
#Eps26//First Love At Scholl
“Rafael” panggilku sambil tersenyum, tapi bukanya Rafael yang datang tapi seorang ART yang sedang membawa sapu, sontak akupun kaget serta panik
‘Mampus, ketahuan nih’ batinku
“Si..siapa kamu?, kenapa ada dikamar den Rafa?” tanya wanita itu memberanikan diri
“Aaaaa~~”teriakku, akupun berlari menuju kamar mandi dan menutup pintu
“Keluar kamu!, kamu maling ya!, pergi kamu!” perintah wanita itu sambil megetuk keras pintu kamar mandi
Rafael Pov
“Pa, kenapa kartu kredit Rafa diblokir?” tanyaku lembut
“Dari mana aja kamu?, baru inget pulang?, pulang cuma kalau ada maunya!” omel papa
“Lah terus?, Eh pa, Rafa dah gedhe ya jangan angep anak SD lagi” ucapku tapi papa hanya melirikku dan kembali membaca koran
“Pa, balikin kartu kredit Rafa!” pintaku
“Ngak ada!” jawab papa singkat
“Balikin dong pa!” ujarku
“Eh, ini lagi apa ribut-ribut dipinggir kolam, kalian pergi sana, bakal ada tamu special disini” perintah mama
“Ih, didepan aja napa ma!” ujar papa
“Ngak, didepan lantainya masih basah baru di pel, jadi kita disini aja” ucap mama, kemudian papapun pergi menuju ruang tengah dan akupun mengikuti papa, tapi tiba-tiba...
“Ettss, Rafa!, sini kamu!” ucap mama
“Kamu dari mana ha?, gara-gara kamu pake kabur jadi berantakan gini” omel mama
“Ih, cuma makan malam aja sampe gitu, biasa aja kali ma” ujarku
“Ini tuh special, kamu sih bikin gagal semua” ucap mama
“Maaf nyonya, diluar ada nyonya Rianti” ucap supir pribadi keluarga kami
“Oh udah dateng, suruh masuk” ucap mama sembari menuju kearah yang diberitahukan supir tadi
“Eh, den Rafa, baru pulang ya?” tanya supir itu
“Alah kepo, cepet cuci mobil!” perintahku, akupun berjalan kearah tangga, tapi tiba-tiba...
__ADS_1
“Rafael! Rafael...!!!” teriak Viola sambil berlari menuruni tangga kearahku
“Lho, La!” gumamku, terlihat pembantu dirumahku sedang mengejarnya dengan membawa sapu yang diangkat tinggi
“Gawat, Kenapa bisa begini” gunamku
“Rafael!” teriaknya sambil sembunyi dibelakangku
“Eh, eh!, stop!, stop!, berhenti!” ucapku tegas
“Den, dia maling yang ada dikamar den Rafa” ujar bibi itu
“Engak kok, ya kan” jawab Viola membela diri
“Ah, ngaku aja, sini aku bakal laporin ke tuan!” ucap bibi itu sambil menarik tangan Viola
“Stop!, lepasin bi, ini temen aku!” ucapku sambil melepaskan tangan Viola dari genggamanya
“Hah?, temen den Rafa?, maaf ya neng, bibi nga tau” ucap bibi itu minta maaf
“Ah, iya yaudah duduk dulu, mau dibikinin apa?” tanya bibi
“Nga usah” tolak Viola lembut, tiba-tiba datanglah mama bersama temanya itu
“Ini ada apasih, ribut-ribut!” omel mama
“Nga usah” tolakku lembut, tiba-tiba datanglah seorang wanita bersama temanya itu
“Ini ada apasih, ribut-ribut!” omel wanita itu
“Ini, ini siapa?” Tanya mama Rafael sembari menunjuku
“Ah, ini temen Rafa” jawabnya sambil mengandeng tanganku erat
‘Kenapa dia?!’ batinku sambil berusaha melepaskan tanganku dari cengkramanya, tapi itu sia-sia karna dia malah semakin erat
“Lho, itukan mama” gumamku
“Hah?” tanya Rafael
“Lho, Lala!” ucap mama sambil menunjukku, akupun segera memalingkan tubuhku dan bersembunyi di balik tubuh Rafael
‘Aduh, ngapain mama disini pagi-pagi’ batinku
“Kamu, kamu kan yang biasanya Stay dirumah sayakan” ujar mama sambil menunjuk kearah Rafael
“Lho jeng, kalian udah kenal?” tanya mama Rafael
__ADS_1
“Jeng, ini anak kamu?” ujar mama balik tanya
“Iya” jawab mama Rafael
“Oh” gumam mama. Tiba-tiba mamapun melirikku
“Eh, bentar, ini siapa?, sini ikut saya!” ucap wanita itu sembari menarik
“Eh nyonya itu kan...” ucap bibi mencoba menahan
“Den Rafa...” panggil bibi pelan tapi tetap terdengar
“Oh iya, Rafa kekamar, mama belum selesai!” ucap wanita yang telah mengandengku tegas
“Sini kamu, jangan-jangan kamu selingkuhanya Rafa ya?, eh kalau kamu perlu uang bilang” ucap wanita itu memarahinku sembari berjalan dan aku hanya bisa menundukan kepalaku
“Dan kamu ngak usah deketin anak saya, karna Rafa udah ada jodohnya” ujar nya
“Hah, Jodoh?” gumamku, akupun langsung mengangkat kepalaku dan menatap mama, dan terlihat mama sedang mengangkukkan kepalanya
‘Jangan-jangan Rafael itu...’gumamku sembari melihat pintu kamar Rafael keatas
“Tante, aku permisi dulu dan aku ngak bakal ganggu Rafael lagi kok” ucapku kemudian pergi meninggalkan mama, wanita itu dan Rafael
Kulangkahkan kakiku menuju gerbang rumah Rafael, dan saat itu pula air mataku, aku tak percaya dengan semua ini
“Taksi!!” panggilku sambil melambaikan tanganku
“Terserah mau pergi kemana” ucapku sembari terus meneteskan air mata
‘Semuanya jahat, kenapa ngak ada yang ngasih tau sih’ batinku sambil memandang jalanan lewat kaca jendela, dan entah kenapa sedari tadi aku terus meneteskan air mata
Semakin ku ingat masalah ini, semakin sakit rasanya, kenapa ada perjodohan ini sih?, apa mungkin karena bisnis? Atau semacam nya?, karna aku sering melihat hal ini di novel-novel di perpustakaan, dan hampir seluruhnya pasti akhirnya menyedihkan, maka dari itu aku tak mau dijodohkan
“Neng, dari tadi muter-muter terus, emang mau kemana?” tanya supir itu, akupun menghapus air mataku
“Hm yaudah pak anterin saya pulang aja, ke jalan (***) no (**)” pintaku, akupun mulai menyesuaikan nafasku
*************
“Non, Lala, udah pulang?” tanya pak Heru, tapi tak ku hiraukan dan langsung melewatinya begitu saja
“Non lala, udah pulang?, mau makan apa?” tanya bi Eni, tapi sama saja ku lewati begitu saja
“Eh la, kemarin malam lu pergi kemana aja?” tanya Ega dan hanya ku lirik sebentar tanpa menjawabnya
Kubuka pintu kamarku, dan seperti biasa banyak poster-poster yang menempel di dinding kuurebahkan diriku diatas singgasanaku(kasur) sembari melihat keatap
__ADS_1
“Apa yang harus ku lakukan?” tanyaku