
#Eps25//First Love At School
“La, mau kemana?” tanyanya
“Terserah deh, ikut kamu” jawabku
“Kemana?, resto mana yang udah buka?” tanyanya
“Nga tau, nanti dulu aja deh makanya, siangan dikit” ucapku
“Yaudah deh” jawabnya
**********
“Mau kemana?” tanyaku
“Cari makan” jawabnya
“Eh, kan nati siangan dikit” ucapku mengingatkan
“Bukan buat lu, buat ni motor” jawabnya, akupun hanya mengangukkan kepalaku. Kamipun berhenti di sebuah pom bensin
“Turun lu” perintahnya, akupun turun dari motornya.
Kamipun menunggu motornya diberi makan, tiba-tiba dia berbisik padaku
“La!” panggilnya berbisik
“Iya?” jawabku
“Berapa mas?” tanyanya mengabaikanku, kuputar kedua bola mataku
*********
“Yo naik!” ajaknya, akupun menaiki motornya itu. Kamipun pergi dari sana dan kembali membelah jalanan dikota
“La!” panggilnya
“Hm” jawabku
“Lu nga nangis?” tanyanya meledekku, akupun terkejut mendegar itu
“Hah?! nangis? kenapa?” tanyaku heran
“Ya kan, dulu gua kenal lu suka nangis!, nangis di lorong, bawah pohon” jawabnya sambil tertawa kecil
“Ih, apaan sih?!, kamu ngikutin aku ya?” ucapku menebak
“Ngak, cuma kebetulan lewat” ucapnya sambil tersenyum sendiri
“Eh, lu, cemberut mulu senyum dong” ucapnya
“Ngak, ngak mau, anterin aku pulang aja deh” pirintahku ngambek
“Idih, ni motor gua, suka² gua dong” jawabnya
“Yaudah aku mau turun didepan!” ucapku
“Ngak, ngak, kalau lu turun, lu pulang jalan kaki?” tanyanya
“Biarin, yang penting nga sama orang nyebelin kek kamu!” ujarku
“Udah, udah, berhenti!” perintahku, tapi dia malah menambah laju motornya
“Ih, Rafael kok ngak turunin aku sih?” tanyaku sambil memukul pelan bahunya
“Heh!, diem lu!, jan banyak ngomong” ujarnya sedikit membentak
*********
“Turun lu!” perintahnya dingin
__ADS_1
“Ih!” umpatku seraya turun dari motornya
Kitapun pergi memasuki sebuah resto yang baru buka itu...
“Mau makan apa?” tanyanya yang sepertinya sedikit marah
“Terserah” jawabku ikutan ngambek
“Heh, tadi lu yang minta makan, sekarang jawabnya terserah” ujarnya marah-marah
“Ih, kenapa sih marah-marah mulu” ujarku
“Eh, jadi nga?!” tanyanya
“Ih, jadi deh” ucapku pelan sambil cemberut
“Lu makan apa?” tanyanya dingin
“Hm” jawabku sambil menunjuk gambar spageti didaftar menu. Rafaelpun melihat gambar yang aku tunjuk itu
“Spageti?”tanyanya, akupun hanya mengangkuk tanda iya
“Ama ini!, ini juga” ucapku menunjuk kearah salad buah dan jus apel
Rafael pun melambaikan tanyanya kearah seoarang pelayan, dan pelayan itupun menghampirinya
“Spageti 2, salad buah 2,kentang goreng 2,jus apelnya 1, ma cappucino 1 esnya dikit aja” ucapnya, dan pelanyan itu hanya menganguk dan pergi
“Eh, aku nga minta kentang goreng kok” ucapku
“Gua yang mau” jawabnya dengan muka datar, dan kemudian mengambil handphone dan memainkanya
“Ih nyebelin” umpatku, sudah sekitar 15 menit kita hanya diam saja
“Eh, lu udah buka grup belum?” tanyanyanya membuka obrolan
“Udah lah, kamu apa” jawabku jutek
“Lah, mana aku tau” jawabku dingin
“Iiisshh” gumamnya kemudian kembali fokus dengan handphonenya
“Permisi mas, mba” ujar pelayan resto mengagetkan sambil membawa pesanan tadi
“Oh, iya-iya” jawabku sambil membantu mba tadi menaruh makanan itu
