu. Kali ini Rais langsung terduduk dan diam, sebab taka da jalan keluar lagi untuknya. Meskipun ia bisa melompat keluar dari jendela, orang itu pasti akan langsung menangkapnya.


“Bukannya tadi kau bilang akan membunuhku jika aku tidak mengembalikan benda yang telah aku pungut”, ucap Rais ketakutan ketika melihat pedang yang masih ia bawa.


Orang berjubah itupun merasa tidak enak karena ia seperti orang yang mengancam kepada Rais, padahal ia tidak bermaksud untuk membunuhnya tapi hanya menakutinya saja.


“Baiklah aku mengaku salah atas apa yang aku ucapkan dan aku mau bertanya kepadamu terkait benda yang kau berikan. Apakah benda ini sama sekali tidak menyala ketika kau ambil?”, tanya orang berjubah tersebut.


“Aku tidak mengerti apa maksudmu benda itu menyala. Dan aku memungutnya memang dalam keadaan seperti itu”, jawab Rais heran kepada orang itu.


Orang berjubah itu pun merasa bingung. “Bagaimana bisa mungkin. Jika keadaan seperti ini aku pasti tidak akan bisa bertarung melawannya”, gumam orang berjubah itu. Ia pun merasa panik ketika benda itu tidak berfungsi dan di saat yang bersamaan Aman datang dengan motor nya.

__ADS_1


Ketika melihat di depan rumah Rais, Aman melihat jendela lantai 2 terbuka dan ia tau kalau itu adalah kamarnya Rais. Aman pun memajukan motornya agak menjauh sedikit lalu menelpon Rais. HP Rais langsung berbunyi yang kala itu posisi nya terletak di meja belajar yang dekat dengan orang berjubah itu. Seketika orang berjubah itu langsung mengambil HP Rais dan memberikannya kepada Rais. Ia pun berkata kepada Rais agar tidak memberi tau kepada temannya terkait dirinya saat ini.


“angkatlah telpon ini dan aku minta tolong untuk tidak memberitahukan keberadaanku disini” ucap orang berjubah secara berbisik.


Rais pun mengangkatnya dan mengatakan kepada Aman bahwa dirinya saat ini baik-baik saja.


“Halo Aman”


“Halo Rais. Aku sekarang berada tidak berada jauh dari rumahmu. Dan kulihat jendela kamarmu terbuka. Apakah orang berjubah itu sudah masuk di kamarmu?”, tanya Aman.


“Saat ini aku masih dalam aman. Dan ku kira orang berjubah itu sudah tidak mengikutiku lagi. Karena kamarku terasa panas, akupun membuka jendela dan langsung melihat pintu depan rumah”, jawab Rais yang sepertinya sudah merasa tenang.


“Apa benar kau sekarang dalam keadaan baik-baik saja? Apa perlu aku masuk dan menemanimu?”, tanya aman kembali.


“Ja-jangan kau tidak perlu masuk. Kan sudah ku bilang aku baik-baik saja”, ucap Rais yang hampir salah ucapan.


“Baiklah kalau begitu aku akan pulang. Jika terjadi apa langsung telpon ya”, ucap Aman yang masih merasa khawatir.


“Baiklah Aman”


Dan merekapun menutup telponnya.


Mohon maaf apabila ada kata atau kalimat yang kurang sesuai, dan jika ada  kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar  agar kedepannya cerita ini bisa lebih menarik dan seru. dan saya mengucapkan Terima Kasih yang sebesar-besarnya.

__ADS_1


Muhrialis


__ADS_2