
Untuk pertama kalinya aku keluar rumah untuk menyambut pergantian tahun. Biasanya aku hanya di dalam rumah sambil menonton drakor atau film dengan ditemani banyak jajanan yang Papa belikan. Namun kali ini aku sedang bersama orang spesial. Iya. Sekarang dia spesial bagiku. Perhatian yang dia berikan padaku, kebaikannya, kehadirannya, mungkin itu alasannya mengapa dia menjadi spesial.
Dia mengajakku pergi ke paralayang yang ada di Batu. Memang cukup jauh dari rumahku. Awalnya aku juga tidak diizinkan oleh Mama dan Papa. Tapi dia dengan berani meminta izin langsung dengan sogokan terang bulan red velvet kesukaan Mama dan martabak spesial kesukaan Papa. Untuk mengetahui hal itu saja dia terus-terusan menyepamku di whatsapp.
Perjalan ke paralayang kami tempuh dengan berboncengan naik motor. Padahal yang kutahu dia punya mobil. Tapi dia beralibi kalau mobilnya lagi di bengkel.
"Naik motor lebih romantis daripada mobil."
"Apa romantisnya?"
"Bisa jedotin helm, peluk gue dari belakang kalau lo kedinginan, atau nggak kayak yang lo lakuin sekarang. Pegang baju gue sampai kenceng banget gini."
"Hehehe...takut jatuh."
"Yaudah gue kurangi kecepatannya."
Aku tertawa mengingat percakapan kami di jalan tadi. Dia memang cukup banyak bicara, sampai aku capek menanggapinya. Tapi dia bakal marah jika aku tidak menjawab. Katanya aku harus menemaninya mengobrol biar dia tidak bosen di perjalanan yang cukup jauh.
Karena tempat yang kami duduki mulai ramai, Kak Ryan mengajakku pindah tempat. Dia bilang lagi ingin menikmati alam berdua denganku. Tanganku saja tidak dilepas-lepas dari genggamannya.
"Habis ini langsung balik kan, Kak?" tanyaku yang sebenarnya juga masih takut jika Kak Ryan macam-macam.
"Iya, dek. Jam 1 balik. Tenang aja, gue nggak bakal ngapa-ngapin lo."
"Yah, kan nggak salah kalau aku takut."
Masih 1 jam lagi sebelum tahun berganti. Tak tahu kenapa aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya. Dia juga tidak protes. Malahan dia bilang, "kenapa nih tiba-tiba nyenderin kepala dipundak gue?"
"Aku ngantuk, Kak."
"Mau gue beliin kopi?"
"Buat apa?"
__ADS_1
"Yah biar lo nggak ngantuk, dek."
Dia pergi membeli kopi setelah aku menjawab iya. Tak lama, dia datang dengan membawa secangkir kopi hitam. Ditaruhnya gelas itu ditengah-tengah kami. Kemudian dia mengeluarkan satu sachet autan dan mengoleskannya pada tanganku. "Nyamuknya banyak banget, dek. Ntar gue bisa dimarahin Papa lo kalau pulang-pulang anak gadisnya bentol-bentol semua," ucapnya yang aku balas gelak tawa.
Setelah mengoleskan pada tanganku, dia mengoleskan pada tangannya. Kemudian dia menyuruhku meminum kopi hitam yang sepertinya sudah tidak panas lagi. "Tadi gue minta ke masnya yang buat ngasih 1 sendok gula aja."
"Pantas aja pahit," ucapku setelah meminum seteguk.
"Soalnya gue takut, dek."
"Ha? Takut kenapa?"
"Takut lo kena diabetes."
"Apaan sih? Kok bawa-bawa diabetes?"
"Soalnya lo udah manis, ntar bisa diabetes kalau minumnya yang manis juga."
Aku tertawa kecil, membuatnya ikut tertawa. Gombalannya itu lucu sekali. Apalagi dengan wajah dan suara lucunya. Pingin cubit saja.
"Ada."
"Apa?"
"Bentar. Mau mikir dulu," ucapnya yang kemudian berpura-pura seperti orang berpikir. Namun aku harus menunggu lama hingga akhirnya dia mengagetkanku. Sepertinya dia sudah menemukan gombalan lain. Aku harap sih gombalannya ini lebih baik dari tadi.
"Tahu nggak, dek. Bedanya kancil sama lo?" tanyanya membuatku tertawa. Sepertinya gombalannya ini sama saja kayak tadi. Aku menggeleng masih dengan menahan tawa.
"Kalau kancil curi ketimun, kalau lo curi hati gue," jawabnya dengan tubuh yang bergidik geli. Dia yang menggombal saja geli, apalagi aku.
Aku akui gombalannya yang ini benar-benar lebih bagus dari yang tadi. Aku tertawa dan sepertinya dengan pipiku yang sudah seperti apel. Mana mungkin aku tidak baper jika dia menggombal seperti itu. "Aku juga punya," ucapku.
"Apa?"
__ADS_1
"Bapak Kakak pelawak, yah?"
