
Hari ini adalah hari pertamaku menjadi senior. Rencananya, aku ingin tidak masuk karena aku tahu tidak akan ada pelajaran. Tapi kata sahabat-sahabatku, hari pertama itu penting, harus tebar pesona sama adik kelas. Kata mereka sih biar adik kelas takut. Padahal nyatanya, sama saja seperti hari biasanya. Malahan membuat bosan. Aku hanya duduk di kelas yang ramai akan suara cowok-cowok main bola dengan umpatan-umpatan yang terus keluar, suara cewek-cewek yang lagi nonton vidio bias, dan sahabatku yang sedari tadi tidak berhenti membuat tiktok.
Andai, Kak Ryan masih ada di sini. Aku akan mengantarkan makanan untuknya. Lalu kami berduaan di kantin sambil bercanda atau sekedar tatap menatap tanpa suara. Sudah 2 bulan sejak perpisahan itu. Aroma tubuhnya masih terus tercium diindra penciumanku. Wangi tubuh yang tak bisa kudeskripsikan bagaimana baunya. Seumur-umur aku belum pernah mencium aroma wangi seperti pada tubuh Kak Ryan. Dia memang berbeda. Tidak ada yang pernah bisa menyamainya. Dia adalah Ryan Mahardika. Cowok dengan aura pangeran yang selalu melekat pada dirinya. Aku merasa tersanjung, bisa menemukannya bahkan hingga berbagi kisah dan membuat kisah bersama. Rasanya seperti sebuah penghormatan karena bisa menjadi gadis yang membuatnya penasaran.
"Kak Ryan lagi sibuk kuliah, Ti. Katanya, lo jangan sering mikirin dia, ntar dia nggak bisa fokus belajar," ucap Jihan di telingaku.
"Tahu darimana dia kalau gue mikirin dia?"
"Kan kalian sehati, sejiwa, jadi dia bakal tahu."
"Udah, sana lo bikin tiktok lagi. Jangan ganggu gue," ucapku sambil mendorong Jihan agar jauh-jauh dariku. Gadis itu terpaksa menjauh dan mengajakku ikut main tiktok bersama, tapi kutolak.
"Selama 2 bulan ini, lo masih berhubungan sama Kak Ryan?" tanya Dita yang sedari tadi duduk di depanku namun fokus menulis. Entah apa yang dia tulis. Sekilas aku melihat buku tebal itu berjudul Soal-soal Biologi.
Aku menggeleng. Dua bulan sudah dia pergi meninggalkan rasa yang selalu ada dan kenangan yang selalu terputar. Namun tak kunjung aku mendapat kabar darinya. Kabar jika dia telah sampai di Jakarta pun aku dapatkan dari Jihan. Sengaja aku menahan diriku untuk tidak menghubunginya. Aku takut jika mengganggu dan alasan utamanya aku ingin dia yang menghubungiku. "Udah 2 tahun, Dit. Kak Gani masih lo gantungin?"
__ADS_1
"Apaan, sih, Ti? Kok ganti topik? Kalau bahas dia, mending gue belajar aja," kata Dita membalikkan badan membelakangiku. Aku tertawa. Sahabat-sahabatku itu lucu. Mereka juga punya kisah cinta yang pastinya bagi mereka lebih indah dari kisah cintaku. Contohnya, Dita. Gadis itu memiliki kisah cinta malu-malu dengan Kakak kelas bernama Gani. Yang aku tahu, Kak Gani juga pendiam, namun juga pernah bersikap romantis pada Dita. Aku ingat, waktu itu kami sedang menunggu hujan reda di joglo depan. Tiba-tiba saja Kak Gani datang dan memberikan jaketnya pada Dita, katanya sih agar tidak kedinginan.
Lalu, sahabatku dari gugus. Dia itu punya kisah cinta yang dibilang tanpa ada balasan. Sudah lama mendekati Randy, adik Kak Ryan, namun tak kunjung pun ada kemajuan. Malahan Randy makin menjauh. Yang aku dengar dari Kak Ryan, Randy itu sudah punya pacar dari SMP. Aku tidak tega memberitahukannya pada sahabatku yang malang itu.
