Flashback

Flashback
Bab 6: Jadi Anak Theater


__ADS_3

"Gue nelat, yah," ucapku pada ke-4 temanku. Jadi hari ini, sepulang sekolah, kami ber-5 ada kerja kelompok di rumah Jihan. Namun kata Kak Ryan, hari ini aku harus ikut kumpul ekskul theater.


"Mau kemana lagi lo?" tanya Anye.


"Gue ada ekskul theater."


"Pilih ekskul atau temen?" tanya Anye membuat mataku melotot. Bingung jika ditodong seperti ini. Tapi aku pernah berucap seperti itu kepada Anye hingga anak itu bolos ekskul dance. "Masalahnya, kata Kak Ryan 1 minggu ke depan anak theater sibuk buat drama tujuhbelasan nanti."


"Kalau urusannya sama Kak Ryan, kita nggak bisa ikut campur, guys," ucap Jihan.


"Iya, gue angkat tangan," kata Yuli beneran sambil angkat tangan


"Ayo, Han. Gue mau ketemu sama Mang Agus," kata Anye yang langsung menarik Jihan keluar kelas.


"Kita duluan yah, Ti. Ntar nyusul," kata Dita dan ke-4 temanku itu pergi meninggalkanku.


~•~


Sekarang aku sudah berada di ruang theater. Aku tak menyangka jika anggota theater sebanyak ini. Jari tangan dan kakiku saja tidak cukup untuk menghitung jumlah mereka. Mereka semua sibuk berbicara dan aktivitas lainnya. Sepertinya tidak ada yang tahu kehadiranku.


Lalu Kak Ryan masuk dan menyuruhku untuk merapat di depan sebuah papan tulis. Kedatangan Kak Ryan membuat semuanya langsung merapat juga. Aku rasa Kak Ryan adalah calon ketua theater. "Hari ini, kita punya anggota baru. Silahkan berdiri dan perkenalkan namamu."


Karena perintahnya, aku berdiri dan memperkenalkan diriku dengan singkat. Lalu aku kembali duduk dan mendengarkan ucapan Kak Ryan di depan. "Karena drama tujuhbelasan tinggal 1 minggu lagi. Jadi, setiap hari kita harus latihan dan gue mau bilang ke sie naskah buat tentuin anggota baru yaitu Tia peranin apa. Btw, kita kurang berapa anggota lagi?"


"Cuma kurang 1, kita bisa ambil dari tim drama pahlawan," jawab cewek yang duduk di depanku.

__ADS_1


"Oke, boleh dan buat tim drama pahlawan, kalian harus siapin properti, waktu kita cuma tinggal 1 minggu. Buat tim drama tujuhbelasan, tetap duduk di sini," ucap Kak Ryan. Beberapa siswa-siswi yang masuk dalam tim drama pahlawan keluar dari rapat kecil ini. Mereka sibuk di bagian belakang ruang theater untuk menyiapkan properti.


Cewek di depanku tadi membalikkan badannya. "Hai, gue mau ngasih tahu kalau lo bakal jadi Ibu gadis kayu. Ini naskahnya, lo hapalin yah," ucapnya sangat ramah.


Aku menerima naskah itu dan mengucapkan terima kasih. Tak lupa aku berkenalan dengannya, namanya Kak Febi, anak kelas 11 IIS 3. Kami berbicara cukup lama, lalu beberapa anggota bergabung. Mereka mengajakku berkenalan dan bercerita lagi. Benar kata Kak Ryan jika mereka itu humble. Jadi tidak menyesal masuk ekskul ini.


"Lagi ngomongin apa ini?" tanya Kak Ryan yang tiba-tiba nimbrung dalam lingkaran yang aku dan beberapa anggota theater buat.


"Kenalan, biar lebih akrab sama anggota baru," jawab Kak Febi yang disetujui anggota lain.


"Hari ini gue mau kalian udah hafal sama naskah bagian kalian masing-masing. Besok, kita baru mulai latihannya. Oke?" tanya Kak Ryan yang dijawab dengan jari berbentuk ok oleh anggota theater.