“Udah makan” perintahnya dingin, akupun menaruh handphoneku di atas meja, kitapun memakan makanan masing-masing, suasana hening yang ada, bahkan dia tak melihatku sama sekali
Beberapa kali kulirik dia, tapi dia asik dengan makananya, aneh rasanya kesel kemudian kuhabiskan lagi makananku
“Aku udah selesai” ucapku
“Yaudah, tungguin gua” jawabnya singkat, akupun kembali mengambil handphoneku dan memainkanya, sesekali aku meliriknya tapi seperti biasa dia hanya asik dengan makananya
“Rafael mah!” umpatku
“Hm” jawabnya sambil mengangkat kepalanya kearahku
“Ih, nga jadi” ucapku seperti orang kesel sendiri
“Dih, napa lu, dah gila?!” tanyanya heran kemudian diapun melanjutkan makanya, sedangkan aku hanya cemberut gak jelas
“Udah nih, cabut!” ajaknya, kitapun pergi kekasir dan segera membayar, kubuka dompetku dan segera mengambil beberapa lembar uang
“Nih!” ujar Rafael sambil menyodorkan kartunya
“Lho tapi kan-”belum selesai aku bicara tapi sudah dipotong olehnya
“Udah, gua aja yang bayar” ucapnya sok baik
“Maaf mas, tapi udah saya coba beberapa kali tapi ditolak” ucap wanita kasir tersebut
__ADS_1
“Ah, mana ada nga mungkin mba” ucapnya ngeyel
“Coba lagi ah” sambungnya, kemudian wanita itupun kembali mengesek kartu Rafael
“Tetep mas, nga bisa” jawab wanita itu
“Yaudah ini” ucap Rafael sambil menyodorkan beberapa lembar uang
“Kartunya kenapa?” tanyaku
“Kayaknya diblok papa deh” jawan Rafael
“Tapi lu masih ada uang kan?” tanyaku
“Adalah” jawabnya penuh keyakinan
“Yaudah, cabut!” ajaknya sambil menarikku keluar dari resto tersebut
“Kemana?” tanyaku
“Anterin lu pulang lah” jawabnya sembari menaiki motornya
“Pulang?, nga ah, jam segini mama masih dirumah” ucapku
“Yaudah kerumah gua dulu kalau gitu” ucapnya sambil menepuk motornya, seolah menyuruhku untuk menaiki motornya
“Cepetan!” ucapnya tak sabar, akupun menaiki motornya itu. Kamipun segera melaju menuju rumah Rafael
“Kerumah kamu, buat apa?” tanyaku
“Gua mau demo ke papa gua” jawabnya
“Soal kartu kredit itu?” tanyaku
“Ya iyalah, gua ngak bisa jajan kalau nga ada kartu itu” jawabnya
************
“Udah sampe nih, lu ikut gua kedalam” ajakknya
“Hah?!, gila, aku ikut kamu kedalam?” tanyaku heran
“Iyalah, lu mau disini?, nunggu gua gitu?” ujarnya
“Adanya lu malah ketahuan tuh ma supir gua” ucapnya sambil menunjuk kearah seorang pria yang sedang mencuci mobil...
“Terus?” tanyaku
“Udah, jangan banyak omong” ucapnya sambil menarikku masuk kedalam
“Eh, sini kita lewat samping aja” ucapnya, kamipun memasuki rumah Rafael dengan mengendap-endap seperti seorang maling
“Pelan-pelan” ucapnya sambil menarikku menaikki tangga
“Udah masuk cepet!” perintahnya sambil menyuruhku memasuki sebuah kamar
“Udah lu diem disini jan sampai keluar!” perintahnya, kemudian diapun pergi meninggalkanku di kamarnya
“Wah, ini kamar Rafael ya?” tanyaku pelan
“Keren banget, wah ini kan Kyrie sama Rafael” ujarku sambil selihat foto itu di meja sebelah ranjang
“Asik banget ya” gumamku sembari tersenyum melihat itu. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka
“Kleekk!!” aku yang mendengar itu langsung membalikan badanku
“Rafael” panggilku sambil tersenyum, tapi bukanya Rafael yang datang tapi seorang ART yang sedang membawa sapu, sontak akupun kaget serta panik
‘Mampus, ketahuan nih’ batinku
~Bersambung...
__ADS_1