
Dengan gaun putriku ini, aku berjalan ke kamar mandi. Penampilan drama baru saja berakhir, sekarang waktunya anak paduan suara yang tampil. Aku sudah menahan ini sejak adegan terakhir. Sampai-sampai adegan berlari ke arah pangeran saja aku ganti jadi jalan cepat. Meski begitu, aku rasa tidak ada yang tahu dengan apa yang terjadi.
Saat aku keluar dari kamar mandi dan bercermin. Di sebelahku ada seorang Ibu dari salah satu Kakak kelas. Beliau melihatku, sontak aku tersenyum. "Tadi penampilan kamu bagus."
"Makasih, Tante."
"Saya sering mendengar cerita tentang kamu."
"Maksud Tante?"
"Katanya, kamu pintar masak. Tante juga sudah coba rainbow cake buatan kamu."
Awalnya aku bingung arah pembicaraan Tante yang tidak kuketahui namanya ini. Namun, saat rainbow cake terucap, aku mengerti siapa beliau. Tanpa berpikir panjang aku mencium tangannya. "Kue buatan kamu enak, loh."
"Makasih, Tante. Itu dapet resep dari Mama temen aku."
"Iya, Tante tahu. Mamanya Jihan, kan. Dia adik saya."
Aku lupa jika Kak Ryan dan Jihan adalah sepupu. "Oh iya, Tante. Jihan pernah cerita."
"Nanti, setelah acara selesai, tunggu Tante di depan, yah."
"Ada apa, Tante."
"Nanti kamu tahu. Tante duluan, yah," ucap beliau yang keluar dari kamar mandi.
Aku tidak tahu apa yang akan Tante itu lakukan padaku. Yang kutahu, aku harus menemuinya nanti. Saat balik ke tempat duduk yang ada di sebelah panggung, Kepala Sekolah akan menyebutkan murid dengan nilai terbaik selama belajar 3 tahun.
"Murid terbaik angkatan 2019-2020 adalah Ananda Ryan Mahardika," ucap Kepala Sekolah yang disambut tepuk tangan meriah.
Itu nama Kak Ryan. Aku melihatnya berdiri dengan bibir melengkung diwajahnya. Entah kenapa aku ikut tersenyum dan bertepuk tangan untuknya. Dia naik ke atas panggung, berdiri di depan mic. Namun aku bisa lihat, wajahnya berubah. Seperti dia tidak senang dengan apa yang ia dapat ini. Yah, aku ingat. Dia pernah bilang tidak suka sama pelajaran. Dia hanya suka jika disuruh berakting. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Saya tidak pernah bermimpi atau bahkan mengharapkan berdiri di sini dengan sebutan murid terbaik. Karena yang saya tahu, saya hanya murid bodoh yang terpaksa menyukai apa yang tidak saya sukai. Namun, saya juga bangga dengan diri sendiri, bisa menjadi murid terbaik agar Mama yang saya cintai bangga. Tapi, satu hal yang saya ingin ucapkan, jangan pernah kalian melakukan apa yang sudah saya lakukan. Jika tidak suka, tidak minat, maka jangan lakukan. Karena apa yang dilakukan secara terpaksa itu sangat tidak baik untuk waktu yang akan tiba. Sekian, wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
__ADS_1
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Sepatah dua kata yang dia katakan adalah tindakan protesnya pada Mamanya. Aku ingat pernah bilang kepadanya, jika akan membantunya berkata kepada sang Mama. Mungkin ini waktu yang tepat.
"Kamu nunggu lama?"
"Tidak, Tante. Memangnya Tante mau bilang apa? Saya juga ingin berbicara mengenai suatu hal."
"Bicaralah terlebih dahulu. Saya akan mendengarkan."
Bibirku sedikit beku untuk mengeluarkan suara. Namun aku rasa aku harus melakukan ini. Aku sudah pernah berkata dan apa yang kukatakan sudah seperti janji. "Yang saya tahu, Kak Ryan tidak pernah tertarik pada apapun yang berhubungan dengan sains. Kak Ryan itu lebih suka dengan dunia hiburan dan pernah bilang jika ingin menjadi aktor terkenal. Saya juga tahu jika Tante yang memaksa Kak Ryan menyukai apa yang tidak Kak Ryan sukai. Dia sudah mengikuti apa yang Tante mau, apa Tante juga bisa mengikuti apa yang Kak Ryan mau?"
Mama Kak Ryan tersenyum padaku sambil mengelus pipiku. "Saya selalu tahu jika anak saya selalu memilih apapun yang tepat untuknya. Bodohnya, saya menyuruh dia menyukai apa yang tidak dia sukai. Karena kamu, saya sadar jika saya sudah terlalu memaksa kepada Ryan. Saya juga sudah tidak akan memaksanya lagi. Terima kasih pernah menjadi teman curhat anak saya," ucap beliau yang kemudian memelukku dengan tangisannya. Aku hanya terpaku di dalam pelukkan beliau.
