Flashback

Flashback
Bab 11: Bucin


__ADS_3

Sudah 2 bulan lebih aku dan Kak Ryan menjalin hubungan ini. Kami menjadi pasangan yang banyak dibicarakan di sekolah. Ada yang suka akan hubungan kami dan ada yang tidak suka. Beberapa Kakak kelas pun pernah membicarakanku tepat di depanku.


"Kayaknya adik kelas itu yang maksa Ryan pacaran."


"Iya. Gue lihat, Ryan kayak nggak suka sama hubungan mereka."


Kalimat yang kudengar saat aku duduk di kantin. Aku biasa saja saat dibicarakan seperti itu. Karena aku yakin dengan Kak Ryan. Seperti lagu yang pernah kami nyanyikan bersama, aku percaya dia benar-benar tulus. Bahkan, dia tidak pernah melihatkan wajah kesal, marah, atau ucapan protes karena tidak mau aku minta tolongi.


Pangeran tampan sekaligus lucu itu selalu tersenyum dan mengiyakan apa yang aku mau. Tenang saja. Aku tidak pernah meminta yang aneh-aneh. Paling hanya meminta dia untuk mengajakku keliling kota, makan di warung penyet kesukaannya, atau memintanya menemaniku dirumah saat Mama dan Papa lagi keluar.


Mungkin terlalu banyak dan tak sebanding dengan apa yang Kak Ryan minta. Dia itu cowok yang nggak ribet. Satu yang harus kuturuti, "bikinin sarapan setiap pagi, kecuali weekend." Itu adalah satu-satunya permintaan dia dan sangat bisa kulakukan. Aku tidak masalah setiap hari harus bangun pagi


bikin sarapan buat dia. Aku juga tidak masalah setiap malam harus mencari menu sarapan yang berbeda setiap hari. Yang terpenting dia mau mengantarkanku belanja di pasar.


"Gue kasih nilai 5 dari 10."


"Itu bikinnya susah, Kak. Masa cuma dapet nilai 5," protesku tidak terima. Aku rela bangun jam 4 buat masak nasi uduk dengan ikan lele. Dia pasti tidak tahu betapa pusingnya aku karena terus-terusan tanya Mama apa yang harus kulakukan.


"Gak ada sambalnya, kurang lengkap."


Tadi memang tidak sempat untuk bikin sambal, karena aku selesai masak jam setengah 6 sementara aku masuk jam 6.20. Perjalanan dari rumah ke sekolah memang cuma butuh waktu 15 menit. Tapi tadi saja kami hampir telat karena aku masih harus setrika seragam.


"Besok-besok nggak usah masak yang susah. Bikinin gue ayam geprek sambal matah aja gue udah seneng."


"Nanti Kakak bosen. Bentar."


Aku membuka buku catatan dihpku. Sebuah catatan yang kuberi nama "nilai masakan dari Pangeran". Sudah ada 15 makanan yang pernah kubuat, termasuk nasi uduk tadi.



Dari 15 masakan yang sudah dia nilai, masakan yang mendapat nilai 9 adalah sambal balado. "Oke, aku bakal kasih jadwal. Senin aku masakin Kakak sambal balado, selasa ayam geprek sambal matah, Rabu sayur bayam plus dadar jagung, Kamis.... enaknya apa yah, Kak?"


"Kamis sama Jumat bikinin gue kue aja. Mau nggak?"


"Kue? Bukannya nolak bikinin. Tapi aku nggak pernah bikin kue."


"Terserah lo, dek. Nggak usah dijadwal juga. Trus, kalau emang sibuk nggak usah bikinin sarapan tiap hari."


"Nggak papa kok, Kak. Nanti aku bakal coba bikin kue. Anggap permintaan Kakak sebagai percobaan sebelum menjadi Ibu rumah tangga keluarga kita."


Dia tersenyum dan mencubit hidungku. Jika dia melakukan hal kedua itu, tandanya aku sedang lucu baginya. Aku pun membalas mencubit pipinya. "Sekarang udah berani bales cubit, yah?"


"Iyalah, kan udah pacar," jawabku dan dia tersenyum melihatkan deret giginya yang rapi dan putih.

__ADS_1


~•~


Mendengar cerita panjang guru mata pelajaran Ekonomi membuat beberapa teman kelasku sudah tertidur lelap. Yuli teman sebangkuku saja mulai menidurkan kepalanya dimeja. Hanya Dita dan beberapa murid ambis dikursi bagian depan yang memperhatikan beliau. Sebenarnya aku kasihan. Namun aku juga tidak paham apa yang tengah beliau bicarakan. Topiknya sudah keluar dari pembelajaran.


Pangeranku: Dek, lagi pelajaran apa?


Tia: Ekonomi, kenapa?


Pangeranku: Mau solob bareng nggak?


Tia: Kantin?


Pangeran: Ruang Theater. Gue tunggu di sini.


Tia: Oke. Otw, pangeran.


Aku pun izin untuk ke kamar mandi. Entah sudah berapa kali aku melakukan izin ke kamar mandi tapi bolos pelajaran. Yang terpenting aku bisa bebas dari ceritanya yang sudah seperti lagu nina bobo.


Kututup pintu theater. Kak Ryan sedang bersandar di bagian belakang ruangan. Tempat yang tidak akan bisa dilihat oleh guru piket dari jendela. "Tumben ngajak aku bolos pelajaran. Padahal dulu ada yang bilang ke aku, kalau suka bolos bakal nggak naik kelas."


"Enak dong. Bisa seangkatan sama lo, dek."


