
Rasanya aku pingin lempar adik kelas yang lagi caper sama Kak Ryan pake sepatu pantofelku. Sejak 1 bulan bergabung diekskul theater, cewek itu terus-terusan mendekati Kak Ryan. Alibinya sih tanya tentang drama tujuhbelasan, tapi nggak usah pakai deketin badan juga. Kepalaku rasanya sudah mengepulkan asap. Siap-siap saja dia menunggu amukanku.
"Dek, kan habis ini ganti jabatan. Gue kira sih, yang gantiin Ryan itu antara lo atau nggak Yudis," ucap Kak Febi. Walau sedari tadi aku sedang berbicara dengannya, tapi aku tetap harus melihat gerak-gerik adkel sialan itu.
"Yudis aja, Kak. Lebih pantes. Akting dia juga keren, kok," ucapku yang memang akan menolak jika disuruh menjadi ketua ekskul theater. Nggak bisa bayangkan, bagaimana kedepannya ekskul ini jika aku ketuanya. Mungkin akan hilang dari permukaan, karena ketuanya aja jarang kumpul. Memang sejak bergabung diekskul ini, aku sering bolos karena ajakan sahabatku. Paling-paling aku akan ikut ekskul jika disuruh Kak Ryan.
"Sebenarnya, dek. Meskipun lo jarang kumpul, tapi akting lo tuh bagus. Yudis itu nggak kelihatan natural kalau akting. Tuh anak kalau ngomong, kayak baca naskah, bukan meranin," ucap Kak Febi yang akhirnya membuatku menatapnya. Aku harus meyakinkan Kak Febi untuk memilih Yudis agar Kak Ryan juga tidak ikut memilihku.
"Tapi, Kak. Dia cocok jadi ketua. Jiwa kepemimpinannya bagus. Kalau masalah akting kan bisa belajar lagi dari Kakak-kakak."
"Dari dulu, ekskul theater kalau milih ketua pasti dipilih dari jago nggaknya dalam akting. Dan untuk tahun ini, yah lo yang cocok, dek."
"Sepertinya, Kak Febi harus lihat kemampuan anak yang lain. Kali aja mereka belum menunjukkan kemampuan terbaik mereka."
"Iya juga. Gue pikirin dulu deh, cara nentuin ketuanya."
Setelah kepergian Kak Febi aku menolehkan kepalaku ke kanan. Namun, kedua orang yang tadi aku lihati sudah tidak ada. Seluruh ruang theater aku cek, juga tidak ada. Saat aku tanya pada beberapa anak, mereka bilang jika Kak Ryan dan cewek itu pergi ke kantin. Benar saja. Mereka sedang asyik duduk berdua di kantin tanpa merasa bersalah. Aku tidak berani untuk mendekat dan memilih melihati mereka dari jauh. Yang buat aku kesal saat Kak Ryan bersihin wajah cewek itu. "Sialan."
Umpatan sudah berhasil lolos dari bibirku. Sudah tidak kuat menahan sakitnya saat melihat kemesraan itu. Aku langsung berlari mengambil tasku dan pulang. Air mata sudah tidak bisa kutahan. Untuk pertama kalinya aku menangis karena pangeran yang selama ini selalu membuatku tersenyum.
~•~
"Gimana, Ti? Udah siap buat ngelabrak, kan?"
Yah. Hari ini aku akan melabrak adik kelas yang berani mendekati pangeranku. Semua ini adalah ide dari sahabatku. Mereka bilang kalau aku harus melakukan ini biar adik kelas itu kapok. Dan sekarang aku sudah siap. Kami berlima berjalan menuju kelas X IIS 1. Langsung saja kami menjadi pusat perhatian karena jalan kami yang tidak biasa dan muka tidak bersahabat. Beda dari kami yang biasanya, yang selalu ketawa membuat murid lain iri dengan pertemanan kami.
"Nanti lo nggak usah berlebihan, Ti. Cuma ngelabrak biasa aja," ucap Yuli menasehatiku.
__ADS_1
"Tenang aja. Gue cuma mau ngasih pelajaran sama adik itu."
Sesampainya kami di depan kelas X IIS 1. Murid-murid dalam kelas itu langsung diam. Mereka seperti tahu jika tidak ada yang benar. Lalu aku menyuruh seorang cowok di depan kelas yang akan masuk untuk memanggil Angel. Yang dipanggil pun keluar dengan jalan pelan dan wajah takutnya. Aku tidak tahu, betapa menakutkannya diriku sekarang.
"Gue ke sini cuma mau ngingetin lo."
"Tentang apa, Kak? Saya punya salah sama Kakak?"