"Bukan."
"Ihh, nggak gitu jawabnya," ucapku memukul lengannya. Dia malah tertawa, "trus gue harus jawab apa?"
Oke, aku harus sabar. Untung saja dia adalah pangeran lucuku. "Kok tahu," jawabku
"Kok tahu?"
"Pantes anaknya lucu," jawabku sambil bergidik geli. Kukira gombalanku itu akan gagal. Tapi Kak Ryan ikut tertawa dan itu lucu banget. Aku nggak tahu kenapa dia selalu bisa terlihat lucu bagiku.
Setelah aku bergombal seperti itu, kami berdua diam. Apa mungkin dia sedang mencari ide gombalan lain? Atau dia masih baper karena gombalanku? Namun saat otakku berpikir yang tidak-tidak, dia mengubah duduknya menghadapku. "Gue ingat, ada orang yang nyamain gue sama toko," ucapnya membuatku ingat ucapanku beberapa bulan lalu. Bagaimana Kak Ryan bisa tahu? Pasti Jihan yang kasih tahu. Mulut anak itu minta ditambal saja.
"Ada orang yang bilang kalau gue itu toko dengan rating atas. Banyak orang yang mampir dan pastinya orang-orang itu levelnya juga atas. Tahu nggak siapa yang bilang kayak gitu?" tanyanya dengan alis yang diangkat. Ini memang dia tidak tahu atau hanya ingin aku jujur. Mau menjawab, tapi dia sudah membuka mulut. "Padahal, orang yang nyamain gue sama toko adalah pemilik tokonya."
Jadi, maksud Kak Ryan aku adalah pemiliknya. Kenapa tiba-tiba saja suasanya jadi berubah. Ditambah Kak Ryan yang terus menatapku. Bibirku rasanya jadi beku, sampai bingung mau bicara apa.
"Gue nggak tahu apa lo udah paham atau emang lo bodo amat. Tapi gue cuma mau bilang. Kalau gue suka sama lo," ucapnya yang membuat beku dibibirku mulai menyerang tubuhku. "Sejak pertama kali ketemu sama cewek yang ngembaliin teks naskah drama. Hidup gue dipenuhi sama rasa penasaran. Ternyata Tuhan jawab rasa penasaran gue diwaktu yang tepat. Pasti lo nggak tahu kalau sebenarnya gue udah ngeliatin lo sejak lo sama teman-teman lo bolos ke kantin. Hari itu gue juga lagi bolos pelajaran karena perut udah bunyi. Gue juga ngelihatin lo yang lagi ngeghibah. Terus keberuntungan berpihak pada gue. Sebenarnya gue juga nggak tahu, kenapa gue tarik lo waktu itu. Dan hari itu gue tahu nama lo, Tiara Zelmita. Cewek dengan paras lugunya yang udah berhasil buat gue jatuh hati."
Aku tertegun mendengar ceritanya. Jadi dia penasaran denganku karena pertemuan pertama itu. "Aku nggak tahu, sejak kapan rasa suka itu tumbuh. Pertemuan pertama kita masih aku ingat, Kak. Masih nggak percaya aku bisa bertemu pangeran di dunia nyata. Pertemuan kedua, makan ditemenin sama pangeran. Sebuah kehormatan untukku. Tapi ada rasa takut saat Kakak chat aku, deketin aku, sementara banyak orang yang pingin diposisiku. Satu sisi aku takut, tapi satu sisi aku seneng, bisa dekat sama pangeran tampan dan lucu."
"Rasaku mulai tumbuh semakin dekatnya kita. Aku juga tahu kode yang pernah Kakak kasih. Kakak yang punya kisah romantis waktu SMA, karena udah boncengan sama orang spesial. Waktu Kakak suruh aku peluk, aku dengar kok, cuma nggak mungkin aku ngelakuin itu. Lagu yang kita nyanyiin bareng, aku paham, Kak."
Dia tersenyum. Menarik kedua tanganku dan digenggamnya. "Kayak lagu itu, mungkin memang terlalu cepat. Tapi percayalah kalau gue suka sama lo, dek. Gue pingin buat kisah bareng sama lo, jagain lo, dan selamanya bisa dekat sama lo."
"Mau aku kabulkan keinginan, Kakak?"
"Emangnya lo mau, jadi pacar gue?"
"Siapa yang mau nolak, kalau yang minta pangeran."
Hari itu, 31 Desember 2019. Aku resmi berpacaran dengan pangeran yang berhasil mencuri hatiku. Pantas saja Gadis kayu mau menerima lamarannya walau baru pertama kali bertemu. Karena pangeran ini punya daya pikat yang tidak bisa dihindari.
__ADS_1
"Selamat tahun baru tuan putri," ucapnya setelah jam menunjukkan pukul 00:00. Langit sudah dipenuhi bunga-bunga bermekaran. Dia menyuruhku untuk bersandar kembali pada pundaknya. Aku mendekat, namun satu pertanyaan terbesit. "Boleh cubit pipinya, nggak?"
~•~