"Hush. Ntar ada malaikat lewat, trus dikabulkan baru nangis-nangis bombay," ucapku sambil memukul lengannya. Dia hanya tertawa, lalu menyuruhku duduk di sebelahnya. Sebenarnya aku takut jika ada guru piket yang mengetahui kami sedang berduaan di ruang theater. Ditambah dengan penerang ruang theater yang remang-remang, bisa dipastikan guru akan berpikir yang tidak-tidak.


"Kan fisika emang gitu konsepnya, Kak."


"Emang ngitung frekuensi orang teriak bisa dapet uang?" tanyanya yang kujawab kedua pundak yang terangkat. "Mending gue jadi aktor. Kalau film gue laris bisa dapat uang banyak."


"Masuk SMA sini cuma karena pingin ikut ekskul theater?"


"Iyalah. Gue nggak minat sama pelajaran, dek. Gue cuma suka kalau disuruh bikin short movie tentang peristiwa sejarah."


"Nggak boleh gitu, Kak. Perasaan Kakak jago fisika deh," ucapku setelah mengingat Kak Ryan yang pernah mengerjakan pekerjaan rumahku dan mendapat nilai 100.


"Nggak tahu kenapa, gue capek aja lihat rumus-rumusnya. Lagian gue juga udah paham bab yang sekarang dijelasin."


"Wuihhh. Pro sekali. Pantes aja bosen. Pasti karena udah diterangin sama guru les privat Kakak?"


Setelah itu Kak Ryan cerita jika dia tidak suka fisika. Dia masuk SMA karena dipaksa Mamanya. Bahkan dia sering bolos les privat karena tidak suka. Namun aku masih bingung. Jika Kak Ryan nggak suka fisika, kenapa nilai fisikanya bisa bagus. Atau mungkin otaknya memang mengusai fisika, namun minatnya pada dunia hiburan.


"Jangan pernah lo maksain apa yang nggak lo suka, dek."


"Iya, Kak. Tapi Kak Ryan juga harus gitu. Bilang ke Mama Kak Ryan kalau Kak Ryan nggak suka fisika dan tertariknya ke dunia hiburan."

__ADS_1


"Gue nggak berani, dek."


"Mau aku bantu?"


BRAKKK...


Pintu theater dibuka dengan kerasnya. Mataku langsung melotot melihat Pak Wahab. Astaga, apa yang kutakuti telah dikabulkan malaikat. Mampus, sudah. Kami berdua sudah tertangkap basah.


"Kalian berdua ngapain di sini?"


~•~


Sudah 2 gelas es teh kuhabiskan. Ke-4 temanku itu hanya melihatiku. Pasti dipikiran mereka aku terlihat aneh. Ini semua karena Pak Wahab yang memberi hukuman lari muterin lapangan belakang 20 putaran. Awalnya Kak Ryan bilang jika ada celah, kami bisa kabur dari hukuman itu. Tapi sayangnya, Pak Wahab menjaga kami hingga kami selesai melaksanakan tugasnya.


"Lo kenapa, sih, Ti? Terus lo tadi kemana?" tanya Yuli yang akhirnya buka suara. Sejak aku bergabung dengan mereka berempat, tidak ada yang menanyaiku.


"Gu-gue, disuruh Pak Wahab lari muterin lapangan belakang 20 kali," ucapku dengan napas yang terengah-engah.


Tawaan keluar dari mulut mereka. Dasar teman kurang ajar. Tertawa di atas penderitaan teman. Kudoakan mereka akan mendapat hukuman yang lebih dari yang aku dapatkan hari ini. "******* lo pada."


"Hahahaha. Rasain. Karma karena ninggalin kita dulu," ucap Jihan.


"Lo sih bolos ke kantin nggak ngajak-ngajak kita. Kena karma, kan," tambah Anye.


"Gue nggak bolos ke kantin. Gue di ruang theater, ngobrol sama Kak Ryan."


Mereka langsung heboh dengan wajah terkejutnya yang ingin kutampol saja muka mereka satu-satu.


"Mangkannya jangan bucin."


"Lo tahu sendiri ruang theater gelap gitu, malah bucin di situ. Gimana Pak Wahab nggak mikir yang macem-macem."


"Tapi gue cuma ngobrol. Bahkan gue sama Kak Ryan ngasih jarak 1 jengkal tangan," belaku. Walau aku tahu pembelaanku itu sudah terlanjur. Tadi saja Pak Wahab tidak mau mendengarkan pembelaan dariku maupun Kak Ryan.


"Sama aja, Ti. Besok-besok bolos ke perpustakaan aja. Kalau bisa sih jangan bolos," ucap Dita yang disetujui oleh lainnya.


Aku pasrah. Percuma saja membela diri sementara hukumannya sudah terlaksanakan. Anggap aja ini sebagai olahraga di siang hari. Kapan lagi lari muterin lapangan sama Pangeran. Ditungguin dari belakang dan nggak mau nyelesaiin hukumannya duluan. Diberi semangat dengan nyanyi bareng. Paling nggak mau lupain waktu dia bilang ke Pak Wahab, "Pak, pacar saya lari 10 kali aja. Biar saya lari 30 kali."


Awalnya Pak Wahab nolak dan bilang kalau Kak Ryan bucin. Tapi lama-lama beliau mengiyakan. Lagipula Pak Wahab juga baik. Beliau janji nggak akan telpon orangtua. Kalau gini aku masih bisa bolos pelajaran lagi.


"Dek. Roti buat lo," ucap Kak Ryan yang tiba-tiba memberiku roti stroberi. Setelah aku mengambilnya dan bilang terima kasih, dia pergi.


Langsung saja teman-temanku teriak, "bucin."

__ADS_1


~•~


__ADS_2