Setelah Mama Kak Ryan pergi, seseorang menepukku dari belakang. Dia, pangeranku yang sudah lama tidak kulihat sedekat ini. Walau aku pernah bilang dia bukan lagi pangeranku, tapi tetap saja aku tidak bisa membohongi jika dia adalah pangeranku. Sampai kapan pun itu.
"Lo baca, yah, dek," ucapnya memberikan secarik kertas yang ia lipat. Setelah aku mengambilnya dia berpamit pergi.
~•~
Kamu tahu tuan putri, kalau aku benar-benar berterima kasih pada Tuhan karena sudah mempertemukanku denganmu. Tuhan memang punya skenario yang mengejutkan dan tak akan pernah bisa ditebak. Seperti pertemuan pertama kita. Tuhan perintahkan naskah drama itu jatuh agar kamu memberikannya padaku. Sebuah sinyal langsung menyambung saat kamu menepuk pundakku. Bahkan, kamu tanpa kostum putri saja sudah seperti tuan putri dimataku. Pertemuan pertama itu membuatku semakin penasaran denganmu. Hal yang selalu kuingat hanyalah tahi lalat diujung hidungmu. Sejak dulu aku memang pelupa akan wajah seseorang yang kutemui. Aku harus mencari sebuah tanda pada orang itu. Seperti kamu, tanda dihidungmu yang entah sudah berapa kali aku cubit.
Pertemuan kedua kita. Kamu bilang sebuah penghormatan bisa makan ditemani pangeran. Seharusnya aku yang dapat penghormatan itu. Bisa menemani makan tuan putri sepertimu. Awalnya kukira aku hanya tertarik padamu, namun entah kenapa kamu selalu hadir dibayang-bayangku membuatku harus mendekatimu. Kamu kira mendekatimu itu mudah. Susah tuan putri. Aku harus mencari sebuah topik yang bagus untuk membuatmu tertawa, mangkannya aku pernah bilang capek kalau aku yang tanya terus.
Kamu ingat, lagu yang aku minta kamu nyanyikan. Itu lagu kesukaanku dan rasanya terhormat sekali bisa berduet denganmu. Aku masih simpan videonya, bahkan kubentuk dalam cd yang nantinya akan kuputar jika aku merindukanmu. Nanti kita bisa putar bersama dengan anak-anak kita 10 tahun lagi.
Jika kuceritakan bagaimana kisah kita yang sangat berharga untukku, rasanya akan lama. Terpenting kamu harus tahu, kalau rasaku ke kamu tidak pernah hilang. Bahkan, berkurang saja tidak bisa.
Aku tahu, rasanya kesal saat harus menahan rindu. Kamu kira saat uprak aku tidak rindu denganmu. Aku rindu sama sepertimu. Rindu mencubit hidungmu, rindu ditemani makan masakan buatanmu, rindu boncengin kamu. Makasih untuk rainbow cake yang super enak di dunia ini. Makasih untuk pelukan pertama dan yang tidak akan pernah jadi terakhir. Makasih untuk semua foto selfie kamu dengan aib dibelakangku. Semoga bisa mengobati rinduku saat jarak kita jauh.
Besok, aku akan pergi ke Jakarta. Aku mau kejar mimpi aku di sana. Ditunggu kedatanganmu, aku dan para pengawalku berangkat jam 9 pagi. Jadi bangun pagi, yah, aku mau makan masakanmu sebelum kita berpisah jauh.
~•~
Aku berangkat sekitar jam 7 pagi. Tadi malam, sudah kuputuskan jika aku tidak mau menyiakan perpisahan ini. Takut jika aku menyesal nantinya. Dengan kotak bekel yang kupangku, aku siap bertemu dengannya walau untuk perpisahan yang tidak tahu akankah kami bertemu lagi dilain waktu.
__ADS_1
"Mang Agus, cepetan dong," kata Anye yang duduk di depan bersama Mang Agus. Aku memang meninta tolong pada sahabatku untuk mengantarku ke bandara dikarenakan Papa sedang ke luar kota sehingga tidak ada yang mengantar. Dengan baiknya mereka mau mengantarku.
"Ini masih macet, mbak."
"Kok jam segini macet?"
"Banyak orang yang berangkat kerja, mbak. Tenang aja, nggak bakal telat. Mang Agus jamin, deh."
"Beneran, yah? Sampai Tia nggak bisa ketemu sama Kak Ryan untuk perpisahan sebuah cinta sejati, awas aja Mang."
