
Sudah 3 hari semenjak Kakak kelas 12 uprak, Kak Ryan mulai berbeda. Dia jadi jarang chat atau setidaknya ngasih kabar. Bahkan chatku sejak 3 hari lalu belum ia baca. Saat aku mengantarkan sarapan untuknya, dia malah menyuruhku untuk cepat-cepat pergi. Sampai sudah 3 kotak makan yang belum dia kembalikan. Sesibuk itukah menjalani uprak?
Sebenarnya, Kak Ryan sudah berbeda setelah anniversary hubungan kami yang ke 1 tahun. Dia jarang chat aku panjang-panjang untuk sekedar menggombal. Tidak ada telponan malam-malam. Tidak ada dia yang datang ke rumah saat weekend untuk mengajakku keliling kota cari angin. Terakhir aku dibonceng dia pun 2 minggu lalu, setelah pulang sekolah. Aku masih ingat dia yang mengajakku ke warung nasi penyet langganan kami. Dia juga masih menggombal untukku.
"Tahu nggak, dek. Bedanya kemangi sama lo?" tanyanya sambil memegang kemangi. Aku menggeleng sambil menggigit sedotanku.
"Kalau kemangi itu bisa bikin keringat wangi, kalau lo bisa bikin hidup gue berwarna-warni," ucapnya lalu memakan kemangi yang sedari tadi ia pegang. Aku tertawa mendengar gombalannya yang selalu aneh namun bisa bikin kangen.
"Hey, Ti!"
Astaga! Terlalu rindunya aku pada sosoknya sampai tidak dengar jika Yuli terus-terusan memanggilku. "Paan?" tanyaku sewot sambil membenarkan posisi dudukku.
"Ngelamunin apaan sih?" tanya Yuli dan aku menggeleng. "Nanti pulang sekolah ikut nggak?"
"Kemana?" tanyaku lalu meminum nutrisari stroberi yang kubiarkan sejak tadi. Minuman favoritnya yang sekarang menjadi minuman favoritku juga.
"Jalan-jalan ke mall. Sekalian nemenin si Anye cari baju."
"Oke, deh."
Yah. Mungkin dengan menyibukkan diri membuatku tidak terlalu memikirkannya. Karena aku tidak mau dia jadi beban untukku.
~•~
Dengan diantar Mang Agus, sampailah kami di tempat tujuan. Aku hanya jalan di belakang mereka. Entah kenapa aku tidak bisa berbaur tertawa dan bersenang-senang seperti mereka. Rasanya masih ada yang mengganjal. Bahkan, sepertinya Dita tahu dengan perubahanku ini. Gadis itu berjalan di sebelahku sambil menggandengku.
"Lo ada masalah?" tanyanya. Dita itu memang yang paling peka dari kami semua. Meskipun dia diam, tapi dia selalu memperhatikan kami. Aku menggeleng, namun dia malah tertawa. "Biasa. Masa remaja emang gini. Selalu pura-pura gapapa. Gue temenan sama lo udah lama, Ti. Udah hampir 2 tahun. Tiap kali lo sama yang lain diem dan nggak mau gabung bercandaan, gue paham. Pasti ada masalah. Jadi, lo nggak bisa bohong dari gue."
"Lo emang yang paling peka, Dit. Makasih," ucapku yang dibalas senyuman olehnya. "Gue ngerasa ada yang aneh dari Kak Ryan, Dit. Dia udah beda. Nggak pernah jemput gue tiap pagi, nggak pernah chat atau sekedar ngasih kabar dia hari itu, chat gue sejak 3 hari yang lalu juga nggak dibales. Waktu gue bawain sarapan dia malah ngusir gue. Gue nggak tahu salah gue apa ke dia. Tapi, nggak gini juga caranya, Dit. Kalau dia udah bosen, yaudah bilang. Bukannya malah ngilang gini."
"Mungkin Kak Ryan sibuk karena lagi ujian praktek."
"Iya. Gue tahu. Dia udah bilang, kalau bakal sibuk karena mau uprak, mangkannya dia nggak pernah jemput gue tiap pagi."
"Nah. Kalau gitu lo harus maklumin, Ti. Ini resiko lo jadi pacarnya. Lo harus sabar dan mungkin ada baiknya kalau lo ngasih semangat."
"Ngasih semangat?"
__ADS_1
Dita mengangguk dan menarikku bergabung bersama 3 sahabatku yang sedari tadi jalan di depan. Setelah Dita menjelaskan, mereka mengajakku untuk pergi ke supermarket. "Sekarang lo pilih makanan atau minuman kesukaan Kak Ryan," ucap Anye sambil memberikan keranjang kepadaku.
"Ha? Buat apa?" tanyaku yang masih bingung.
"Buat Kak Ryan, lah."
Aku masih diam meskipun mereka sudah menjelaskan. Otakku rasanya tidak berguna banget. Memahami mereka saja tidak bisa.
"Kalian salah guys. Kak Ryan tuh nggak suka jajan-jajanan beginian. Sukanya sama masakan Tia," celetuk Jihan.
"Eh iya, lo kan tiap hari bikin sarapan buat Kak Ryan," tambah Anye.
"Yaudah, lo beli bahannya. Trus masak bareng di rumah Jihan. Besok pagi tinggal diangetin trus kasih deh ke Kak Ryan," ucap Yuli.
"Ngapain nunggu besok. Nanti juga bisa," kata Jihan.
