Flashback

Flashback
Bab 7: Kerkel


__ADS_3

Sudah 2 jam aku berada di rumah Jihan. Tugas kelompok kami tinggal mencari kesimpulan dan memasukkan dokumentasi, itupun sekarang sedang dikerjakan oleh Dita. Sejak tadi aku datang, Dita memang yang terlihat benar-benar niat kerja kelompok. Sementara Anye, Jihan, dan Yuli asyik main tiktok. Terpaksa aku hanya menonton televisi yang menyala sambil memakan snack yang disediakan. "Dit, mau gue bantuin nggak?"


"Nggak usah, Ti. Ini tinggal dikit, lo ikut main tiktok aja," jawab Dita yang fokus mengetik di laptop Jihan.


"Gue nggak bisa main tiktok." Walau sekarang tiktok lagi rame-ramenya, aku tidak minat. Bahkan menurutku itu membosankan.


"Gue ajari, Ti," teriak Anye yang langsung kutolak. Masalahnya aku tuh nggak bisa joget, pasti nanti kelihatan kalau aku kaku banget.


Bosan, karena bingung mau ngapain. Aku mengambil naskah dramaku. "Pangeran dan Gadis Kayu". Karena sudah berkata bahwa aku akan membacanya kepada Kak Ryan, terpaksa aku membacanya. Ternyata ceritanya menarik dan endingnya susah ditebak. Kak Febi memang pintar membuat sebuah cerita yang berbobot seperti ini.


Sebuah pesan dari Kak Ryan masuk.


Kak Ryan: Sama-sama. Kalau lo nolak bakal gue paksa. Jangan lupa dihapalin, besok pulang sekolah ada latihan.


Tia: Siap calon ketua theater.


Kak Ryan: Tahu darimana?


Tia: Keliatan jiwa pemimpinnya.


Kak Ryan: ☺️☺️


Tia: Nggak lagi muji, padahal.


Kak Ryan: 😏


Baru saja aku mau membalas, hpku direbut oleh Anye. "Nye, balikin nggak?"


"Gue izin bajak sebentar yah," ucap Anye yang langsung berlari mengunci dirinya dari dalam kamar mandi. Temen sialan. Bisa mati aku jika Anye menulis yang tidak-tidak.


"NYE, KEMBALIIN HP GUE!!"


~•~

__ADS_1


Sekarang kami ber-5 sedang berada di warung penyetan dekat rumah Jihan. Kenapa kami bisa ke sini? Karena kami lapar. Tadi saat aku teriak, Anye langsung keluar dari kamar mandi dan mengembalikan hpku sambil senyum-senyum tidak jelas. Saat aku mengecek ruang obrolanku dengan Kak Ryan, tidak ada apa-apa. Terakhir hanya ada stiker 😏 yang dikirim olehnya. Saat si Anye kutanyai, dia bilang jika tidak melakukan apa-apa, hanya mengecek apa hpku masih bagus atau tidak. Dasar gadis aneh.


Anehnya bertambah saat gadis itu meloncat sambil berkata, "karena hari ini gue seneng, yuk beli makan. Gue traktir." Sebuah tawaran yang tidak bisa kami tolak. Aku saja sampai tambah nasi karena laparnya. Parahnya Yuli sudah habis 2 piring tapi minta 1 lagi untuk dibungkus dengan alasan untuk Kakaknya.


"Nye, lo tadi buka apa aja di hp gue?" tanyaku yang sudah selesai makan. Sepertinya gadis itu tidak dengar karena masih asyik menghilangkan duri dari ikan lele. "NYE!"


"Cuma baca chat kalian berdua," jawabnya yang masih tetap fokus dengan aktivitasnya.


"Nggak mungkin."


"Tanya aja sama Kak Ryan kalau nggak percaya."


Aku malas membahas ini lagi. Mungkin memang lebih baik aku bertanya pada Kak Ryan. Percuma saja bertanya pada Anye, dia tidak akan jujur.


"Tadi lo ke rumah gue dianter sama Kak Ryan?" tanya Jihan dan aku mengangguk. Karena Jihan bertanya itu aku jadi ingat tentang sesuatu. Tadi saat Mang Agus mengantarkanku ke kamar Jihan, aku mau menanyakan hal itu, tapi aku disuruh Dita membantunya menyelesaikan tugas hingga lupa. "Eh iya, Han. Gue mau tanya?"


"Apa?"


"Lo ada hubungan sama Kak Ryan?"


