Flashback

Flashback
Bab 15: Putus


__ADS_3

"Upraknya udah selesai, yuk, jalan-jalan, Kak."


"Nggak. Gue capek, dek."


"Yaudah. Tapi mau kan anterin aku pulang?"


"Nggak. Gue capek, dek."


Langkahku berhenti. Aku kesal dengan dia yang terus-terusan cuek. Sejak aku kasih dia rainbow cake dan sebuah hadiah spesial, dia tetap saja sama. Tidak chat aku atau baca chat aku. Bahkan, kukira dengan menghentikan langkahku dia akan menarikku dan mengajakku pulang. Tapi cowok itu tetap melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke belakang. "Sabar, Ti. Lo harus maklumin. Hari ini dia baru aja selesai uprak fisika. Mungkin kepalanya masih kebakar."


Terpaksa, aku pulang sendiri naik ojol. Saat berhenti di lampu merah, aku melihat motornya di depan sana. Namun saat lampu menyala, aku heran, bukannya lurus, Kak Ryan malah belok ke kanan. "Katanya capek. Tapi kok nggak langsung pulang."


~•~


Malam ini aku sedang menonton televisi yang menyiarkan sebuah film yang tidak sempat kutonton di bioskop. Aku sudah membawa popcorn dan 2 botol minuman kaleng untuk menemaniku. Mama dan Papa sudah tidur sejak sejam yang lalu. Ini memang sudah malam. Jalanan kompleks pun sudah sepi.


Karena besok libur, aku bisa menonton film hingga larut malam. Lagipula aku juga baru bangun 2 jam lalu. Jadi mana mungkin aku bisa kembali tidur. Tiba-tiba perutku berbunyi, tanda jika aku lapar. Padahal tadi aku sudah makan bersama Mama dan Papa. Terpaksa aku beranjak menuju dapur untuk membuat mie rendang kesukaanku. Saat aku kembali ke ruang keluarga, aku dengar seseorang mengetuk pintu rumah. Siapa yang malam-malam bertamu.


Dia terus-terus mengetuk pintu rumah. Membuatku berjalan mengarah ke pintu. Kalau dibilang takut, tentu aku takut. Iya kalau dia orang baik, kalau ternyata perampok. Sebelum kubukakan pintu, aku mengintip dari jendela. "Kak Ryan," ucapku saat melihat dia berdiri di depan pintu rumah masih dengan seragamnya. Dia juga melihatku dan menyuruhku membuka pintu.


Pikiranku langsung kemana-mana. Pasti ada sesuatu yang membuat Kak Ryan datang ke rumahku malam-malam begini. Saat kubukakan pintu, dia langsung menarikku keluar dari halaman rumah. "Kakak kenapa?" tanyaku prihatin. Bisa kulihat wajah Kak Ryan sedang menyembunyikan sesuatu. Seperti ada beban yang ia simpan.


"Gue minta putus, dek."

__ADS_1


Dunia berhenti. Aku terpaku menatapnya yang juga menatapku. Matanya menyiratkan jika dia tidak bohong dengan ucapannya. Bibirku beku untuk sekedar bertanya kenapa. Hanya setetes air yang bisa keluar.


"Cengeng banget," ucapnya dengan nada suara yang tak pernah kudengar. Dia bukan Kak Ryan yang kukenal. Dia bukan pangeranku. Aku tak tahu makhluk apa yang sedang merasukinya. Membuatnya menjadi seperti monster.


"Ini bukan Kak Ryan yang ku kenal," ucapku yang akhirnya bisa bersuara.


"Iya. Gue bukan lagi Kak Ryan yang lo kenal. Gue bukan lagi pangeran lo."


Aku tertawa dengan air mata yang terus turun meski sudah kuhapus. "Kakak emang lucu. Suruh aku buat percaya kalau kita akan selamanya bersama. Tapi apa nyatanya, Kakak sendiri yang buat kepercayaan aku runtuh. Aku juga bodoh. Maunya disuruh-suruh sama orang yang bahkan waktu itu belum kenal aku lama. Makasih, buat semua yang udah pernah Kakak kasih. Maaf, aku nggak bisa balikin waktu Kakak yang terbuang percuma, cuma buat nemenin cewek cengeng ini."


Setelah berucap seperti itu, aku berlari masuk ke dalam rumah. Menangis dibalik pintu dengan kedua kaki yang kupeluk. Rasanya sakit saat orang yang aku sayang sudah berubah jadi monster. Aku tidak tahu apa dia dirasuki atau dikutuk oleh Ibu gadis kayu. Tapi yang aku tahu, dia memang bukan lagi pangeranku.