Aku tertawa. Cewek ini memang tidak tahu diri. "Lo nggak nyadar apa? Atau lo pura-pura ****? Lo tahu nggak, gue siapa?"
"Kak Tia yang jadi tuan putri waktu drama penutupan mos."
"Terus? Cuma itu yang lo tahu?" tanyaku dan dia mengangguk. "Oke. Gue kasih tahu. Lo jangan deketin Kak Ryan. Dia PACAR gue. Jangan sok caper jadi adik kelas. Kalau lo masih berani deketin Kak Ryan, urusan lo sama gue. Gue bisa..."
Belum selesai melanjutkan ucapanku, tanganku ditarik. Dia mengajakku ke belakang gedung kelas 11. Tempat dimana dulu dia menemaniku makan mie. Aku duduk dengan wajah bete sementara dia berdiri. "Lo ngapain sih, dek?"
"Kakak punya mata, kan?"
"Yaudah. Ajak lagi aja. Ajak nonton sekalian."
Dari ekor mataku, aku bisa lihat dia tertawa. Ngeselin. Apa dia nggak tahu kalau pacarnya ini lagi ngambek.
"Siapa suruh kemarin nggak mau gabung, malah ngeliatin dari jauh."
Tunggu. Jadi Kak Ryan tahu aku melihatinya dari jauh. Bodoh sekali aku. Sudahlah, aku memang tidak pantas menjadi detektif.
"Oh. Berarti kemarin sengaja bersihin wajah cewek sialan itu?"
__ADS_1
"Hahaha...cie ada yang ngambek," ucapnya sambil menoel daguku. Namun langsung kutepis tangannya. "Makin lucu kalau lo ngambek gini, dek."
"Yaudah. Kalau gitu aku mau balik kelas aja."
Dia menghadang jalanku. Dengan wajahnya yang tetap lucu walau hanya diam membuatku harus menahan ngambek yang sudah mulai hilang ini. "Jangan ngambek. Maaf, deh. Kemarin udah sengaja bikin lo cemburu. Nggak bakal ngulangin. Suwer," katanya dengan 2 jari yang diangkat.
"Kakak tahu nggak, kalau apa yang kakak lakuin kemarin bisa buat adiknya baper. Kalau dia baper, tanggung jawab sana!"
Lagi-lagi dia tertawa. Rambutku juga ikut diacak-acak. "Nggak mau. Kan tuan putri gue ada di depan mata."
Ucapannya itu sudah buat hatiku luluh dan rasanya tubuhku lemas. Untung aku bisa menahannya dan tetap menunjukkan jika aku masih ngambek. "Tuan putri yang ada di depan mata mau cari pangeran lain aja."
"Nggak bakal bisa. Takdirnya sama pangeran ini."
"Pangeran siapa?"
"Pangeran Ryan," jawabnya dengan senyum. Aku langsung memeluknya. Sudah tidak bisa membohongi diriku. Dia memang pangeranku. Sampai kapan pun itu.
~•~
"Kak, maafin aku. Aku nggak tahu kalau Kak Tia pacarnya Kak Ryan. Maaf, kak. Aku bakal ngejauh kok."
2 bulan lalu, adik kelas bernama Angel itu sudah meminta maaf padaku. Aku memaafkannya dan berharap dia tidak mendekati Kak Ryan lagi saat cowok itu ada di ruang theater. Tapi yang buat aku kaget, ternyata adik itu sampai keluar dari ekskul. Kak Ryan sempat marah karena katanya aku sudah berlebihan. Dia juga berkata kalau aku yang nyuruh adik itu keluar dari ekskul theater. Karena keluarnya adik itu, untuk pertama kalinya kami berdua bertengkar.
Kak Ryan juga sampai membujuk Angel dan meminta maaf. Tapi ternyata adik itu pintar dan bilang, "Kak Tia nggak salah. Yang salah aku. Lagian aku keluar ekskul theater karena itu bukan kemampuanku, Kak. Dulu, aku masuk cuma karena pingin deket sama Kak Ryan. Karena aku sadar tujuan awal masuk ekskul salah, mangkannya aku keluar, Kak. Ini juga nggak dipaksa Kak Tia. Aku lakuin semua ini karena aku sendiri."
Adik itu juga menemuiku lagi dan meminta maaf karena sudah buat masalah antara aku dan Kak Ryan. Karena kesadarannya, aku juga minta maaf karena telah melabraknya. Bahkan kami berteman. Dia sudah menganggapku sebagai Kakak dan aku menganggapnya sebagai adik. Sudah 2 kali aku jalan bersamanya.
__ADS_1
Karena Angel, akhirnya aku ngerasain rasanya cemburu, rasanya bertengkar sama pasangan, dan itu semua jadi pelajaran untukku.
~•~