Flashback

Flashback
Bab 19: Semangat Buat Upraknya


__ADS_3

Tidak terasa, sekarang giliranku yang akan menghadapi ujian praktik. Ternyata, aku memang dibuat sibuk hingga membuka hp saja sampai tidak sempat. Aku harus membeli bahan-bahan untuk membuat makanan, praktikum, dan drama. Belum ditambah hapalan- hapalan. Rasanya otakku mau pecah. Jadi merasa bersalah karena pernah ngambek sama Kak Ryan karena dia yang sibuk uprak. Maafkan aku Pangeran, aku merindukanmu.


Baru saja aku menyelesaikan ujian praktik seni budaya dan bahasa jawa, yaitu menampilkan drama. Tentu aku dipilih oleh teman-teman sekelas menjadi pemeran utama. Menolak pun tidak akan bisa karena aku satu-satunya di kelas yang ikut ekskul theater. Walau sebenarnya sangat mudah memerankan pemeran utama ini, namun jika lawan mainku adalah orang yang tepat. Tadi saja aku hampir ketawa hingga ngeblank karena melihat wajah Aji yang mendalami menjadi lawan mainku. "Gue masih ngakak gara-gara wajah Aji tadi."


"Jangan gitu, Ti. Lo lupa apa kalau wajah Aji memang kayak gitu," timpal Yuli.


"Dia diem aja udah buat sekelas ketawa," tambah Jihan.


"Bilang aja kalau wajah diem Aji bikin lo makin terpesona," goda Yuli. Memang sejak kelas 10, sekelas sudah tahu jika Aji berusaha mendekati Jihan. Bahkan cowok itu tidak putus asa hingga sekarang. Walau sepertinya tidak ada pun kemajuan yang nampak. Entah jika mereka sembunyi-sembunyi menjalin hubungan. "Gue nggak suka sama, Aji," protes Jihan dengan wajah kesalnya.


"Gitu-gitu, Aji termasuk diatas rata-ratalah. Jago pelajaran biologi juga," ucap Dita ikut menggoda. Meskipun Dita pendiam, namun gadis itu kadang sama gilanya.


"Emang rata-ratanya berapa, Dit?" tanyaku

__ADS_1


"80."


"Itu mah rata-rata pelajaran."


Kami semua tertawa. Sedikit hiburan setelah menghapal naskah drama yang panjang. Belum lagi, habis ini uprak bahasa Inggris, drama lagi. Untung saja untuk drama kecil-kecilan ini aku tidak dipilih menjadi pemeran utama.


~•~


Selain foto itu, terdapat surat dengan tulisan ceker remesnya yang masih sama.


Hai, Tuan Putri. Sudah 9 bulan sejak perpisahan kita (kayak orang ngandung anak aja). Dari ujung monas, Pangeran bisa lihat Tuan Putri yang sedang makan di warung penyetan langganan kita. Gimana rasanya makan di sana sendirian? Pasti nggak enak, kan? Saran nih, kalau mau makan di sana sendirian, bawa foto yang aku kasih, trus makannya sambil ngelihatin foto itu.


Gimana hari-hari Tuan Putri tanpa Pangeran? Menyenangkan? Harus tetap senang, dong. Kan cuma raga Pangeran yang pergi, jiwa dan hati Pangeran masih ketinggalan dikamu. Katanya mereka senang dan nggak mau pergi dari kamu. Mereka aja ngancem aku buat balik suatu saat nanti.

__ADS_1


Oh, iya. Kapan hari, Mama cerita ke aku. Katanya waktu wisuda kamu bilang agar beliau nggak maksa aku suka dengan sains. Kok berani? Aku aja nggak berani, loh. Trus, waktu itu Mama bilang kalau mau dibikinin sambal balado sama kamu kan? Makanan yang kamu kasih waktu aku lagi uprak, selalu aku bawa pulang dan makan bareng sama Mama. Beliau bilang masakan kamu lebih enak dari masakan beliau. Katanya, Mama restuin kalau kamu yang jadi calon menantunya. Untuk kotak bekel yang waktu itu lupa tidak kukembalikan, sudah diantar sama abang ojol, kan? Maaf, kalau udah bikin kamu dimarahin sama Mamamu.


Soal, surat yang aku titipkan pada Jihan. Maaf, karena aku nggak berani buat ngasih surat itu langsung ke kamu. Aku nggak mau lihat ekpresi kamu setelah baca surat itu. Dan, maaf waktu itu sudah buat kamu nangis, dek. Aku tahu, kamu selalu bisa nerima apapun pada diriku. Menjadi pangeran untukmu adalah sebuah kehormatan bagiku, dek.


Selama 9 bulan di Jakarta, aku tidak mengirimi kabar karena aku nggak mau ganggu kamu. Kita sama-sama istirahat sebentar untuk mengejar mimpi kita masing-masing, dek. Berkat kamu, sekarang aku bisa menekuni apa yang aku inginkan dari dulu. Tidak lama lagi kamu akan bisa lihat aku dilayar bioskop, dek.


Ini ada sedikit cemilan dan minuman untuk menemani melewati uprak. Foto yang aku kasih, semoga bisa menjadi semangat untuk melewati hari-hari yang menurutmu berat. Berkat foto yang kamu kumpulkan, aku selalu termotivasi setiap harinya. Foto-foto itu aku tempel di kamar. Jadi, foto yang aku kasih jangan lupa dipajang yah, biar kamu bisa termotivasi juga setiap harinya.


Sekian dulu, Tuan Putri. Semoga surat dan foto itu bisa mengobati rindumu. Semangat buat upraknya:)


Aku melemparkan tubuhku ke kasur dan memeluk surat juga foto yang ia kasih. Selama membaca surat itu, aku senyum-senyum sendiri tidak jelas. Aku tidak tahu kenapa sekarang dia mengubah ucapannya menjadi aku-kamu. Terlihat romantis jika dia menggunakan panggilan itu. Rinduku sedikit terbalas, walau hanya sekedar foto dan surat singkat ini. Tapi semua yang ia katakan sampai ke hati. Apa aku harus membalasnya? Iya, harus Tia, biar rindu Kak Ryan juga terbalas.


~•~

__ADS_1


__ADS_2