~•~


"Mantan, nye."


Menurutku, menghapus foto berdua di instagram adalah hal yang memang harus kulakukan. Untuk apa juga aku masih mempostingnya jika kami saja sudah putus.


"Lo pasti nangis semaleman setelah diputusin," ucap Yuli yang tak bisa kuelak. Memang benar. Aku menangis semalaman karena hal itu. Sudah berusaha untuk tidak menangis, tapi tetap saja, air mataku terlalu ingin keluar untuk menumpahkan kesedihan.


"Gue yakin, Ti, Kak Ryan nggak mungkin sejahat itu sama lo," ucap Jihan yang langsung menyulutku.


"Gue juga yakin kalau apa yang lo bilang itu nggak mungkin," ucapku sewot. Aku tidak mau mendengar Jihan yang membaik-baikkan Kak Ryan. Karena sudah jelas, cowok itu sudah menyakitiku hingga rasanya aku benci dengannya. Sampai-sampai aku berdoa sama Tuhan, agar tidak lagi bertemu dan berurusan dengan cowok itu.

__ADS_1


"Kak Ryan pasti punya alasan kenapa dia minta putus."


"Gue tahu alasannya. Karena dia udah bosen sama gue. Udah cukup, lo jangan baik-baikin dia di depan gue. Karena faktanya, 2 hari lalu dia minta akhiri hubungan dengan cara yang nggak baik. Gue mau ngelupain dia, Han."


"Lo yakin, Ti? Kok gue lihat kalau sebenarnya lo masih ada rasa sama Kak Ryan. Gue juga lihat, lo masih berharap kalau 2 hari lalu itu cuma mimpi."


Aku terdiam. Jika dipikir-pikir, ucapan Jihan ada benarnya. Tadi pagi saja, aku masih berharap jika kejadian 2 hari lalu itu cuma mimpi. Rasaku untuknya pun masih sama.


Mungkin ini hanya karena aku yang masih tidak terima dengan apa yang sudah terjadi. Harusnya, malam itu aku meyakinkannya jika kami masih bisa bersama. Jika rasanya sudah hilang, aku harusnya mengatakan kepadanya kalau aku akan mengembalikan rasanya. Bukan malah mengiyakan.


"Ti, kok lo nangis?" ucap Dita yang duduk di depanku. Sahabatku yang satu ini memang yang paling perhatian. Dia yang selalu pertama tahu apa yang sedang kurasakan. Tanganku digenggam olehnya. Yuli yang duduk di sebelahku memelukku. Mereka semua menyuruhku untuk berhenti menangis. Tapi aku tidak bisa. Air mata ini keluar begitu saja.


"Betul apa yang dikatain Jihan. Gue masih sayang sama Kak Ryan. Rasanya masih sama. Tiap gue ingat malam itu, gue berharap kalau ini cuma mimpi. Tapi, harapan gue itu cuma sebuah kebodohan. Sampai kapan pun, harapan itu nggak akan pernah terkabul," ucapku sesenggukkan. Aku bodo amat diliatin orang-orang yang lewat gazebo. Yang terpenting, aku bisa ngungkapin apa yang aku rasain. Bahkan, jika Kak Ryan melihatku menangis, aku nggak malu. Dia juga kan yang bilang jika aku cengeng.


"Udah, Ti. Jangan nangis," ucap Dita yang juga ikut memelukku. Mereka semua memang sahabat terbaikku. Ada saat aku dalam kesulitan menerima takdir.


~•~


Baru saja aku memposting sebuah foto langit yang begitu cerah, hasil jepretku tadi sore di atap rumah. Kuberi caption, "Kata langit, sudah cukup hujan dibeberapa hari terakhir ini. Langit juga bilang kalau sekarang sudah waktunya kembali cerah."


Aku harap Kak Ryan melihat postingan itu dan paham yang aku maksud. Bahwa aku sudah merelakannya dan tidak akan lagi berharap tentang sesuatu yang tidak mungkin. Aku juga sudah mengambil keputusan untuk tidak lagi berhubungan dengannya. Seperti jaga jarak atau bahkan pura-pura tidak kenal. Menurutku itu keputusan yang tepat. Dia memutuskanku dengan cara tidak baik, maka aku akan melupakannya dengan cara tidak baik.


~•~

__ADS_1


__ADS_2