"Tapi gue masak apa? Semua masakan yang pernah gue masak dikasih nilai jelek sama dia," kataku yang mulai paham maksud mereka.
"Kak Ryan pernah bilang kalau pingin dibikinin kue sama lo," ucap Jihan.
"Rainbow cake."
~•~
Setelah 3 jam yang pastinya diselingi dengan ghibah dan melakukan hal yang tidak jelas, akhirnya rainbow cake buatanku yang dibantuin ngerusak sama mereka telah jadi. Ini pertama kalinya aku buat kue. Tadi aku bertanya pada Mama Jihan resep membuat raibow cake dan baiknya beliau mau mengajariku. Wajah dan seragamku sudah dibalut dengan tepung karena keusilan mereka. Bahkan, dapur Jihan saja sudah tidak seperti dapur. Aku sedikit merasa tidak enak karena telah membuat dapur Mama Jihan kotor. Tapi nanti akan kubersihkan.
"Yeay, akhirnya jadi," teriak Anye dan Jihan. Sedari tadi 2 orang itu yang paling tidak sabar kuenya jadi. Tapi mereka nggak mau bantuin. Katanya cuma bantu doa saja. Untung sahabat.
"Gue mau dong."
"Gue juga."
Sebelum kue ini direbut oleh mereka, segera aku singkirkan. "Nggak. Ini buat Kak Ryan. Yang itu bagian kalian," ucapku menunjuk loyang kecil sisa adonan tadi.
"Oke, gapapa. Makasih loh, Ti," ucap Yuli yang langsung membawa pergi kue sisa itu dan tentunya berebut dengan Anye.
"Kalian berdua nggak mau?" tanyaku pada Dita dan Jihan.
__ADS_1
"Nggak. Kan kuenya buat orang spesial," jawab Dita.
Aku tertawa sambil mengeluarkan kue dari loyang dan menaruhnya ke kotak yang sudah ku beli tadi. Tidak sabar melihat ekspresi Kak Ryan saat aku memberi kue ini. Aku sudah menelponnya dan berkata jika aku menunggunya jam 8 di rumah Jihan. Dia juga bilang kalau akan ke sini. Sekarang sudah jam 8, aku segera keluar rumah, menunggunya di depan pagar.
Cukup lama. Namun aku lihat dari jauh lampu motornya yang menyorot ke arahku. Dia berhenti di depanku. Hanya dengan kaos putih, celana pendek hitam, dan sandal jepit, sudah berhasil membuatku jatuh dalam pesonanya. "Hai. Ngapain di rumah Jihan? Kerja kelompok? Kok sampe wajah sama baju lo kotor semua?" katanya sambil membersihkan pipiku yang masih tebalut tepung. Sikapnya ini berhasil buat jantungku berdetak lebih cepat.
"Tadi aku bikin kue buat Kakak. Nih," ucapku memberikan kotak berisi kue. Dia mengambilnya dan membuka. Sebuah senyum darinya saat melihat isi kotak itu membuatku senang. Tapi setelah itu dia tertawa, "ini buat gue?"
"Iya. Tapi kok Kakak ketawa, sih? Kenapa? Bentuknya jelek?" tanyaku dan dia menggeleng. Kak Ryan mengambil kue itu yang sudah kupotongi dan memakannya. Mataku terus menatapnya, menunggu reaksinya. Dia manggut-manggut sambil senyum-senyum. Apa enak?
"Gimana, Kak? Enak?"
"Lumayan."
Setelah itu dia mengantarku pulang. Tentunya dengan aku yang sudah bersih dari tepung. Aku juga sudah membersihkan dapur Mama Jihan.
Diboncengannya, sekarang aku sudah berani memeluknya dari belakang. Begitu rindu akan sosoknya yang selama ini selalu membuatku tersenyum. Bahkan, meskipun aku sempat ingin marah padanya, tapi aku tidak bisa. Dia sudah berhasil membuatku buta. Iya, benar kata sahabatku jika aku itu bucin. Buta cinta atau Budak cinta?
"Aku tahu Kak Ryan lagi sibuk uprak. Tapi, apa iya Kakak sampai nggak bisa jawab chat aku?" tanyaku setelah turun dari motornya. Dia tersenyum sambil mengelus rambutku.
"Maaf. Tapi, gue emang lagi sibuk, dek. Lo harusnya bisa ngerti keadaan gue sekarang."
"Iya. Aku ngerti."
"Kok masih nggak terima gue nggak bales chat lo?"
"Aku bisa terima, kok. Aku juga nggak marah, cuma kesel aja."
"Sama aja," katanya sambil mencubit hidungku. Aku protes dengan memukul lengannya karena cubitannya kali ini benar-benar sakit. Tapi dia hanya tertawa.
"Beda tau," kataku tak terima. "Aku tahu Kak Ryan lagi sibuk uprak. Aku nggak marah. Aku masih percaya kalau kita akan selamanya bersama."
Dia tersenyum dan lagi-lagi mencubit hidungku. Aku membuka resleting tasku. Hampir saja aku lupa tidak memberikan sebuah hadiah kedua untuknya. Walau dia sedang tidak ulang tahun, tapi aku harap bisa berguna untuknya. "Ini buat Kak Ryan. Semoga dengan ini, Kak Ryan bisa semangat menjalani hari-hari yang menurut Kakak berat."
"Makasih, dek. Gue pamit pulang."
~•~
__ADS_1