
Hari penutupan MOS 2020 telah tiba. Kini siswa-siswi berbondong memasuki aula. Pastinya untuk menonton drama yang sudah diumumkan jauh-jauh hari. Drama yang selalu dinantikan oleh para siswi karena pemain utamanya adalah Kak Ryan. Ini kali kedua aku ikut serta dalam drama. Namun kali ini berbeda. Aku memerankan tokoh utama perempuan. Semua ini karena Kak Febi yang bilang jika aku dan Kak Ryan sangat cocok dengan drama kali ini. Ditambah kami adalah sepasang kekasih. Pastinya tidak akan susah membangun kemesraan di atas panggung.
Walau begitu, aku masih gugup. Bayang-bayang aku yang gagap, lupa naskah, atau terjatuh di atas panggung, tidak bisa hilang. Aku meremas gaun putri yang kukenakan untuk menghilangkan kegugupanku. Namun Kak Febi datang dan melepas tanganku. "Bajunya mahal, dek. Gue yakin lo bisa. Sekarang gue masuk. Lo baca doa."
Setelah Kak Febi masuk untuk membuka acara, aku berdoa. Semoga drama kedua ini berjalan baik seperti tahun lalu. Semoga aku tidak melakukan kesalahan. Aamiin.
"Dek, lo bisa," ucap Kak Ryan yang mendekatiku sambil menggenggam kedua tanganku. "Anggap lo beneran Tuan putri dan gue pangeran. Anggap drama ini, kisah kita."
Ucapannya cukup membuat gugupku hilang. Dia memang pangeranku dan aku tuan putrinya. Aku naik ke atas panggung. Aula makin rame akan suara ke-4 temanku yang duduk paling depan. Aku tidak menghiraukan mereka, aku berjalan mendekati Kak Ryan.
"Pangeranku, aku mencarimu ke seluruh istana. Tapi ternyata kau sedang duduk di sini," ucapku. Kak Ryan menepuk tempat kosong di sampingnya. "Duduklah, tuan putriku."
Kak Ryan menarik tangan kiriku dan digenggamnya. "Aku sedang memikirkan bagaimana jika kita menikah."
"Tapi pangeran, Baginda Ayah melarang kita untuk menikah."
"Kita bisa menikah diam-diam."
"Pernikahan yang tidak direstui akan pecah nantinya."
"Tenanglah. Aku akan menjaminnya," ucap Kak Ryan sambil satu tangannya mengelus rambutku. Dia memang ahli dalam akting. Namun adegan mengelus rambut tidak ada dalam naskah. Aku jadi sedikit malu bermesraan dengannya dan ditonton orang banyak seperti ini. Ditambah, guru-guru yang duduk di barisan paling depan bagian kanan aula.
"Kau bisa menjamin apa?" tanya Yudis. Dibelakangnya ada Kak Silvi yang kemudian menarikku untuk jauh-jauh dari Kak Ryan.
"Saya akan menjamin jika kami akan tetap menikah tanpa restu kalian."
"Kau gila? Ingin menikahi adikmu sendiri."
__ADS_1
"Dia bukan adikku."
"Dia adikmu, pangeran. Saya yang melahirkannya," ucap Kak Silvi.
"Ternyata kau tidak tahu."
"Tahu tentang apa?"
"Tanyakan pada suamimu."
Raja pun menceritakan jika dulu, istrinya telah keguguran. Namun, saat diberi tahu, Ratu tidak percaya dan terus berlagak seperti orang hamil. Karena Raja tidak tega, dia pun mencari bayi pengganti anaknya yang sudah tiada. Dan bertemulah dengan Putri, anak yatim piatu yang dibesarkan oleh seorang pedagang di pasar.
Mendengar kabar itu, Ratu jatuh sakit dan meninggal. Raja menjadi gila karena untuk kedua kalinya ditinggal oleh wanita yang disayang. "Aku sudah kehilangan Ibumu dan pengganti Ibumu. Maka kamu tidak boleh kehilangan dia, cinta pertamamu. Aku merestui pernikahan kalian."
