
Aku bertepuk tangan dan senyum lebar saat melihat temanku, Dita maju menjadi siswi terbaik angkatan 2020-2021. Rasanya bangga mempunyai sahabat seperti dia. Tidak sia-sia 3 tahun ini, Dita selalu sibuk dengan buku-buku tebal.
Hari ini hari kelulusanku. Tidak menyangka, 3 tahun sudah berlalu. Aku senang bisa mengenal mereka. Banyak yang aku dapatkan. Pengalaman yang seru, lucu, kocak, dan solidaritas yang tinggi. Meskipun rasanya masih tidak rela, esok kami tidak bisa lagi makan bareng di kantin, main bekel di kelas bagian belakang, bolos saat pelajaran, dan banyak hal lain. Masih tidak siap jika harus berpisah dan menjalani hidup masing-masing.
Lagu "Sebuah Kisah Klasik" terputar. Acara wisuda telah berakhir. Kini waktunya sesi foto bersama. Entah sudah berapa foto yang diambil, tapi rasanya masih kurang. Setelah sesi foto, kami berpelukan. Tangis pecah.
Sebuah awal perpisahan selalu membuat sedih. Namun yang paling sedih adalah saat kita baru sadar jika perpisahan sudah benar-benar terjadi. Aku dan ke-4 sahabatku berpelukan. Rasanya masih baru kemarin kami masuk di kelas yang sama. Rasanya masih baru kemarin grup JYDAT terbuat. Kenapa waktu cepat sekali berjalan? Atau kamikah yang tak menikmati waktu hingga tidak sadar jika sudah berakhir. Tidak. Aku yakin ini belum berakhir.
"Gue bakal kangen kalian."
"Gue juga."
"Rasanya masih nggak rela kita bakal berpisah."
"Nggak, kita nggak akan berpisah."
"Iya. Kita masih punya banyak waktu untuk bersama."
"Makasih buat 3 tahunnya."
"Makasih buat kekompakannya."
"Makasih buat kelucuannya."
"Makasih buat ajaran bolosnya."
"Makasih kalian pernah ada."
__ADS_1
Pelukan kami makin erat. Entah apakah akan menjadi pelukan terakhir. Aku menghapus air mata yang turun, "nggak boleh nangis. Kita harus senang karena ini bukan akhir. Ini awal perjalanan kita. Meski jalan yang kita tempuh beda. Tapi yakinlah kalau kita akan bertemu di pertengahan jalan."
Ke-4 sahabatku tersenyum dan menghapus air mata mereka. Kami belum berfoto berlima. Karena itu Anye menyuruh Papanya untuk memotretkan kami. Setelah itu kami berfoto berlima dengan orangtua kami. Sebuah foto menjadi sejarah awal perjalan kami untuk bertemu dipertengahan jalan dengan kami yang sudah berbeda.
"Ti, samperin Pangeran lo sana," ucap Jihan menyenggol lenganku. Aku menoleh padanya. dan gadis itu mengisyaratkan dengan wajahnya. Kuikuti arah yang dia maksud.
Disana, berdirilah Pangeranku dengan sebuket bunga berwarna putih. Meski ragu dan masih tidak percaya, aku melangkah mendekat dan berdiri di depan Pangeran. Dia tersenyum setelah 1 tahun lalu sebagai senyum awal perpisahan. "Selamat, dek. Senang, kan, udah lulus."
"Ini...bukan pangeran jadi-jadian, kan?" tanyaku memastikan yang malah diketawai. Dia menunjuk pipinya, mengisyaratkan aku untuk mencubit pipinya. "Eh, iya. Nyata," kataku yang akhirnya bisa mencubit pipinya. Dia melepaskan tanganku sambil meringis kesakitan. "Sekali aja nyubitnya. Nih, buat pembalasan," katanya mencubit hidungku.
Aku tersenyum. Sudah lama tidak ada yang mencubit hidungku. Rasanya kembali seperti dulu saat kami berdua masih mengenakan seragam yang sama. "Pangeran ke sini untuk memenuhi permintaan Tuan Putri."
"Kereta kencananya mana?"
"Maaf, untuk saat ini keretanya sedang diperbaiki," jawabnya membuatku tertawa. Dia memberikan buket bunga yang sedari tadi ia pegang. "Mau tahu nggak, kenapa aku kasih bunga warna putih?"
"Kenapa emangnya?" tanyaku sambil mencium bunga mawar putih yang Kak Ryan berikan.
Aku memukul lengannya. Selalu saja bercanda. "Kirain gombal."
"Emang mau?" tanyanya dan aku mengangguk. "Katanya bunga mawar putih melambangkan ketulusan. Jadi itu sebagai tanda kalau aku tulus sama kamu."
Sudah tidak tahan, aku memeluknya. Membalas rindu yang setahun ini menumpuk. Aroma tubuhnya masih sama, tidak bisa kudeskripsikan. "Sekarang, aku mau kita buat kisah lagi sebelum Kakak balik buat lihatin aku dari ujung monas."
~•~
Untuk hari ini aku tidak perlu membawa fotonya dengan latar belakang monas untuk menemaniku makan di warung penyetan. Sekarang orang itu duduk di depanku sedang memakan kemangi. Tunggu. Apakah aroma tubuh Kak Ryan yang wangi itu karena dia yang suka makan kemangi?
__ADS_1
"Orang yang jualan kayaknya habis ikut kontes masak, deh, Kak."
"Kenapa?" tanyanya yang mencelupkan kemangi pada sambal dan memasukkan dimulutnya.
"Masakannya jadi enak."
"Itumah karena aku yang nemenin kamu makan di sini."
Mataku tak bisa berhenti melihatinya yang asyik makan hingga sambal yang menempel pada sekitar bibirnya. Dengan jari, aku menghilangkan noda sambal itu. "Udah gede, tapi kalau makan masih cemot gini."
"Sengaja, biar ada yang lapin. Biar kayak di film-film," katanya dengan senyum lalu diakhiri sendawa. Jorok tapi aku suka. Banyak perbedaan padanya setelah 1 tahun di Jakarta. Dia yang lebih gendut dan tidak malu melakukan hal konyol seperti tadi. Yang sama adalah jiwa dan hatinya. Soalnya kan nggak dia bawa ke Jakarta.
Selesai makan, dia mengantarku pulang dengan taxi. Dia ikut turun saat sampai di depan rumahku. "Tenang aja, dek. Masih ada 1 minggu buat kita habisin waktu bersama."
"1 hari saja sudah lebih dari cukup. Apalagi 1 minggu. Walau maunya selamanya."
"Sabar. Tunggu skenario mengejutkan dari Tuhan."
Dia mengeluarkan sebuah tiket dari dalam tasnya. Aku mengambil tiket itu. Tiket Gala Premier. "Besok, dateng sama gue. Kebetulan acaranya di sini."
"Kakak bener-bener bakal tampil di layar bioskop?" tanyaku yang masih tidak menyangka secepat ini dia menjadi aktris.
"Bukan pemeran utama, sih."
"Gapapa. Kan Kakak pemeran utama di kisah kita, lawan mainnya aku."
Dia tersenyum dan memelukku. Setiap dalam pelukannya terasa nyaman. Namun aku tidak boleh egois. Masa iya kami berpelukan hingga maut memisahkan. Kan capek. "Aku rindu kamu, dek."
__ADS_1
"Aku juga."
~•~