
"Cieeee yang mau nonton," ucap Jihan yang tiba-tiba membalikkan badan saat aku beres-beres buku. Anak ini kenapa selalu tahu apa yang akan terjadi padaku.
"Kak Ryan ngajak lo nonton, Ti?" tanya Yuli yang duduk di sebelahku. "Wagelasih."
Anye yang pastinya mendengar ucapan Jihan, ikut membalikkan badan dan nimbrung. "Dibonceng dong. Ciyeeee," ucapnya makin membuatku gugup saja.
Sejak tadi pagi aku sudah gugup. Apalagi saat bertemu Kak Ryan di kantin. Dia mengucapkan, "ntar gue tunggu di parkiran." saat kami berpapasan. Ditambah dengan teman-temanku yang tidak bisa diam saat aku menghampiri Kak Ryan di parkiran. Dari jauh mereka menertawaiku sambil bilang 'cieee'. Buat aku jadi makin gugup saja. Apalagi beberapa orang yang ada di parkiran menatapku. Mungkin mereka sedang membatin mengapa aku bisa bersama Kak Ryan.
"Temen lo berisik banget, yah," ucap Kak Ryan sambil memberikan helm kepadaku.
Aku tersenyum dan memakainya, "maaf, Kak. Mereka emang nggak bisa diem."
"Gapapa. Asyik tahu punya temen kayak gitu."
Aku naik di atas boncengannya. Setelah aku menjawab pertanyaannya apa aku sudah duduk dengan benar, dia pun menjalankan motor keluar sekolah. Telingaku masih bisa mendengar suara teman-temanku membuatku malu saja. Apalagi saat kami keluar gerbang sekolah. Banyak cewek yang melihatiku dan aku mendengar, "beruntung banget tuh cewek, bisa digonceng Ryan."
Iya, aku tahu kalau aku termasuk beruntung bisa dekat hingga dibonceng oleh Kak Ryan, sosok pangeran yang diidolakan banyak cewek. Dulu saat penampilan drama, aku mendengar teriakan cewek-cewek saat Kak Ryan keluar dengan baju pangerannya. Teriakan-teriakan yang menandakan jika Kak Ryan sangat disukai banyak orang. Bahkan aku juga pernah sampai terpukau karena wajahnya yang sangat bersinar. Mengingat ucapan Jihan, apa aku pantas menjadi pemiliknya?
"Filmnya bagus, Kak. Andai aja aku punya kisah romantis kayak gitu waktu SMA," ucapku sambil mengambil helm yang Kak Ryan berikan.
Kami sudah selesai menonton film bergenre romance. Kak Ryan bilang kalau dia sebenarnya tidak suka film genre itu, tapi karena rating film itu bagus dia mau tahu filmnya. Selama di dalam bioskop, Kak Ryan dan aku hanya diam. Awalnya aku tidak bisa fokus menonton film sebab tubuhku gemetar. Ini pertama kalinya aku nonton sama cowok, gimana nggak gugup. Tapi karena aku lihat Kak Ryan fokus nonton, aku pun mencoba untuk fokus dan ternyata filmnya bagus. Walau aku sedikit menangis karena mereka yang berpisah. Aku harap Kak Ryan tidak tahu jika aku menangis.
"Berdua di atas motor menurut lo romantis nggak?" tanyanya saat kami di perjalanan.
"Romantis, kalau sama orang yang disayang."
"Alhamdulillah, kalau gitu."
"Kenapa?"
"Gue udah ngerasain kisah romantis di masa SMA."
Aku tidak mau geer kalau orang yang disayang Kak Ryan adalah aku. Kata Dita, aku nggak boleh terlalu geer, takut jika faktanya malah buat aku sakit.
Motor matic hitam milik Kak Ryan berhenti di depan warung nasi penyet. Dia menyuruhku turun. "Makan dulu, yah. Lapar, nih," ucapnya sambil memegangi perutnya. Itu sangat lucu bagiku.
__ADS_1
Sembari menunggu pesanan, aku membuka handphoneku. Mengecek apa ada pesan dari grup JYDAT atau dari temanku yang lain. Ternyata notif di grup JYDAT sudah 99+, buat aku jadi malas membacanya.
"Kenapa banyak orang yang milih main hp, daripada bicara sama orang didekatnya."
Tanpa perlu dijelaskan, aku tahu jika Kak Ryan menyindirku. Lagian aku juga yang salah. Sejak kami keluar bersama, aku tidak melihat dia memainkan handphonenya. Jadi merasa bersalah telah mengabaikannya. "Maaf, Kak."
"Loh kenapa minta maaf?"
"Udah aku matiin hpnya."