"Gue ngerasa ada yang aneh. Lo yang selalu mulai bahas Kak Ryan yang pdkt sama gue di grup. Lo yang tiba-tiba tahu kalau gue diajak nonton. Trus tadi, gue belum bilang dimana alamat rumah lo, tapi Kak Ryan tahu. Ditambah Mang Agus juga ngenalin Kak Ryan. Gue jadi bingung."


Jihan tertawa membuatku dan yang lainnya bingung. "Sorry gue nggak pernah bilang kalau sebenarnya gue sama Kak Ryan sepupuan. Nyokapnya Kak Ryan itu Kakak nyokap gue."


Cukup membuatku terkejut dan sebuah pemikiran muncul. Berarti Jihan dapat informasi dari Kak Ryan. Gila. Bagaimana kalau Jihan bilang tentang apapun yang pernah kuucap tentang Kak Ryan pada orangnya.


"Waktu dia ngasih jawaban soal fisika. Dia nanya soalnya ke gue. Ngeselin tahu. Masa gue yang saudaranya nggak pernah tuh ditawarin ngerjain tugas. Gue aja disuruh lihat jawabannya dari lo. Ngeselin, sama kayak adiknya."


"Adiknya Kak Ryan? Maksud lo Randy?" tanya Yuli yang tiba-tiba langsung heboh.


"Iyalah, siapa lagi."


"Berarti lo saudaraan sama Randy?"

__ADS_1


"Iya, Yuli."


"Wah, keberuntungan gue nih bisa deket sama Randy."


"Maksud lo, lo minta gue deketin lo sama Randy? Dia sukanya sama cewek yang kayak Dita. Diem, pinter, feminim, lo nggak masuk kriterianya."


"Jahat banget sih lo. Ntar gue kasih deh, uang 2 ribu."


"Tapi besok. Ogah."


Setelah perdebatan antara Jihan dan Yuli selesai, kami balik. Namun dalam perjalan, tiba-tiba saja hujan turun. Kami langsung berlari secara kilat, karena tidak ada tempat untuk menuduh dan jarak rumah Jihan tinggal beberapa langkah. Walaupun tetap saja membuat tubuh kami basah.


Dengan baik hatinya, Mama Jihan menyuruh kami berganti baju dan membuatkan teh. Beliau juga menyuruh untuk menginap saja jika hujan tidak berhenti-henti. Awalnya kami menolak, namun karena terlalu senangnya rebahan sambil nonton film, kami sampai lupa jam.


"Udah jam 10, gue belum pulang. Gimana nih?" tanya Dita yang tiba-tiba menggangu kami yang sudah masuk dalam suasana film


"Nginep sini aja, di luar masih hujan deras. Besok, orang tua kalian suruh anterin buku sama seragam pake ojol aja. Ntar gue yang bayar," jawab Jihan yang langsung diancungi jempol oleh Anye dan Yuli.


Tapi setelah kupikir-pikir ada baiknya begitu. "Yaudahlah, Dit. Nginep sini aja," kataku pada Dita yang wajahnya terlihat khawatir.


"Oke, deh. Gue mau telpon Ibu gue dulu," ucap gadis itu lalu pergi keluar untuk menelpon Ibunya.


Kami menonton film hingga jam set 11 malam lalu dilanjut dengan bermain truth or truth. Itu adalah ide Anye. Gadis itu bilang biar tidak ada rahasia diantara kami. Karena permainan itu, kami tahu sebuah rahasia dari masing-masing.


Contohnya Dita. Gadis itu akhirnya berbicara sebuah rahasia yang membuat kami terkejut. "Sebenarnya gue suka sama Kakak kelas di ekskul KIR. Namanya Kak Gani. Dia pinter, baik, humble, dan pernah sekali ke rumah gue sambil bawa martabak."


Karena permainan ini aku bisa tanya ke Anye, tadi dia melakukan apa dihpku dan ternyata, "hehehe, tadi gue ngirim kontak Kak Teguh ke whatsapp gue. Soalnya lo sih, nggak mau bagi kontak Kakak gugus lo yang ganteng itu." Ternyata hanya untuk dapat kontak Kak Teguh. Pikiranku sudah kemana-mana saja.


Akhirnya kami tidur saat Mamanya Jihan mengetuk pintu sambil menyuruh untuk tidur karena sudah malam. Hari ini cukup menyenangkan. Bisa bersama ke-4 temanku yang absurd. Kenangan yang tidak akan pernah kulupa.


Nginap di rumah Jihan, yah? Besok pagi gue jemput. Jangan bareng Mang Agus, dia bau, nggak pernah mandi kalau pagi.


Aku tertawa membaca pesan dari Kak Ryan itu. Walau sebenarnya itu benar, Mang Agus memang bau.

__ADS_1


~•~


__ADS_2