Nah, kalau Anye. Jujur, aku kasihan untuk mengatakan kisah cinta sahabatku yang satu ini. Waktu dia mengirim kontak Kak Teguh ke nomernya dari hpku, baru saja gadis itu intro sudah diblok. Ternyata dibalik itu semua, Kak Teguh sudah punya kekasih. Hampir saja Anye dilabrak karena pernah menyapa Kak Teguh saat berjalan bersama pacarnya di sekolah.
Sahabat terakhirku, Jihan. Gadis ini adalah beauty vlogger yang cukup terkenal. Subscribersnya pun sudah tembus 100k. Banyak kaum adam yang mendekati, namun selalu ia tolak. Setiap ditanya, Jihan selalu bilang ingin fokus pada kontennya saja. Padahal aslinya dia tidak bisa move on dari mantannya yang mutusin dia setelah 3 tahun pacaran.
~•~
Untuk yang pertama kalinya, sahabatku menginap di rumahku. Ini karena aku yang ditinggal oleh Mama dan Papa ke luar kota menyelesaikan pekerjaan. Mereka bilang tidak mau aku sendirian di rumah, maka dari itu mereka menginap. Pilihanku memperbolehkan mereka menginap di sini sedikit salah. Harusnya aku membuat peraturan terlebih dahulu. Yaitu, tidak boleh ada sisa snack yang tercecer, sepatu harus ditata rapi, tas yang digantung, dan masih banyak lagi.
Dari kecil Papa sama Mama selalu berantem. Dulu gue nggak tahu apa masalahnya karena umur gue masih kecil. Hingga kelas 5 SD, mereka memilih untuk cerai. Papa pergi bawa Kakak gue, namanya Aldi, beda 5 tahun sama gue. Lalu gue tinggal sama Mama dikontrakan. Gue hidup susah, makan pun kadang cuma nasi pakai garam. Sampai akhirnya Mama ketemu sama Papa Jefri. Mereka akhirnya nikah dan gue punya saudara lagi, Randy, anak Papa Jefri sama istrinya dulu. Hidup gue mulai berubah, Papa Jefri termasuk orang yang kaya, apapun yang gue minta dia turuti. Dia sudah anggap gue kayak anak kandungnya sendiri.
Lalu saat kelas 1 SMP, gue ketemu sama Kak Aldi. Dia cerita alasan Mama sama Papa cerai. Ternyata karena Papa ngira kalau Mama selingkuh dan anggap gue bukan anaknya. Disitu, gue bener-bener benci sama dia. Katanya anak sama orangtua punya ikatan batin, tapi kenapa dia nggak bisa percaya. Pantes, sejak kecil, gue selalu dibandingin sama Kak Aldi. Gue tahu, Kak Aldi emang lebih pinter dari gue. Masih inget, Papa yang selalu pukul gue kalau nilai sains cuma dapat 7. Dia selalu ingin gue kayak Kak Aldi yang selalu dapat nilai sempurna disains.
__ADS_1
Mangkannya, Mama selalu nyuruh gue buat suka sama sains. Mama sampai les privat gue, beliin buku-buku tebal yang sama sekali gue nggak minat buat baca. Gue tahu kenapa Mama suruh gue buat suka sains, biar ngebuktiin ke Papa kalau gue juga pintar.
Setelah anniersary kita, Papa kirim surat berisi foto Kak Aldi yang udah jadi dokter di umur yang dibilang masih muda. Gue tahu, Papa mau nunjukin kalau Kak Aldi lebih hebat daripada gue. Sampai akhirnya, 2 hari sebelum gue putusin lo, dek. Papa kirim surat lagi. Dia tahu hubungan kita dan ngancem bakal kasih sebuah fakta masa kelam gue. Karena gue nggak mau lo tahu dari mulut dia, gue nemuin dia, hari dimana gue putusin lo, sepulang sekolah. Gue benar-benar marah sama dia. Gue nggak tahu alasan kenapa dia pingin kasih tahu sebuah fakta masa kelam gue ke lo. Mungkin biar lo putusin gue dan gue balik ngelakuin hal bodoh itu lagi. Karena yang gue tahu, dia selalu suka kalau gue ngelakuin hal bodoh itu. Mangkannya waktu itu gue mutusin untuk akhiri hubungan kita. Maaf, malam itu gue udah jahat sama lo. Mood gue kacau, dek. Dipikiran gue cuma ketakutan. Lo tahu apa yang bikin gue takut?
