
Penilaian akhir semester telah berakhir. Sebelum libur tiba, Osis mengadakan classmeet selama 3 hari. Awalnya kukira akan membosankan, tapi ternyata tidak. Ini sudah hari ke-3. Hari babak final semua lomba. Kini aku tengah duduk di pinggir lapangan, tepatnya di belakang gawang. Tadi Yuli yang memilih tempat ini, katanya kalau di belakang gawang, kami bakal aman.
"Kak Ryan emang keren yah, Ti," ucap Yuli yang duduk di sebelahku, "udah pinter akting, jago main bola pula. Pacar idaman gue banget."
Aku tertawa. Yang diucapkan Yuli memang benar. Kak Ryan itu benar-benar pacar idaman banget. Kalau ditembak pun aku bakal terima.
"Lo suka Kak Ryan atau adiknya sih?"
"Adiknya, Nye. Tapi kalau Kak Ryan mau sama gue, yah gue terima dengan senang hati."
"Kak Ryannya yang nggak mau sama lo."
"Gue tahu. Kan Kak Ryan miliknya Tia," ucap Yuli sambil mengangkat alisnya dan memeluk lenganku.
Aku bukannya tidak mau menanggapi pembicaraan anak-anak. Tapi aku terlalu fokus melihati Kak Ryan yang berlari dengan keringat yang terus menetes. Bahkan, dengan wajah yang penuh keringat, merah, dan matanya yang menyipit karena sinar matahari, dia tetap terlihat lucu dimataku. Sampai aku senyum-senyum sendiri setelah mengingat bahwa aku dekat dengannya. Rasanya seperti mimpi saat orang yang menjadi perhatian publik malah meminta perhatian kepadamu. Saat istirahat babak 1, Kak Ryan berjalan ke arahku dan meminta minum yang tengah kupegang. "Mentang-mentang punya cewek, minta minum ke ceweknya. Padahal osis udah nyediain minum," sindir Jihan membuat Kak Ryan melirik anak itu.
"Yang gue mintain aja ikhlas. Kok lo yang sewot," ucapnya sambil memberikan botol minum yang sudah kosong. Bukannya buang karena dia yang minum, malah balikin ke aku. Untung lucu.
"Capek banget, yah? Sampe keringetan gitu," ucapku yang diangguki olehnya. Dia terlihat masih ngos-ngosan. Aku tahu dia yang diandalkan diperlombaan futsal ini. Karena dia yang paling menonjol. Bahkan, semua temannya mengoper bola padanya.
Aku mengambil tisu di dalam tasku. Dia terkejut saat aku menempelkan tisu pada wajahnya. "Maaf buat Kakak kaget. Tapi keringet Kakak banyak banget," ucapku tetap melanjutkan mengelap keringatnya. Dia tersenyum dan membiarkanku melakukan itu.
Babak ke-2 dimulai. Tapi sayang aku harus menjadi suporter teman kelasku yang akan berlomba tarik tambang. Kebetulan Yuli dan Anye yang ikut karena mereka yang terlihat kuat. Aku jadi senang dengan tubuh kurusku ini. Tidak akan dipilih ikut lomba yang berat-berat. Bahkan aku saja hanya menjadi suporter di acara classmeet ini.
"Udah, nggak usah dimenangin. Nyapek-nyapeki," celetuk ketua kelasku, Herman kepada anak-anak yang ikut lomba. 3 hari ini dia memang terus berkata seperti itu. Kelasku memang beda. Mereka ikut lomba hanya agar tidak kena denda. Kata anak-anak, hadiahnya tidak menarik. Hanya alat kebersihan. Sementara untuk memenangkan itu harus melawan banyak kelas hingga bisa ke babak final. Mangkannya itu mereka berencana untuk mengalah. Bahkan perlombaan tarik tambang hanya berjalan tidak lebih dari 20 detik. Itu disebabkan karena mereka yang hanya berpura-pura menarik tapi kemudian bersama-sama melepaskan tali itu, membuat lawan mereka jatuh semua. Parahnya lagi lawan mereka adalah Kakak kelas.
Setelah melakukan aksi itu, dengan santainya kami pergi, menghiraukan umpatan-umpatan yang keluar dari mulut Kakak kelas. Aku kembali duduk di belakang gawang. Kebetulan kelas Kak Ryan sudah selesai melakukan lomba futsal dan menang. Dia duduk disebelahku. Baru saja dia duduk di sebelahku, teman-temanku pergi mencari doi mereka masing-masing. Yuli lagi usaha deketin Randy, Dita lagi sama Kak Gana, sementara Anye dan Jihan lagi cari makan.