Perpisahan sebuah cinta sejati. Apa benar jika cinta kami cinta sejati. Aku rasa iya. Saat aku mencoba melupakannya dan melupakan rasa padanya, tapi tetap saja aku jatuh dalam pesonanya. Foto selfieku dengannya yang sedang melongo sangking nyenyaknya tidur hasil jailku saat dia datang ke rumah untuk mengajariku fisika, adalah hal pertama yang kulihat saat aku membuka mata. Foto yang kucetak besar dan kutempel di belakang pintu, persis mengarah dimana aku tidur. Setiap melihat foto itu, selalu saja hatiku bergetar hingga kenangan-kenangan bersamanya kembali berputar. Mungkin karena aku yang selalu lupa melepas foto itu.
Sesampainya di bandara, aku langsung turun dan berlari meninggalkan sahabat-sahabatku. Aku takut jika Kak Ryan sudah berangkat, karena ini sudah hampir jam 9. Kata Jihan, Kak Ryan berangkat dari terminal 2. Ini pertama kalinya aku ke bandara, namun aku tidak bodoh. Aku bisa baca dari petunjuk arah.
Di sana, aku melihat Kak Ryan yang sedang duduk dengan Randy, Mama, dan Papanya. Saat aku mendekat mereka berdiri dan sepertinya akan masuk ke pesawat. "Kak Ryan!" teriakku membuatnya menoleh. Aku lihat dia tersenyum padaku dan berjalan mengarahku. Segera aku berlari dan memeluknya. Merasakan betapa nyaman mendekap tubuhnya. "Beri aku waktu buat cium aroma tubuh, Kakak," ucapku dalam pelukannya. Lagi-lagi aku tidak kuat untuk menahan air mata sialan yang selalu saja lolos.
Dia melepas pelukanku. Menatap wajahku cukup lama lalu tertawa. Aku memukul dadanya karena yang dia lakukan benar-benar menjengkelkan. "Cengeng banget. Tapi gue suka sama cewek cengeng kayak gini," ucapnya mencubit hidungku yang langsung kupukul tangannya. Lagi-lagi dia tertawa. "Gue kira lo nggak bakal ke sini, dek. Gue kira lo masih marah dan nggak mau ketemu sama gue."
"Enggak. Sekeras apapun aku coba buat marah sama Kakak, hasilnya nihil. Tuhan selalu buat aku jatuh dalam pesona Kakak. Jatuh sejatuh-jatuhnya."
"Itu karena lo pemilik gue, dek. Gue mohon, jangan pernah berusaha buat lupain gue walau kita nggak ada hubungan. Setelah ini, gue nggak bisa jagain lo lagi, nggak bisa temenin lo keliling kota atau sekedar beli bahan buat masak. Berat rasanya saat pangeran harus pergi tanpa tuan putri disisi. Tapi ini buat kejar mimpi gue, biar nanti lo bisa lihat gue dilayar bioskop. Meskipun kita bakal jauh, gue nggak akan pernah lupain lo. Bahkan, sejauh apapun jarak kita, kita tetap terasa dekat karena kita kan saling percaya kalau selamanya kita akan bersama. Masih percaya, kan?"
"Masih. Kakak jaga diri di sana, jangan lupain aku. Aku bakal kangen bikinin sarapan buat Kakak," ucapku dengan air mata yang terus saja meluncur. Dengan jari-jarinya, air mataku dihapus. Dia menyuruhku untuk tersenyum.
"Masakan buat gue untuk perpisahan ada, kan?" tanyanya. Aku mengangguk dan memberikan kotak bekel yang sedari tadi kupegang. "Menunya apa ini? Cuma nasi sama ayam penyet? Nggak ada yang spesial, nih?" tanyanya kembali menutup kotak bekel.
"Itu spesial, ada sambal sama kemangi kesukaan Kakak, plus buatnya pakai cinta," jawabku. Dia tersenyum dan mengelus rambutku. "Katanya pangeran berangkat sama pengawal, mana pengawalnya?"
"Doa kamu," jawabnya. Aku pun menengadahkan tanganku, dia juga ikutan menengadahkan tangannya. "Ya Allah, jaga pangeran. Semoga selamat sampai tujuan dan semoga cita-citanya bisa kekejar di Jakarta. Biar nanti bisa jadi suami dan bapak yang baik buat tuan putri dan anak kami kelak."
"Aamiin," ucap kami bersamaan.
Sebelum dia pergi aku memeluknya lagi. Walau rasanya memeluknya selama 1 jam pun akan kurang. Namun aku tidak ingin jadi hambatan dia untuk mengejar cita-citanya. "Gue ingat, lo pernah nangis waktu nonton film yang adegannya perpisahan. Gue mohon, jangan nangis. Gue mau lo senyum, kan gue cuma mau ngejar cita-cita. Nanti juga balik lagi buat masa depan."
Karena permintaannya aku tersenyum dalam kesedihanku. Dia sudah berjalan menjauh dengan lambaian tangan dan senyum perpisahan. "Tunggu kejutan dari gue, dek."
__ADS_1
~•~