Pangeran dan Putri pun menikah dengan pesta yang sangat meriah. "Terima kasih, telah hadir dihidupku. Jika tidak ada kamu, mungkin aku tidak akan mengenal apa itu cinta dan percayalah, selamanya kita akan bersama."
"Terima kasih juga, pangeran sudah datang dalam hidupku. Jika tidak ada pangeran, maka aku tidak akan bisa memiliki kisah seindah ini. Aku percaya kita akan selamanya bersama."
Setelah sesi berfoto, aku pergi ke ruang theater sendirian. Tadi memang tinggal aku saja yang dimintai foto. Gaun putri ini sangat menyulitkanku untuk berjalan dikoridor yang ramai. Banyak murid baru yang melihatiku, menyapaku dan ada yang meminta foto. Aku harus tetap ramah karena tidak mau murid baru menilaiku Kakak kelas yang jahat. Walau sebenarnya aku sudah capek dan ingin duduk di depan kipas angin.
Saat aku membuka ruang theater, hanya kegelapan yang aku jumpai. Tanganku meraba tembok dan menekan saklar saat aku menemukannya.
"Happy birthday Tia."
Aku terkejut melihat ke-4 teman yang lebih pantas disebut sahabat ada di sini. Anak-anak theater yang merias ruangan ini penuh dengan balon dan hiasan lainnya. Juga Kak Ryan dengan kostum pangerannya sedang memegang kue lengkap dengan lilin angka 16. Aku mendekat kepada mereka. Masih tidak percaya jika mereka membuat kejutan untukku.
"Make a wish, Ti," ucap Yuli.
__ADS_1
Kurapatkan tanganku dan mengucapkan harapan-harapan yang semoga terkabulkan. Lalu aku meniup lilin angka 16 itu.
Ucapan selamat ulang tahun terus mereka ucapkan untukku. Namun sosok pangeran di depanku membuatku tidak mau mengalihkan pandangan. "Selamat ulang tahun, tuan putriku. Maaf kejutannya telat 5 hari. Doa pangeran buat tuan putri, semoga selalu menjadi tuan putri yang pangeran kenal dan harapan tuan putri terkabul."
"Aamiin. Makasih, pangeran," ucapku. Ini adalah hadiah terbesar yang kudapatkan. Diberi kejutan oleh orang-orang yang aku sayang.
Setelah itu, aku berfoto bersama keempat sahabatku, anak-anak theater, dan tentunya Kak Ryan. Dia menyuruhku mempost foto kami dan aku mengabulkannya dengan caption, "pangeran dan tuan putri."
"Tadi Kakak sengaja, yah, ganti teks naskah bagian Kakak?" ucapku sambil mengaduk es hazelnut plus boba kesukaanku.
Kak Ryan yang baru saja datang dengan semangkok seblak dan bakso mengangguk. "Lo juga ganti teks naskah bagian lo."
Mataku berbinar melihat seblak di depan mata. Langsung saja kumakan dan ternyata masih panas. Kak Ryan menertawaiku, "udah tahu baru aja dimasak, udah langsung makan aja."
"Hehehehe....btw aku ganti teks naskah bagianku soalnya ngikut Kakak."
"Ikut-ikut."
"Kalau pakai yang asli nggak cocok sama apa yang diucapin Kakak."
"Berarti tadi kata-katanya langsung dari hati."
"Iya, sama kayak Kakak."
Dia tersenyum dan mencubit hidungku, lagi. Entah sudah berapa kali dia mencubit hidungku jika aku terlihat lucu baginya. Padahal, aku tidak lucu. Karena bagiku yang lucu adalah dia. Wajahnya yang seperti tidak akan tua. Kelakuannya yang kayak anak kecil jika bersamaku dan gombalan-gombalannya.
"Tadi juga ada yang nggak ngikut naskah. Perasaan nggak ada adegan elus-elus rambut aku, deh," sindirku. Aku tahu dia dengar, tapi pura-pura tuli dan fokus makan bakso. Karena gemes, aku mengacak-ngacak rambutnya yang sudah panjang. Dia langsung protes tapi malah membuatku tertawa. Akhirnya aku tahu jika dia akan marah jika rambutnya yang sudah diberi pomade diacak-acak.
__ADS_1
"Akhirnya bisa buat Kakak marah."
~•~