Setelah berbicara seperti itu, Kak Ryan memintaku menemaninya makan mie di kantin. Hal itu membuat beberapa anggota theater melihati kami dan aku dengar sebuah kalimat mengatakan, "kemarin gue juga lihat dia dibonceng sama Kak Ryan." Sepertinya berita aku yang dibonceng oleh Kak Ryan sudah menyebar kemana-mana.


"Lo mau mienya, dek?" tanya Kak Ryan yang kujawab gelengan kepala. Ceritanya sekarang aku yang menemaninya makan mie dan dia yang menawariku.


"Emang bisa ngomong kayak nenek-nenek?"


"Kok nenek-nenek? Kan aku jadi Ibu."


"Hahaha, lo itu emang lucu, dek. Ibu si gadis kayu itu udah tua, udah nenek-nenek. Mangkannya baca dari awal ceritanya."


"Ohhh. Iya ntar malam aja baca."


"Awas aja kalau besok lupa pas latihan."

__ADS_1


Selesai menemani Kak Ryan makan mie, kami kembali ke ruang theater yang ternyata hanya bersisa anak tim drama pahlawan yang sedang menyiapkan properti. Itu pun hanya ada 5 ekor. Kak Ryan mengajakku duduk di panggung dekat papan tulis. "Coba sih, lo baca naskah bagian lo."


"Besok aja, Kak. Lagi males."


Dia mencubit hidungku, lalu mengambil naskah yang kupegang. "Jadi anak theater nggak boleh males," katanya yang membuka lembar demi lembar naskah itu. Hingga ia berhenti di adegan 2, itu ada bagianku.


"Gue contohin," ucapnya lalu berpura-pura batuk untuk mengganti suaranya. "Dia siapa, nak? Kok kayak pangeran," ucapnya yang mencontohkan bagianku dengan suara nenek-nenek. Bukan, itu lebih tepatnya suara kakek-kakek.


"Kalau Kakak yang contohin, jadinya malah kayak kakek-kakek," kataku sambil tertawa karena suaranya yang lucu. Kak Ryan juga ikut tertawa sambil tetap mencoba mencontohkan suara nenek-nenek. Bukannya makin benar, suaranya lama-lama kayak Kakek-kakek yang udah mau sakaratul maud. Perutku sakit karena terus-terusan tertawa sebab tingkah lucunya. Untung saja dia ganteng, jadi betah.


~•~


Rencananya, aku pergi ke rumah Jihan pakai ojek online. Tapi, Kak Ryan menawariku jika dia yang mengantar. Karena aku suka yang gratis dan dia juga memaksaku, terpaksa aku menerimanya. Namun ada yang janggal. Kami sampai di rumah Jihan sementara tadi aku lupa tidak bilang alamat rumah Jihan. Jadi, Kak Ryan tahu darimana.


"Kak Ryan kok tahu alamat rumah Jihan?" tanyaku sambil mengembalikan helm yang kupakai.


Belum dia menjawab, Mang Agus muncul dari samping membuatku kaget. "Eh, mas Ryan. Mau main sama mbak Jihan?"


"Enggak, Mang. Cuma nganterin temennya Jihan. Tolong Mang Agus antar dia masuk, yah. Saya buru-buru, mau pulang," jawab Kak Ryan yang kemudian pergi setelah berpamitan kepadaku. Padahal pertanyaanku tadi belum dijawab. Oh iya, aku juga belum bilang terima kasih.


"Bentar ya, Mang. Mau chat temen dulu," ucapku lalu mengeluarkan hp yang sedari tadi aku simpan ditas. Karena perilaku Kak Ryan yang tidak pernah memainkan hp saat bersama, aku jadi menirunya. Selama ekskul dan menemaninya makan mie, aku sama sekali tidak membawa hpku.


"Chat mbak Jihan kalau kamu udah sampai? Nggak usah mbak Tia. Biar saya antar ke kamar," ucap Mang Agus.


"Bukan, Mang. Mau chat Kak Ryan," kataku membuat Mang Agus hanya mengangguk.

__ADS_1


Makasih, Kak, udah nganterin aku. Kalau tahu Kakak buru-buru, tadi aku nggak bakal terima tawaran Kakak.


~•~


__ADS_2