Dia tersenyum. Manis sekali. Bisa-bisa aku diabetes. Kukira Kak Ryan akan mengajakku bicara setelah aku mematikan hp. Tapi kini, kami hanya tatap-tatapan tidak jelas begini. Bikin aku jadi tambah gugup.
"Aku udah matiin hp loh, Kak."
"Yah, trus?"
"Kakak nggak mau ngomong?"
"Cape kalau gue yang nanya terus."
"Drama yang waktu penutupan MOS itu cuma sampai situ ceritanya, Kak?" Maafkan aku, Kak. Aku tidak punya topik lain lagi.
"Sengaja dibuat gantung, dek. Ntar waktu tujuhbelasan, bakal ada lanjutannya. Tapi lo jangan bilang siapa-siapa."
"Emang kenapa?"
"Rahasia anak theater."
"Pasti ada kejutannya. Jadi kepo," ucapku sambil menopang dagu dengan tangan diatas meja.
Tiba-tiba saja Kak Ryan tersenyum, membuatku duduk tegak kembali. Matanya itu membuatku makin gugup. Kan aku nggak mau mati karena seharian gugup terus. "Ekskul theater lagi butuh anggota baru buat drama. Lo mau nyoba nggak, dek?"
Aku tertawa dalam batin. Ikut ekskul theater? Kekuranganku itu adalah akting. Dari kecil kalau ada drama buat acara sekolah, aku selalu beralibi sakit biar tidak dipilih. Sekarang, Kak Ryan mengajakku bergabung ekskul theater, bisa-bisa aku cuma jadi properti pohon.
"Seru loh dek ikut theater. Punya pengalaman dan temen baru. Anak-anak theater humble kok. Tiap Sabtu kita sering kumpul buat bicarain acara kita selanjutnya atau hanya buat hirup udara luar."
__ADS_1
Kak Ryan mencoba meyakinkanku untuk ikut ekskul theater. Yang kutakuti, nantinya aku jadi beban bagi mereka. Lalu drama mereka gagal hanya karena aku yang lupa naskah.
Tapi aku ingat pernah berbohong kepada Yuli kalau aku anak theater. Lalu gadis itu menunggu penampilanku di acara drama tujuhbelas nanti sebagai pemeran utama. Pastinya aku tidak bisa menjadi pemeran utama di acara tujuhbelasan yang dilaksanakan kurang lebih 1 minggu lagi. Namun aku masih bisa menjadi pemeran pembantu. Setidaknya aku tidak terlalu berbohong kepada gadis itu.
"Boleh, deh."
~•~
Malam kali ini begitu dingin. Mungkin karena langit yang sedang bersedih. Aku memeluk tubuhku dalam boncengan Kak Ryan. Andai tadi aku membawa jaket, mungkin angin malam tidak bisa menembus hingga menyentuh kulitku.
"Kalau kedinginan peluk gue aja, dek."
Walau jalanan ramai, tapi telingaku masih bisa menangkap ucapan Kak Ryan. Konyol jika aku melakukan apa yang dia bilang. Tidak, Tia. Kamu tidak boleh melakukan itu. Pura-pura tidak dengar saja.
Tak lama sampailah kami di depan rumahku. Aku turun dari boncengannya dan menyerahkan helm yang sudah kupakai sehari ini. Dia mengambilnya dan mencium helm yang barusan kupakai. "Harum. Pake shampo apa?"
"Tadi pagi aku nggak keramas," jawabku dengan wajah bingung, "Kak Ryan boong, yah?"
Dia tertawa lalu mencubit hidungku. Auto jadi patung aku. "Lo lucu banget sih, dek."
Berusaha bersikap biasa, aku menunjuknya sambil berkata, "tuh kan ngalihin pembicaraan. Ketahuan boong deh."
"Terserah. Udah sana masuk, dari tadi lo kedinginan."
"Tahu dari mana?"
"Ini," ucapnya menunjuk spion motor, "lagian, tadi disuruh peluk nggak mau peluk."
"Kapan Kakak nyuruh?" tanyaku berbohong.
"Pura-pura nggak denger. Ati-ati aja sampe tuli beneran."
"Ih, amit-amit," ucapku sambil mengetuk-ngetuk kening. Jadi takut jika ucapan Kak Ryan terkabul.
Sebelum Kak Ryan berbicara yang aneh atau melakukan sesuatu yang membuatku gugup, segera aku ijin untuk masuk. Tak lupa berterima kasih karena dia sudah mentraktirku hari ini. Setelah menutup pagar, aku langsung berlari masuk ke dalam rumah. Terserah dia mau berpikir apa. Yang terpenting hari ini gugupnya cukup segini.
__ADS_1
~•~