Gue takut lo ninggalin gue setelah tahu kalau sejak kecil gue suka nyakitin diri sendiri. Terdengar gila tapi itu emang fakta. Gue suka mukulin kepala gue ke tembok, pintu, cermin, atau bahkan gue suka main sama cutter. Setiap kali ngelakuin itu, rasanya gue tenang dan beban gue hilang. Tapi, kalau Mama sama Papa berantem lagi, gue selalu mukulin kepala ke tembok sambil nangis. Mama ajak gue ke psikolog. Katanya, apa yang gue lakuin masih bisa dihilangin. Sejak Mama nikah sama Papa Jefri, gue udah nggak ngelakuin hal itu lagi.
Namun, penyakit itu kambuh lagi saat gue kelas 9. Dimana Mama yang protektif dan suruh gue kuasai sains. Gue bosen setiap kali gue lagi nonton tv atau sekedar rebahan, Mama marahin dan suruh gue baca buku yang tebalnya udah kayak tembok rumah. Otak gue bener-bener panas tiap kali baca apa yang ada dibuku. Rumuslah, teorilah, gue muak sama semua itu. Akhirnya gue lampiasin dengan nyakitin diri pake cutter. Rasanya bener-bener enak. Bahkan nggak sakit sekali. Mama nggak tahu kalau gue main cutter lagi, hingga akhirnya gue ketemu lo. Lo yang polos, lugu, dan gemesin.
Awalnya gue nggak mau deketin lo karena gue ngerasa gue bukan cowok yang baik. Tapi, setiap kali lihat senyum lo, hidup gue tenang. Gue mutusin buat nggak cutting lagi dan ikutin apa yang Mama mau. Les fisika, biologi, kimia, matematika, dan bahasa inggris. Meskipun gue nggak minat akan pelajaran-pelajaran itu, otak gue bisa. Cuma gue nggak suka aja yang namanya pemaksaaan dan gue nggak bisa bilang ke Mama. Gue nggak mau ngecewain beliau. Dia satu-satunya alasan gue bertahan hidup dan sekarang bertambah satu, lo.
Semuanya sudah gue ceritain. Gue bisa terima kalau lo ilfeel sama gue. Karena gue juga sadar, kalau gue orang aneh. Maafin gue pernah bikin lo nangis. Gue hancur waktu itu hingga pemikiran gue sedangkal itu. Mungkin dengan berakhirnya hubungan kita waktu itu, biar lo bisa terbiasa tanpa gue jika suatu saat gue akan pergi jauh dari lo.
Satu yang harus lo tahu, sampai kapan pun lo tetap jadi tuan putri pangeran. Lo cinta pertama dan terakhir gue. Semisal, kita berpisah, gue yakin Tuhan punya sebuah skenario yang mengejutkan. Salam sayang, Pangeran.
Air mataku tumpah setelah membaca surat ini. Aku merasa bodoh karena tidak mengetahui apapun. Harusnya aku lebih perhatian dengannya. Harusnya waktu dia bilang di ruang theter, aku lebih banyak tanya apa dia ada masalah. Harusnya aku menjadi tempatnya bercerita.
__ADS_1
Membencinya itu bukan keahlianku. Mencoba untuk membencinya saja aku tidak bisa. Aku menerimanya, kelebihan dan kekurangannya. Seperti dia yang juga menerima kekurangan dan kelebihanku. "Kepercayaan itu masih ada, Kak dan akan selalu ada. Aku juga percaya Tuhan punya skenario mengejutkan untuk kita. Aku rindu padamu dan aku juga tahu kamu merindukanku. Kan kita sehati, sejiwa. Pasti Kakak yang bilang gitu ke Jihan. Aku tahu, apapun yang diucapkan Jihan adalah darimu."
~•~