"Riz, fotoin gue sama calon pacar gue dong," ucap Kak Ryan pada segerombolan temannya di sebelah kami. Sontak saja kami berdua menjadi pusat perhatian. Teman-teman Kak Ryan bercie-cie dan ada yang berucap, "cantik juga, yan, pilihan lo."
Tunggu. Apa Kakak yang berucap seperti itu benar adanya memuji wajahku? Bahkan, mukaku tidak sebanding jika bersama Kak Ryan yang putih, hidung mancung, alis tebal, bibir seksi, dan kumis tipis yang membuatku suka. Sementara aku hitam, hidung pun hanya 1/4, alis tipis, bibir lebar, bagaimana aku tidak insecure.
Teman yang Kak Ryan panggil mendekat lalu memfotokan kami berdua. Ini kali kedua aku satu frame dengannya. Foto waktu drama itu benar dipost di instagramnya dengan caption, "Plot twistnya, Ibu gadis kayu nggak meninggal. Tapi pergi ke istana biar bisa foto sama pangeran."
Unggahannya itu sudah dilike lebih dari 800 orang dan komentar lebih dari 200. Bahkan dia tidak malu tag akunku. Karena itu, followersku bertambah yang awalnya 400 menjadi 700.
"Ntar ada nyanyi bareng. Lo mau nggak duet sama gue?" tanyanya setelah kami selesai berfoto.
"Suaraku jelek, Kak."
"Bagus, dek. Mau kan? Kapan lagi nyanyi sambil diiringi gitar sama pangeran tampan kayak gue?"
Aku tertawa, "pede banget bilang tampan."
Dia juga ikut tertawa sambil mengacak rambutku. "Jadi gimana? Nggak terima penolakan."
__ADS_1
~•~
Sebentar lagi waktunya aku dan Kak Ryan naik ke atas panggung. Kami berdua tidak ada latihan sama sekali. Hanya menggunakan lagu yang pernah aku vn dan kukirimkan kepada Kak Ryan. Aku mengirim vn itu juga atas paksaan Kak Ryan yang meminta aku menyanyikan lagu requestnya. Katanya sih, suaraku bagus. Tapi menurutku biasa aja.
"Ntar biar nggak gugup, lihat ke gue aja," ucap Kak Ryan yang berdiri di sebelahku sambil memegang gitar miliknya.
Jika aku melihatnya saat tampil. Bukannya aku tidak akan gugup, malah gugupku akan bertambah hingga kemungkinan bisa menyebabkan aku gagap. Pokoknya aku harus ingat satu, tidak boleh menatap matanya.
***Aku yang tak akan melepaskan
Kamu yang menggenggam hatiku
Kita tak kan mungkin terpisahkan
Biarlah terjadi apapun yang terjadi
Aku yang tak bisa melepaskan
Kamu yang miliki hatiku
Walau mungkin terlalu cepat
Bagi kita berdua
Untuk mengatakan
Selamanya kita akan bersama
Melewati segalanya
Selamanya kita akan bersama
Tak kan ada keraguan
Kini dan nanti
Percayalah
Aku yang tak bisa melepaskan
Kamu yang menggenggam hatiku
Walau mungkin terlalu cepat
Bagi kita berdua
__ADS_1
Untuk mengatakan
Selamanya kita akan bersama
Melewati segalanya
Selamanya kita akan bersama
Tak kan ada keraguan
Kini dan nanti
Percayalah
Hanya dirimu satu-satunya
Tercipta untukku
Houou.
Selamanya kita akan bersama
Tak kan ada keraguan
Kini dan nanti
Percayalah
Tak kan ada keraguan
Kini dan nanti
Tak kan ada keraguan
Kini dan nanti
Percayalah***
Tepuk tangan dan siulan bersautan setelah kami mengakhiri duet dadakan itu. Aku bisa dengar teriakan-teriakan fans Kak Ryan yang berbondong duduk di depan panggung meskipun harus panas-panasan. Tadi saat bernyanyi, aku ingin lebih fokus kepada penonton sebab aku takut bisa gagap jika melihat mata cowok itu. Namun, Kak Ryan terus menyenggol-nyenggolkan sepatunya pada sepatuku. Sebuah kode yang aku yakini agar aku menatapnya. Terpaksa aku menatapnya, bersautan lagu dengan ditambah iringan gitarnya yang terlihat keren.
Setelah menatapnya, aku malah tidak bisa untuk tidak fokus padanya. Alhasil, aku bisa melihat bagaimana kerennya dia bernyanyi sambil bermain gitar. Ditambah dengan senyumnya sesekali yang ia berikan untukku. Ternyata benar jika melihatnya membuatku tidak gugup.
"Aku seneng, bisa duet sama Kak Ryan," ucapku saat kita turun dari panggung.
Dia tersenyum sambil membantuku menuruni tangga panggung. "Gue harapnya, lo bisa paham, dek."
__ADS_1
~•~